Tampilkan postingan dengan label Corat-Coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-Coret. Tampilkan semua postingan

Sabtu, November 22, 2014

Order within Chaos

Saat apa yang engkau lihat, tak seperti apa yang ada.

Manusia dengan logika nya berusaha menakar masa depan. Dan mencoba menafikan perasaan.. membunuh nya.

Karena perasaan tak mampu menebak masa depan, maka ia pun seringkali diabaikan oleh banyak orang..

Sebuah film, interstellar, alias antar bintang-bintang.. menyajikan drama kebalikannya.

Saat tokohnya, Cooper dihadapkan pada pilihan sulit.. bahan bakar menipis dan hanya cukup untuk berkunjung ke salah satu dari dua planet. Planet Dr. Mann atau planet Edmunds.

Cooper sebagai kapten, mengajak berdiskusi awaknya. Brand, memilih planet Edmunds. Tapi Cooper menolaknya. Selain alasan logis bahwa planet Dr. Mann laporannya lebih menjanjikan, juga karena menurut Cooper, Brand jatuh cinta pada Edmunds. Sehingga tak lagi obyektif dan bias.

Singkat cerita, Cooper pun mendatangi planet Dr Mann dan mengabaikan usulan Brand. Tak disangka, ternyata laporan Dr Mann adalah palsu, dia hanya ingin dikunjungi dan diselamatkan..

Dan di akhir cerita, terungkap bahwa planet Edmunds adalah planet yang seharusnya mereka pilih.

Tentu saja, sebuah film tak layak dijadikan argumen. Apalagi untuk mematahkan teori kekuatan logika untuk menakar masa depan.

Tapi di sini aku coba menunjukkan bahwa pun logika, tak sepenuhnya mutlak mampu menebak masa depan. Kata David Hume, masa depan ditakar hanya karena probabilitas nya yang lebih besar. Atau menurut pengamatan Heisenberg.. justru bagian terkecil alam, atom, justru bekerja secara acak.. chaos.

Lantas pertanyaan nya, kepada apa kita gantungkan masa depan? Logika ataukah perasaan..

Di tengah kebingungan hidup, sahabat ku mengingatkan dalam tulisannya.. Order within Chaos.

Bahwa menjalani ketidak-aturan hidup, sesungguhnya ia berada dalam keteraturan.. hidup adalah chaos dalam perspektif manusia. Tapi sesungguhnya ia adalah pasti di tangan Allah.

Saat kita begitu kehilangan arah, goncang dalam pijakan, sangat buram menatap kehidupan.. saat itulah iman kita diuji. Rendah kan ego, kesombongan, bahwa manusia tak berarti apa-apa. Gusti Allah berfirman,

الم. احسب الناس ان يتركوا ان يقولوا آمنا وهم لا يفتنون..

So, keep calm and trust Allah. Percayalah tak ada yang sia-sia, apapun nanti hasil akhir dari apa yang sudah kita putuskan.. jika semua yang kita lakukan itu adalah karena Allah semata.

Namun jangan lupa tuk berdoa, tundukkan hati, dan lirihkan suara mu dalam sujud..

Semoga Allah swt., memberi kita akhir yang baik dan indah. Sebagaimana Engkau ya Allah, ciptakan makhluk Mu indah dan sempurna.

ربنا آتنا من لدنك رحمة وهيء لنا من امرنا رشدا..

Wallahu a'lamu bishshowab.

Selasa, November 11, 2014

Salah Paham

Mari kita mulai dengan sebuah adegan dalam film. Judulnya "People Like Us".

Seorang ibu, bernama Frankie, terpaksa menghadap kepala sekolah tempat anaknya belajar. Sang anak didakwa telah merusak kolam renang sekolah. Ia pun diancam akan dikeluarkan dari sekolah.
Tapi sang ibu tak terima. Ia pun memulai argumen nya dengan pertanyaan menjebak, "dari mana anakku mendapatkan asam sulfat tersebut?"

Frankie, si ibu tersebut akhirnya berhasil balik menuntut kepala sekolah, karena dianggap tidak becus menjaga barang berbahaya tersebut dari jangkauan anak-anak. Walhasil sang kepala sekolah menyerah, dan memberi kesempatan kedua untuk putra Frankie tadi..

Spontan aku berkomentar, "itulah politik."

Pikiran ku kemudian melayang pada drama politik negeri ini yang tak kunjung usai. Atau sebenarnya banyak perseteruan lain sebelumnya. Sebut saja, perbedaan harakah, pergerakan, dakwah, jamaah, ormas, atau apapun lah.. yang sudah ada sebelum isu politik jadi dagangan laris tahun ini.

Antara kubu koalisi KMP dan KIH yang sedang ramai, berebut kuasa dan legitimasi dalam parlemen.
Saling sikut, menjatuhkan, atau menurut kacamata mereka, menjadi penyeimbang.. check and balance, katanya.

Pada akhirnya memang sebuah konflik dan perseteruan tak pernah hadir kecuali berawal dari dua hal: salah paham, atau niat buruk.

Dua hal tersebut harus ada di masing-masing pihak. Karena bila hanya ada satu saja.. maka konflik tak kan pernah bertahan lama.

Maka sesungguhnya, untuk mengakhiri sebuah konflik.. cukup memilih salah satu hal: berusaha tuk mengerti, atau perbaiki niat kita.

Saya teringat dengan sebuah kata bijak, "Ada begitu banyak hal yang dapat menyatukan kita.. dan sangat terlalu sedikit hal yang membuat kita pantas berpisah."

Bukankah itu sudah dibuktikan bangsa ini sejak berabad lamanya? Sejak sebelum tahun 1928?
Maka.. di tengah begitu banyak perbedaan dalam umat ini.. atau bangsa ini.. atau perbedaan kita, sungguh aku tak pernah risau.

Karena aku masih percaya, perbedaan itu hanya karena kita kurang saling memahami.. dan sangat sedikit yang punya niat buruk di negeri ini.

Jales veva jaya mahe. Jayalah engkau di lautan.. begitu kata mading Iqro, di kantor kami.

Selasa, Oktober 28, 2014

Pelankan Sedikit Langkahmu

Seberapa sering kita lewat sebuah jalan, tapi hanya sedikit yang bisa kita tangkap? Baik lewat mata, pendengaran, atau bahkan hati?

Manusia-manusia di abad ini memang benar-benar dipaksa untuk berpacu dengan waktu. Tanpa sadar, atau sadar tapi tak bisa berbuat apapun untuk melawan .. kita sudah terjebak dalam dunia kapitalis. Salah satu cirinya adalah individualistik.. dan rekayasa waktu  agar begitu cepat berlalu.

Aku memang sempat merasakannya. Karena terlalu sering aku sadar lingkungan sekitar, setelah sedikit memelankan laju kendaraan.

Dan seperti juga malam itu sepulang dari Kampung Rambutan. Aku naik busway, karena terlanjur beli e-money dari BCA, sepekan sebelumnya. Tidak terlalu lama, karena bus mengambil rute tol langsung ke UKI Cawang, tanpa Kramat Jati yang sudah pasti sibuk dan padat minta ampun.

Sesampai di halte Salemba UI aku turun, berjalan menyusuri jembatan penyeberangan. Sebelum belokan terakhir, duduk di depanku seorang dhuafa. Laki-laki. Tak terlalu nampak di bawah keremangan malam. Sempat terjadi perang batin. Tapi ah, biarlah jadi rezekinya. Terlepas ia pantas atau tidak.

Sampai di bawah, tiba-tiba aku tersenyum.. melihat papan besar sebuah gedung. Bukan papan nya memang yang menarik sungging senyumku. Tapi terbayang aku yang dulu. Saat ditanya, UPI YAI tahu?
Aku menggeleng. Dan setelah sekian tahun aku di Jakarta.. aku baru sadar, bahwa gedung universitas itu setiap saat ada di samping mataku. Aku tak pernah melihatnya, meski tiap hari aku lewat di depannya.

Ah, betapa dudulz nya..

Tapi, benar bahwa UPI YAI tak begitu penting buatku. Cerita di atas pun, ga ada perlu-perlu nya sama sekali..

Hanya saja, kejadian di atas kembali memberiku pelajaran. Tentang sadar lingkungan sekitar.. tentang kepedulian. Tentang dahsyat nya, individualistik dalam diri.

Mungkin bisa menjadi jawaban, mengapa setiap kita selesai sholat, tapi hanya sedikit kedekatan kepada Allah yang kita dapat.

Seusai Ramadhan, justru gegap gempita bangga dan senang.. bukan semakin terenyuh akan penderitaan mereka yang papa..

Dan atau saat kita bekerja.. mengeksploitasi rejeki kehidupan, tapi hanya sedikit yang kita rasakan.. tentang sulitnya hidup bagi mereka yang termarginalkan oleh kerakusan kita..

Sebelum terlambat.. saat kita sudah tak ada waktu lagi untuk berbuat, .. pelankanlah sejenak laju kecepatan hidup kita. Mari kita nikmati drama kehidupan di sekitar kita. Rasakan dan selami, potret manusia-manusia dan ayat Allah di sekeliling kita.

Agar sesekali, hidup kita bisa lebih bermakna. Karena sesungguhnya, makna hidup seorang manusia terletak pada seberapa banyak manfaat yang bisa orang lain ambil, dari perbuatan kita. Bukan sebaliknya.

Sadarkah, bahwa setiap rupiah yang kita dapatkan.. akan selalu jadi beban dan pertanyaan nanti di Yaumil Hisab? Sementara setiap rupiah yang kita sedekahkan, akan jadi tabungan kelak kita di surga.

Sungguh benar nasehat lampau yang sering kita dengar dalam pengajian. Hartamu, adalah apa yang engkau sedekahkan. Bukan yang engkau simpan.

Senin, Januari 27, 2014

Pada Siapa Ku Bertanya

saat apa yang kau lihat dengan mata
ternyata tak sama..

saat yang kau baca dengan akal
tak lagi nyata..

pun saat apa yang kau dengar dari telinga,
rupanya tak tunjukkan arti kejujuran..

langkah kaki pun goyah
mata mulai rabun, ragu tuk melangkah

tanganmu gagal meraih pegangan
kakimu hilang pijakan.

pada siapa aku harus bertanya?



--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Jumat, Februari 22, 2013

Dewan Perwakilan Rakyat

“entah rakyat mana yang mereka wakili”
Penulis ingin membuka tulisan ini dengan sebuah anekdot. Suatu ketika, di sebuah ruang kelas salah satu sekolah dasar, seorang guru bercerita tentang kisah naik pesawat. Sang ibu guru itu pun kemudian bertanya kepada para muridnya.

“Anak-anak.. jika sebuah pesawat tempur dengan satu pilot jatuh, berapa orang yang mungkin akan selamat?”
“Satu orang Bu…”
“Pinter.. nah sekarang, jika sebuah pesawat komersil dengan 500 anggota DPR jatuh, berapa orang yang akan selamat?”
“250 juta rakyat Indonesia, Bu!”

Tentu saja, kisah di atas tidak terjadi di dunia nyata. Tapi kisah di atas, sedikit bisa menggambarkan, bagaimana citra anggota DPR di mata rakyat Indonesia, bila tidak keseluruhan – karena gak semua rakyat Indonesia mau mikirin politik – boleh dikatakan sebagian besar dari kita setuju dengan buruknya citra anggota terhormat kita itu.

Di sini penulis tidak akan menambah-nambahi buruknya mereka. Justru penulis ingin mengajak, bahwa seburuk apapun sebuah instansi, atau pegawai di dalamnya, suatu saat mereka bisa berubah. Ingat hukum alam atau sunnatullah di dunia, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.. dan semuanya bersifat dinamis, bisa berubah, karena inilah sifat dasar dari makhluk yang fana.

