Tampilkan postingan dengan label Al Azhar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Azhar. Tampilkan semua postingan

Jumat, September 02, 2016

Perseteruan Antara Asyari dan Salafi (Wahabi)

D R A F T. 

Setelah Risalah Checnya. 

Adalah sikap global pertama Asy'ari.. terhadap serangan salafi selama ini. 

Sebelumnya hanya berupa pendapat perseorangan, baik tulisan singkat ataupun dalam kitab. 

Dari kalangan Salafi muncul banyak reaksi, tiga yang menurut penulis perlu untuk dikutip. 

1. Haiah ammah saudi

2. Syeikh Qardhawi

3. Syeikh syarif Auny 

Yang paling menarik adalah pendapat syeikh Auny... tentang sikap moderat dari masing2 kelompok. 

Namun dianggap masih rancu, karena dalam fakta.. perdebatan ilmiah adalah nyata. Bagaimana pula bisa mengimplementasi moderat ?

Di tengah panas nya perseteruan ini, mungkin kita terbawa euforia.. sehingga agak lupa dengan fakta sejarah khazanah Islam dahulu.. di mana serunya perdebatan bermunculan di mana2. 

Tak jarang bahkan sampai pada perdebatan fisik, menumpahkan darah, sesama muslim. 

Jadi bagi saya, perseteruan akademik ini akan senantiasa muncul.. sudah menjadi sunnatullah, sebagaimana disebutkan oleh Dr. Abdul Halim Mahmud,.. 

Jadi sambil mengharap taufik dan ridha Allah, saya melihat begini :

1. Perbedaan itu sunnatullah.. dalam akademis, itu hitam putih nyata.

2. Atas dasar itu, maka tidak selayaknya Salafi marah terhadap Asy'ari.. dan juga Asy'ari tidak perlu benci terhadap salafi. 

Dan lebih penting lagi, tidak pula mengajak kawannya u membenci, merendahkan kelompok lain.. 

3. Bayan muktamar, adalah bentuk pembenaran kelompok.. dan itu sah. Sebagaimana kita lihat, perdebatan mazhab.. saling menyatakan pendapat nya paling kuat. 

4. Hentikan, perdebatan itu cukup sampai di ranah akademis bass... tidak dibawa ke dunia nyata, pergaulan, sosial, jamaah dsb. 

5. Setelah kita sepakati, bahwa perdebatan itu cukup sampai di ranah akademis dan teori, maka akan ada ruang sosial, muasyarah, yang dapat kita isi.. untuk bersatu, bersama memajukan sisi sosial, ekonomi, untuk kebangkitan umat.

Wallahu a'lamu. 

Sabtu, Desember 03, 2011

26 Syukur yang Undefined

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepatnya. Tiba-tiba saat aku berhenti sejenak hari ini, ini adalah hari di mana aku telah berpacu selama 26 tahun lamanya. Sebuah waktu yang tidak sebentar, tapi juga bukan waktu yang cukup lama.

Waktu yang tidak sebentar untuk mempelajari arti hidup ini. Juga waktu yang tidak sedikit telah kuhabiskan tanpa perjuangan dan hasil yang berarti. Pun waktu yang tidak sedikit untuk mengisi penuh kantong-kantong amal saleh ku. Dan bukan waktu yang sebentar untuk merenungi, apa yang sudah kuberikan untuk mereka yang selalu menyayangiku... Bukan waktu yang sebentar, brad.. tapi kenapa hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali yang sudah kau perbuat selama ini?

Karena parameter waktu, sangatlah relatif dan tidak pasti.

26 tahun, seperembat abad lebih sedikit.. juga bukan waktu yang cukup lama untuk merasa sudah dewasa. Juga bukan waktu yang cukup lama untuk menganggap semua sudah selesai.. Bukan waktu yang cukup lama untuk untuk merasa cukup dengan amal yang kau perbuat. Pun bukan waktu yang cukup lama untuk merasa bahwa kau sudah di atas segalanya..

Karena, parameter merasa.. hampir selalu salah.

Maka tidak ada yang bisa ku lakukan sekarang untuk menambahi kekurangan-kekurangan di atas, kecuali dengan mensyukuri-nya. Syukur bukanlah asal nerimo. Tapi syukur adalah sikap "berterima kasih dan memuji untuk apa yang telah diberi, dengan jalan mempergunakan sebaik mungkin pemberian tersebut sesuai dengan harapan sang pemberi.."

26 tahun sudah nama-ku selalu mengingatkan untuk senantiasa bersyukur, nailunni'am.. yang berarti, memperoleh kenikmatan. Dan dalam setiap khutbah pula seringkali "namaku" disebut, "ala ni'ami Allah..", maka tak heran bila aku lebih memilih menjadi hamba-Nya yang bersyukur "dibanding" menjadi hamba-Nya yang bersabar. Sebagaimana sabda Rasulullah, "orang kaya yang bersyukur lebih dicintai Allah dibanding orang miskin yang bersabar.."

