Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 11, 2013

Urgensi Menganut Satu Mazhab

oleh: Arief Assoffi
Pegiat Kajian Nun Center Kairo

Bermazhab satu, pada asalnya tidak penting bagi orang awam. Bahkan jika orang awam diharuskan untuk berpegang pada satu mazhab tertentu, ini akan menyulitkan mereka. Karena mereka harus mencari pendapat paling rajih dalam mazhabnya, padahal mereka tidak ahli dalam hal itu. Atau, minimal mereka harus mencari mufti yang semazhab dengannya.

Walaupun berpegang teguh pada satu mazhab tertentu tidak wajib bagi orang awam, namun hal tersebut merupakan suatu kebutuhan bagi seorang penuntut ilmu, Fikih khususnya, untuk mencapai derajat mujtahid. Karena itulah, tidak kita temukan satu ulama pun yang tidak bermazhab.

Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim: “Tidak layak bagi orang awam untuk bermazhab. Sesungguhnya mazhab hanyalah diperuntukkan bagi para akademisi.” Pernyataan ini juga diamini oleh Yusuf Qaradhawi. Menurut Qaradhawi, pada hakikatnya bermazhab hanyalah untuk para Ahlu al-‘Ilm yang memilih salah satu mazhab atas dasar kebutuhan intelektual, berkenaan dengan kekuatan usul mazhab dalam pandangannya dan lain-lain.[i] Meskipun demikian, -tegas Qaradhawi- “Tidak ada salahnya bagi orang awam, jika ingin menganut satu mazhab tertentu”.[ii]

Jika menganut satu mazhab tertentu merupakan suatu keharusan bagi para akademisi, lantas apa urgensi bermazhab bagi para akademisi? Bukankah mencari pendapat paling rajih dari berbagai pendapat lebih baik dari pada menganut satu mazhab yang terkadang memiliki pendapat dengan alasan yang lemah?

Perlu diingat bahwa Fikih mazhab adalah hasil dari pengolahan teks-teks agama dengan metode pengambilan hukum yang dimiliki oleh setiap mazhab.[iii] Metode ini bukanlah suatu teori buat-buatan para imam mazhab. Akan tetapi, metode ini merupakan singkapan sebuah cara untuk mencari kebenaran dalam hukum syariat melalui kaedah-kaedah umum yang menuntun cara berpikir para mujtahid dan memberikan batasan-batasan sehingga dapat mencapai pada suatu hukum tertentu.[iv] Metode ini mereka intisarikan dari apa yang mereka pelajari dari guru-guru mereka dan guru-guru mereka dari guru-gurunya lagi sampai kepada Rasulullah SAW.

Dengan tersingkapnya metode ini, para ulama setelah abad ke-3 tidak menemukan lagi apa yang perlu mereka singkap dari metode pengambilan hukum ini. Kalau pun mereka mencoba untuk menyingkapnya, mereka akan menemukan hasil yang sama dengan para pendahulunya. Dengan demikian, tidak ada jalan lain kecuali dengan berjalan di jalan para imam dalam mengambil hukum syariat. Maka dari itu, apa yang mereka lakukan dari mengikuti jalan para imam sebelumnya dalam metode pengambilan hukum tidak dapat dikatakan jumud atau fanatik. Karena memang mereka tidak menemukan jalan lain selain jalan yang dibuka oleh para imam sebelumnya. Mereka hanya terlambat muncul ke muka bumi ini. Kalaulah al-Ghazali atau al-Nawawi, misalnya, muncul sebelum Imam Syafi’i, pastinya mereka akan lebih dahulu menyingkap metode ini.[v]

Oleh karena itu, ijtihad setelah abad ke-3 sudah bukan lagi ijtihad menyingkap metode pengambilan hukum. Akan tetapi ijtihad dalam menghasilkan hukum baru dengan metode yang telah tersingkap sebelumnya atau merajihkan antar hasil-hasil ijtihad yang berbeda sebelumnya.[vi] Dengan demikian, seorang pelajar Fikih mau tidak mau harus masuk ke dalam salah satu mazhab Fikih, sebagai madrasah yang usul, furuk dan kaedahnya telah dibangun oleh arsitektur-arsitektur handal dalam pengambilan hukum, untuk selanjutnya beranjak ke tingkat mujtahid yang lebih tinggi.

Selain itu, terdapat beberapa poin yang menjadikan menganut satu mazhab itu penting bagi para akademisi:[vii]

1. Bersanad (musannadah)

Salah satu keistimewaan bermazhab adalah sanad yang bersambung ke Rasulullah SAW dari awal munculnya sampai saat ini. Sebagaimana imam mazhab mempunyai sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW, para pengikutnya pun mempelajarinya dengan tetap menjaga sanad ini sampai sekarang. Dengan bersambungnya sanad ini, bersambung pula pemahaman para ulama dalam agama ini sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarkan.[viii] Memang sudah sepantasnya bagi para ulama yang notabene ahli waris para nabi, memiliki garis hubungan dengan para pewarisnya. Dengan terjaganya sanad ini, terjaga pula otentisitas pemahamannya terhadap syariat.

2. Mendapat dedikasi penuh dari para ulama terdahulu hingga sekarang (makhdûmah)

Selain sanad, keistimewaan mazhab lainnya adalah perhatian penuh para ulama terhadap mazhab masing-masing. Tingginya dedikasi para ulama terhadap mazhab ini dapat kita lihat dari buku-buku yang mereka tulis tentang fikih mazhab, usul fikih dan kaedahnya dalam berbagai bentuk, seperti ringkasan (mukhtashar), penjelasan (syarh), catatan pinggir (hâsyiyah), sya’ir (nazhm), dan lain-lain. Tidak hanya itu, pendapat-pendapat para pendahulunya juga dikritisi, diperbaiki, dan diperjelas.

3. Tidak lepas dari dalil naqliy maupun ‘aqliy (mudallalah)

Pendapat-pendapat yang ada dalam buku-buku mazhab tidak lepas dari dalil naqliy maupun ‘aqliy, bahkan para imam mazhab pun memiliki musnad[ix] masing-masing.

4. Setiap mazhab memiliki usul fikih serta kaedah tersendiri dalam menentukan hukum (mu`asshalah wa muqa’’adah)

Jika tidak bermazhab, seseorang akan sulit mencapai derajat mujtahid. Karena ia tidak akan menemukan usul fikih, dan kaedah fikih yang praktiknya sesuai dengan furuk fikih kecuali dengan menganut satu mazhab. Mempelajari praktik penerapan usul fikih dan kaedah fikih pada fikih mazhab inilah yang akan mengantarkan seseorang mulai dari mukalid menuju derajat mujtahid paling rendah, hingga mencapai derajat mujtahid tertinggi. Dan hal ini mudah dicapai dengan menganut satu mazhab.

5. Metode pembelajaran buku-buku madzhab bertahap (mumanhajah)

Pada awal perjalanan seorang penuntut ilmu, tidak dibenarkan untuk sibuk dengan berbagai perbedaan pendapat. Hal ini dikarenakan, sibuk dalam berbagai perbedaan pendapat akan membuat pelajaran sulit melekat. Selain itu, pada awal perjalanannya seorang penuntut ilmu juga tidak diperkenankan untuk sibuk mentelaah buku-buku dengan pembahasan rumit.

Di awal perjalanannya, yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu adalah menguasai pembahasan-pembahasan kecil yang nampak sepele, tetapi akan menjadi landasan dalam memahami pebahasan-pembahasan besar nantinya. Karena pembahasan-pembahasan kecil ini, akan menjadi pondasi. Jika ia tidak menguasainya, maka akan mudah roboh.

Karena itulah, para ulama telah memformulasikan sistem pembelajaran mazhab ini dengan mengarang buku-buku yang digunakan oleh para pemula, kemudian untuk intermediate dan, para ahli. Sistem pembelajaran mazhab dibuat sedimikian rupa, sehingga dapat mencetak mujtahid-mujtahid yang mempunyai pemahaman yang mendalam dan melekat.

Ahmad bin Alwi Assegaf, dalam Fawâ`id al-Makkiyah, menjelaskan bahwa ada tiga tingkat ketangkasan (malakah) yang perlu dicapai oleh penuntut ilmu secara bertahap: yang pertama adalah ketangkasan perolehan (malakah al-istihshâl), yaitu ketangkasan yang dicapai sebagai persiapan untuk mencapai ketangkasan selanjutnya. Ketangkasan ini diperoleh dengan mempelajari mukaddimah-mukaddimah ilmu tersebut dari seorang guru ahli,[x] seperti mempelajari buku-buku yang menyajikan matan-matan pendek dalam ilmu fikih dan lain sebagainya.

Kedua, ketangkasan pemantapan (malakah al-istikhrâj), yaitu mencapai kemampuan memahami makna yang terkandung dalam istilah-istilah yang terdapat di dalam berbagai buku dengan mudah. Ketangkasan ini diperoleh dengan memperbanyak membaca buku-buku fikih, dimulai dari buku-buku yang sedang hingga buku-buku yang berjilid-jilid.

Setelah melewati kedua tingkat ketangkasan di atas, seorang pembelajar akan mencapai tingkat ketangkasan yang terakhir yaitu ketangkasan paripurna (malakah al-istihdhâr), yaitu saat penuntut ilmu mampu menjawab permasalahan yang diajukan tanpa harus merujuk ke buku-buku lagi.[xi]

Ketiga tingkat ketangkasan di atas sulit untuk dicapai kecuali diawali dengan menganut satu mazhab. Karena setiap mazhab mempunyai istilah dan hukum yang berbeda. Jika kita memulainya dengan Mazhab Syafi’i misalnya, kemudian di tingkatan kedua kita masuk ke dalam Mazhab Maliki, maka kita akan dapatkan 2 perkara yang sama dengan hukum yang berbeda. Dengan cara seperti ini, ketangkasan akan sulit tercapai.[xii]

 6. Hasil ijtihad dalam setiap mazhab akan selalu konsisten dengan usul dan kaedahnya (muttasiqah wa muttazinah)

Semua pendapat yang terdapat dalam mazhab tidak akan keluar dari usul dan kaedah mazhab, sehingga konsistensi kolaborasi antara usul, fikih, dan kaedahnya terjaga dan tidak bercampur dengan mazhab lain.