Maka mari kita cermati masalah yang sering muncul dengan beberapa alternative solusinya. Ada dua persoalan utama DPR. Yang pertama adalah korupsi. Baru-baru ini ditemukan lagi dugaan korupsi Bantuan Sosial oleh Badan Kehormatan DPR. Dan beberapa hari sebelumnya, terungkap dalam diskusi di Mata Najwa, soal Cari Uang Cara Partai. Memang bisa dimaklumi logikanya, ketika anggota DPR itu korupsi. Karena secara sistematis, mereka dituntut oleh partai mereka, untuk mencari bensin bagi mesin politik. Dan karena partai bukanlah atau tidak memiliki badan usaha, maka dari mana mereka cari uang?

Mahar politik dan sumbangan kader. Satu yang jadi pertanyaan adalah, tidak ada mekanisme yang mengatur, agar partai menyelidiki terlebih dahulu sumber dana keduanya, baik dari mahar politik maupun sumbangan kader. Partai tidak mau tahu, yang penting tahu jumlah yang diterima. Tentu sebuah sikap yang tidak pantas dilakukan partai sebagai anggota terhormat dunia politik.

Solusinya? Sumber dana partai diubah. Seperti misalkan, partai boleh memiliki badan usaha. Tapi dengan catatan, badan usaha ini tidak boleh berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Kemudian sumbangan pemerintah diperbesar. Karena sumbangan ini sangat diawasi oleh BPK, sehingga secara otomatis, semua rupiahnya bisa dilacak dan dipertanggungjawabkan.

Dan kedua, dengan melakukan audit dan pelaporan terbuka, baik jumlah dana yang diperolah partai juga asal sumber dananya. Baik itu dari mahar politik, badan usaha, sumbangan pemerintah, maupun sumbangan kader.

Persoalan kedua terkait kekuasaan partai yang begitu besar. Sebegitu besarnya bahkan sampai mengebiri seorang kepala Negara dan kepala pemerintahan, alias Presiden. Contoh yang paling rame adalah, tertundanya anggaran 2013 Jokowi oleh DPRD DKI Jakarta. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa presiden Indonesia saat ini, sangat membutuhkan dukungan DPR untuk membantu mengawal segala kebijakan pemerintah. Artinya, tanpa persetujuan DPR, ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang kepala pemerintahan kita.

Padahal kita semua tahu, demokrasi itu identik dengan desentralisasi kekuasaan, yang digambarkan oleh Lord dengan “power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely.” Demokrasi mencoba menjadi alternative bagi sistem sentralisasi kekuasaan dalam kerajaan, yang distigma oleh dunia Barat dengan diktatorisme. Tapi faktanya, justru demokrasi menjadi dictator baru yang menjadikan partai atau parlemen adalah penguasanya. Presiden dilucuti oleh parlemen, tapi justru mahkotanya dipakai bareng-bareng oleh parlemen. Ironis!

Solusi? Check and balance.

Kita hidup di sebuah dunia yang tidak lagi ada manusia suci seperti Nabi atau Rasulullah. Maka sudah barang tentu, sulit bagi kita untuk bergantung penuh kepada satu orang saja. Bahkan dalam urusan dunia, dicontohkan oleh Rasulullah, beliau bermusyawarah, meminta nasehat kepada para sahabatnya. Itu seorang Nabi, apalagi kita? Tentu sangat arogan dan sombong bila mengaku pintar sendiri dan tidak membutuhkan check and balance dari pihak lain. Begitu pula dengan parlemen kita, Dewan Perwakilan Rakyat.

Beberapa solusi yang bisa diambil, semua rapat harus terbuka. Bisa diliput oleh media, dan bahkan punya media sendiri yang bertugas menyebarkan seluruh aktifitas di dalam rapat. Kalau gak ada waktu dan uang untuk bikin website dan hostingnya, tinggal upload di youtube.

Yang kedua, mengembalikan status mereka sebagai wakil konstituen. Caranya yaitu, memberikan hak bagi konstituen untuk mencabut dukungan/pilihan dalam pemilu, baik kepada partai ataupun kepada anggota dewan mereka. Ini bisa dilakukan dengan sistem online. Jadi begitu tahu, perwakilan mereka berbuat aneh, tidak harus menunggu masa pemilu berikutnya, tapi bisa mencabut saat itu juga. Bila seorang anggota dewan kekurangan dukungan, maka dia harus out. Dan kursi yang kosong akan diisi orang yang dipilih oleh mereka yang mencabut dukungannya.

Bukankah katanya, kedaulatan ada di tangan rakyat? Tapi kenapa untuk memecat anggota perwakilan rakyat, justru ada di tangan partai? Kembalikan hak kami!!

Dengan begini, partai dan anggota dewan akan benar-benar bekerja untuk rakyat, full 5 tahun.. dan kesenjangan antara partai dan konstituennya yang selama ini terjadi, akan terkikis habis. Cara ini juga akan mengurangi jumlah mereka yang golput, karena mereka sadar, tidak akan punya hak untuk melakukan pengawasan dan penindakan.

Bila fungsi ini, check and balance tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka yang kita lihat dalam dunia sinetron politik Indonesia adalah diktator gaya baru, yang tidak lagi dikuasai oleh presiden, tapi justru dikangkangi sendiri oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Selasa, Januari 15, 2013

Andragogy vs Pedagogy


Tulisan ini ditulis untuk menanggapi pernyataan salah satu dosen penulis. Mohon maaf karena disampaikan justru setelah aktivitas kuliah sudah berlalu. Tak lain karena keterbatasan penulis dalam mencerna apa yang beliau sampaikan. 

Dalam paparan tersebut, ada perbedaan mencolok antara andragogi dan pedagogi. Perbedaan itu terletak pada mindset, cara pandang yang akan berdampak pada teknis dan metodologi pengajaran/ yang dilakukan oleh seorang tenaga pengajar. 

Beliau memaparkan, bahwa pendidikan orang dewasa (andragogi) mengkritik pendidikan model anak-anak (metode ceramah), yang menganggap bahwa anak didik sama sekali tidak tahu. Dan guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan di dalam kelas. Metode ini dikritik karena dianggap tidak memanusiakan manusia, yang notabenenya punya pengalaman/ pengetahuan sebelumnya. Metode orang dewasa mengajarkan adanya interaksi antara guru dan murid. Bukan  hanya guru yang aktif di dalam kelas. 

Salah satu dampak dari pengajaran pedagogi adalah tidak sinkron-nya ilmu dengan perilaku. Yang beliau contohkan dengan mata pelajaran PMP atau PPKn ketika di SD dulu. Di mana seorang murid ditanya tentang pendidikan moral. Semisal apa yang akan kamu lakukan bila ada orang buta yang ingin menyeberang jalan? Tentu dengan mudah seorang murid akan menjawab, pilihan jawaban ‘membantunya’. Tapi pada prakteknya, tidak banyak orang bisa bertindak seperti itu.. hanya berhenti dalam teori, atau kemampuan kognitif. 

Maka tidak heran bila banyak orang pintar, tapi tetap saja jadi koruptor. Menurut beliau, yang bisa dilakukan semisal dengan menutup mata semua orang siswa, kemudian memberi mereka bola dan membiarkan bermain di dalam kelas. Kemudian ditanya, “apa yang kalian rasakan saat mata kalian ditutup dan tidak bisa melihat?” dan dilanjutkan, “bagaimana dengan orang yang buta dan ingin menyeberang, apakah kalian akan membantunya?”

Dengan begini, seorang siswa akan diajar moral dengan apa yang ia rasakan, ia alami sendiri. Sehingga munculnya sikap empati tersebut, bukan atas kemampuan kognitif, tapi kepekaan hati..

Kemudian beliau pun merumuskan beberapa prinsip penting dari metode andragogi:
  1. Bersifat praktis. Berangkat dari studi kasus, berbentuk terapan yang dikaitkan dengan pengalaman peserta didik.
  2. Aksi dan komunikasi. Adanya interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan guru. Bukannya monolog dari gurunya.
  3. Emansipatoris. Tujuan utama dari metode ini adalah mewujudkan manusia merdeka dalam mengambil keputusan atau pemikiran yang tidak bergantung kepada pihak lain, termasuk gurunya. Dengan bentuk, aksi-refleksi.



Kritik

Beliau menganggap bahwa metode pedagogi salah.. metode ceramah tidak tepat. Sebagaimana yang sering dilakukan oleh juru bicara agama.

Jawaban
  1. Pedagogi adalah pembentukan dasar. Pijakan, fundamental, asas. Yang tanpa ini andragogi tidak ada artinya. Andragogi sendiri lebih bersifat pengembangan. (pendekatan fungsional)
  2. Beda peserta ajar, beda pula metode pendidikannya. Beda antara orang yang belajar yang sudah punya pengalaman, dengan mereka yang baru membangun dasar. (pendekatan psikologis)
  3. Beda materi ajar, beda pula cara pengajarannya. Contoh, panduan manual book akan berbeda dengan buku ajar mahasiswa S2. Di mana-mana, manual book bersifat doktrin. Sementara buku ajar mahasiswa, akan lebih berupa pengembangan bila sudah berada di level advance. (pendekatan materi)
Dengan demikian, alasan dosen penulis mengkritik habis metode ajar pesantren, sorogan, dan ceramah dalam agama Islam tidaklah tepat. Metode ajar sorogan, ceramah, adalah memang dikhususkan bagi mereka-mereka yang benar-benar baru belajar.. atau sebagai upaya pembentukan fondasi. 

Apalagi khususnya, yang diajarkan dalam keagamaan bersifat wahyu, doktrin. Maka tak heran, bila banyak materi ajar yang ada (khazanah keilmuan Islam) bersifat pedagogis dibanding andragogis. Tentu ini bukannya tidak ada ruang bagi andragogi.. tapi khusus bagi mereka yang sudah menguasai dasar-dasar pijakan dalam khazanah keilmuan Islam. Tentu kita tidak akan mengajarkan ilmu fatwa, kepada mereka yang tulisan Arab saja gak bisa baca, apalagi mengenal ilmu fiqih, ushul fiqih, dan lainnya. 

Adapun kritikannya tentang sifat praktis, tidak satupun ilmu dalam khazanah keilmuan Islam yang tidak bersifat praktis. Bahkan sejatinya, khazanah keilmuan Islam itu sendiri, lahir dari hipotesa, dialektika dengan realita.. 

Pun penulis sepakat, bahwa di suatu kondisi, pengajaran pedagogi menjadi sia-sia, stagnan dan tidak praktis, ketika tidak dilanjutkan pada ranah nyata. Kesimpulannya, antara pedagogi dan andragogi, tidak ada yang lebih baik..  kecuali bila digunakan dalam bentuk saling melengkapi. Pembentukan fondasi, kemudian pengembangannya. 

Kalau dalam kesempatan kali itu, beliau juga menyinggung, metode ini tak ada hubungannya dengan usia seseorang, maka bentuk kombinasi dari dua metode ini pun sama. Tapi secara sederhana bisa dipetakan dengan fungsinya, apakah untuk pembentukan dasar atau pengembangan/ penerapannya. Belajar Bahasa Inggris di tingkat basic, tentu berbeda dengan tingkat advance bukan?

Wallahu a'lamu bish-showab.
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Minggu, Januari 06, 2013

Pertumbuhan Ekonomi dan Kesenjangan


Indonesia, negeri kita saat ini, sadar atau tidak sedang berada di jalur tol kemajuan ekonomi. Melesat sangat cepat, kalau boleh dibilang bahkan tercepat kedua di dunia setelah China. Iya, tercepat di dunia, bukan hanya di Asia! Benarkah? Ini Indonesia gitu loh?? Negeri yang selalu penuh dengan masalah. Kok bisa?