Maka, izinkanlah saya pribadi berucap rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada semua individu yang telah begitu banyak membantuku dalam banyak hal. Tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa. Tanpa kalian, aku tidak akan jadi seperti sekarang ini.. dan mereka itu semua adalah guruku;


  1. dalam memahami hakikat kehidupan; Bapak dan Ibu, Pak Dhe dan Bu Dhe.. .. kemudian juga Pak Erizeli Bandaro dan Om Dedy.. 
  2. dalam hal khazanah ilmu dan akhlak; Para bilih sepuh Pak Yai Subki, Abah Hasanuddin, Pak Yai Khozin, Ust. Syukri, Ust. Badri, Ust. Hasan, Ust. Syarif Abadi dan Ust. Suharto, dan para Asatidz lain di Gontor 2, 1 dan 3, Bu Dewi, Pak Ris, Pak Sukad, Bu Nada, Bu Khur,... dll di TK2, SDI, Pak Syakur, Pak Ali, Bu Dewi, Pak Wahyu dll di SLTPN2, dan tentu saja para Masyayikh Azhar, Dr. Mu'thi Bayumi, Syekh Yusri, Syekh Ali Jum'ah, Syekh Yusuf Qardhawi, Syekh Ramadhan Bhuti, Syekh Wahbah Zuhaily, dll... Pak Agus Mustofa beserta Ibu, 
  3. dalam hal hati, cinta dan maturity; ada Mba Ida, Rie, Ka Ain, Adel, Imun, Unyi, Pus Miaw, De Puput, Wulan, Ty, Yanita, De Shinta, De Gina, dadah, qq, Defi.. Budi Ahda, Angga, Faiq, Mujib, Gus Yusron, Saepannur..
  4. dalam persoalan muamalah, persahabatan dan humanism,.. Jamiat, Bayu, Dani, Sepri, Udel, Arip, Mondol, Cepy, Farid, Iqbal Huda, Topan, Hendrik, Yasin, dan semua cs SD, SMP dan kampoeng Wayang.. hehe. Juga sohib-sohib Marhalah Blitzer, Sapdal, Sukhoy, Harda, Iqbal Faishol, Samsul-ani, Rizka H, Prayitno, Jamil.. ikhwan2 Forum dan Tunis, A'do fushul B, para OESAMA; Kakek, Marix, dst, anak2 Rouva Kang Husen Kang Sabar, Kang Daus, dst.. dan Manbaul Falah.. juga anak2 Nozha, Redong, Beler, Mughits, Ma'mun, Ipenk, Muwafik, buset dah banyak banget.. :D -perasaan masih banyak yang kelewatan... maaph2.. :(
  5. terakhir (dianggap terakhir maksudnya, meski masih banyak daftar list-nya); temen-temen diskusan yang begitu banyak menyumbang ilmu,.. kawan2 di kajian SIT, Mujib, Angga, Fadlan, Nurdin, dll.. di kajian Nun Center, Sadzali, Jauhar, dll... dan kajian PAKEIS... ust. Ghazali, teh Yuli, ust. Jamal, ust. Najib, Rois, Adel, Copen, Hasbullah, Asmopur, Rifqi, Syakur, ibu Respati, dll... juga di Politikana.com, Mbahel, Kang Galih, Edwin, Striding Cloud, kang Olas, Emina, Isma, Nurma, dll.. Kaskuser, Facebooker, Irfan, kang Army, Surani, kang Irfan, Asep, pak Adrian, prof Ma'rufin, kang Riza, pak Wahyu, mastah Oxy, mastah frogy, mastah Kuya.. dll.. 

ya Allah banyak banget.. itu aja masih banyak yang kelewatan.. emang bener-bener undefined,..

dan yang paling besar syukurku adalah kepada-Mu ya Allah.. yang telah menghadirkan mereka-mereka dalam kehidupanku. 'La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu min azh-zhalimin...' :(


--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Selasa, November 29, 2011

Renungan Untuk Para Sarjana

Bodoh VS Pintar Ala Bob Sadino

1. Terlalu Banyak Ide -
Orang "pintar" biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang "bodoh" mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya

2. Miskin Keberanian untuk memulai -
Orang "bodoh"biasanya lebih berani dibanding orang "pintar", kenapa ? Karena orang "bodoh"sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang "pintar"telalu banyak pertimbangan.


3. Telalu Pandai Menganalisis -
Sebagian besar orang "pintar"sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang "bodoh"tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.

4. Ingin Cepat Sukses -
Orang"Pintar" merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang "bodoh" merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.

5. Tidak Berani Mimpi Besar -
Orang "Pintar" berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang "bodoh"tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.

6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi -
Orang "Pintar"menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang "Bodoh" berpikir, dia pun bisa berbisnis.

7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai -
Orang "Pintar" yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang "bodoh" tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.

8. Maunya Dikerjakan Sendiri -
Orang "Pintar"berpikir "aku pasti bisa mengerjakan semuanya", sedangkan orang "bodoh" menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.

9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan -
Orang "Pintar" menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang "bodoh" berpikir simple, "yang penting produknya terjual".

10. Tidak Fokus -
Orang "Pintar" sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang "bodoh"tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.

11. Tidak Peduli Konsumen -
Orang "Pintar" sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke
berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang"bodoh"?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.

12. Abaikan Kualitas -
Orang "bodoh" kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka
tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang "pintar" sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.