7. Berpotensi untuk menjadi landasan dalam menghukumi perkara-perkara baru (munfatihah)

Furuk-furuk mazhab dapat menjadi landasan dalam menghukumi perkara-perkara baru. Jika kita menengok pada berbagai pembahasan dalam fikih kontemporer, kita akan mendapati furuk-furuk mazhab menjadi landasan dalam menghukuminya.

Berbagai keutamaan di atas tidak akan kita dapati kecuali pembelajaran dengan bermazhab. Maka dari itu wajar jika Al-Yafi’i memperumpamakan seorang penuntut ilmu yang tidak bermazhab bagaikan orang yang ditunjukkan kepadanya istana yang kokoh nan megah[xiii], yang dibangun oleh arsitektur handal[xiv]. Kemudian dikatakan kepadanya: “Masuklah! Berkelilinglah! Dan nikmatilah keindahannya![xv] Dia pun menjawab: “Tidak! Aku tidak akan masuk, tapi aku akan membangun istanaku sendiri.”[xvi] Akhirnya dia pun menyiksa dirinya sendiri dengan membangun sebuah bangunan, padahal dia tidak berpengalaman apalagi pandai dalam hal itu. Sehingga yang jadi bukannya istana tapi hanyalah sebuah gubuk reot, hanya saja dia menghiasinya dengan hiasan yang menipu. Tidak cukup sampai di situ, ia pun mengajak khalayak ramai untuk masuk ke gubuknya, lantas melarang mereka untuk memasuki istana, seolah berkata: “Gubukku lebih baik dari istana itu.”[xvii]


______________________________________________________

[i] Yusuf al-Qaradhawi, Kaifa nata’âmal ma’a al-Turats, (Kairo: Wahbah, 2004), hal. 82.

[ii] Ibid., hal. 83.

[iii] Musthafa Bisriy al-Tharablisiy, Manhaj al-Bahts wa al-Fatwa fî al-Fiqh al-Islâmiy, (Amman: Dar al-Fath, 2011), cetakan II, hal. 171.

[iv] Ibid. hal. 66.

[v] Ibid. hal. 173.

[vi] Ibid. hal. 177.

[vii] Terilhami dari Workshop Syekh ‘Amud dengan tema “Pengenalan Ilmu Fikih” bersama Dr. Amru Wardani.

[viii] Contoh sanad yang diperoleh Mufti Agung Ali Jum’ah: dari Abdullah bin Sidiq al-Ghumari, dari Duwaidar al-Kafrawi, dari Ibrahim al-Bajuri, dari Amir, dari al-Sha’idi, dari ‘Aqilah, dari Hasan al-‘Ajimi, dari al-Qassyasyi, dari Muhammad al-Ramli, dari Zakaria al-Anshari, dari Ibnu Hajar al-Haitami, dari Shalah bin Abu Umar, al-Fakhr bin al-Bukhari, dari Ahmad bin Muhammad al-Lubban, dari Muhammad bin Ahmad al-Shaidalani, dari Abu Hasan bin Ahmad al-Haddad, dari Ahmad bin Abdullah al-Ashbahani, Muhammad bin Ya’qub al-Asham, dari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, dari Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Lihat, Ali Jum’ah, al-Madkhal ilâ Dirâsah al-Madzâhib al-Fiqhiyah, (Kairo: Darussalam, 2009),  hal. 249.

[ix] Kumpulan hadis-hadis, seperti Musnad Abu Hanifah, Muwatha` Imam Mali, Musnad al-Syafi’i dan Musnad Imam Ahmad.

[x] Ahmad bin Alwi Assegaf, Fawâ`id al-Makkiyah, (Kairo: Darul Faruq, 2011), hal 93.

[xi] Ibid., hal. 93.

[xii] Contohnya dalam Fikih Mazhab Syafi’i. Para ulama Syafi’iyah membagi tiga tingkatan (ada juga yang empat) untuk buku-buku yang dipelajari oleh para penuntut ilmu. Di awal pembelajarannya, seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk mempelajari buku Fathu al-Qarîb al-Mujîb, kemudian dilanjutkan dengan Manzhûmah al-Zubad, dan selanjutnya mempelajari buku-buku yang berjilid-jilid, seperti Syarh Minhâj al-Thâlibîn dan lain-lain. Tingkatan-tingkatan buku ini dapat ditemukan di buku-buku pengenalan mazhab, seperti Madkhal ilâ Madzhab al-Imâm al-Syâfi’î karya Saleh al-Asmari.

[xiii] Yang dimaksud istana di sini adalah mazhab.

[xiv] Yang dimaksud dengan arsitektur di sini adalah para imam mazhab.

[xv] Yang dimaksud di sini adalah mempelajarinya.

[xvi]“ Membangun istana sendiri” maksudnya adalah tidak bermazhab alias membuat mazhab baru dengan usul, furuk dan kaedah yang ia susun sendiri.

[xvii] Abdul Fatah bin Saleh al-Yafi’i, al-Tamadzhub, (Beirut: Muassasah Risalah Nasyirun, 2009), hal. 323.
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Selasa, Januari 15, 2013

Andragogy vs Pedagogy


Tulisan ini ditulis untuk menanggapi pernyataan salah satu dosen penulis. Mohon maaf karena disampaikan justru setelah aktivitas kuliah sudah berlalu. Tak lain karena keterbatasan penulis dalam mencerna apa yang beliau sampaikan. 

Dalam paparan tersebut, ada perbedaan mencolok antara andragogi dan pedagogi. Perbedaan itu terletak pada mindset, cara pandang yang akan berdampak pada teknis dan metodologi pengajaran/ yang dilakukan oleh seorang tenaga pengajar. 

Beliau memaparkan, bahwa pendidikan orang dewasa (andragogi) mengkritik pendidikan model anak-anak (metode ceramah), yang menganggap bahwa anak didik sama sekali tidak tahu. Dan guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan di dalam kelas. Metode ini dikritik karena dianggap tidak memanusiakan manusia, yang notabenenya punya pengalaman/ pengetahuan sebelumnya. Metode orang dewasa mengajarkan adanya interaksi antara guru dan murid. Bukan  hanya guru yang aktif di dalam kelas. 

Salah satu dampak dari pengajaran pedagogi adalah tidak sinkron-nya ilmu dengan perilaku. Yang beliau contohkan dengan mata pelajaran PMP atau PPKn ketika di SD dulu. Di mana seorang murid ditanya tentang pendidikan moral. Semisal apa yang akan kamu lakukan bila ada orang buta yang ingin menyeberang jalan? Tentu dengan mudah seorang murid akan menjawab, pilihan jawaban ‘membantunya’. Tapi pada prakteknya, tidak banyak orang bisa bertindak seperti itu.. hanya berhenti dalam teori, atau kemampuan kognitif. 

Maka tidak heran bila banyak orang pintar, tapi tetap saja jadi koruptor. Menurut beliau, yang bisa dilakukan semisal dengan menutup mata semua orang siswa, kemudian memberi mereka bola dan membiarkan bermain di dalam kelas. Kemudian ditanya, “apa yang kalian rasakan saat mata kalian ditutup dan tidak bisa melihat?” dan dilanjutkan, “bagaimana dengan orang yang buta dan ingin menyeberang, apakah kalian akan membantunya?”

Dengan begini, seorang siswa akan diajar moral dengan apa yang ia rasakan, ia alami sendiri. Sehingga munculnya sikap empati tersebut, bukan atas kemampuan kognitif, tapi kepekaan hati..

Kemudian beliau pun merumuskan beberapa prinsip penting dari metode andragogi:
  1. Bersifat praktis. Berangkat dari studi kasus, berbentuk terapan yang dikaitkan dengan pengalaman peserta didik.
  2. Aksi dan komunikasi. Adanya interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan guru. Bukannya monolog dari gurunya.
  3. Emansipatoris. Tujuan utama dari metode ini adalah mewujudkan manusia merdeka dalam mengambil keputusan atau pemikiran yang tidak bergantung kepada pihak lain, termasuk gurunya. Dengan bentuk, aksi-refleksi.



Kritik

Beliau menganggap bahwa metode pedagogi salah.. metode ceramah tidak tepat. Sebagaimana yang sering dilakukan oleh juru bicara agama.

Jawaban
  1. Pedagogi adalah pembentukan dasar. Pijakan, fundamental, asas. Yang tanpa ini andragogi tidak ada artinya. Andragogi sendiri lebih bersifat pengembangan. (pendekatan fungsional)
  2. Beda peserta ajar, beda pula metode pendidikannya. Beda antara orang yang belajar yang sudah punya pengalaman, dengan mereka yang baru membangun dasar. (pendekatan psikologis)
  3. Beda materi ajar, beda pula cara pengajarannya. Contoh, panduan manual book akan berbeda dengan buku ajar mahasiswa S2. Di mana-mana, manual book bersifat doktrin. Sementara buku ajar mahasiswa, akan lebih berupa pengembangan bila sudah berada di level advance. (pendekatan materi)
Dengan demikian, alasan dosen penulis mengkritik habis metode ajar pesantren, sorogan, dan ceramah dalam agama Islam tidaklah tepat. Metode ajar sorogan, ceramah, adalah memang dikhususkan bagi mereka-mereka yang benar-benar baru belajar.. atau sebagai upaya pembentukan fondasi. 

Apalagi khususnya, yang diajarkan dalam keagamaan bersifat wahyu, doktrin. Maka tak heran, bila banyak materi ajar yang ada (khazanah keilmuan Islam) bersifat pedagogis dibanding andragogis. Tentu ini bukannya tidak ada ruang bagi andragogi.. tapi khusus bagi mereka yang sudah menguasai dasar-dasar pijakan dalam khazanah keilmuan Islam. Tentu kita tidak akan mengajarkan ilmu fatwa, kepada mereka yang tulisan Arab saja gak bisa baca, apalagi mengenal ilmu fiqih, ushul fiqih, dan lainnya. 