Tidak usah kaget. Dalam dunia ekonomi saat ini, pasar adalah factor penting. Bahkan boleh dibilang lebih penting dari factor produksi itu sendiri. Karena tanpa pasar, maka sebuah perusahaan akan segera bangkrut dan mati. Tengoklah perusahaan-perusahaan besar di dunia. Dari mana mereka hidup, meraih keuntungan, dan menjadi besar seperti sekarang ini? Jawabannya adalah karena konsumen. Maka tak heran bila seringkali untuk membandingkan besarnya suatu perusahaan adalah perbandingan ceruk pasar, alias market share dengan perusahaan saingan. Semakin besar market share-nya, semakin besar keuntungan yang bakal diperoleh.

Kembali ke Indonesia, maka tidak usah heran bila Indonesia sekarang jadi mobil balap di arena pertumbuhan ekonomi. Ya, karena Indonesia punya potensi pasar yang luar biasa besar. 240 juta orang! Bayangkan Anda punya perusahaan biscuit seharga Rp. 5.000 dan dibeli oleh separuh saja dari mereka. Maka kalikan 120 juta. Hasilnya adalah Rp. 600 Milyar. Itu hanya dari satu biscuit, satu perusahaan, dikali separuh dari jumlah penduduk Indonesia.

Maka tak ada yang menolak fakta, bahwa mesin mobil balap ekonomi Indonesia saat ini adalah : belanja, konsumsi. Factor ini pula yang menyelamatkan Indonesia dari jurang krisis ekonomi tahun 1998 lalu. Bukan perubahan politik, alias repotnasi. Eh, reformasi.

Nah, tentu kita juga sadar. Bahwa di balik potensi, akan selalu ditemani risk, alias resiko. Hitungannya tetap sama. Maka bayangkan bila setiap orang di Indonesia mogok belanja, bisa dibayangkan berapa potensi kehilangan uang yang diderita sebuah perusahaan..

Maka pemerintah pun merasa punya kewajiban untuk terus mendorong mesin pertumbuhan itu. Dengan cara instan, kenaikan gaji PNS, yang akan diikuti oleh kenaikan gaji pegawai swasta sebesar kurang dari 10 persen per tahun. Selanjutnya, akan diikuti pula dengan kenaikan gaji pedagang.. eh, kenaikan harga barang dari pedagang, sebesar lebih dari 10 persen. Karena semuanya saling menaikkan harga jasa dan komoditas, maka yang terjadi adalah penurunan nilai mata uang. Inflasi.

Untuk menjaga agar inflasi yang terjadi tidak berlebihan atau liar, maka pemerintah pun merancang kebijakan inflation targeting framework. Tujuannya agar penurunan nilai mata uang ini bisa dikendalikan, dihitung, direncanakan.. diatur semaunya, dan diantisipasi dengan berbagai instrument moneter maupun fiscal.

Tapi rupanya, para ekonom mungkin lupa, bahwa dalam setiap pertumbuhan, juga menciptakan resiko kesenjangan sosial. Setiap satu orang bertambah kaya, maka akan muncul resiko orang lain bertambah miskin karena kekayaan orang lain. Semakin tinggi kenaikan harga, maka akan ada golongan masyarakat yang tidak mampu mengikuti kenaikan tersebut. Mereka inilah yang menjadi korban, pemiskinan secara sistematis. Sebagian orang melihat resiko itu, dan memilih menjadi PNS, pegawai swasta, termasuk buruh. Yang setinggi apapun rancangan target inflasi, akan diikutsertakan agar mampu mengikuti. Demi jalannya mesin pertumbuhan tadi: belanja.

Dan tidak satupun teori ekonomi kapitalis bisa memahami hal ini. Karena sistem ini menganggap bahwa manusia itu homo economic man yang selalu rasional, selalu mencari nilai ekonomis tertinggi, keuntungan sebesar-besarnya, untuk diri sendiri.. bukan untuk memahami kesenjangan sosial.

Memang apa dampaknya? Sejarah mencatat, tidak pernah ada perjuangan antar kelas yang berhasil membongkar struktur sosial yang ada. Mereka yang miskin tiba-tiba dengan pergerakan kemudian menjadi kaya, atau sebaliknya. Kalaupun ada pergerakan, maka yang terjadi sebenarnya adalah kelompok menengah dari golongan A, menggulingkan kelompok menengah lain, dan menjadi kelompok di atasnya. Sementara kelompok bawah yang diatasnamakan itu, akan senantiasa menjadi kelompok bawah. Jadi kita yang masuk kelompok menengah, apalagi atas, tenang saja.. tidak akan ada perubahan struktur radikal dari mereka.

Tapi sejarah juga mencatat, kelompok menengah atas yang bertindak sewenang-wenang itu, melupakan kelompok miskin, juga pernah dihukum dengan banyak cara. Binasa dengan penyakit, cobaan hidup, bencana alam, atau kriminalitas sosial, yang sudah semestinya terasa sangat berat buat mereka yang biasa hidup mewah dan tak kenal saudara sesama. Hukum logika sederhana, barangsiapa ‘merasa’ berada di tempat yang tinggi, maka jatuhnya pun akan ‘terasa’ jauh lebih menyakitkan.

Juga patut menjadi perhatian, bahwa mesin pertumbuhan ini tidaklah sustainable, karena bukan berasal dari factor utama/pendorong terjadinya kegiatan ekonomi, yaitu proses produksi. Karena produsen itu justru berasal dari luar negeri. Bahkan untuk komoditas-komoditas yang menyedihkan bagi negeri agraris ini. Seperti beras, buah, bahkan singkong! Apalagi komoditas lain yang terkait dengan jasa dan teknologi. Kita benar-benar dijadikan sapi perah di negeri sendiri, hasil kongkalikong pemerintah dengan korporasi lintas Negara.

Maka penting untuk disadari. Bahwa pertumbuhan ekonomi ini juga menyimpan resiko. Selain karena mesin pendorongnya yang bersifat konsumtif dan bukan produktif. Juga karena potensi kesenjangan sosial yang patut diwaspadai. Hitung menghitung ekonomi akan terasa sangat melelahkan, ketika satu masalah diatasi, masalah yang lain justru meradang. Upah buruh atau iklim investasi? Pertumbuhan ekonomi atau rasio gini (rasio pendapatan untuk mengukur kesenjangan)? GNP atau pemerataan kesejahteraan? Efisiensi perusahaan atau pengangguran?

Sudah saatnya, arah pembangunan ekonomi ini lebih dimanusiawikan. Bukan hanya soal angka. Bukan cuma soal infrastruktur. Bukan semata kemajuan teknologi. Kemajuan ilmu kesehatan terbaru menunjukkan, bahwa keberhasilan pengobatan justru bukan berasal dari kecanggihan teknologi, atau penemuan obat-obatan. Tapi dari memanusiakan manusia, dari perubahan gaya hidup.

Pertanyaannya, sampai kapan ilmu ekonomi di Indonesia hanya akan bercerita soal angka dan statistika? Semua itu kembali ke Negara sebagai pemangku sosial sebuah bangsa. Karena sebenarnya tujuan akhir dari ekonomi sangatlah sederhana, terpenuhinya kebutuhan pokok dari sumber daya terbatas untuk semua orang. Masih ingat, bukan?

read more: Cepat Naik Cepat Jatuh
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Minggu, Mei 20, 2012

Akad Nikah dan Walimatul 'Ursy

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan.

Dengan mengharap ridha-Mu Ya Allah, perkenankanlah kami :

Defi Azizah Noer Aeni
dan
Nailunni'am

untuk mengikuti sunnah Rasul-Mu dalam membentuk keluarga sakinah, mawaddah warahmah, dikaruniai keturunan shaleh shalehah.

Insya Allah akan dilaksanakan :

Akad nikah : Ahad, 3 Juni 2012
Pukul 09.00 WIB
Di kediaman mempelai wanita, Jl. Raya Cipeundeuy no. 111 Rt 17/06 Kelurahan/Kecamatan Cipeundeuy Subang

Walimatul Ursy (Resepsi):
Ahad, 3 Juni 2012
Pukul 11.00 s.d. 16:00 WIB
Di kediaman mempelai wanita, Jl. Raya Cipeundeuy no. 111 Rt 17/06 Kelurahan/Kecamatan Cipeundeuy Subang

Dengan ini, kami mengundang teman-teman untuk dapat hadir bersilaturahmi dan memberikan do’a restu. Atas kehadiran dan doa restunya, kami ucapkan banyak terimakasih. Jazakumullah khairan katsiran.

Wassalamu’alikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Defi & Ni'am

--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Sabtu, Desember 03, 2011

26 Syukur yang Undefined

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepatnya. Tiba-tiba saat aku berhenti sejenak hari ini, ini adalah hari di mana aku telah berpacu selama 26 tahun lamanya. Sebuah waktu yang tidak sebentar, tapi juga bukan waktu yang cukup lama.

Waktu yang tidak sebentar untuk mempelajari arti hidup ini. Juga waktu yang tidak sedikit telah kuhabiskan tanpa perjuangan dan hasil yang berarti. Pun waktu yang tidak sedikit untuk mengisi penuh kantong-kantong amal saleh ku. Dan bukan waktu yang sebentar untuk merenungi, apa yang sudah kuberikan untuk mereka yang selalu menyayangiku... Bukan waktu yang sebentar, brad.. tapi kenapa hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali yang sudah kau perbuat selama ini?

Karena parameter waktu, sangatlah relatif dan tidak pasti.

26 tahun, seperembat abad lebih sedikit.. juga bukan waktu yang cukup lama untuk merasa sudah dewasa. Juga bukan waktu yang cukup lama untuk menganggap semua sudah selesai.. Bukan waktu yang cukup lama untuk untuk merasa cukup dengan amal yang kau perbuat. Pun bukan waktu yang cukup lama untuk merasa bahwa kau sudah di atas segalanya..

Karena, parameter merasa.. hampir selalu salah.

Maka tidak ada yang bisa ku lakukan sekarang untuk menambahi kekurangan-kekurangan di atas, kecuali dengan mensyukuri-nya. Syukur bukanlah asal nerimo. Tapi syukur adalah sikap "berterima kasih dan memuji untuk apa yang telah diberi, dengan jalan mempergunakan sebaik mungkin pemberian tersebut sesuai dengan harapan sang pemberi.."

26 tahun sudah nama-ku selalu mengingatkan untuk senantiasa bersyukur, nailunni'am.. yang berarti, memperoleh kenikmatan. Dan dalam setiap khutbah pula seringkali "namaku" disebut, "ala ni'ami Allah..", maka tak heran bila aku lebih memilih menjadi hamba-Nya yang bersyukur "dibanding" menjadi hamba-Nya yang bersabar. Sebagaimana sabda Rasulullah, "orang kaya yang bersyukur lebih dicintai Allah dibanding orang miskin yang bersabar.."