13. Tidak Tuntas -
Orang "Pintar" dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang "bodoh"mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.

14. Tidak Tahu Pioritas -
Orang "Pintar" sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang "Bodoh"? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas

15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas -
Banyak orang "Bodoh" yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang "Pintar" malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,

16. Mencampur adukan Keuangan -
Seorang "pintar" sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.

17. Mudah Menyerah -
Orang "Pintar" merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang "Bodoh" seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.

sumber: Irwan Masduqi
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Kamis, November 10, 2011

Negara Islam di Mata Agus Mustofa



JAWA POS - PERBINCANGAN seputar Islam dan negara hampir selalu menarik untuk diangkat. Tak saja karena ia bersinggungan secara ideologis dengan 1,57 miliar pemeluknya di seluruh dunia, tetapi juga bisa menimbulkan konflik bahkan disintegrasi dan perang yang tak berkesudahan. Perbedaan pendapat dalam masalah itu bukan saja perbedaan yang paling pertama terjadi di kalangan umat Islam, tapi juga perbedaan yang paling ''rawan'' dan paling sering memakan korban.

Realita itulah yang bahkan bisa kita lihat sejak masa-masa awal Islam, tepatnya setelah Rasulullah wafat. Perang Jamal adalah perang internal pertama umat Islam. Perang itu pun terjadi karena perbedaan pendapat dalam soal kebijakan pemerintah. Siti Aisyah ketika itu mengangkat senjata kepada Ali. Siti Aisyah, Talhah, dan Zubair menghendaki persoalan pembunuhan Usman diselesaikan
secepatnya. Sementara itu, Ali yang sudah dibaiat sebagian sahabat merasa kondisi yang masih kacau belum memungkinkan untuk pelaksanaan qishas. Hingga kemudian terjadilah perang Jamal tersebut.

Adapun dalam kaitannya dengan realitas kekinian, Agus Mustofa dalam bukunya ini mencoba bertanya, ''Manakah menurut Anda negara Islam yang paling islami: Arab Saudi, Iran, Iraq, Mesir, Sudan, Afghanistan, Jordania, Pakistan, Malaysia, ataukah Brunei Darussalam?''

Sebuah pertanyaan sederhana namun tak mudah untuk dijawab. Ketika kita menyodorkan Arab Saudi yang menerapkan syariah Islam, ternyata di sana masih ada kebijakan yang mengekang wanita. Di sana, kita juga mendapati bentuk pemerintahan yang berbentuk kerajaan. Padahal, kita tahu bahwa Rasulullah selaku pemimpin negara Madinah ketika itu tidaklah disebut sebagai raja dan tidak mewariskan tampuk kepemimpinan kepada kerabatnya. Tidak juga Abu Bakar, Umar, Ustman, maupun Ali.

Demikian juga ketika kita berbicara tentang Mesir, Prof Dr Rafaat -anggota Komisi Fikih dan Fatwa Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah Mesir- dengan tegas menyatakan bahwa sebenarnya masyarakat Mesir sangatlah dekat dengan ulama. Namun, juga tak bisa dimungkiri bahwa bentuk resmi negara Mesir adalah negara sekuler.

Lantas, bagaimana sebenarnya bentuk negara yang islami itu?

Perbedaan-perbedaan bentuk pemerintahan ''islami'' di negara berpenduduk muslim adalah sebuah realitas yang tak terbantahkan. Ada yang tekstualis seperti Arab Saudi, namun ada juga yang substansialis semisal Mesir dan Indonesia. Lalu, di mana posisi Agus Mustofa? ''Buku yang saya tulis ini bukan dalam rangka memperjelas berbagai perbedaan-perbedaan itu, melainkan justru menyodorkan titik temu antara berbagai kalangan dengan harapan mudah-mudahan umat Islam bisa memiliki pandangan yang senada dalam hal ini,'' tulisnya dalam kata pengantar buku ke-27 serial diskusi tasawuf modernnya itu.

Agus Mustofa tidak sedang berdiri di kanan ataupun kiri, tapi dia sedang menawarkan sebuah pandangan alternatif. Hanya, berbeda dengan tulisan-tulisan ilmiah berbobot lain, Agus Mustofa mengemas persoalan paling pelik dalam umat Islam itu menjadi seperti kacang goreng. Renyah, ringan, namun bergizi. Dan, tetap dengan gaya tulisannya yang mampu menyihir para pembaca setianya, sebuah buku bergizi tinggi dengan rasa dialog dan diskusi interaktif. Tak heran, kemudian judul yang diangkatnya adalah sebuah kalimat tanya tanpa tanda tanya, Perlukah Negara Islam.

Agus Mustofa memilah buku tersebut menjadi empat bagian. Dia mengawali buku ini dengan kata pengantar singkat seputar Reformulasi Negara Islam. Bagaimana seharusnya kita melihat realitas perbedaan bentuk negara muslim dan seperti apa sesungguhnya frame work bentuk negara yang islami itu. Dengan harapan, sebelum akhirnya kita bisa memformulasi sebuah jawaban dari pertanyaan, Perlukah Negara Islam, kita bisa mengenal terlebih dahulu alur peta perjalanannya.