Adapun kritikannya tentang sifat praktis, tidak satupun ilmu dalam khazanah keilmuan Islam yang tidak bersifat praktis. Bahkan sejatinya, khazanah keilmuan Islam itu sendiri, lahir dari hipotesa, dialektika dengan realita.. 

Pun penulis sepakat, bahwa di suatu kondisi, pengajaran pedagogi menjadi sia-sia, stagnan dan tidak praktis, ketika tidak dilanjutkan pada ranah nyata. Kesimpulannya, antara pedagogi dan andragogi, tidak ada yang lebih baik..  kecuali bila digunakan dalam bentuk saling melengkapi. Pembentukan fondasi, kemudian pengembangannya. 

Kalau dalam kesempatan kali itu, beliau juga menyinggung, metode ini tak ada hubungannya dengan usia seseorang, maka bentuk kombinasi dari dua metode ini pun sama. Tapi secara sederhana bisa dipetakan dengan fungsinya, apakah untuk pembentukan dasar atau pengembangan/ penerapannya. Belajar Bahasa Inggris di tingkat basic, tentu berbeda dengan tingkat advance bukan?

Wallahu a'lamu bish-showab.
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Kamis, Juli 19, 2012

Bulan Puasa, Hisab atau Rukyat?


oleh:
Ahmad Mudzoffar Djufri

Insya-allah akan terjadi perbedaan lagi antar kaum muslimin Indonesia dalam mengawali puasa Ramadhan 1433 ini, antara tanggal 20 dan 21 Juli 2012. Meskipun, dan ini yang menggembirakan, perayaan idul fitri-nya nanti, hampir bisa dipastikan insya-allah akan terjadi secara seragam, serempak dan kompak, pada tanggal 19 Agustus 2012.

Prediksi nyaris pasti akan terjadinya perbedaan awal Ramadhan tahun ini, disebabkan karena saat matahari terbenam pada hari Kamis 29 Sya’ban nanti, yang bertepatan dengan 19 Juli 2012, menurut para ahli hisab, hilal (bulan) berada pada posisi yang “sangat tidak aman”. Dimana ketika itu hilal sudah wujud (ada/muncul) diatas ufuk (horizon), namun disepakati belum memungkinkan untuk bisa dirukyat (dilihat), karena ketinggiannya memang masih kurang dari 2 derajat. Nah, dengan posisi hilal seperti itu, para pencetus sekaligus penganut madzhab hisab hakiki wujudul hilal (penentuan bulan baru berdasar wujud-nya hilal diatas ufuk seberapapun kadar ketinggiannya), telah menetapkan dan memutuskan bahwa, hari Jum’at 20 Juli 2012 sudah merupakan hari pertama puasa Ramadhan 1433. Sementara itu, dengan hasil hisab yang sama tentang posisi hilal, para pengikut madzhab rukyat dan juga madzhab hisab imkan rukyat (penentuan bulan baru berdasar wujud-nya hilal diatas ufuk pada ketinggian yang telah memungkinkan untuk bisa dilihat), tentu saja sama-sama menetapkan keharusan istikmal (penggenapan) bulan Sya’ban 30 hari. Sehingga dengan demikian, awal puasa Ramadhan, menurut mereka yang merupakan jumhur (mayoritas ummat), baru akan jatuh pada hari Sabtu-nya 21 Juli 2012.

Adapun prediksi yang juga hampir pasti akan terjadi, yakni tentang kesamaan dan kebersamaan dalam penetapan hari raya idul fitri 1433, adalah karena pada saat maghrib hari Jum’at 17 Agustus 2012, yang bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan bagi yang memulai puasa tanggal 20 Juli 2012, di seluruh wilayah Indonesia, hilal disepakati masih berada di bawah ufuk atau belum wujud. Sehingga dengan begitu, semua pihak pasti sepakat satu kata bahwa, hari Sabtu18 Agustus 2012 masih merupakan hari terakhir puasa Ramadhan bagi semuanya, meskipun dengan perbedaan umur atau jumlah hari Ramadhan-nya. Karena bagi jumhur (mayoritas) muslimin yang mengawali puasa tanggal 21 Juli 2012, hari terakhir itu adalah hari ke-29 mereka berpuasa Ramadhan. Sedangkan bagi ummat yang memulainya lebih dulu sehari, yakni tanggal 20 Juli 2012, akhir Ramadhan tersebut merupakan hari ke-30 puasa mereka. Jadi dengan kondisi tersebut, insya-allah Idul Fitri 1 Syawal 1433 akan seragam jatuh pada hari Ahad 19 Agustus 2012.

Dengan pemaparan singkat diatas, yang tampak bahwa, perbedaan yang selama ini sering terjadi diantara kaum muslimin di negeri ini dalam memulai puasa Ramadhan dan berhari raya, adalah karena perbedaan metode penetapan bulan baru, antara madzhab rukyat dan hisab. Tapi sebenarnya penyebab utamanya bukanlah itu. Karena terbukti dengan keadaan atau kondisi yang sama atau serupa, ternyata ummat Islam di luar Indonesia yang juga beragam-ragam madzhabnya, tetap bisa selalu sepakat bersama-sama dalam mengawali puasa Ramadhan dan dalam berhari raya. Jika begitu, lalu apa sejatinya faktor penyebab itu di sini, di negeri mayoritas muslim ini? Tidak lain dan tidak bukan, adalah karena yang masih lebih diutamakan, dikedepankan dan dimutlakkan disini adalah cara, metode dan madzhab penentuan awal bulan yang diikuti oleh masing-masing, antara rukyat dan hisab, atau antara rukyat lokal dan rukyat global, atau antara hisab imkan rukyat dan hisab hakiki wujud hilal. Sedangkan bagi jumhur ulama dan muslimin di dunia, dalam hal puasa Ramadhan dan hari raya, yang lebih diprioritaskan, dikedepankan dan dimutlakkan adalah prinsip kebersamaannya. Adapun cara, metode dan madzhab penentuan, maka sepakat disikapi sebatas sebagai wasilah dan sarana yang bersifat relatif, dan yang harus bisa ditoleransikan serta dikompromikan!

Saya tidak ingat benar kapan tepatnya pertama kali menulis dan atau concern berpromosi tentang tema ini. Yakni tema tentang seruan persatuan Ummat terkait dengan penetapan awal Ramadhan, idul fitri dan idul adha. Yang jelas, sejak beberapa tahun terakhir, dan insya-allah seterusnya wallahu a’lam sampai kapan, dalam berbagai forum, saya selalu mengangkat topik ajakan penyatuan dan persatuan Ummat ini pada setiap momentum menjelang Ramadhan dan dua hari raya. Dengan satu target dan harapan, semoga segera terwujud sebuah pola kesepakatan tertentu antar seluruh komponen Ummat Islam bersama Pemerintah, yang akan menjamin selalu terjadinya kesatuan dan persatuan serta kesamaan dan kebersamaan, secara by design dan bukan sekadar by accident, dalam mengawali setiap puasa Ramadhan, dalam mengakhirinya dan dalam berhari raya.

Namun, mengapa masalah penetapan awal puasa Ramadhan dan hari raya jadi demikian penting dalam konteks harapan persatuan Ummat? Ya karena, menurut saya, memang disinilah antara lain terletak pertaruhan harapan besar itu. Sebab terwujudnya persatuan dan kebersamaan dalam konteks ini semestinya dan seharusnya adalah yang paling dekat dan riil, dibandingkan dengan aspek-aspek lain. Dimana jika telah bisa dicapai kesepakatan yang membuat seluruh Ummat selalu bersama-sama dalam memulai puasa dan dalam berhari raya, maka berarti terjadinya persatuan dan kebersamaan dalam hal-hal dan bidang-bidang lainpun, insya-allah semakin dekat. Adapun bila kesepakatan dan kebersamaan soal penetapan Ramadhan dan hari raya, yang sebenarnya di depan mata ini, ternyata masih juga sulit tercapai, seperti yang terjadi sampai detik ini, maka berarti harapan yang lebih besar akan terwujudnya persatuan dan kebersamaan Ummat Islam di negeri ini dalam berbagai aspek lainpun, lebih jauh lagi dan lagi!

Tapi bagaimanapun harapan tetap tidak boleh redup. Kita tetap tidak boleh berputus asa. Ya, kita tetap wajib terus dan terus berharap seoptimis mungkin – dan sekaligus berupaya riil – akan terjadinya kesepakatan dan persatuan itu suatu saat. Yakni melalui pola kesepakatan dan kesefahaman tertentu atas dasar semangat toleransi dan kompromi, yang akan menjamin selalu terwujud dan terjadinya kebersamaan indah yang didamba-damba itu. Dan semoga itu tidak jauh dan tidak lama. Karena secara syar'i (menurut syariat) dan waqi'i (tuntutan realita), memang semestinya ummat Islam di Indonesia selalu bersepakat dan bersatu serta bersama-sama dalam mengawali shaum Ramadhan, ber-idul fitri dan ber-idul adha. Disamping memang sangat mungkin dan dekat sekali realisasinya, hal itu adalah juga merupakan tanggung jawab dan kewajiban kita bersama. Setidaknya karena tiga alasan:

Pertama, shaum Ramadhan dan ‘Iedain (dua hari raya) adalah ibadah-ibadah dan momen-momen syi’ar kebersamaan (sya’aa-ir jamaa’iyyah), dimana semestinya seluruh kaum muslimin selalu memulai puasa secara bersama-sama, mengakhirinya secara bersama-sama, dan bergembira dalam merayakan ‘Iedain juga secara bersama-sama, dan tidak sendiri-sendiri atau masing-masing. Tentu itu khususnya atau minimal dalam satu negara atau wilayah tertentu. Itulah tuntunan syariat Islam berdasarkan hadits-hadits dan praktik ummat Islam sejak generasi salaf dan seterusnya sepanjang sejarah panjang Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Ash-shaumu yauma tashuumuun, wal-fithru yauma tufthiruun, wal-adh-haa yauma tudhahhuun” (Puasa Ramadhan adalah pada hari dimana kalian semua bersama-sama berpuasa. Idul Fithri adalah pada hari dimana kalian semua bersama-sama ber-’Iedul Fitri. Dan ‘Iedul Adha adalah juga pada hari dimana kalian semua bersama-sama ber-’Iedul Adha) (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah; dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani).
Oleh karena itu kita tidak menemukan dalam sejarah Islam adanya perbedaan dalam berpuasa Ramadhan dan berhari raya dalam satu wilayah, satu kota, satu kampung, apalagi dalam satu rumah, sebagaimana yang terjadi disini saat ini. Yang pernah terjadi semenjak masa sahabat hanyalah perbedaan antara wilayah yang berjauhan, seperti yang kita dapati dalam hadits Kuraib (HR Muslim, Ahmad dan Tirmidzi) dimana Ibnu ‘Abbas dan para sahabat di Madinah menetapkan Ramadhan dan Idul Fitri berdasarkan hasil rukyat khusus di Madinah yang berbeda dengan hasil rukyat Khalifah Mu’awiyah dan kaum muslimin di Syam. Sehingga dengan demikian, untuk saat ini tentu saja ditolerir jika perbedaan itu terjadi antar negara di dunia. Tapi untuk masing-masing negara tidak semestinya hal itu masih juga terjadi.