Maka, izinkanlah saya pribadi berucap rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada semua individu yang telah begitu banyak membantuku dalam banyak hal. Tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa. Tanpa kalian, aku tidak akan jadi seperti sekarang ini.. dan mereka itu semua adalah guruku;


  1. dalam memahami hakikat kehidupan; Bapak dan Ibu, Pak Dhe dan Bu Dhe.. .. kemudian juga Pak Erizeli Bandaro dan Om Dedy.. 
  2. dalam hal khazanah ilmu dan akhlak; Para bilih sepuh Pak Yai Subki, Abah Hasanuddin, Pak Yai Khozin, Ust. Syukri, Ust. Badri, Ust. Hasan, Ust. Syarif Abadi dan Ust. Suharto, dan para Asatidz lain di Gontor 2, 1 dan 3, Bu Dewi, Pak Ris, Pak Sukad, Bu Nada, Bu Khur,... dll di TK2, SDI, Pak Syakur, Pak Ali, Bu Dewi, Pak Wahyu dll di SLTPN2, dan tentu saja para Masyayikh Azhar, Dr. Mu'thi Bayumi, Syekh Yusri, Syekh Ali Jum'ah, Syekh Yusuf Qardhawi, Syekh Ramadhan Bhuti, Syekh Wahbah Zuhaily, dll... Pak Agus Mustofa beserta Ibu, 
  3. dalam hal hati, cinta dan maturity; ada Mba Ida, Rie, Ka Ain, Adel, Imun, Unyi, Pus Miaw, De Puput, Wulan, Ty, Yanita, De Shinta, De Gina, dadah, qq, Defi.. Budi Ahda, Angga, Faiq, Mujib, Gus Yusron, Saepannur..
  4. dalam persoalan muamalah, persahabatan dan humanism,.. Jamiat, Bayu, Dani, Sepri, Udel, Arip, Mondol, Cepy, Farid, Iqbal Huda, Topan, Hendrik, Yasin, dan semua cs SD, SMP dan kampoeng Wayang.. hehe. Juga sohib-sohib Marhalah Blitzer, Sapdal, Sukhoy, Harda, Iqbal Faishol, Samsul-ani, Rizka H, Prayitno, Jamil.. ikhwan2 Forum dan Tunis, A'do fushul B, para OESAMA; Kakek, Marix, dst, anak2 Rouva Kang Husen Kang Sabar, Kang Daus, dst.. dan Manbaul Falah.. juga anak2 Nozha, Redong, Beler, Mughits, Ma'mun, Ipenk, Muwafik, buset dah banyak banget.. :D -perasaan masih banyak yang kelewatan... maaph2.. :(
  5. terakhir (dianggap terakhir maksudnya, meski masih banyak daftar list-nya); temen-temen diskusan yang begitu banyak menyumbang ilmu,.. kawan2 di kajian SIT, Mujib, Angga, Fadlan, Nurdin, dll.. di kajian Nun Center, Sadzali, Jauhar, dll... dan kajian PAKEIS... ust. Ghazali, teh Yuli, ust. Jamal, ust. Najib, Rois, Adel, Copen, Hasbullah, Asmopur, Rifqi, Syakur, ibu Respati, dll... juga di Politikana.com, Mbahel, Kang Galih, Edwin, Striding Cloud, kang Olas, Emina, Isma, Nurma, dll.. Kaskuser, Facebooker, Irfan, kang Army, Surani, kang Irfan, Asep, pak Adrian, prof Ma'rufin, kang Riza, pak Wahyu, mastah Oxy, mastah frogy, mastah Kuya.. dll.. 

ya Allah banyak banget.. itu aja masih banyak yang kelewatan.. emang bener-bener undefined,..

dan yang paling besar syukurku adalah kepada-Mu ya Allah.. yang telah menghadirkan mereka-mereka dalam kehidupanku. 'La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu min azh-zhalimin...' :(


--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Sabtu, November 12, 2011

Maaf



gelung cincin ini masih terpasang erat
melepasnya,
mengendurkannya,..
ingin sebenarnya membuat jemari tangan ini sedikit bernapas

tapi ahr... rasanya ga bisa
hati ini terikat kuat
melepasnya, sama saja melepaskan separuh jiwa

aku pun terlelap, dengan gelung cincin itu
masih melingkar di jari manis kanan
berat tuk menggenggamnya,
lebih berat lagi buat melepasnya

semua bermula saat kata maaf tak kunjung bertuah jawaban
jangankan berucap maaf,
tuk mengerti kenapa harus meminta maaf pun tak terpikir sebelumnya
sampai kemudian sebuah cerita,
sadarkan khilafku

ingin rasanya kembali ke masa lalu
mengulang kembali renda-renda yang sempat terangkai
kembali menata puzzle demi puzzle

tentang arti hidup
tentang arti bahagia
dan tentang arti cinta..

tapi apa daya..
manusia seringkali khilaf
dan kembali ke masa lalu adalah hal paling mustahil
sementara penyesalan adalah penyakit hati paling menyakitkan

hingga sebuah khutbah Jum'at mengingatkanku,
"sesungguhnya malaikat, merasakan sakit sebagaimana manusia merasakannya.."
malaikat juga tak senang bila ada orang, membuat orang di sekitarnya merasa terganggu
dan hilanglah rahmat bersama perginya sang malaikat
degh!

maaf,... maaf.. dan maaf..
kata-kata itu terus berputar dalam perjalanan hari selanjutnya
meski begitu, keinginan menata ulang sang puzzle juga tak berkurang

dan lalu hari ini, sebuah majlis di masjid Azhar
Syekh Yusri menegaskan
sesungguhnya perlakukanlah manusia,
sebagaimana engkau ingin agar Allah memperlakukanmu seperti itu
bersikaplah lembut, bila engkau ingin Allah lembut pula kepadamu
dan bersikaplah pemaaf, bila engkau ingin Allah juga pengampun atas dosa-dosamu..

meski benar, bahwa aku ingin mencintai hanya karena-Mu
tapi jalan menuju ke sana tak semudah itu
maka, maafkanlah..
dan bersikaplah bijaksana

aku pun tak tahu lagi, bagaimana Engkau akan memberiku takdir
yang aku tahu, segala yang Engkau berikan adalah ujian untukku

aku pun menutup mata siang itu, dengan doa sederhana

"duhai Allah, jika hal ini adalah baik bagiku, agamaku, dan hidupku..
maka mudahkanlah dan takdirkanlah untukku
namun bila hal ini buruk untukku, agamaku dan hidupku
maka jauhkanlah hal itu dariku dan jauhkanlah aku darinya..

maka berikanlah aku takdir yang baik dari-Mu
kemudian berilah aku keridhaan atas keputusan-Mu itu"

maafkan aku ya, bunda.

#sore yang melelahkan, di atas pembaringan, Nasr City, Cairo 2011
 
--------------------------
 Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Kamis, November 10, 2011

Labyrinth of Mind


Start sinking in the labyrinth of mind..
do not know nor do understand why..

It really hurt so much, Dear
when we can't understand something we want to understand

And yea,.. lagi-lagi harus ku akui, bahwa otak ini terlalu lemah. Bahkan untuk sesuatu yang mungkin sudah akrab kita kenal. Otakku tiba-tiba kelu. Pengen menuliskan, dan merangkai kegelisahan ini dalam kata-kata pun tak mampu.

Aku adalah orang yang sangat logis. Bahkan hampir ga bisa berpikir kalau tidak ada alurnya. But meskipun rasional, aku bukan orang yang menolak keberadaan alam ghaib, atau fenomena-fenomena di sana. Karena buatku, dan sejauh pengetahuanku, mereka sangatlah masuk akal. Atau lebih tepatnya, masuk akal, bahwa mereka tidak bisa dijangkau oleh akal.

Mungkin temen-temen di facebook sempat melihat sekilas gimana perdebatan dan diskusi yang ku jalani dengan para atheist. Ga tanggung-tanggung, selama seharian aku bisa kuat nongkrong di depan laptop.. Makan sekedarnya, dan ga beranjak kecuali untuk sholat dan ke kamar kecil.

Beberapa temen sempet menyebut, diskusi yang berjalan sangat menarik. Tapi itu sebelum terjadi debat kusir, khususnya di page Ateis Indonesia. Namun di page yang lain, Anda Bertanya Ateis Menjawab, diskusi yang berjalan tetap damai.. dan bahkan memberi banyak pengetahuan.

Setiap pertanyaan dari para ateis, berhasil aku jawab dengan memuaskan -menurutku, salah satu buktinya, mereka ga membalas jawaban itu lagi. Hingga, dari yang awalnya ada sekitar 5-6 orang atheist yang 'keroyokan' menyerang, akhirnya sampai hari ini, hanya tertinggal 1 orang. Itu pun sudah 24 jam ini, belum dibalas lagi.

Salah seorang atheist itu pun menyebutku, sebagai seorang penanya yang paling 'wah'! But, I'd rather not to be called with that. Aku bilang padanya, apa yang aku tanyakan dan jawaban yang aku utarakan, semuanya hanyalah translasi dari kitab suci yang aku pelajari. So, it's merely based on a Book.

Memang ku akui, diri ini adalah seorang pemikir. Mungkin sudah beberapa kali ku sebut di blog ini. Maka ga heran, bila sesuatu yang sangat menggangguku bukanlah ketiadaan uang, atau ga bisa makan hari ini, atau apa kerjaanku hari ini,.. tapi yang sangat menggangguku adalah, 'sebuah pertanyaan yang aku ga bisa/ belum bisa nemuin jawabannya..'

Terjebak dalam labyrinth of mind..

Sama seperti sore ini. Ketika tiba-tiba aku harus nemuin realita yang kelu, kesel dan menyesakkan. Yaitu, menerima kenyataan bahwa akal-ku tak bisa berfungsi. Why?.... rrrrr...

Kata seorang temenku, "kamu ini orangnya sangat pengertian. tapi harus ada syaratnya, yaitu kamu harus tahu, apa alasan di balik itu. dan kamu ga bisa ngertiin orang, hanya dari bahasa tubuh mereka.. itulah kelemahanmu".

Maka, ketika diharuskan menjelaskan bagaimana lika-liku jiwa, emosi dan rasa, hati dan akalku pun kelu dibuatnya. And start sinking deeply...

And so, this is happen again. Aku selalu bilang, give me a word.., tapi saat mereka menolak, lalu apa daya? Ga ngerti harus nyalahin siapa..

Pesan Pak Jeli tadi pagi, menjadi pemimpin itu harus tegas. Semakin sedikit pemimpin bicara, semakin baik. Semua harus dilaksanakan sesuai SOP (standard operating procedure), sekali saja ia di bypassed.. maka semua akan kacau. Dan di sinilah tugas pemimpin untuk mengontrol dan memastikan semua berjalan sesuai dengan sistem, sesuai dengan SOP.

Dan lalu, bagaimana bila suatu ketika, SOP harus dilanggar? Seorang pemimpin harus segera mengambil keputusan dengan cepat, dan lalu memberikan pemahaman kepada bawahannya. Bisa lewat musyawarah, bisa lewat komunikasi persuasif..  itulah tugas pemimpin, menyatukan jiwa-jiwa dan emosi yang berada di bawahnya.

And so do this matter..

Hanya kepada-Mu ya Allah aku berharap, agar melembutkan hati-hati kami.. Maafkan hamba-Mu, bila sudah terlalu sering membuat-Mu cemburu dan kecewa..

Duhai Allah, sesungguhnya aku meminta diberikan petunjuk yang terbaik sesuai Ilmu-Mu, dan aku minta diberikan kekuatan dengan bantuan qudrah-Mu, dan sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari kemuliaan-Mu yang Maha Agung..

Semoga esok, 'mentari' kan bersinar lagi.. dan menuntunku keluar, dari gelapnya labirin ini. Semoga. Amin99x ya Allah..

I'm sorry..


#mendekap gelisah di balik selimut, winter @Cairo, 2011.
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Negara Islam di Mata Agus Mustofa



JAWA POS - PERBINCANGAN seputar Islam dan negara hampir selalu menarik untuk diangkat. Tak saja karena ia bersinggungan secara ideologis dengan 1,57 miliar pemeluknya di seluruh dunia, tetapi juga bisa menimbulkan konflik bahkan disintegrasi dan perang yang tak berkesudahan. Perbedaan pendapat dalam masalah itu bukan saja perbedaan yang paling pertama terjadi di kalangan umat Islam, tapi juga perbedaan yang paling ''rawan'' dan paling sering memakan korban.