Di bagian pertama bangunan pemikirannya, dia mengawalinya dengan ragam potret realitas negara-negara muslim modern. Di sini dia mencoba menyusun puzzle-puzzle pemahaman yang berserakan, terkait apa itu negara Islam. Dengan runtut dia paparkan warna-warni bentuk negara muslim modern. Ada yang bersifat demografis, kerja sama lintas negara semisal OKI (Organisasi Konferensi Islam), hingga persoalan penerapan syariat Islam di berbagai negara berikut kritiknya.

Bagian kedua buku ini membahas bentuk-bentuk pemerintahan masa Islam klasik. Dimulai dengan analisis masa Abbasiyah, kemudian Muawiyah, hingga masa Khulafaurrasyidin. Yang terakhir adalah potret seperti apa negara yang Rasulullah bentuk selama memegang tampuk pemimpin pemerintahan di Madinah.

Sekilas terlihat aneh, ketika Agus Mustofa membangun pemikirannya itu dengan alur mundur. Tapi, keanehan tersebut terjawab ketika kita telah sampai di subjudul terakhir bab ini, yaitu masa pemerintahan Rasulullah. Sebuah masa yang sudah seharusnya kita jadikan sumber rujukan, termasuk dalam usaha reformulasi negara Islam.

Perang dan terorisme menjadi isu utama bagian ketiga dari buku ini. Terorisme dan perang adalah dua isu utama yang sering dibenturkan kepada Islam. Entah sudah berapa ribu tulisan menyoroti isu perang dalam Islam. Hingga kemudian, terpatrilah sebuah premis, Islam disebarkan dengan pedang. Agus Mustofa menjawabnya dengan lincah. Mulai bagaimana sesungguhnya situasi ketika perintah perang itu turun dan apa saja aturan main dalam Islam ketika perang. Islam tidak berperang tanpa alasan dan tidak membunuh hanya karena perbedaan.

Bahasannya soal distorsi makna jihad kembali menjadi bukti baru bahwa perang istilah itu ada dan amat berbahaya. Hasilnya, jihad pun menjadi lekat dengan usaha teror umat Islam dan perang melawan kaum kafir. Padahal, jihad, dalam arti umumnya, bermakna perjuangan dan usaha keras. Sementara dalam Alquran, menurut Agus Mustofa, di antara lima pengertian jihad yang ada, menariknya hanya ada satu yang bermakna perang fisik. Lantas, bagaimana mungkin jihad diartikan hanya dengan satu makna tunggal, yaitu terorisme?

Terakhir, Agus Mustofa menutup bab ''tambahan'' ini dengan kesimpulan tegas bahwa pada saat tertentu tindakan perang pun bisa jadi adalah hal yang sangat rasional, bahkan bagi pencinta kedamaian di mana pun mereka berada. Di bagian akhir buku ini, sampai pulalah kita pada sebuah formulasi negara Islam. Setelah diperbincangkan terlebih dahulu soal gambaran konsep sebuah negara madani hingga akhirnya kita siap memformulasikan jawaban, Perlukah Negara Islam.

Sebagaimana buku-buku Agus Mustofa lain, dia kerap mengangkat tema atau bahkan judul yang sebagian orang bilang kontroversial. Namun, kiranya ada satu hal menarik yang perlu dicatat. Agus Mustofa menulis dan mengangkat judul buku-bukunya tersebut dengan jujur dan bertanggung jawab. Dalam arti, tidak hanya menarik minat pasar dengan bombastisisme judul, tapi dia benar-benar jujur bahwa apa yang dia angkat sebagai judul adalah kesimpulan isi bukunya. Itulah salah satu kekuatan utama buku-bukunya hingga selalu berhasil menjadi best seller di pasaran, selain gaya bahasanya yang ringan dan membumi tentunya. (*)

*) Nailunni'am , mahasiswa Jurusan Tafsir Universitas al-Azhar Mesir dan
Pimpinan Umum Majalah La Tansa IKPM Kairo

Judul Buku: Perlukah Negara Islam

Penulis: Agus Mustofa

Penerbit: Padma Press, Surabaya

Cetakan: I, Juli 2010

Tebal: 272 halaman

Sumber: JawaPos.co.id
Resensi ini terbit pada [ Minggu, 01 Agustus 2010 ] di Jawa Pos

Sabtu, Agustus 20, 2011

Jakarta oh Jakarta part 1


Bulan Ramadhan tahun ini, memberi suasana berbeda buatku. Pertama karena aku ga lagi di Kairo, dan kedua buanyak sekali catatan perjalanan maupun pekerjaan yang harus ku selesaikan di bulan ini. Salah satu catatan yang ingin sekali kutuliskan adalah catatan perjalanan ke ibukota negara kita, Jakarta.

Kota ini memiliki cerita buruk buatku, khususnya di awal pertama kali aku mendiaminya. Cerita geram di Pulogadung ga akan pernah aku lupakan. Kerasnya kehidupan ibukota membuatku trauma. Agak ragu sebenarnya ketika kuputuskan buat datengin acara alumni al Azhar di Ciputat. Satu hal aja, karena aku pernah trauma.