Kedua, masalah perbedaan dalam hal penentuan awal Ramadhan, idul fitri dan idul adha, adalah salah satu contoh masalah dimana adanya perbedaan (ikhtilaf) hanya ditolerir dalam hal metode dan cara penetapan di tingkat teori dan wacana saja. Tapi tidak ditolerir terjadinya perbedaan tersebut di tataran praktik dan realita serta implementasi di lapangan riil. Inilah yang kita tahu dan catat dari praktik imam-imam dan ulama-ulama berbagai generasi sepanjang sejarah ummat Islam. Dimana sejak dulu telah terjadi perbedaan dan perselisihan antar madzhab para imam dalam teori dan wacana penentuan, antara metode rukyat dan hisab, bahkan antara metode rukyat global dan rukyat lokal. Dimana sebagai konsekuensinya, tentu saja sangat logis jika terjadi perbedaan dalam hasil dan keputusan akhir. Namun ternyata perbedaan itu jika terjadi, hanya berhenti di tataran teori dan wacana saja, dan sama sekali tidak terlihat di tataran realita. Karena secara praktik dan fakta sejarah, para ulama, dan seluruh ummat bermakmum pada mereka, yang biasa berbeda secara teori dan dalam wacana, selalu saja bersepakat dan bersama-sama dalam mengawali puasa Ramadhan, ber-idul fitri dan ber-idul adha, kecuali antar wilayah yang berjauhan.

Ketiga, kita ummat Islam di Indonesia, yang nota bene sebagai negara muslim terbesar, rasanya patut malu, seraya berintrospeksi diri, karena bahkan dalam hal ibadah dan momen kejamaahan, kebersamaan dan persatuan seperti shaum Ramadhan dan dua hari raya inipun masih saja kita "bersikeras" untuk “memilih” berbeda-beda dan berselisih, serta belum siap atau “belum mau” bersepakat dan bersatu. Padahal saat ini, mungkin hanya tinggal Indonesia saja, sekali lagi, HANYA TINGGAL INDONESIA SAJA, satu-satunya negara di dunia dimana ummat Islam-nya masih tetap belum juga bersepakat dan bersatu dalam hal ini . Sedangkan ummat Islam lain di tiap negara di dunia, bahkan termasuk di sejumlah negara daratan eropa, umumnya telah bisa selalu bersepakat, bersatu dan bersama-sama dalam memulai shaum Ramadhan, ber-idul fitri dan ber-idul adha.

Akhir kata, meskipun andai faktanya, sesuai prediksi dan bukan harapan, memang benar-benar kita masih belum bisa bersepakat, bersatu, dan bersama-sama, namun tetap saja perbedaan dan perselisihan yang terjadi harus tetap kita semua sikapi dengan arif, bijak, dewasa, dan proporsional. Dengan mengedepankan sikap toleransi terhadap pendapat lain, sesuai kaedah penyikapan terhadap setiap masalah khilafiyah. Sehingga tidak terjadi dampak-dampak yang lebih buruk lagi. Dan di saat yang sama, harapan tetap dan terus kita gantungkan pada rahmat Allah, lalu pada sikap hikmah para ulama kita, para tokoh kita, dan pada para pimpinan ummat Islam! Semoga Allah merahmati kita semua untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadhan dengan pertemuan yang istimewa dan berbarakah, serta mampu menggapai taqwa nan istimewa pula di bulan penempaan diri yang mulia dan suci nanti. Aamiin!
--------------------------

Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Selasa, Juli 26, 2011

Indonesia's Mission Impossible!



Bercerita tentang persoalan bangsa kita memang tak pernah ada habisnya. Hingga tak sedikit orang yang kemudian menjadi apatis karenanya. Jangankan berbuat sesuatu, berkorban apalagi membela bangsa ini dengan karya nyata, bahkan untuk sekedar melihat persoalan bangsa kita pun tak banyak orang yang mau memikirkannya. Sebagian bilang itu tak berguna, toh apa yang kita pikirkan tak akan mengubah apa-apa. Ada juga yang bilang, lebih baik mikirin diri sendiri, lebih kongkrit, yang penting kebutuhan hidup bisa kita penuhi. Ada lagi yang bilang, bangsa ini sudah terlalu sakit. Terlalu besar untuk menjadi sebuah negara!

Kompleksitas persoalan bangsa ini memang banyak yang mengakui. Atau menggerutui, mengeluhkan dan merasa desperate, putus asa. Mulai dari persoalan pertikaian antar kelompok agama, panggung sandiwara politik, penjajahan ekonomi oleh kapitalis, permainan kebutuhan pokok rakyat, hingga yang paling menyedihkan adalah kemandulan hukum yang serba tebang pilih. Masih teringat dalam benak penulis, seorang pencuri spion mobil, mati dikeroyok massa. Ya, satu nyawa untuk sebuah spion mobil. Sedangkan di sana, ratusan juta, miliaran, bahkan penilepan triliun dana negara, pelakunya cuma dikenakan hukuman penjara. Belum termasuk remisi-remisi hukuman pada momen tertentu!

Tentu masih terekam jelas dalam benak kita, nama seorang pegawai pajak yang jadi sangat terkenal hingga di jagad Youtube. Yupz, Gayus Tambunan. Namanya pertama kali disebut oleh mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Susno menyebutkan Gayus memiliki Rp 25 miliar di rekeningnya, namun hanya Rp 395 juta yang dijadikan pidana dan disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar tidak jelas. Salah satu yang jadi pertanyaan, mengapa hanya Gayus yang ditangkap? Dulu pernah santer diberitakan bahwa Gayus akan membongkar semua orang-orang yang terkait dengan penilepan pajak. Tapi nyatanya, cuma Gayus yang hingga saat ini jadi tumbal.

Setali tiga uang dengan kasus Gayus, Susno Duadji pun sempat akan membeberkan ‘kelakuan nakal’ para petinggi POLRI. Kasusnya sempat menghiasi headline-headline semua media massa. Tentu itu bukan sekedar kicauan sembarangan. Di dalamnya ia berkoar akan membongkar semua borok-borok Jendral di tubuh POLRI, mempermainkan kasus demi uang, memeras pengusaha, dan memelihara budaya setoran dari anak buah. Maka timbullah pertanyaan, POLRI, melindungi dan melayani siapa? Istilah Markus, alias makelar kasus pun menambah ‘entri’ baru dalam kamus bahasa kita.

Ini baru dari bidang pajak dan penegak hukum. Belum lagi kasus lumpur Lapindo yang sangat menyakitkan. Ganti rugi yang hingga kini masih jadi mimpi di siang bolong. Lapindo, adalah sebuah kasus permainan dan kongkalikong pemerintah dengan Bakrie. Benar bahwa Lapindo terbukti tidak bersalah karena sesuai dengan aturan pemerintah. Akan tetapi, aturannya itu yang memang dibuat supaya Lapindo tidak bersalah! Tak heran bila kemudian pengadilan memenangkan Lapindo.

Kasus penjajahan ekonomi oleh TNC (Trans National Company), perusahaan multinasional. Perusahaan yang mengeruk kekayaan alam negeri ini, dan meninggalkannya dengan sedikit cipratan. Sedikit untuk rakyat daerah dan sedikit untuk pejabat! Dengan dalih belum menguasai teknologi, pemerintah membuat kontrak pengurasan kekayaan negara hingga 30 tahun. Itu pun masih bisa diperpanjang lagi!

Sistemik, kata temen penulis. Dimulai dari para pembuat kebijakan, hingga kelompok masyarakat terendah turut berperan. Apa mau dikata, keboborokan pemerintah kita mengatur negara ini, tentu tidak bisa dilepaskan dari akumulasi sikap kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita yang sudah bekerja keras, berfikir keras dan bersabar keras?? Kalau baru ditempa dengan ujian di Azhar aja kita udah sering mengeluh, bagaimana kita akan menghadapi kompleksnya persoalan bangsa ini?

Sekali lagi kata temen penulis, mental asal menyalahkan penguasa adalah mental bawahan. Segala sesuatu hanya ia gantungkan kepada mereka yang ada di atasnya. Kalau ada yang gak beres, maka pemerintah yang salah. Tanpa pernah melihat apalagi berbuat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Katanya, wajar. Ini karena kita dijajah, dan terbiasa menjadi bangsa jajahan. Sebelum dijajah Belanda, bangsa ini adalah bangsa pelayan di bawah ketiak kerajaan.

Mission impossible.

Begitu sebut penulis suatu waktu. Sebuah pernyataan yang sama, setiap kali selesai mendiskusikan ragam persoalan bangsa ini. Mulai dari kaburnya para ilmuwan kita. Penanganan industri strategis yang hanya memihak asing. Hingga masa depan suram, generasi penerus bangsa ini.
Hingga hari itu datang. Saat di mana penulis melihat wajah-wajah saudara dekat. Melihat semangat yang sama. Merasakan gelora dan optimisme yang tak pernah padam. Dan setruman-setruman baru dari mereka yang kita cintai. Ya, sebuah momen di sebuah tempat yang prestisius. Dengan wacana prestisius. Dan diisi oleh orang-orang prestius!