Realita itulah yang bahkan bisa kita lihat sejak masa-masa awal Islam, tepatnya setelah Rasulullah wafat. Perang Jamal adalah perang internal pertama umat Islam. Perang itu pun terjadi karena perbedaan pendapat dalam soal kebijakan pemerintah. Siti Aisyah ketika itu mengangkat senjata kepada Ali. Siti Aisyah, Talhah, dan Zubair menghendaki persoalan pembunuhan Usman diselesaikan
secepatnya. Sementara itu, Ali yang sudah dibaiat sebagian sahabat merasa kondisi yang masih kacau belum memungkinkan untuk pelaksanaan qishas. Hingga kemudian terjadilah perang Jamal tersebut.

Adapun dalam kaitannya dengan realitas kekinian, Agus Mustofa dalam bukunya ini mencoba bertanya, ''Manakah menurut Anda negara Islam yang paling islami: Arab Saudi, Iran, Iraq, Mesir, Sudan, Afghanistan, Jordania, Pakistan, Malaysia, ataukah Brunei Darussalam?''

Sebuah pertanyaan sederhana namun tak mudah untuk dijawab. Ketika kita menyodorkan Arab Saudi yang menerapkan syariah Islam, ternyata di sana masih ada kebijakan yang mengekang wanita. Di sana, kita juga mendapati bentuk pemerintahan yang berbentuk kerajaan. Padahal, kita tahu bahwa Rasulullah selaku pemimpin negara Madinah ketika itu tidaklah disebut sebagai raja dan tidak mewariskan tampuk kepemimpinan kepada kerabatnya. Tidak juga Abu Bakar, Umar, Ustman, maupun Ali.

Demikian juga ketika kita berbicara tentang Mesir, Prof Dr Rafaat -anggota Komisi Fikih dan Fatwa Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah Mesir- dengan tegas menyatakan bahwa sebenarnya masyarakat Mesir sangatlah dekat dengan ulama. Namun, juga tak bisa dimungkiri bahwa bentuk resmi negara Mesir adalah negara sekuler.

Lantas, bagaimana sebenarnya bentuk negara yang islami itu?

Perbedaan-perbedaan bentuk pemerintahan ''islami'' di negara berpenduduk muslim adalah sebuah realitas yang tak terbantahkan. Ada yang tekstualis seperti Arab Saudi, namun ada juga yang substansialis semisal Mesir dan Indonesia. Lalu, di mana posisi Agus Mustofa? ''Buku yang saya tulis ini bukan dalam rangka memperjelas berbagai perbedaan-perbedaan itu, melainkan justru menyodorkan titik temu antara berbagai kalangan dengan harapan mudah-mudahan umat Islam bisa memiliki pandangan yang senada dalam hal ini,'' tulisnya dalam kata pengantar buku ke-27 serial diskusi tasawuf modernnya itu.

Agus Mustofa tidak sedang berdiri di kanan ataupun kiri, tapi dia sedang menawarkan sebuah pandangan alternatif. Hanya, berbeda dengan tulisan-tulisan ilmiah berbobot lain, Agus Mustofa mengemas persoalan paling pelik dalam umat Islam itu menjadi seperti kacang goreng. Renyah, ringan, namun bergizi. Dan, tetap dengan gaya tulisannya yang mampu menyihir para pembaca setianya, sebuah buku bergizi tinggi dengan rasa dialog dan diskusi interaktif. Tak heran, kemudian judul yang diangkatnya adalah sebuah kalimat tanya tanpa tanda tanya, Perlukah Negara Islam.

Agus Mustofa memilah buku tersebut menjadi empat bagian. Dia mengawali buku ini dengan kata pengantar singkat seputar Reformulasi Negara Islam. Bagaimana seharusnya kita melihat realitas perbedaan bentuk negara muslim dan seperti apa sesungguhnya frame work bentuk negara yang islami itu. Dengan harapan, sebelum akhirnya kita bisa memformulasi sebuah jawaban dari pertanyaan, Perlukah Negara Islam, kita bisa mengenal terlebih dahulu alur peta perjalanannya.

Di bagian pertama bangunan pemikirannya, dia mengawalinya dengan ragam potret realitas negara-negara muslim modern. Di sini dia mencoba menyusun puzzle-puzzle pemahaman yang berserakan, terkait apa itu negara Islam. Dengan runtut dia paparkan warna-warni bentuk negara muslim modern. Ada yang bersifat demografis, kerja sama lintas negara semisal OKI (Organisasi Konferensi Islam), hingga persoalan penerapan syariat Islam di berbagai negara berikut kritiknya.

Bagian kedua buku ini membahas bentuk-bentuk pemerintahan masa Islam klasik. Dimulai dengan analisis masa Abbasiyah, kemudian Muawiyah, hingga masa Khulafaurrasyidin. Yang terakhir adalah potret seperti apa negara yang Rasulullah bentuk selama memegang tampuk pemimpin pemerintahan di Madinah.

Sekilas terlihat aneh, ketika Agus Mustofa membangun pemikirannya itu dengan alur mundur. Tapi, keanehan tersebut terjawab ketika kita telah sampai di subjudul terakhir bab ini, yaitu masa pemerintahan Rasulullah. Sebuah masa yang sudah seharusnya kita jadikan sumber rujukan, termasuk dalam usaha reformulasi negara Islam.

Perang dan terorisme menjadi isu utama bagian ketiga dari buku ini. Terorisme dan perang adalah dua isu utama yang sering dibenturkan kepada Islam. Entah sudah berapa ribu tulisan menyoroti isu perang dalam Islam. Hingga kemudian, terpatrilah sebuah premis, Islam disebarkan dengan pedang. Agus Mustofa menjawabnya dengan lincah. Mulai bagaimana sesungguhnya situasi ketika perintah perang itu turun dan apa saja aturan main dalam Islam ketika perang. Islam tidak berperang tanpa alasan dan tidak membunuh hanya karena perbedaan.

Bahasannya soal distorsi makna jihad kembali menjadi bukti baru bahwa perang istilah itu ada dan amat berbahaya. Hasilnya, jihad pun menjadi lekat dengan usaha teror umat Islam dan perang melawan kaum kafir. Padahal, jihad, dalam arti umumnya, bermakna perjuangan dan usaha keras. Sementara dalam Alquran, menurut Agus Mustofa, di antara lima pengertian jihad yang ada, menariknya hanya ada satu yang bermakna perang fisik. Lantas, bagaimana mungkin jihad diartikan hanya dengan satu makna tunggal, yaitu terorisme?

Terakhir, Agus Mustofa menutup bab ''tambahan'' ini dengan kesimpulan tegas bahwa pada saat tertentu tindakan perang pun bisa jadi adalah hal yang sangat rasional, bahkan bagi pencinta kedamaian di mana pun mereka berada. Di bagian akhir buku ini, sampai pulalah kita pada sebuah formulasi negara Islam. Setelah diperbincangkan terlebih dahulu soal gambaran konsep sebuah negara madani hingga akhirnya kita siap memformulasikan jawaban, Perlukah Negara Islam.

Sebagaimana buku-buku Agus Mustofa lain, dia kerap mengangkat tema atau bahkan judul yang sebagian orang bilang kontroversial. Namun, kiranya ada satu hal menarik yang perlu dicatat. Agus Mustofa menulis dan mengangkat judul buku-bukunya tersebut dengan jujur dan bertanggung jawab. Dalam arti, tidak hanya menarik minat pasar dengan bombastisisme judul, tapi dia benar-benar jujur bahwa apa yang dia angkat sebagai judul adalah kesimpulan isi bukunya. Itulah salah satu kekuatan utama buku-bukunya hingga selalu berhasil menjadi best seller di pasaran, selain gaya bahasanya yang ringan dan membumi tentunya. (*)

*) Nailunni'am , mahasiswa Jurusan Tafsir Universitas al-Azhar Mesir dan
Pimpinan Umum Majalah La Tansa IKPM Kairo

Judul Buku: Perlukah Negara Islam

Penulis: Agus Mustofa

Penerbit: Padma Press, Surabaya

Cetakan: I, Juli 2010

Tebal: 272 halaman

Sumber: JawaPos.co.id
Resensi ini terbit pada [ Minggu, 01 Agustus 2010 ] di Jawa Pos

Sabtu, November 05, 2011

Nulis oh Nulis..

Bismillahirrahmanirrahiem..

keyword: motivasi menulis, bagaimana menulis yang baik, tips-tips menulis, membuat tulisan, belajar nulis, susah menulis.. lanjut sendiri ya. :D

Waoew... udah lama sekali ya, ana ga ngepost di blog ini lagi. Terakhir tanggal 20 Agustus kemarin, dan sekarang udah tanggal 5 November. Yaudah daripada berlama-lama ngeluh, mending langsung aja menuliskan apa yang bermanfaat.

Jujur sebenarnya buannyak sekali yang pengen ku tuliskan. Bahkan saking banyaknya, hampir selalu bingung.. mau nulis apa dan mulai dari mana. Itulah kenapa, sejak tanggal itu sampai sekarang aku belum bisa nulis di blog lagi. Kalau nulis dan komen di facebook sih selalu, hahaha.. :D :P

Oke lanjut, .. selain karena kebingungan itu, aku juga dihadapkan banyak kegiatan. Khususnya setelah aku balik lagi ke Cairo setelah 'berliburan' - weeeeks.. bahasanya liburan, kayak orang kaya aja.. hahaha -, selama dua bulan di Indonesia. Sungguh bener-bener petualangan yang sangat luar biasa. Di mana aku nemukan banyak hal dan pelajaran yang sangat bermanfaat.. tentang kuliah, tentang karir, tentang masa depan.. dan tentunya juga tentang apa arti hidup ini. Memahami hidup lebih dekat..

Dan alhamdulillah sekarang aku udah mulai bisa nemukan 'feeling' nulisku yang dulu sempet ilang. Semoga tetap begitu sehingga bisa lebih banyak berbagi, yang tidak saja bermanfaat buat orang lain, tapi juga bisa jadi amal jariyah buatku.. dan kita semua yang menyebarkannya.. insya Allah, amin99x.

Lanjut ke persoalan nulis.. emang bener, begitulah yang selalu dialami oleh para penulis alias author -kekeke, jadi berasa kayak JK Rowling euy - pemula adalah persoalan mood menulis. Kadang pengen nulis, kadang engga. Pas kali ini semangat.. lain waktu jadi males, dsb. Pengen tahu kenapa? Dan bagaimana agar selalu bisa menulis yang tidak saja enak dibaca, dan tentunya bermanfaat? Kali ini aku pengen berbagi soal itu, insya Allah. Yok, menelusur lebih dalam...

1. Menulis adalah skill!

Ini penting sekali kita pahami. Dan harus kita sadari, bahwa menulis itu adalah hasil asahan, sama seperti bidang-bidang skill lainnya. Semakin diasah, semakin tajam.. Jadi, menulis itu bukan saja soal bakat, bukan tiba-tiba seseorang jadi pakar dalam menulis. Tapi adalah soal kemauan kita mengasah skill tersebut.

Memang, tidak semua orang harus pandai menulis. Sama seperti tidak wajibnya, semua orang pandai dalam berkhutbah, mengajar, dst.. dan karenanya, bagi kalian yang merasa ga cocok dengan dunia tulisan, ga usah dipaksain cocok-cocokan. But wait, buat kalian - dan kita sih sebenernya, hehe :P - yang udah pernah nulis di blog, dan kemudian vakum, maka itu bukan salah mood kalian sehingga sampai sekarang ga pinter-pinter juga menulis. Tapi yang bener adalah, salah kalian karena ga disiplin mengasah skill menulis kalian...

Bener bahwa di atas aku bilang, menulis adalah ketika bener-bener ga tahan, bukankah ini adalah mood? Iya bener itu adalah mood. Tapi mood seorang penulis, akan selalu ada.. bukan karena diada-adakan, tapi karena instingnya akan selalu menciptakan itu. Semua realita yang ia lihat, dengar dan rasakan akan menjadi bahan yang sangat asyik ia tuliskan. Dan ketika menulis pun, tidak kemudian gagap.. why? Karena menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dan agar menulis selalu hidup dalam jiwa kita, ia harus selalu disirami.. biar ga layu dan mati. Itulah skill dan kedisiplinan.