Tapi, rasa trauma itu ga mampu membunuh rasa penasaranku. Berbekal pengalaman ribut sama orang Mesir dan kemandirian yang diajarkan di Kairo, akhirnya ku bulatkan tekad datang ke Jakarta. Rencananya, mau ngajakin temenku juga. Tapi akhirnya, karena ada halangan, aku berangkat sendirian ke Jakarta. Dua tas syisya dan satu tas ransel di punggung, aku memasuki mobil travel yang akan membawaku ke negeri impian para pendatang..

Perjalanan berlangsung sangat ga enak. Mobil travel yang ku naiki jalannya ampun dah. Dari awal masih terhitung enak, karena ibu teman dudukku ngajak ngobrol. Suasana pun cair. Perjalanan pun dilanjut dengan ngejemput para penumpang. Gak kayak mobil travel biasanya, L500 yang kutumpangi ini lambattttttnya minta ampun. Ga ada manuver. Ga ada percepatan perpindahan gigi. Beda banget ama mobil angkot Kairo. :P

Kayaknya ga pernah masuk gigi 5, jadi cuma 'ngeden' di jalan raya. Masih ditambah dengan ban bocor... rrr.. akhirnya ga bisa tidur semalaman di mobil. Dalam hati, kapok-kapok.. jadi pengen tanya, emang mobil travel sekarang beda ya ama yang dulu? Garang di jalanan? Atau aku yang terlalu terbiasa sama gaya ugal-ugalan orang Mesir? :))

Wajar kalau kemudian paginya, kepalaku pening sangat. Sama sekali ga nyenyak tidurnya. Sesuatu yang sangat baru dan belum pernah aku rasain. :D
Tapi, sesampai di Jakarta, rasanya seneng banget. Sebentar lagi bakal ninggalin nih mobil yang bikin bete. Subuh sampai di Jakarta, dan sampe di Ciputat depan Masjid UIN jam setengah delapan. Untung banget hari itu lagi libur, jadi ga kejebak macet. Kalo sampai kejebak macet lagi, ga keitung dah betenya sama tuh sopir. :mad:

Dijemput ama kawanku Nasrul, kita pun jalan -ya beneran jalan kaki, sama naik angkot- ke alamat yang dituju, sekretariat Ikatan Alumni Al Azhar Internasional Cabang Indonesia. Jalur gampangnya, di pertigaan legoso (dari arah lebak bulus setelah masjid UIN) masuk ke dalam naek angkot 114, turun di pegadaian syariah. Masuk dah.. setelah ngelewatin rumah band radio.

Sesampai di sana, agendaku adalah bersih-bersih. Ga sampe setengah jam.. aku tidur. :P

Siang hari, diberi tahu kalau agenda bukber nya diundur esok. Waduwh, kacau juga nih jadwalku. Bangun tidur, pusing nyusun agenda. Ada empat agenda yang udah kujadwalkan. Dan karena bukber ga jadi, akhirnya disusun ulang.. Jadwal akhirnya fix untuk hari itu. Malam ini, kita ke Penville, Pejaten Village.

Dilihat di maps, ga terlalu jauh. Jalur pun udah kongkrit berkat bantuan sang penjamu dan sang pemandu di Jakarta. Tapi yang jadi masalah, aku selalu khawatir. Soalnya, acara malem hari dan ga ada temen pergi ke sana. Padahal baru hari ini aku ngerasain di Jakarta sendirian.. Sampai jam setengah 7 malam, aku belum mutusin. Jadi berangkat ga nih??!!

Sebelum keluar dari pintu sekretariat, diberi pesan ama kang Bakir. "Hati-hati ya, ini Jakarta.. malem lagi."

Beuh... di luar pintu, hatiku bimbang banget. Arrgh... harus nelpon orangnya nih, biar bisa dideketin lagi tempat ketemunya. Penvil kejauhan. Tapi beratus kali -lebay dikit- aku telpon, ga bisa dihubungi. Doh gawat, orangnya udah berangkat. Mau ga mau, aku harus ke sana nih.

Langkah berat terseok-seok menuju pegadaian syariah buat nungguin angkot 114. Bengong ndiri, pikiran ga ngerti ke mana. Masalahnya, mau ditaro mana muka gue kalo balik lagi ke sekretariat? Jangan-jangan ntar dibilang iqto' wa jaffif thairuka! :))

Ya sudahlah, jalani saja cobaan ini. Kalaulah, sampai... ups, perkataan itu setengah dari doa, jadi ga usah dibilang mau kesasar lah.. Dan toh, akhirnya nyampe juga di pertigaan Legoso dengan selamat. Nyampe situ masih nyoba hubungin yang di sana. Berharap semoga bisa ditawar, ketemuan di lebak bulus aja yang aku udah paham. Hasilnya masih sama, mempes dah gue.. dengan muka kusut, nungguin angkot Doi, alias D 01 menuju Selapa. Sesuai dengan pesan, berkali-kali bilang ke sopirnya biar ga kelewatan.. :malus

"Bang, Selapa tuh!" sebutku panik ngeliat tulisan Sekolah... (karena ga jelas).
"Belum Mas, masih belok sekali lagi."

Akhirnya aku diem aja karena malu, biarlah bang supir membawaku kemana dia pergi. Hahaha..