Harapan itu masih ada. Gedung Bhinneka, KBRI Cairo, Garden City. Dalam sebuah bingkai cerita sejarah, Konferensi Internasional IKPM.

Ust. Akrim menyebutnya, membangun bangsa ini terlihat jalan di tempat. Tak lain karena, saat yang lain mencoba membangun salah satu bagiannya, di saat yang sama, muncul orang lain menghancurkannya. Maka bagaimana mungkin bangunan itu akan berdiri? Memang sulit, kata beliau, dan memang sulit. Kita tidak bisa membangunnya sendirian. Kita harus bersama-sama, sinergis, dan simultan!

Perjalanan itu masih sangat panjang.. akan tetapi, tak pernah ada yang tak mungkin di alam mumkinat ini. Bukankah kita meyakini, bahwa “La yajibu ala Allahi fil mumkinat?”. La haula wala quwwata illa billahi. Teruslah berjalan Kawan, meski onak duri melukai kakimu. Teruslah bekerja, meski berulang kali bangunanmu mereka hancurkan. Dan teruslah berjuang, meski keringatmu telah menjadi darah.
Sejauh apapun jalan itu, ingatlah selalu, bahwa Allah tak kan pernah melupakan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu.

Tulisan ini dimuat dalam Buletin Silaturahim Internasional IKPM Edisi Perdana Juli 2011. 
Download buletinnya di 4shared.com

--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Jumat, Mei 06, 2011

Anggota DPR

Awalnya sebuah masukan sederhana dari PPIA Australia yang ingin memberikan informasi dan beberapa kiritk bagi anggota DPR yang akan melakukan kunker, alias kunjungan kerja.

Beberapa poin yang dikritik diantaranya, kenapa mengunjungi Australia ketika negara tersebut sedang mengalami reses. Atau yang lain, kalau benar ingin menanggulangi kemiskinan, kenapa tidak mengunjungi Northern Territory (NT) tempat di mana pemerintah Australia mengurusi warganya yang terbelakang.

Selain kejanggalan tersebut, beberapa hal yang menjadi booming juga munculnya video dengar pendapat di youtube. Permasalahannya adalah para anggota DPR ini ndak punya email pribadi ataupun resmi. Yang lucunya, kemudian dijawab "Komisi delapan @yahoo.com" tanpa dijelaskan bagaimana penulisannya. Tak heran kemudian bermunculan bahasa sindiran terkait alamat email komisi delapan ini. Dan ternyata, email itu adalah PALSU, alias bohongan...

Belum selesai polemik kunjungan kerja komisi delapan, baru-baru ini sudah muncul lagi berita mengenai jalan-jalan komisi sepuluh ke stadion Santiago Bernebeau, Madrid. Judulnya cukup menohok, "Komisi X DPR Tur ke Stadion Real Madrid". Plus ditambah hasil jepretan aksi foto-foto anggota DPR ini, oleh warga Indonesia di sana.

Kompas.com pun memperbarui topik pilihannya. Menambah satu tema, studi banding. Dan memunculkan beragam berita lama terkait 'keblingeran' anggota DPR yang melakukan studi banding.

Rasa-rasanya, bukan kali ini saja.. kita harus berulang kali mengelus dada terkait sikap 'aneh' anggota DPR kita. Di situs berita lain, inilah.com, memuat berita anggota DPR yang menampar salah seorang penjaga lift hotel Pasific Place. Kemarin, anggota DPR yang tertangkap kamera dengan kasus video pornonya. Belum lagi dengan kasus-kasus selingkuh mereka yang sudah menjadi berita basi..

Mau dibawa kemana negeri ini, wahai Bapak-Bapak terhormat?

Ada yang bilang, ini adalah karena praktik politik dagang sapi di kalangan partai..
Ada yang bilang, ini karena politik kita terlalu dekat dengan uang..
Ada pula yang bilang, karena mereka sudah lupa dengan stempel rakyat di belakang kata wakil..

Jujur, tanpa kita hina, dan tanpa kita caci maki pun.. rasanya anggota DPR memang sudah terhina dengan sendirinya. Dan saya pikir ndak ada gunanya kita mencaci mereka. Atau mencoba mengirimi mereka dengan gempol atau asah parang. Percuma... seperti itulah fakta yang kita harus hadapi..

Lalu, apa yang bisa kita kerjakan? Tidak adakah jalan untuk mencongkel anggota-anggota DPR kita yang ndak becus? Tidak adakah sistem di negeri kita yang mencoba menutup lubang DIGDAYA anggota DPR kita?

Sistem politik di Indonesia sudah rusak. Rasanya tidak ada yang memungkiri hal ini. Pertanyaan selanjutnya, menurut Anda, dengan apa kita harus mengganti orang-orang ini? Dan seperti apa sistem yang bisa kita realisasikan? Mencoba mengubah dengan masuk ke dalam sistem atau berada di luar sistem kemudian tidak tahu apapun tentang sistem tersebut?

Dan jangan lupa, persoalan anggota DPR ini hanyalah gunung es dari persoalan sesungguhnya. Belum lagi bila dikaitkan dengan keadaan di daerah yang lebih sering luput dari pemberitaan..

Pertanyaan sederhana, persoalan bangsa ini dimulai dari pemerintahnya, atau dari rakyatnya?

 
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Sekilas Pandang Dinar dan Dirham

tulisan ini adalah komentar Mirza Komera dalam status Pak Zaim Saidi dengan sedikit editing minor

Berikut ini adalah beberapa pendapat keliru tentang Dinar Dirham. Pendapat-pendapat tersebut dapat dikelompokkan kedalam dua kutub ekstrim.

PERTAMA: yang menilai dinar adalah bagian dari perekonomian Arab 1500 tahun yang lalu, sehingga tidak relevan dengan perekonomian sekarang.

1. Dinar hanya untuk closed economy: pendapat ini keliru karena pada masa Rasullah beredar dinar (dari Romawi) dan dirham (dari Persia).
# Volume transaksi perdagangan international di jazirah Arab begitu besarnya, bahkan dikenal sebagai jalur perdagangan Utara dan Selatan.
# Jalur perdagangan Utara: India, Oman, Syam, Roma; Jalur Selatan: Roma, India; serta jalur Utara-Selatan: Syam dan Yaman.
# Perdagangan Rasul menggunakan barter: pendapat ini tidak tepat, karena pada masa sebelum Rasulullah telah beredar alat tukar dinar dirham.
# Dan Rasulullah tidak melarang dinar dan dirham yang beredar di masayarakat untuk digunakan sebagai mata uang.
# Hal ini otomatis membantah pendapat yang mengatakan bahwa perdagangan pada masa Rasul menggunakan sistem barter.

2. Dengan dinar, tidak perlu adanya Bank central: pendapat ini keliru karena negara perlu mengontrol peredaran dan harga emas/perak.
# Pada masa Rasullah tidak ada bank sentral karena tidak mencetak dinar/dirham. Namun dikenal otoritas keuangan pemerintah: Baitul Mal.
# Pada masa Abdul Malik bin Marwan (74 H) ada bank sentral karena pada masa itu dinar/dirham telah dicetak oleh Daulah Islamiyah.

KEDUA : yang menilai dinar dan dirham adalah mata uang yang diridoi Allah dan Rasul, sehingga penggunaannya wajib hukumnya.

1. Dengan digunakannya dinar, otomatis terhindar dari inflasi. Pendapat keliru karena digunakannya dinar, tidak otomatis inflasi hilang.
# Bahkan pada zaman Rasul tercatat, pernah terjadi inflasi meskipun pada saat itu digunakan dinar dan dirham.
# Inflasi sebenarnya bukan merupakan fenomena yang musti ditakuti, karena tergantung penyebab dari inflasi.
# Sepanjang inflasi diakibatkan oleh supply stocks dan high cost economy (dinamika dari sektor riil) maka itu tidak menjadi masalah.
# Lain halnya jika diakibatkan oleh money creation tanpa diimbangi kebutuhan dari sektor riil.

2. Dinar adalah mata uang Islam. Anggapan sebagian masayarakat bahwa dinar berasal dan merupakan milik Islam adalah sebuah kekeliruan.
# Pada kenyataannya sejarah mendapati bahwa dinar berasal dari Roma dan dirham berasal dari Persia.
# Bahkan nama dinar sendiri diambil dari nama raja Roma yang bernama ”Dinarius”, sedangkan dirham diambil dari bahasa Yunani Kuno ”Drahms”.
# Penggunaan dinar akan menghapuskan riba. Ini tidak benar. Riba pun dipraktekkan secara luas pada masa Rasulullah meski ada Dinar Dirham.
# Riba dihapus secara bertahap bahkan sampai dengan Khutbatul Wada’ riba masih dilakukan oleh sahabat Rasulullah.

-Multisumber-

kesimpulan: sebagaimana yang sudah sering saya bilang, bahwa dinar dan dirham itu hanyalah mata uang yang sifatnya netral. sifatnya sama persis seperti mata uang lain, termasuk rupiah. dan menurut saya, satu-satunya jalan untuk mencapai bentuk ekonomi yang lebih adil dan sejahtera, adalah dengan mencari sistem alternatif baru yang tidak melulu berpusat pada keuntungan pemodal semata.

pertanyaan yang sangat menohok bagi pemuja ekonomi kapitalis adalah; "Mungkinkah kita bisa mengurangi kemiskinan bila keinginan terdalam kita justru selalu berusaha menjauhkan mereka dari menikmati harta yang kita peroleh?"

ini sama seperti sikap Qarun, sebagaimana diceritakan dalam al Quran (al Qoshos: 78), "Innama utituhu ala ilmin indi" Sesungguhnya, apa yang kudapatkan adalah dari amal perbuatanku sendiri.. (neilhoja)

Wallahu a'lamu bisshowab.