Ga usah susah-susah dan banyak-banyak.. cukup mulai dari yang sederhana dan teruskan setiap hari.

2. Tulislah saat engkau benar-benar tidak tahan menuangkannya..

Pengen nulis tapi bingung? Bisa jadi ini karena kita dikejar deadline. Atau karena terpaksa harus nulis. Maka ingatlah pesan dari bang Napi ini, - eh, maksudnya bang pemilik blog ini, hehe..- yaitu, tulislah ketika kita benar-benar ga tahan menuangkannya!

Lalu, nulis apa? Nah, tapi jangan lupa, kita juga perlu selalu menyimpan ide yang berseliweran dan kita lagi ga mood nulis. Jadi, simpan dulu ide-ide tersebut.. dan pada saat yang membuncah itulah, kita tuangkan dengan sekuat tenaga dan sepenuh jiwa,.. :D

3. Cari motivasi menulis

Sama seperti kegiatan lain. Menulis juga butuh motivasi. Entah motivasi cari duit, motivasi bekal latihan, motivasi ga ada kerjaan, motivasi curhat.. asal jangan motivasi nipu orang. :P

Ga ada satu kerjaan pun dikerjain manusia, kecuali ada alasan di baliknya. Maka, carilah motivasi dan alasan menulis kita. Kira-kira apa yang paling interesting buat hati kita dan ingin kita bagikan lewat tulisan.. apa yang bisa mentrigger-nya dan seterusnya.

Seperti misalnya aku, ga akan bisa diam kalau udah ditanya tentang suatu persoalan. Jadi, teknik pertama adalah, cari pertanyaan.. hehe. Maka dengan sendirinya, aku akan nyari jawaban dan membuat tulisan. #ting!

4. Menarik adalah persoalan human interest! Dan bermanfaat adalah tujuan utama dari menulis

Tulisanku jelek ga ya.....?? Ga usah jauh-jauh minta penilaian. Persoalan menarik atau engga itu adalah soal 'rasa', jadi tentunya kita bisa menilainya sendiri. Kecuali emang kita -eh, kamu aja kali ya.. :P- udah mati rasa hatinya. :D

Tulisan yang berhasil menguras air mata, mengobrak-abrik emosi dan menyayat-nyayat hati manusia, itulah tulisan yang menarik. Dan percaya deh, jadi best seller kalau dibukukan. Maka jangan heran, buku yang paling laris biasanya soal motivasi, soup for the soul, novel, dst.. Karena memang, manusia mudah terombang-ambing emosinya, lewat tulisan-tulisan sederhana yang 'match' dengan hatinya. Dan hati, adalah persoalan rasa..

Membuat tulisan dengan standar semenarik mungkin sangat tidak dilarang. Bahkan dianjurkan. Akan tetapi harus diingat,.. sebuah tulisan bernyawa karena ada pesan yang ingin disampaikan di dalamnya. Baik jeleknya tulisan tidak hanya dinilai dari menarik tidaknya. Tapi apa manfaat dan isi tulisan tersebut? Tanpanya, sebuah tulisan hanya akan jadi mayat.

Beri suatu hal yang baru. Beri pengetahuan, beri motivasi.. beri pandangan baru kepada pembaca. Dan berbagi manfaat, adalah tujuan utama menulis. Maka, apa yang kita tulis, haruslah apa yang kita kuasai.. Bercerita tentang hal yang kita tidak tahu apa-apa di dalamnya, sama saja bohong. Bukan saja kita jadi tampak seperti orang sombong,.. akan tetapi juga bisa jadi bahan tertawaan orang lain. Lebih parah lagi kalau sampai ada yang terpengaruh dan ikut-ikutan tulisan kita.

Udah sesat, menyesatkan pula... :D :P

6. if it's important to you, you'll find a way..

Akhirul kalam.. ada sebuah quote menarik yang aku temuin di fesbuk. "If it is important to you, you'll find a way.. Otherwise you'll find an excuse."

Jangan heran kalau kita selalu berhasil mencari alasan untuk tidak menulis. Apalagi bangga berhasil 'menipu' diri kita dengan alasan-alasan tersebut. Karena sesungguhnya, bukan kita yang pintar cari alasan.. tapi karena emang, bagi kita.. bagi jiwa kita, menulis tidaklah penting. :)

So, sebaiknya.. dan afterwards.. benar-benarlah tanyakan pada diri sendiri. Apa arti menulis buatmu?

#Winter @ Cairo, dalam kegelisahan mencari alasan menulis. Nov, 2011.



 
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Sabtu, Agustus 20, 2011

Jakarta oh Jakarta part 1


Bulan Ramadhan tahun ini, memberi suasana berbeda buatku. Pertama karena aku ga lagi di Kairo, dan kedua buanyak sekali catatan perjalanan maupun pekerjaan yang harus ku selesaikan di bulan ini. Salah satu catatan yang ingin sekali kutuliskan adalah catatan perjalanan ke ibukota negara kita, Jakarta.

Kota ini memiliki cerita buruk buatku, khususnya di awal pertama kali aku mendiaminya. Cerita geram di Pulogadung ga akan pernah aku lupakan. Kerasnya kehidupan ibukota membuatku trauma. Agak ragu sebenarnya ketika kuputuskan buat datengin acara alumni al Azhar di Ciputat. Satu hal aja, karena aku pernah trauma.

Tapi, rasa trauma itu ga mampu membunuh rasa penasaranku. Berbekal pengalaman ribut sama orang Mesir dan kemandirian yang diajarkan di Kairo, akhirnya ku bulatkan tekad datang ke Jakarta. Rencananya, mau ngajakin temenku juga. Tapi akhirnya, karena ada halangan, aku berangkat sendirian ke Jakarta. Dua tas syisya dan satu tas ransel di punggung, aku memasuki mobil travel yang akan membawaku ke negeri impian para pendatang..

Perjalanan berlangsung sangat ga enak. Mobil travel yang ku naiki jalannya ampun dah. Dari awal masih terhitung enak, karena ibu teman dudukku ngajak ngobrol. Suasana pun cair. Perjalanan pun dilanjut dengan ngejemput para penumpang. Gak kayak mobil travel biasanya, L500 yang kutumpangi ini lambattttttnya minta ampun. Ga ada manuver. Ga ada percepatan perpindahan gigi. Beda banget ama mobil angkot Kairo. :P

Kayaknya ga pernah masuk gigi 5, jadi cuma 'ngeden' di jalan raya. Masih ditambah dengan ban bocor... rrr.. akhirnya ga bisa tidur semalaman di mobil. Dalam hati, kapok-kapok.. jadi pengen tanya, emang mobil travel sekarang beda ya ama yang dulu? Garang di jalanan? Atau aku yang terlalu terbiasa sama gaya ugal-ugalan orang Mesir? :))

Wajar kalau kemudian paginya, kepalaku pening sangat. Sama sekali ga nyenyak tidurnya. Sesuatu yang sangat baru dan belum pernah aku rasain. :D
Tapi, sesampai di Jakarta, rasanya seneng banget. Sebentar lagi bakal ninggalin nih mobil yang bikin bete. Subuh sampai di Jakarta, dan sampe di Ciputat depan Masjid UIN jam setengah delapan. Untung banget hari itu lagi libur, jadi ga kejebak macet. Kalo sampai kejebak macet lagi, ga keitung dah betenya sama tuh sopir. :mad:

Dijemput ama kawanku Nasrul, kita pun jalan -ya beneran jalan kaki, sama naik angkot- ke alamat yang dituju, sekretariat Ikatan Alumni Al Azhar Internasional Cabang Indonesia. Jalur gampangnya, di pertigaan legoso (dari arah lebak bulus setelah masjid UIN) masuk ke dalam naek angkot 114, turun di pegadaian syariah. Masuk dah.. setelah ngelewatin rumah band radio.

Sesampai di sana, agendaku adalah bersih-bersih. Ga sampe setengah jam.. aku tidur. :P

Siang hari, diberi tahu kalau agenda bukber nya diundur esok. Waduwh, kacau juga nih jadwalku. Bangun tidur, pusing nyusun agenda. Ada empat agenda yang udah kujadwalkan. Dan karena bukber ga jadi, akhirnya disusun ulang.. Jadwal akhirnya fix untuk hari itu. Malam ini, kita ke Penville, Pejaten Village.

Dilihat di maps, ga terlalu jauh. Jalur pun udah kongkrit berkat bantuan sang penjamu dan sang pemandu di Jakarta. Tapi yang jadi masalah, aku selalu khawatir. Soalnya, acara malem hari dan ga ada temen pergi ke sana. Padahal baru hari ini aku ngerasain di Jakarta sendirian.. Sampai jam setengah 7 malam, aku belum mutusin. Jadi berangkat ga nih??!!

Sebelum keluar dari pintu sekretariat, diberi pesan ama kang Bakir. "Hati-hati ya, ini Jakarta.. malem lagi."

Beuh... di luar pintu, hatiku bimbang banget. Arrgh... harus nelpon orangnya nih, biar bisa dideketin lagi tempat ketemunya. Penvil kejauhan. Tapi beratus kali -lebay dikit- aku telpon, ga bisa dihubungi. Doh gawat, orangnya udah berangkat. Mau ga mau, aku harus ke sana nih.

Langkah berat terseok-seok menuju pegadaian syariah buat nungguin angkot 114. Bengong ndiri, pikiran ga ngerti ke mana. Masalahnya, mau ditaro mana muka gue kalo balik lagi ke sekretariat? Jangan-jangan ntar dibilang iqto' wa jaffif thairuka! :))

Ya sudahlah, jalani saja cobaan ini. Kalaulah, sampai... ups, perkataan itu setengah dari doa, jadi ga usah dibilang mau kesasar lah.. Dan toh, akhirnya nyampe juga di pertigaan Legoso dengan selamat. Nyampe situ masih nyoba hubungin yang di sana. Berharap semoga bisa ditawar, ketemuan di lebak bulus aja yang aku udah paham. Hasilnya masih sama, mempes dah gue.. dengan muka kusut, nungguin angkot Doi, alias D 01 menuju Selapa. Sesuai dengan pesan, berkali-kali bilang ke sopirnya biar ga kelewatan.. :malus

"Bang, Selapa tuh!" sebutku panik ngeliat tulisan Sekolah... (karena ga jelas).
"Belum Mas, masih belok sekali lagi."

Akhirnya aku diem aja karena malu, biarlah bang supir membawaku kemana dia pergi. Hahaha..

"Nah, ini die selapa mas.."

Nyampe selapa, masih belum puas juga. Coba nelfon lagi, dan jawabannya masih sama. "Nomor yang anda tuju, tidak dapat dihubungi." Sambil bergaya sok santai dan cool, biar ga dikira orang baru, akhirnya nungguin P 20, alias bus kopaja.

"Oi bang!" sebutku setelah ngeliat bus ijo itu lewat. Sambil lari, gue ngerasain sensasi yang sama seperti waktu kejar-kejaran ama 80 coret di Kairo. Ini baru Jakarta, sebutku mantap naek ke bus.

Singkat cerita, aku bilang ke kondektur, "Bang, lampu merah Republika."

Berbekal rasa penasaran, aku coba-coba buka google maps di shakira-ku. Yah lumayan, bisa ngeliat real-time gimana tuh tanda panah jalan ngikutin jalannya bus di jalanan. Daripada bengong, nikmatin aja google maps. Jarak, 12 km lagi. Hehe..

Di suatu lampu merah, aku kaget. Nah lo, ko udah ada Gramedia. Dan lagi, di maps ku udah bener ini tempatnya. Tapi ko, ga ada plang Republika atau Pejaten Village. Ini Gramedia mana? Apalagi sang kondektur sama sekali diam tak bicara..