"Nah, ini die selapa mas.."

Nyampe selapa, masih belum puas juga. Coba nelfon lagi, dan jawabannya masih sama. "Nomor yang anda tuju, tidak dapat dihubungi." Sambil bergaya sok santai dan cool, biar ga dikira orang baru, akhirnya nungguin P 20, alias bus kopaja.

"Oi bang!" sebutku setelah ngeliat bus ijo itu lewat. Sambil lari, gue ngerasain sensasi yang sama seperti waktu kejar-kejaran ama 80 coret di Kairo. Ini baru Jakarta, sebutku mantap naek ke bus.

Singkat cerita, aku bilang ke kondektur, "Bang, lampu merah Republika."

Berbekal rasa penasaran, aku coba-coba buka google maps di shakira-ku. Yah lumayan, bisa ngeliat real-time gimana tuh tanda panah jalan ngikutin jalannya bus di jalanan. Daripada bengong, nikmatin aja google maps. Jarak, 12 km lagi. Hehe..

Di suatu lampu merah, aku kaget. Nah lo, ko udah ada Gramedia. Dan lagi, di maps ku udah bener ini tempatnya. Tapi ko, ga ada plang Republika atau Pejaten Village. Ini Gramedia mana? Apalagi sang kondektur sama sekali diam tak bicara..

Waduwh, turun ga nih? Daripada kesasar, mending naek lagi, gitu pikirku. Langsung dah cabut.. insya Allah Google Maps ga akan bohong. :P

Akhirnya aku telpon si penjamu. Masih ga dijawab juga.. heu heu. Jadinya, nelpon navigator. "Eh wul, ini beneran di Penvile bukan nih?"

"Yaudah, liat aja papannya. Ada ga tulisan Pejaten Village?"

"Waduwh, jangan-jangan nyasar nih. Kaga ada." Nah lo?! Eh ternyata, mata gue yang rabun, ck ck ck. Papan tulisan segede itu kaga keliatan dari jarak sepuluh meter. Jelas-jelas tertulis Pejaten Village. Tapi emang dasar tulisannya sih. Udah kagak ada lampu, pake warna metalik. Jelas aja ga berkilau.. :ngeles

"Hahaha... iya-iya ada." Sumringah banget dah gue.. baru kali ini gue jalan tanpa rencana terbaik. Jalan sendirian, di kota yang sama sekali kagak gue kenal. Tapi akhirnya nyampeeee.. heu heu.. alhamdu lillah. :D

Dan singkat cerita, makasih buat yang udah nraktir aku es teler 77. Jadi ga enak, laen kali bilang, kalau di Jakarta bayar makan duluan.. eh jadinya, dibayarin dah. hehe.. :D

<bersambung...>

--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Selasa, Juli 26, 2011

Indonesia's Mission Impossible!



Bercerita tentang persoalan bangsa kita memang tak pernah ada habisnya. Hingga tak sedikit orang yang kemudian menjadi apatis karenanya. Jangankan berbuat sesuatu, berkorban apalagi membela bangsa ini dengan karya nyata, bahkan untuk sekedar melihat persoalan bangsa kita pun tak banyak orang yang mau memikirkannya. Sebagian bilang itu tak berguna, toh apa yang kita pikirkan tak akan mengubah apa-apa. Ada juga yang bilang, lebih baik mikirin diri sendiri, lebih kongkrit, yang penting kebutuhan hidup bisa kita penuhi. Ada lagi yang bilang, bangsa ini sudah terlalu sakit. Terlalu besar untuk menjadi sebuah negara!

Kompleksitas persoalan bangsa ini memang banyak yang mengakui. Atau menggerutui, mengeluhkan dan merasa desperate, putus asa. Mulai dari persoalan pertikaian antar kelompok agama, panggung sandiwara politik, penjajahan ekonomi oleh kapitalis, permainan kebutuhan pokok rakyat, hingga yang paling menyedihkan adalah kemandulan hukum yang serba tebang pilih. Masih teringat dalam benak penulis, seorang pencuri spion mobil, mati dikeroyok massa. Ya, satu nyawa untuk sebuah spion mobil. Sedangkan di sana, ratusan juta, miliaran, bahkan penilepan triliun dana negara, pelakunya cuma dikenakan hukuman penjara. Belum termasuk remisi-remisi hukuman pada momen tertentu!

Tentu masih terekam jelas dalam benak kita, nama seorang pegawai pajak yang jadi sangat terkenal hingga di jagad Youtube. Yupz, Gayus Tambunan. Namanya pertama kali disebut oleh mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Susno menyebutkan Gayus memiliki Rp 25 miliar di rekeningnya, namun hanya Rp 395 juta yang dijadikan pidana dan disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar tidak jelas. Salah satu yang jadi pertanyaan, mengapa hanya Gayus yang ditangkap? Dulu pernah santer diberitakan bahwa Gayus akan membongkar semua orang-orang yang terkait dengan penilepan pajak. Tapi nyatanya, cuma Gayus yang hingga saat ini jadi tumbal.