--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Minggu, November 21, 2010

Rindu dan Kangen; Facebook vs Google

Ups, ko judulnya rindu dan kangen? Yeeha... ini karena dah lama sekali aku ga ngeblog. hehe, akhirnya bisa ngeblog lagi setelah dipaksa. Aturannya sih, hari ini harus dah jadi makalah buat besok presentasi. Tapi karena ngerasa banyak berutang tulisan sama blog, harus dipaksa-paksain deh nulis. :D

Okeh, sebenernya banyak banget yang ingin kubagi di sini. Yah, gimana enggak.. bahkan kalau pun mau dibagi, sehari aja bisa dapet banyak cerita. Gimana jadinya kalo udah sebulan penuh ga pernah cerita? Wkwkkwk...

Jumat, Mei 28, 2010

Rencananya, Sepeda Motor Bakal dilarang Pakai Premium

Menurut bocoran dari pemerintah, pengendara sepeda motor akan dilarang menggunakan bensin premium bersubsidi, dan dipaksa memakai pertamax. Maaph, ni bukan pertamax gan seperti yang dicari-cari di kaskus, tapi ini pertamax beneran salah satu jenis bbm (Bahan Bakar Minyak). Alasannya, karena dikhawatirkan beban APBN akan membengkak dengan banyaknya sepeda motor yang memakai bensin bersubsidi. Karenanya, pemerintah pun berinisiatif memaksa pengendara sepeda motor membeli pertamax. T_T

Rabu, Mei 19, 2010

Agus Mustofa, Sebagai Seorang Penulis

Tepat sehabis Subuh tadi, gak seperti biasanya, sehabis begadang, aku ga lanjut tidur. Kedatangan seorang tamu yang juga pernah ke sini, membuatku berkesempatan untuk menjemput beliau. Seorang penulis produktif, yang tidak saja berhasil menerbitkan buku setiap tiga bulan sekali, tapi juga mampu membuat setiap bukunya menjadi best seller di pasaran.

Siapakah dia? Para penikmat diskusi tasawuf modern pasti mengenalnya.. Buku-buku beliau antara lain, Akhirat Tidak Kekal, Pusaran Energi Ka'bah, Bersatu dengan Allah, Untuk Apa Berpuasa, Khusyu, Membela Allah, dsb. Anda mengenalnya? Ya, beliaulah bapak Agus Mustofa.. sang insinyur teknik nuklir yang digelari kawan-kawan beliau sebagai mahasiswa jurusan sastra nuklir. :D

Sabtu, Mei 15, 2010

Artikel Bursa dan Saham dalam Perspektif Ekonomi Islam

Pagi-pagi, berencana onlen sebentar ternyata di sapa temen di facebook. Namanya Rois Fata, katanya butuh bantuan terkait artikel-artikel tentang bursa dan saham. Sambil curhat dia bilang, “Di muqorror (diktat kuliah di Azhar) Qodoya yang ngebahas hukum mesir, isinya njlimet dan ga sistematis..” Dan akhirnya sambil iseng bentar, aku coba nyari-nyari di internet, karena kubilang ga punya makalah tersebut di laptop.

Apa itu bursa saham? Dan bagaimana pasar bursa saham itu bergerak? Apa saja yang menjadikannya begitu penting, sehingga Majma’ Fiqih Islamy tidak memfatwakan untuk menghilangkannya?

Senin, Mei 10, 2010

Karakter Berdasarkan Tanggal Lahir

Tulisan ini kudapat dari blog orang, kemudian ku posting ulang di sini sebagai bahan arsip. Di bawah ini menjelaskan secara singkat tentang bagaimana karakter dan bawan watak seseorang yang lahir pada tanggal tertentu. Hal ini bisa Anda temukan dan bisa dicocokkan pada teman, saudara ataupun pada diri Anda sendiri terkait karakter yang dijelaskan di sini. Benarkah karakter seseorang bisa dibaca atau ditentukan oleh suatu hal yang sifatnya takdir, seperti tanggal lahir ini? Dan benarkah ramalan ini bisa dipercaya, atau malah ga boleh kita percayai? Soalan ini pernah dulu kubahas, dan jawaban singkatnya adalah.. silahkan anda baca, dan anda cocokkan, akan tetapi tidak untuk kita percayai mutlak kebenarannya. kata Rasul, "kadzaba al-munajjimun walau shadaqu.." sesungguhnya orang-orang ahli perbintangan (dukun, dsb) itu berbohong, meskipun (bisa jadi) yang dikatakannya (ternyata) benar.

Minggu, April 25, 2010

Kebenaran, Relatif atau Mutlak?

Sempat tertarik dengan diskusi yang ada di lapak sebelah soal redefinisi aliran sesat, tapi alih-alih memberikan definisi baru.. menurut saya justru artikel di sana, malah memberikan definisi lain yang lebih blur.. alias ga jelas. Persoalannya sederhana, karena patokan kebenaran menurut kang as adalah relatif. Karenanya, tanpa sebuah patokan, sesuatu hal (benda) tidak bisa dinilai atau dihukumi.

Sabtu, April 17, 2010

Bill of Exchange dan Sekuritas dalam Ekonomi Syariah

Pada sore tadi, tepatnya pukul 16.00 CLT, seperti biasa diadakan kajian reguler mingguan 'warga' PAKEIS level 3. Kali itu kembali diadakan di ruangan Syatibi Center, masih di bilangan Rabeea El-Adawea.

Sore itu, kita membahas persoalan Auraq Maliyah (surat-surat berharga, efek, sekuritas) dan Auraq Tijariyah (bill of exchange, syuftaja, promissory note, kimbiyalah). Dan pada kesempatan ini, tampil sebagai pembicara adalah Rahman Alfajri berduet dengan Irfan Asy'ari. Rahman membahas materi Auraq Maliyah atau surat-surat berharga (sekuritas) sedangkan Irfan membahas materi Auraq Tijariyah. Lain itu, bertindak sebagai moderator sekaligus notulen adalah saudara Dude's Medley, atau yang dalam akte kelahirannya tertulis Dudi Kurniawan.

Jumat, Februari 26, 2010

Pluralisme Agama dan Persoalan Definisi

Membahas tema pluralisme, akhir-akhir ini semakin menarik. Terlebih setelah wafatnya KH. Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur, yang bahkan oleh SBY disebut sebagai Bapak Pluralisme Agama Indonesia. Namun faktanya, MUI sendiri telah melarang penyebaran isme ini, bahkan memberinya fatwa haram atas ideologi ini. Akan tetapi, mengapa bangsa kita yang notabenenya mayoritas muslim, justru mencela dan mengatakan ‘bodoh’ terhadap MUI atas fatwanya itu?

Minggu, Januari 03, 2010

Download Ebook Gurita Cikeas Full dan Wawancara Rusdi Mathari dengan George Junus Aditjondro

Akhir-akhir ini, nama George Junus Aditjondro, penulis buku Gurit Cikeas begitu santer dibicarakan. Tak lain dan tak bukan, karena berita tentang pencekalan bukunya oleh pihak tak dikenal, sebagaimana dikutip kompas.com Buku itu diklaim oleh sang penulis adalah hasil penelitian ilmiahnya akan jaringan cikeas yang sudah mengakar di negeri ini. George mencoba mengungkap yayasan-yayasan keluarga Cikeas dan sepak terjangnya.


Diantara nama-nama lembaga yang terkait adalah kantor berita Antara dan Partai Demokrat. Namun, tak semua menyambut baik hadirnya buku ini. Ada beberapa kaskuser yang justru mencibir George, dengan mengatakan bahwa isi bukunya tak lebih dari data-data sekunder biasa. Tak ada yang menarik.

Bahkan seperti dikutip Cak Rusdi, wartawan yang juga seorang blogger, bahwa Denny Idrayana S.H., LL.M., Ph.D., staf khusus presiden itu, menyempatkan menulis status di Facebook-nya soal buku. Kata dia, “Buku sampah. Informasi sampah. Gosip sampah. Kalaupun didapat, ya langsung masuk tempat sampah, tidak usah pula terlalu ditanggapi atas nama kebebasan berpendapat pula, ah ora pantes je! Keep fighting for the better Indonesia. Just Doa and Do the best!”

Akan tetapi, yang sangat disayangkan banyak pihak, penarikan buku yang tidak sesuai prosedur. Dan publik menjadi kian penasaran dengan berita penarikan yang dirasa sangat tidak biasa di alam reformasi ini. Aku sendiri jadi heran, apakah ini Orde Baru jilid II?

Nah, buat temen-temen yang penasaran dengan buku ini silahkan membaca atau mendownloadnya di sini:

Download Buku Gurita Cikeas George Junus Aditjondro Pra Cetak


Download Ebook Gurita Cikeas Bank Century Full
(183 hal.)

Selanjutnya, ada juga hasil wawancara cak Rusdi dan kawan-kawan dengan george. Begini petikan wawancaranya:

Wawancara
BUKU Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Century membuat geger. Diluncurkan kali pertama di Yogyakarta, 23 Desember 2009, buku itu menimbulkan polemik hingga berakhir dengan drama “pemukulan” oleh George Junus Aditjondro kepada Ramadhan Pohan, di Doekoen Coffee, Pancoran, Jakarta Selatan, sepekan kemudian.

Ramadhan adalah Pemimpin Redaksi Harian Jurnal Nasional dan George menuduh koran itu dimodali oleh Boedi Sampoerna, salah satu nasabah Bank Century. Dalam beberapa kali pertemuan di acara televisi, lewat buku itu, George dituding Ramadahan sedang berhalusinasi, sebaliknya George menuduh Ramadhan terus memprovokasinya.

Namun soalnya tentu bukan tentang saling tuding antara kedua orang itu. Soalnya adalah buku George, salah satu buku yang kini paling banyak diburu orang.