Waduwh, turun ga nih? Daripada kesasar, mending naek lagi, gitu pikirku. Langsung dah cabut.. insya Allah Google Maps ga akan bohong. :P

Akhirnya aku telpon si penjamu. Masih ga dijawab juga.. heu heu. Jadinya, nelpon navigator. "Eh wul, ini beneran di Penvile bukan nih?"

"Yaudah, liat aja papannya. Ada ga tulisan Pejaten Village?"

"Waduwh, jangan-jangan nyasar nih. Kaga ada." Nah lo?! Eh ternyata, mata gue yang rabun, ck ck ck. Papan tulisan segede itu kaga keliatan dari jarak sepuluh meter. Jelas-jelas tertulis Pejaten Village. Tapi emang dasar tulisannya sih. Udah kagak ada lampu, pake warna metalik. Jelas aja ga berkilau.. :ngeles

"Hahaha... iya-iya ada." Sumringah banget dah gue.. baru kali ini gue jalan tanpa rencana terbaik. Jalan sendirian, di kota yang sama sekali kagak gue kenal. Tapi akhirnya nyampeeee.. heu heu.. alhamdu lillah. :D

Dan singkat cerita, makasih buat yang udah nraktir aku es teler 77. Jadi ga enak, laen kali bilang, kalau di Jakarta bayar makan duluan.. eh jadinya, dibayarin dah. hehe.. :D

<bersambung...>

--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Selasa, Juli 26, 2011

Indonesia's Mission Impossible!



Bercerita tentang persoalan bangsa kita memang tak pernah ada habisnya. Hingga tak sedikit orang yang kemudian menjadi apatis karenanya. Jangankan berbuat sesuatu, berkorban apalagi membela bangsa ini dengan karya nyata, bahkan untuk sekedar melihat persoalan bangsa kita pun tak banyak orang yang mau memikirkannya. Sebagian bilang itu tak berguna, toh apa yang kita pikirkan tak akan mengubah apa-apa. Ada juga yang bilang, lebih baik mikirin diri sendiri, lebih kongkrit, yang penting kebutuhan hidup bisa kita penuhi. Ada lagi yang bilang, bangsa ini sudah terlalu sakit. Terlalu besar untuk menjadi sebuah negara!

Kompleksitas persoalan bangsa ini memang banyak yang mengakui. Atau menggerutui, mengeluhkan dan merasa desperate, putus asa. Mulai dari persoalan pertikaian antar kelompok agama, panggung sandiwara politik, penjajahan ekonomi oleh kapitalis, permainan kebutuhan pokok rakyat, hingga yang paling menyedihkan adalah kemandulan hukum yang serba tebang pilih. Masih teringat dalam benak penulis, seorang pencuri spion mobil, mati dikeroyok massa. Ya, satu nyawa untuk sebuah spion mobil. Sedangkan di sana, ratusan juta, miliaran, bahkan penilepan triliun dana negara, pelakunya cuma dikenakan hukuman penjara. Belum termasuk remisi-remisi hukuman pada momen tertentu!

Tentu masih terekam jelas dalam benak kita, nama seorang pegawai pajak yang jadi sangat terkenal hingga di jagad Youtube. Yupz, Gayus Tambunan. Namanya pertama kali disebut oleh mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Susno menyebutkan Gayus memiliki Rp 25 miliar di rekeningnya, namun hanya Rp 395 juta yang dijadikan pidana dan disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar tidak jelas. Salah satu yang jadi pertanyaan, mengapa hanya Gayus yang ditangkap? Dulu pernah santer diberitakan bahwa Gayus akan membongkar semua orang-orang yang terkait dengan penilepan pajak. Tapi nyatanya, cuma Gayus yang hingga saat ini jadi tumbal.

Setali tiga uang dengan kasus Gayus, Susno Duadji pun sempat akan membeberkan ‘kelakuan nakal’ para petinggi POLRI. Kasusnya sempat menghiasi headline-headline semua media massa. Tentu itu bukan sekedar kicauan sembarangan. Di dalamnya ia berkoar akan membongkar semua borok-borok Jendral di tubuh POLRI, mempermainkan kasus demi uang, memeras pengusaha, dan memelihara budaya setoran dari anak buah. Maka timbullah pertanyaan, POLRI, melindungi dan melayani siapa? Istilah Markus, alias makelar kasus pun menambah ‘entri’ baru dalam kamus bahasa kita.

Ini baru dari bidang pajak dan penegak hukum. Belum lagi kasus lumpur Lapindo yang sangat menyakitkan. Ganti rugi yang hingga kini masih jadi mimpi di siang bolong. Lapindo, adalah sebuah kasus permainan dan kongkalikong pemerintah dengan Bakrie. Benar bahwa Lapindo terbukti tidak bersalah karena sesuai dengan aturan pemerintah. Akan tetapi, aturannya itu yang memang dibuat supaya Lapindo tidak bersalah! Tak heran bila kemudian pengadilan memenangkan Lapindo.

Kasus penjajahan ekonomi oleh TNC (Trans National Company), perusahaan multinasional. Perusahaan yang mengeruk kekayaan alam negeri ini, dan meninggalkannya dengan sedikit cipratan. Sedikit untuk rakyat daerah dan sedikit untuk pejabat! Dengan dalih belum menguasai teknologi, pemerintah membuat kontrak pengurasan kekayaan negara hingga 30 tahun. Itu pun masih bisa diperpanjang lagi!

Sistemik, kata temen penulis. Dimulai dari para pembuat kebijakan, hingga kelompok masyarakat terendah turut berperan. Apa mau dikata, keboborokan pemerintah kita mengatur negara ini, tentu tidak bisa dilepaskan dari akumulasi sikap kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita yang sudah bekerja keras, berfikir keras dan bersabar keras?? Kalau baru ditempa dengan ujian di Azhar aja kita udah sering mengeluh, bagaimana kita akan menghadapi kompleksnya persoalan bangsa ini?

Sekali lagi kata temen penulis, mental asal menyalahkan penguasa adalah mental bawahan. Segala sesuatu hanya ia gantungkan kepada mereka yang ada di atasnya. Kalau ada yang gak beres, maka pemerintah yang salah. Tanpa pernah melihat apalagi berbuat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Katanya, wajar. Ini karena kita dijajah, dan terbiasa menjadi bangsa jajahan. Sebelum dijajah Belanda, bangsa ini adalah bangsa pelayan di bawah ketiak kerajaan.

Mission impossible.

Begitu sebut penulis suatu waktu. Sebuah pernyataan yang sama, setiap kali selesai mendiskusikan ragam persoalan bangsa ini. Mulai dari kaburnya para ilmuwan kita. Penanganan industri strategis yang hanya memihak asing. Hingga masa depan suram, generasi penerus bangsa ini.
Hingga hari itu datang. Saat di mana penulis melihat wajah-wajah saudara dekat. Melihat semangat yang sama. Merasakan gelora dan optimisme yang tak pernah padam. Dan setruman-setruman baru dari mereka yang kita cintai. Ya, sebuah momen di sebuah tempat yang prestisius. Dengan wacana prestisius. Dan diisi oleh orang-orang prestius!

Harapan itu masih ada. Gedung Bhinneka, KBRI Cairo, Garden City. Dalam sebuah bingkai cerita sejarah, Konferensi Internasional IKPM.

Ust. Akrim menyebutnya, membangun bangsa ini terlihat jalan di tempat. Tak lain karena, saat yang lain mencoba membangun salah satu bagiannya, di saat yang sama, muncul orang lain menghancurkannya. Maka bagaimana mungkin bangunan itu akan berdiri? Memang sulit, kata beliau, dan memang sulit. Kita tidak bisa membangunnya sendirian. Kita harus bersama-sama, sinergis, dan simultan!

Perjalanan itu masih sangat panjang.. akan tetapi, tak pernah ada yang tak mungkin di alam mumkinat ini. Bukankah kita meyakini, bahwa “La yajibu ala Allahi fil mumkinat?”. La haula wala quwwata illa billahi. Teruslah berjalan Kawan, meski onak duri melukai kakimu. Teruslah bekerja, meski berulang kali bangunanmu mereka hancurkan. Dan teruslah berjuang, meski keringatmu telah menjadi darah.
Sejauh apapun jalan itu, ingatlah selalu, bahwa Allah tak kan pernah melupakan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu.

Tulisan ini dimuat dalam Buletin Silaturahim Internasional IKPM Edisi Perdana Juli 2011. 
Download buletinnya di 4shared.com

--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Minggu, Juli 17, 2011

Stop Fighting, Let it flow..


Po kemudian terbangun di sebuah desa di mana ia berasal. Ia dirawat the Soothsayer, sang kambing peramal di gubuk itu. Saat melihat boneka kecil miliknya yang telah lama tak bersua, ia pun terbawa ke alam inner peace. Kemudian mulai bergerak gemulai khas selingkung kungfunya, softcore. Saat mengalir bersama embun di tubuhnya, the Old Goat berbicara pelan padanya, "Stop fighting. Let it flow.. "


Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ku sampaikan malam itu. Di ACC (Al Azhar Conference Center), tempat di mana dilaksanakan dialog bersama Pak Habibie. Pak Habibie, pertama kali mengangkat tema soal Eyang, hehe.. Karena yang berbicara di depan kita adalah pria berumur 75 tahun, maka kata beliau, bukan lagi bapak atau om. Tapi eyang.

Acara yang diadakan kerjasama KBRI Kairo dan PPMI ini berlangsung sangat meriah. Aku sudah menduga dari awal. Makanya ketika jam menunjukkan pukul 3 sore ternyata aku masih di sekretariat, pastinya bakal lesehan nih. Dan yap, seperti perkiraanku. Sampai di sana pukul 5 sore, ruangan sudah penuh dengan mahasiswa yang berdiri. Sebagian lagi lesehan karena jumlah kursinya ga muat.

Tapi tanpa perlu lama menunggu, Pak Irwan, selaku MC kali itu, mulai membuka acara. Seperti biasa, acara formal tilawah al Quran dan anthem Indonesia Raya pun diperdengarkan. Seteleh 'berpuisi' beberapa beberapa bait, jalannya acara diserahkan kepada bapak Dubes, A.M Fachir selaku moderator.

Acara bertemakan 'Indonesia Pasca Reformasi dan Peran Lulusan Azhar' pun segera dimulai. Seperti yang ku bilang di awal, Pak Habibie bicara sebagai seorang eyang. Selanjutnya beliau bercerita tentang wawancara beliau di Mesir. "Mungkinkah kami bisa maju di tahun 2020? Bagaimana caranya? Dari mana memulai?" tanya seorang mahasiswa Mesir dalam acara tersebut.

Beliau menjawab, "Bisa. Dan itu adalah dengan nilai tambah dari sumber daya yang terbaharukan. Manusia."

Beliau kemudian menjelaskan arti penting dari nilai tambah. Bagaimana sebuah barang itu bisa bernilai. Memberi contoh mobil Marcedes dan Kijang. Plus Marcedes habis tabrakan. Harga itu yang menilai adalah pasar. Hasil dari nilai tambah dikurangi cost. Semakin besar nilai tambah, dan semakin kecil biaya cost, maka keuntungan semakin besar.

Bagaimana membuat nilai tambah itu? Kata beliau ada 3 elemen. Agama, budaya dan IPTEK. Ketika ketiga hal ini bersinergi positif, maka akan menghasilkan nilai tambah luar biasa. Dan inilah yang dibutuhkan demi sebuah kemajuan.

Selesai bercerita tentang konsep, kemudian beliau berbagi pengalaman bagaimana dulu merintis dan mengembangkan IPTN - yang kini bernama PT DI. Dimulai dari sebuah obrolan panjang dengan Pak Harto alm. Sekitar 5 jam, kata beliau. Tepatnya pada tanggal 10 Oktober 1974, beliau diminta untuk mengembangkan industri strategis negara maritim.