Setali tiga uang dengan kasus Gayus, Susno Duadji pun sempat akan membeberkan ‘kelakuan nakal’ para petinggi POLRI. Kasusnya sempat menghiasi headline-headline semua media massa. Tentu itu bukan sekedar kicauan sembarangan. Di dalamnya ia berkoar akan membongkar semua borok-borok Jendral di tubuh POLRI, mempermainkan kasus demi uang, memeras pengusaha, dan memelihara budaya setoran dari anak buah. Maka timbullah pertanyaan, POLRI, melindungi dan melayani siapa? Istilah Markus, alias makelar kasus pun menambah ‘entri’ baru dalam kamus bahasa kita.

Ini baru dari bidang pajak dan penegak hukum. Belum lagi kasus lumpur Lapindo yang sangat menyakitkan. Ganti rugi yang hingga kini masih jadi mimpi di siang bolong. Lapindo, adalah sebuah kasus permainan dan kongkalikong pemerintah dengan Bakrie. Benar bahwa Lapindo terbukti tidak bersalah karena sesuai dengan aturan pemerintah. Akan tetapi, aturannya itu yang memang dibuat supaya Lapindo tidak bersalah! Tak heran bila kemudian pengadilan memenangkan Lapindo.

Kasus penjajahan ekonomi oleh TNC (Trans National Company), perusahaan multinasional. Perusahaan yang mengeruk kekayaan alam negeri ini, dan meninggalkannya dengan sedikit cipratan. Sedikit untuk rakyat daerah dan sedikit untuk pejabat! Dengan dalih belum menguasai teknologi, pemerintah membuat kontrak pengurasan kekayaan negara hingga 30 tahun. Itu pun masih bisa diperpanjang lagi!

Sistemik, kata temen penulis. Dimulai dari para pembuat kebijakan, hingga kelompok masyarakat terendah turut berperan. Apa mau dikata, keboborokan pemerintah kita mengatur negara ini, tentu tidak bisa dilepaskan dari akumulasi sikap kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita yang sudah bekerja keras, berfikir keras dan bersabar keras?? Kalau baru ditempa dengan ujian di Azhar aja kita udah sering mengeluh, bagaimana kita akan menghadapi kompleksnya persoalan bangsa ini?

Sekali lagi kata temen penulis, mental asal menyalahkan penguasa adalah mental bawahan. Segala sesuatu hanya ia gantungkan kepada mereka yang ada di atasnya. Kalau ada yang gak beres, maka pemerintah yang salah. Tanpa pernah melihat apalagi berbuat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Katanya, wajar. Ini karena kita dijajah, dan terbiasa menjadi bangsa jajahan. Sebelum dijajah Belanda, bangsa ini adalah bangsa pelayan di bawah ketiak kerajaan.

Mission impossible.

Begitu sebut penulis suatu waktu. Sebuah pernyataan yang sama, setiap kali selesai mendiskusikan ragam persoalan bangsa ini. Mulai dari kaburnya para ilmuwan kita. Penanganan industri strategis yang hanya memihak asing. Hingga masa depan suram, generasi penerus bangsa ini.
Hingga hari itu datang. Saat di mana penulis melihat wajah-wajah saudara dekat. Melihat semangat yang sama. Merasakan gelora dan optimisme yang tak pernah padam. Dan setruman-setruman baru dari mereka yang kita cintai. Ya, sebuah momen di sebuah tempat yang prestisius. Dengan wacana prestisius. Dan diisi oleh orang-orang prestius!

Harapan itu masih ada. Gedung Bhinneka, KBRI Cairo, Garden City. Dalam sebuah bingkai cerita sejarah, Konferensi Internasional IKPM.

Ust. Akrim menyebutnya, membangun bangsa ini terlihat jalan di tempat. Tak lain karena, saat yang lain mencoba membangun salah satu bagiannya, di saat yang sama, muncul orang lain menghancurkannya. Maka bagaimana mungkin bangunan itu akan berdiri? Memang sulit, kata beliau, dan memang sulit. Kita tidak bisa membangunnya sendirian. Kita harus bersama-sama, sinergis, dan simultan!

Perjalanan itu masih sangat panjang.. akan tetapi, tak pernah ada yang tak mungkin di alam mumkinat ini. Bukankah kita meyakini, bahwa “La yajibu ala Allahi fil mumkinat?”. La haula wala quwwata illa billahi. Teruslah berjalan Kawan, meski onak duri melukai kakimu. Teruslah bekerja, meski berulang kali bangunanmu mereka hancurkan. Dan teruslah berjuang, meski keringatmu telah menjadi darah.
Sejauh apapun jalan itu, ingatlah selalu, bahwa Allah tak kan pernah melupakan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu.

Tulisan ini dimuat dalam Buletin Silaturahim Internasional IKPM Edisi Perdana Juli 2011. 
Download buletinnya di 4shared.com

--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Minggu, Juli 17, 2011

Stop Fighting, Let it flow..