Beberapa jam setelah acara peluncuran buku di Doekoen Coffee dan insiden “pemukulan” itu, George menerima Agus Triyono, Ezra Sihite, Rangga Prakoso dan Rusdi Mathari dari Koran Jakarta untuk menjelaskan beberapa hal seputar bukunya dan perseteruannya dengan Ramadhan. Wawancara diselingi dengan dering telepon George yang menerima banyak permintaan wawancara dari media elektronik. Sore, Rabu 30 Desember lalu, George memang tampak kelelahan tapi dia menjawab semua pertanyaan.
Berikut petikannya:

Anda menyesal setelah “memukul” Ramadhan Pohan?
Tidak apa- apa dan tidak masalah. Sekali-sekali perlu juga dikasih pelajaran. Begini, kalau saya maki Anda berkali-kali, saya fitnah Anda berkali- kali, maka pertama, Anda bisa diam saja, kedua Anda bilang “Eh diam,” ketiga plak… (memperagakan pukulan back hand). Gini-gini kan aku bekas pemain badminton (tertawa). Dulu pernah juga main yudo.

Kenapa Anda terprovokasi?
Saya kira saya punya emosional, selain sisi rasional dan itu manusiawi. Ini sudah yang ketiga kalinya, dia (Ramadhan Pohan-Red) mengatakan saya berhalusinasi. Saya pernah lari ke Australia, lari dari rezim Soeharto dengan harapan bisa meneruskan oposisi. Ketika itu menimbulkan kontroversi. Buyung (Adnan Buyung Nasution-Red) termasuk tidak setuju, dan mengatakan George bukan kesatria. Saya memang bukan kesatria tapi Brahmana.

Anda menyebut, ini upaya Ramadhan yang ketiga?
Ini sudah ketiga kalinya dia bercerita yang sama. Makanya yang berhalusinasi itu siapa?

Merasa dijebak?
Sesudah saya renungkan. Dia kemudian pergi ke polisi. Baru saya sadar dijebak.

Ramadhan melaporkan “pemukulan” dirinya kepada polisi?
Nanti kita akan hadapi. Ada saksi di sini (Doekon Coffee- Red) yang tidak mengatakan saya memukul. Tangan saya tidak menyentuh bahkan buku saya pun mungkin juga tidak menyentuh dia. Saya memang ingin menghentikan halusinasi dia. Karena yang berhalusinasi bahwa keluarganya di kampung menganggap dia bagian dari Century adalah dia (Ramadhan Pohan-Red). Padahal tidak ada tulisan tentang dana Bank Century yang mengalir ke koran Jurnal Nasional tapi Ramadhan balik, bahwa saya menuduh dia? Itu bisa dibuktikan dalam buku itu. Kita bicara tentang buku.

Ramadhan mengaku pernah membantu Anda?
Itu setahun yang lalu. Saya dipakai dia untuk berjualan terus. Padahal waktu itu tidak banyak yang dia bikin.

Anda menganggap tak ada masalah dengan insiden tadi?
Saya kira dia pintar main drama. Artinya sesudah itu langsung dia berputar dan langsung berkata aduh. Nanti akan dikatakan, George memukul anggota DPR.

Tadi ketika acara peluncuran buku Anda, ada demonstran yang menuntut kewarganegaraan Anda?
My biological background, Ibu saya Belanda dan Bapak saya Jawa. Saya besar di Makassar . Di rumah pakai tiga bahasa Indonesia, Belanda dan Makassar. Bapak saya Jawa, Islam abangan. Ibu saya Belanda, Protestan abangan. Saya bukan menjadi burung gereja tapi burung rajawali. Saya belajar teologi pembebasan. Inspirasi Katolik, analisis Marxis. Mungkin karena pernah besar di dua budaya, Jawa dan Makassar, membuat saya senang antropologi tapi saya juga senang komunikasi lintas budaya.

Anda warga Belanda atau Indonesia?
Itu legalistis. Jiwa orang tergantung dari selembar surat. Itu konservatif. Melihat orang dari paspor dan paspor tidak menentukan patriotisme. Berapa banyak pengemplang BLBI, punya beberapa paspor? Berapa banyak pelanggar HAM yang punya paspor Indonesia ? Kalau mau jadi peneliti, cobalah menjadi orang yang bisa lintas disiplin, lintas bangsa.

KTP punya kan?
Pertanyaan Anda kayak polisi

Apa yang sebetulnya ingin Anda sampaikan lewat buku ini?
Sudah terjawab dari awal launching buku tadi. Spesialis sosiologi korupsi, bidang yang terlalu luas. Bidang yang orang agak segar. Ada orang yang suka menantang bahaya. Adrenalin saya menantang penguasa. Menantang kemapanan. Saya menulis tentang budaya Papua karena orang Jawa menghina Papua. Buto digambarkan hitam, keriting, dan dua mata besar. Sedangkan kesatria, berperilaku halus, santun dan bermata satu. Saya kan juga belajar budaya Jawa.

Anda mendapatkan banyak ancaman setelah menerbitkan buku ini?
Yang saya dapat bukan ancaman tapi fitnah. Dan saya ingat kata-kata Gus Dur, seseorang yang makin banyak di fitnah di bumi makin besar pahalanya di surga.

Sudah ada telepon dari orang-orang SBY?
Kalau nomor yang tidak saya kenal maka akan saya matikan. Nomor-nomor baru yang muncul akan saya duga-duga, teman atau bukan.

Judul buku Anda menggunakan frasa gurita, lalu siapa yang menjadi kepala guritanya?
Silakan tebak sendiri. Kepalanya siapa yang memakai mahkota, banyak kantong matanya. Itu hasil diskusi dengan seniman.

Jadi siapa yang Anda maksud sebagai Gurita Cikeas?
Tidak. Istilah “Gurita Cikeas” adalah sinergi dari semua komponen dan semua komponen pasti punya the god father-nya. Tidak jelas apakah dalam “Gurita Cikeas” ini dia punya the god father atau the god mother.

Menko Polkam Djoko Suyanto, balik bertanya, ke mana saja Anda, kok baru sekarang menulis soal yayasan di bawah SBY?
Berarti dia belum baca tulisan saya tahun 2006 yang memetakan bisnis elite dari Soeharto hingga SBY.

Pihak Antara sudah melakukan somasi pada Anda terkait buku ini?
Somasi Antara sudah saya terima kemarin dan disaksikan oleh wartawan. Lawyer yang ditunjuk Antara untuk mengantarkan somasi itu, sebelumnya telah menelepon saya dan ingin bertemu dengan saya empat mata atau enam mata karena saya berkacamata. Saya merasa aneh karena waktu itu dia mengatakan “Kita bertemu empat mata saja jangan ada wartawan dan saya akan foto dan foto itu akan sekadar saya gunakan untuk laporan ke atasan saya, ke pemberi order dalam hal ini Antara.”

Saya curiga dan tidak mau, karena jangan- jangan foto itu nanti akan dipelintir “George sudah meminta maaf ke Antara melalui penasihat hukumnya.” Dia lalu hanya memberikan dokumen kepada saya dan langsung pamit. Tadi malam saya baru baca isi somasi itu.

Isinya, saya akan mengoreksi dan minta maaf dan ucapan maaf itu akan dimuat di sekian banyak media dan harus dilakukan dalam waktu 2x 24 jam. Jelas sampai saat ini saya tidak akan minta maaf. Ini adalah penelitian. Saya punya penelitian, hasilnya demikian dan pimpinan Antara berpendapat lain.

Jadi Anda akan melakukan revisi?
Dalam edisi revisi, pandangan yang lain juga akan saya masukkan. Juga pandangan yang lain tentang kedudukan Rully Iswahyudi. Sebab dalam buku itu dengan mengutip situs resmi Partai Demokrat, sampai dengan 20 Juli 2009, Direktur Pemasaran Antara masih merupakan staf khusus Bapilu Partai Demokrat. Ini pelanggaran undang-undang. Memang banyak partai lain juga melakukan dan semuanya sudah mengundurkan diri termasuk Demokrat tapi mereka mengundurkan diri kan setelah mendapatkan teguran dari Bawaslu.

Sebelum ditegur oleh Bawaslu dan kemudian ditarik oleh Hatta Radjasa, bagaimana jaminan kita bahwa kedudukannya di BUMN tidak dipakai untuk mengalirkan uang ke partai? Ini perlu diaudit dan saya tidak lagi percaya pada auditing dari Bapilu. Sekarang, perlu ada auditor rakyat untuk mengaudit hal seperti demikian. Jadi dengan demikian ralat saya adalah saya akan masukkan dua versi. Menurut versi situs Partai Demokrat Rully masih menjadi anggota dan menurut pimpinan Antara, dia sudah mengundurkan diri.

Anda sadar, buku Anda akan menimbulkan gejolak?
Sebetulnya dalam semua penelitian, semua gejala sosial punya banyak dimensi dan punya banyak versi. Seorang peneliti yang baik, akan berusaha memasukkan semua versi dan itu merupakan sebagian kecil dari revisi. Bagian yang lebih banyak lagi adalah mengenai Demokrat dan banyak sekali yang belum masuk. Itu sebabnya saya sudah memperhitungkan bahwa dari 183 halaman mungkin akan menjadi 250 halaman. Itu akan dikerjakan sementara mencetak cetakan kedua untuk melayani teman- teman di luar Jawa yang sama sekali tidak punya kesempatan meng-copy, membajak, atau download di internet. Sekarang buku saya sudah banyak dibajak. Itu hal biasa, karena dulu tulisan saya tentang Soeharto dan B.J. Habibie juga dibajak. Hanya karya yang bermutu yang dibajak orang. Karya yang tidak bermutu tidak (tertawa).

Apa motivasi Anda melakukan riset dan menerbitkan buku ini?
Motivasi saya ada motivasi politik, ada motivasi intelektual. Jualan saya adalah korupsi. Sosiologi korupsi bukan koruptor. Karena sosiologi korupsi begitu luas, dalam dunia ilmu pengetahuan ada yang namanya spesialisasinya.