Ada hal yang menarik ketika itu. Pak Habibie bertanya, "Kenapa saya Pak?"
"Banyak negara-negara tetangga memberi saya nasehat. Bahwa kalau Indonesia ingin maju, maka harus meninggalkan Islam. Karena Islam adalah hambatan utama bagi sebuah kemajuan."

Suasana di ACC hening dan kaget.

"Lantas,..?"
"Saya tahu kamu, ini berkas-berkas tentangmu," kata Pak Harto sambil menunjukkan bertumpuk dokumen tentang Pak Habibie.
"Kamu puasa senin-kamis, .... nafasmu adalah al Quran. Karenanya, nanti kamu yang akan buktikan. Bahwa Indonesia, dengan Islam, pun bisa membuat sebuah kemajuan. Itu kamu."

Ruang ACC seketika bergemuruh. Sungguh aku tak pernah tahu. Ku pikir, Pak Harto setali tiga uang dengan Bung Karno yang dekat dengan komunis. Terlebih ketika mendengar kalimat pertamanya. Ternyata,..

"Duitnya, Pak?" tanya Pak Habibie setelah nampak menerima alasan penunjukan beliau.

Di sinilah titik balik alur pikiranku. Dari semula yang sangat bersemangat dan bangga dengan apa yang sudah diperbuat Pak Habibie, menjadi sebuah kemirisan.

Sebuah realita yang tak terbantahkan. Benar bahwa dulu Pak Harto bahkan pernah bilang, "Kamu buat apapun, terserah, saya akan mendukung. Bikin kapal, pesawat, kereta api, atau apapun." Namun realita sekarang, membuat para pelaku industri strategis menangis. Para ilmuwan pun kabur karena ga ada dana riset dan lapangan pengabdian. IPTEK di Indonesia jalan di tempat. Hilmi Fauzi bilang, industri ini sudah seperti zombie, it's dying.

Apa yang membuat saya miris adalah, ketika itu, ya di malam itu Pak Habibie begitu bersemangat. Menjelaskan panjang lebar dengan berapi-api tentang cerita itu. Saat CN 250 akhirnya terbang perdana tanggal 10 Agustus 1995, sebagai sebuah hadiah bagi Indonesia... Sebagai sebuah pesawat pertama yang menggunakan teknologi fly by wire di dunia. IPTN sebagai sebuah perusahaan pertama dan satu-satunya, yang memproduksi semua komponen pesawatnya. Dan semua ini, hasil dari orang-orang Indonesia. Kita mampu!

Hampir semua yang ada di ACC tertegun bangga saat film itu diputar. Bagaimana pesawat bernama Gatotkaca itu terbang tinggi dan bermanuver. Kemudian mendarat dengan sempurna. Tapi tak banyak yang ingat, bahwa tanggal itu adalah tahun 1995. Lima Belas tahun yang lalu Bung!! Dan sekarang? Hm.. Wajah itu terlihat bersemangat. Tapi aku yakin, dalam hati beliau bersedih. Melepaskan IPTN dan meninggalkan Indonesia.

Pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalaku. Hingga, hampir-hampir aku tak terlalu memperhatikan apa yang beliau sampaikan. Terlebih karena suara beliau yang kadang kurang jelas, tercampur dengan logat Germany-nya yang kental. Maka ketika sesi pertanyaan dibuka, aku segera angkat tangan. Berharap Pak Fachir bakal menunjukku. Tapi ternyata tidak. Aku harus membawa pulang pertanyaan-pertanyaan itu sampai di kamar.

Satu-satunya kalimat semangat yang ku ingat adalah, "you perform!" Semua itu karena perform. Bukan ngomong doang. Bukan polemik. Apalagi tawar menawar politik.

Sambil membawa ratusan - lebay dikit, - pertanyaan, aku pulang ke sekretariat. Sengaja aku jalan dari mahattah gami' menuju KSW dengan jalan kaki. Sambil menikmati malam dan membawa terbang angan-angan.

Sampai kemudian saat tiba di kamar, temenku lagi nyetel film Kunfu Panda 2. Aku pun jadi asyik duduk. Sedikit lupa dengan pertanyaan tadi. Hingga ketika sampai di suatu adegan, saat Po terkena tembakan meriam si Peacock. Po terjebak dan tak mampu menghindar. Terlebih karena ketika itu ia harus bertarung dengan masa lalu. Sebuah pertanyaan, "who am I?".

Po kemudian terbangun di sebuah desa di mana ia berasal. Ia dirawat the Soothsayer, sang kambing peramal di gubuk itu. Saat melihat boneka kecil miliknya yang telah lama tak bersua, ia pun terbawa ke alam inner peace. Kemudian mulai bergerak gemulai khas selingkung kungfunya, softcore. Saat mengalir bersama embun di tubuhnya, the Old Goat berbicara pelan padanya, "Stop fighting. Let it flow.. "

Aku tertegun dengan kalimat ini. Stop fighting. Hm... iya. Ternyata banyak dari kita, lebih sering bertarung dengan masa lalu. Menyalahkan apa yang sudah terjadi. Kesalahan kita. Kesalahan orang. Kedzaliman mereka. Ketidak-aturan di dunia. Keserakahan negara-negara kapitalis. Dan yang lebih menyesakkan adalah, para korporasi besar yang membuat negara ini jajahan oportunis! Termasuk saat melihat diriku. Ku lihat di sana sebuah pertarungan tak pernah usai. Antara memori dan masa kini.

Stop fighting dude,..

Berhentilah bertarung dan menyalahkan masa lalumu. Ia tak kan berubah. Kau juga tak kan pernah menang. Tapi yang pasti engkau akan semakin terluka. Berdamailah.. terima masa lalumu dan maafkan realita dirimu.

Let it flow..

"The only thing that matters is what you choose to be now.”

Terima kasih Pak Habibie. Semangat dan pesan Bapak akan selalu kami ingat. Ketegaranmu berdamai dengan masa lalu, tampak sekali dengan suara lantang itu. Melihat IPTN pelan-pelan mati seharusnya benar-benar menyakitkan untuk Bapak. Tapi bukan itu, bukan itu yang engkau bagikan kepada kami. Bukan rasa sakit. Tapi semangat untuk memilih, what ought we choose to be now!

--------------------------
 Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Rabu, Juli 06, 2011

Google Plus

Beberapa hari yang lalu, nyobain Google Plus setelah diinvite sama kawan2 di Grup Facebook Shakira. Pertama kali nyoba, udah excited duluan.... Google Plus ini emang jadi tool utama Google buat nyaingin Facebook. Ini setelah melihat kenyataan bahwa Soc-Med emang pasar yang sangat besar.. dan sayangnya, hingga saat ini, Google masih mati kutu ngedenger nama Facebook, sang Raja Soc-Med.

Faktanya mungkin emang, bahwa untuk Search Engine, Google masih teratas.. bukan karena trik marketing, tapi karena kualitasnya. Akan tetapi, apa orang akan melulu nongkrongin search engine? Dari data yang bertebaran menunukkan bahwa social media adalah tempat paling lama buat para netter nongkrongin komputernya. Dan benar saja, akhirnya Facebook udah ngalahin Google soal lama waktu penggunanya. Ga heran, dari sejak dulu Google sudah mulai ngincar platform social media. Tapi sayang, Buzz dan Wave sama sekali ga berfungsi. Mati ditelan waktu..

Sampai kemudian Google meluncurkan Google +, dengan ide utamanya adalah Privacy, yang ditunjukkan dengan circle concept-nya. Bagaimana kita hanya akan berbagi hal yang tepat kepada orang yang kita anggap tepat! Permasalahan terpenting Facebook adalah, ketika kita pencet tombol share, sangat sulit bagi kita untuk menentukan, apakah orang yang akan membaca apa yang kita bagikan itu sudah sesuai?

Kita tahu dan sadar, bahwa dalam dunia nyata, kita punya tingkatan relationship yang berbeda-beda dengan teman-teman kita. Ada yang akrab, sehingga bahkan kita bebas mencaci mereka.. karena kita tahu, we are joking! Tapi tentu, joking tersebut akan terlihat nerd dan aneh kalau ada orang di luar lingkaran kita yang mengetahuinya.. Dan inilah masalahnya di Facebook. Dari yang kuingat, pernah beberapa kasus aku ngalamin hal seperti ini.. :hammer:

Tapi dengan Google Plus, semuanya aman.. setiap dari relationship kita, akan mendapatkan porsi sesuai dan menu yang pas dengan hubungan kita dengan mereka, this is what they called, CIRCLE. :)

Selain itu, integrasinya dengan fasilitas Google yang lain, akan bikin kita betah nongkrongin GPlus sambil baca email, nulis di docs, dan baca GReader.

Jangan lupa, fasilitas Hangouts sama Huddle-nya yang keren abiz... :D

Tapi sebelum sign in atau minta invite, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, ini note dari Mbah Google:

Before you ask anyone for a Google plus invite, here are the two things you should know:

1. Google Plus works only with Google accounts that have an active Google profile. If you haven’ t created your Google profile yet, you won’t be able to sign up for Google Plus.
2. Only regular Gmail accounts are supported and you can’ t use your Google apps account to setup a Google Plus profile.

Susah masuk, coba perbaiki dulu Google Profiles Anda; http://profiles.google.com/

Buat Androiders; donlot aplikasinya di sini: Google Plus.apk
And jangan lupa, CIRCLE me ok.. neilhoja

--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Minggu, Maret 13, 2011

Ngeblog Just for Fun?

Pernahkah terpikir dalam benak kita, apa alasan kita untuk ngeblog? Beberapa diantaranya mungkin akan bilang, karena ingin eksis. Atau ada juga yang bilang, sebagai media curhat. Ada juga temenku yang beralasan tempat menampung segala pengetahuan dan trik yang ia dapatkan. Untuk apapun itu, ngeblog tidak jadi masalah. Semua dikembalikan kepada masing-masing empunya. Semula, tujuanku buat ngeblog pun sebatas. Sebatas hanya karena pengen eksis di dunia maya. Dan ketika itu, mencurahkan ide dan pikiran lewat blog lagi anget-angetnya. Salah satu yang menginspirasiku adalah ndorokakung, rusdi mathari dan kang iwan di nusantarawordpress.com

Jumat, Desember 31, 2010

Mengubur Logika part. 1

Pukul 09.30 barusan, aku terpaksa harus mengangkat dudukku. Berpindah dari posisi PW (posisi wueanak) menuju dinginnya ruang tengah KSW. Seperti hari-hari biasa, kerjaanku adalah melayani bapak ketua menjalankan tugas administrasinya. Kali itu, aku diminta membuat sebuah piagam. Dan berhubung dalam laptopku gak menemukan sampel lama, akhirnya terpaksa aku harus pergi ke ruang tengah dan nyari file di komputer pusat.

Selasa, September 14, 2010

Please, Say Me a Word..

Dalam sebuah hubungan, ada tiga hal penting yang akan menentukan masa depan hubungan tersebut. Hal ini aku dapatkan dari seorang psikolog yang aku lupa namanya... hehe.. Ketiga hal tersebut adalah komunikasi, keterbukaan dan kejujuran. Trust me, tiga hal ini adalah elemen dasar sebuah hubungan. Karena alasan itulah, mungkin aku pengen kembali mengulas hal ini..

Lebih lanjut, sang pakar itu berpendapat.. bahwa dari tiga hal terpenting di atas, satu hal yang paling penting adalah komunikasi. Karena, tanpa adanya komunikasi, maka tidak akan terjadi keterbukaan apalagi kejujuran. Mo jujur gimana, wong medianya ga ada alias komunikasi.