Ini adalah buku saya yang ketiga tentang korupsi kepresidenan. Buku saya yang pertama judulnya juga menggelitik dan mungkin ada yang tersinggung karena judulnya adalah Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari. Soeharto dan Habibie adalah dua puncak KKN Orde Baru. Hampir saya tambahkan dengan edisi revisi dengan menambahkan Ginandjar Kartasasmita. Bahkan judulnya sudah ada, Soeharto Kencing Berdiri, Habibie Kencing Berlari dan Ginandjar Terkencing-Kencing. Reproduksi oligarki berkaki tiga, sudah masuk juga era SBY-JK.

Jadi buku ini adalah kelanjutan intelektual saya. Saya rasa intelektual Indonesia sering tidak berani menyentuh hal-hal yang tabu seperti menyentuh Timor Timur, militer, kepresidenan. Kalaupun ada buku tentang korupsi, itu semua masih bersifat umum. Saya rasa sangat berbeda dan saya ingin membuktikan bahwa orang Indonesia juga bisa menulis buku dan buku ini harus dilihat berdampingan dengan buku korupsi kepresidenan.

Banyak yang mempertanyakan keilmiahan buku Anda ini?
Bagi saya, segala macam itu sering dibelenggu orang sekolahan. Terus terang, buku saya tidak berpretensi untuk seilmiah mungkin. Buku saya merupakan ilmiah populer, dalam arti menggunakan data, bahasa supaya kita bisa melihat apa yang sedang terjadi. Saya kira untuk melawan kekuasaan kita perlu berhias. Di stasiun TV dikatakan ada cover both side, which side? Artinya saya mendahulukan meng-cover the exploited side. Kalau itu dikatakan tidak ilmiah, kita bisa berdebat tentang paradigma. Tidak ada paradigma tunggal.

Soalnya, Anda dianggap banyak menggunakan data sekunder?
Itu berarti mereka tidak mengerti metodologi penelitian. Saya sudah bilang, apa salahnya data sekunder? Untuk apa orang membuat situs (internet)? Untuk apa kita membuat itu? Anda pernah melakukan studi kepustakaan kan ? Internet adalah perpustakaan virtual. Jadi tidak perlu semua data, semua majalah, jurnal, harus ada di rumah tapi bisa diakses dari internet. Tidak ada masalah.

Butuh waktu berapa lama melakukan penelitian untuk buku ini?
Sejak dia (SBY-Red) menjadi calon presiden. Saya ini kan presidential watch. Siapa pun yang mencalonkan diri menjadi presiden, saya akan kumpulkan datanya. Jadi fair, dan tidak hanya berhenti di Soeharto. Karena dengan menumbangkan Soeharto, tak berarti penyakit Orde Baru bisa dihilangkan.

Mengapa Anda sering memosisikan diri sebagai oposisi?
Karena saya rasa terlalu banyak hal yang dianggap tabu. Berbicara tentang negara, kita dilarang berbicara tentang federalisme. Bicara soal ekonomi tidak boleh bicara sosialisme yang identik dengan komunisme. Jadi saya ingin menelanjangi hal-hal yang selama ini ditutupi. Itu yang mendorong saya menjadi.

Oposisi itu anti kemapanan. Anti terhadap hal yang ditabukan. Misalnya, Indonesia sudah bebas bicara federalisme, saya tidak perlu lagi berbicara tentang itu. Misalnya, yang nonmuslim sudah tidak alergi terhadap orang yang bicara negara agama. Saya ini pendobrak kemapanan. Melawan mainstream. Di pihak lain saya memiliki fungsi sebagai penghubung di antara unsur, kultur, komunitas dan bangsa yang berbeda.

Pernah ada titik lelah, kemudian ingin berhenti atau malah tidak pernah sama sekali?
Kalau saya lelah di politik, bisa melampiaskan kesenangan ke lintas disiplin di bidang lain. Karena saya orang Gemini maka saya suka seni. Latar pendidikan saya IPA. Kuliah empat tahun elektro dan kemudian mengambil ilmu sosial. Doktor, tanpa S1, tanpa diploma ijazah SR (Sekolah Rakyat-Red). Saya akan lelah kalau hidup monoton. Saya akan bingung bila semua berjalan lancar.

Kami dengar buku Anda sebetulnya akan diterbitkan saat musim kampanye Pemilu Presiden lalu?
Ada rencana meng-update buku Korupsi Kepresidenan. Di situ SBY-JK sebagai epilog. Judul tulisan Menyongsong SBY Dua (Apakah Mungkin) Lebih Bersih dari yang Sekarang? Itu akan terbit di majalah Sospol Universitas Kristen Indonesia.

Lalu kenapa baru diterbitkan sekarang? Apa ada yang memesan?
Memang, berapa uang mereka bisa pesan saya? Masa harga saya bisa dipesan lima puluh bungkus? Timing itu juga menunjukkan sesuatu yang membengkak kan ? Apa salahnya dengan timing?

Anda membantah tentang kemungkinan adanya pasangan capres yang kalah di belakang Anda. Bagaimana dengan kemungkinan, SBY berada di belakang penulisan buku ini?
SBY tidak ada di belakang saya (sambil menoleh ke belakang). Kalau itu terjadi maka sempurna sudah halusinasi kita.

Ada kecurigaan gonjang-ganjing buku Anda, bagian dari promosi buku?
Apa saja bisa dibilang orang

Anda santai banget. Kayak enggak ada takut?
Ini agak longgar waktunya. Dulu saya putuskan untuk hijrah karena punya tanggung jawab sebagai ayah. Kalau dulu saya ditangkap pada era Soeharto, diperiksa dan diadili, kasihan anak saya.

Jadi sekarang, siap ditangkap dong?
Ya.

Kenapa Anda mengenakan selendang Ulos?

Saya suka pakai tenun. Jaket kain Sulawesi Barat tapi paling banyak mengoleksi Ulos

Wawancara ini dimuat di Koran Jakarta edisi Minggu 3 Januari 2010 Halaman 3

Dikutip dari facebook Cak Rusdi Mathari.

Bila menemui kesulitan dalam mendownload via google docs, silahkan kunjungi dan download dari thread di kaskus ini: Kaskus.Us

Atau bisa juga dengan tips ini.
I have had similar problems. Published documents In Google Apps Domain were redirecting me to a general Google Account login page.
(I am working on a Mac Leopard(Intel) and a Firefox Browser)
I discovered that disabling the Google Gears extension in the Firefox add ons does the trick. Once that is done I can view the published document without any problem. If you don't have Google Gears installed it might be one of the other Add-ons that is causing this problem

Hope this helps.

source: Google Help
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Jumat, Desember 25, 2009

Berqunut adalah Bid'ah?

Beberapa minggu yang lalu, ada seorang temen di facebook yang bertanya tentang masalah Qunut. Dia cerita tentang sebuah hadist sahih dari riwayat Imam Bukhori yang intinya begini, bahwa Rasulullah pernah berqunut selama sebulan mendoakan suatu kaum, kemudian meninggalkan ibadah qunut itu. Dia pun kemudian bertanya, bagaimana menurutku perihal hadist sahih yang dia temukan di kitab bulughul maram ini?

Jumat, November 27, 2009

Ujian Nasional (UN) Dilarang oleh Mahkamah Agung (MA)

Jalan-jalan di facebook dan ngedapetin status dari temen soal Ujian Nasional alias UN di sekolah-sekolah yang dibatalkan. Karena kebetulan kemarin baru baca di situs Politikana.com akhirnya neilhoja pun jadi pengen urun cerita. Dan tentunya menegaskan, bahwa emang benar bahwasanya Ujian Nasional memang telah diputus Mahkamah Agung. Kabar ini sendiri dipastikan langsung oleh Kang Prajnamu, salah seorang tokoh di situs Politikana.com dan telah beliau klarifikasi.

Rabu, November 25, 2009

Hukum dan Dalil Puasa Tarwiyah dan 9 Dzulhijjah

Alhamdulillah, tak lama lagi kita akan menyambut hari Raya Idul Adha. Ceritera dari negeri Mesir, kalau di sini, Idul Adha jauh lebih ramai dibanding Idul Fitri. Nah, sebelum menyambut hari itu, ternyata ada beberapa amalan sunnah selama bulan ini lo. Diantaranya, puasa sunnah arafah, puasa hari tarwiyah. dll. Sering kita mendengar ibadah ini, dan bahkan bisa jadi diantara teman kita mengajak untuk melaksanakannya. Tapi, benarkah ibadah ini, dalam artian memiliki landasan hukum? FYI, prinsip ibadah dalam islam adalah tidak diperbolehkan, kecuali hal-hal yang sudah ditetapkan dalam syariat, baik itu dalam al-Quran ataupun Hadis.

Artikel Kajian Hukum Memakai Barang Bajakan

Dengan atau tanpa kita sadari, hari-hari kita bisa jadi telah berkubang lumpur barang bajakan. Terlebih khususnya untuk para mahasiswa dan atau pelajar. Apalagi bila dia seorang maniak komputer dan internet. Bisa jadi, dari semua program atau software yang dia pakai adalah program bajakan (download gratisan). Produk bajakan itu sendiri bisa berupa macam-macam, sebut saja musik, ebook, film, software, dsb. Lantas, bagaimana dan apakah hukum memakai produk bajakan ini? Selanjutnya akan kita bahas di forum kajian obral, catat dan ikuti kajiannya:

Jumat, November 20, 2009

Artikel Hukum Fiqih MLM dalam Islam

Dalam sebuah seminar kecil di bulan kemarin, kebetulan neilhoja dan nggapriel ditunjuk jadi pemakalahnya. Diadakan di kantor Sekretariat IKPDN di bilangan Rob'ah, Nasr City, Kairo. Kala itu, neilhoja dan nggapriel membawahi sebuah makalah tentang bank syariah, sebuah makalah rewrite yang kami tulis sebelumnya untuk kajian PAKEIS (Pusat Kajian Ekonomi Islam) di bawah naungan ICMI.

Hanya saja sayang, ketika itu mendapat pertanyaan yang ada di luar konteks bank syariah. Tak ayal, kami pun harus mengaku bahwa belum sempat mengkaji hal ini, yaitu hukum MLM dalam Islam, khususnya DBS. Beruntung ketika itu kita didampingi ustadz senior kita, Pak Ghozali..