Po kemudian terbangun di sebuah desa di mana ia berasal. Ia dirawat the Soothsayer, sang kambing peramal di gubuk itu. Saat melihat boneka kecil miliknya yang telah lama tak bersua, ia pun terbawa ke alam inner peace. Kemudian mulai bergerak gemulai khas selingkung kungfunya, softcore. Saat mengalir bersama embun di tubuhnya, the Old Goat berbicara pelan padanya, "Stop fighting. Let it flow.. "


Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ku sampaikan malam itu. Di ACC (Al Azhar Conference Center), tempat di mana dilaksanakan dialog bersama Pak Habibie. Pak Habibie, pertama kali mengangkat tema soal Eyang, hehe.. Karena yang berbicara di depan kita adalah pria berumur 75 tahun, maka kata beliau, bukan lagi bapak atau om. Tapi eyang.

Acara yang diadakan kerjasama KBRI Kairo dan PPMI ini berlangsung sangat meriah. Aku sudah menduga dari awal. Makanya ketika jam menunjukkan pukul 3 sore ternyata aku masih di sekretariat, pastinya bakal lesehan nih. Dan yap, seperti perkiraanku. Sampai di sana pukul 5 sore, ruangan sudah penuh dengan mahasiswa yang berdiri. Sebagian lagi lesehan karena jumlah kursinya ga muat.

Tapi tanpa perlu lama menunggu, Pak Irwan, selaku MC kali itu, mulai membuka acara. Seperti biasa, acara formal tilawah al Quran dan anthem Indonesia Raya pun diperdengarkan. Seteleh 'berpuisi' beberapa beberapa bait, jalannya acara diserahkan kepada bapak Dubes, A.M Fachir selaku moderator.

Acara bertemakan 'Indonesia Pasca Reformasi dan Peran Lulusan Azhar' pun segera dimulai. Seperti yang ku bilang di awal, Pak Habibie bicara sebagai seorang eyang. Selanjutnya beliau bercerita tentang wawancara beliau di Mesir. "Mungkinkah kami bisa maju di tahun 2020? Bagaimana caranya? Dari mana memulai?" tanya seorang mahasiswa Mesir dalam acara tersebut.

Beliau menjawab, "Bisa. Dan itu adalah dengan nilai tambah dari sumber daya yang terbaharukan. Manusia."

Beliau kemudian menjelaskan arti penting dari nilai tambah. Bagaimana sebuah barang itu bisa bernilai. Memberi contoh mobil Marcedes dan Kijang. Plus Marcedes habis tabrakan. Harga itu yang menilai adalah pasar. Hasil dari nilai tambah dikurangi cost. Semakin besar nilai tambah, dan semakin kecil biaya cost, maka keuntungan semakin besar.

Bagaimana membuat nilai tambah itu? Kata beliau ada 3 elemen. Agama, budaya dan IPTEK. Ketika ketiga hal ini bersinergi positif, maka akan menghasilkan nilai tambah luar biasa. Dan inilah yang dibutuhkan demi sebuah kemajuan.

Selesai bercerita tentang konsep, kemudian beliau berbagi pengalaman bagaimana dulu merintis dan mengembangkan IPTN - yang kini bernama PT DI. Dimulai dari sebuah obrolan panjang dengan Pak Harto alm. Sekitar 5 jam, kata beliau. Tepatnya pada tanggal 10 Oktober 1974, beliau diminta untuk mengembangkan industri strategis negara maritim.

Ada hal yang menarik ketika itu. Pak Habibie bertanya, "Kenapa saya Pak?"
"Banyak negara-negara tetangga memberi saya nasehat. Bahwa kalau Indonesia ingin maju, maka harus meninggalkan Islam. Karena Islam adalah hambatan utama bagi sebuah kemajuan."

Suasana di ACC hening dan kaget.

"Lantas,..?"
"Saya tahu kamu, ini berkas-berkas tentangmu," kata Pak Harto sambil menunjukkan bertumpuk dokumen tentang Pak Habibie.
"Kamu puasa senin-kamis, .... nafasmu adalah al Quran. Karenanya, nanti kamu yang akan buktikan. Bahwa Indonesia, dengan Islam, pun bisa membuat sebuah kemajuan. Itu kamu."

Ruang ACC seketika bergemuruh. Sungguh aku tak pernah tahu. Ku pikir, Pak Harto setali tiga uang dengan Bung Karno yang dekat dengan komunis. Terlebih ketika mendengar kalimat pertamanya. Ternyata,..

"Duitnya, Pak?" tanya Pak Habibie setelah nampak menerima alasan penunjukan beliau.

Di sinilah titik balik alur pikiranku. Dari semula yang sangat bersemangat dan bangga dengan apa yang sudah diperbuat Pak Habibie, menjadi sebuah kemirisan.

Sebuah realita yang tak terbantahkan. Benar bahwa dulu Pak Harto bahkan pernah bilang, "Kamu buat apapun, terserah, saya akan mendukung. Bikin kapal, pesawat, kereta api, atau apapun." Namun realita sekarang, membuat para pelaku industri strategis menangis. Para ilmuwan pun kabur karena ga ada dana riset dan lapangan pengabdian. IPTEK di Indonesia jalan di tempat. Hilmi Fauzi bilang, industri ini sudah seperti zombie, it's dying.

Apa yang membuat saya miris adalah, ketika itu, ya di malam itu Pak Habibie begitu bersemangat. Menjelaskan panjang lebar dengan berapi-api tentang cerita itu. Saat CN 250 akhirnya terbang perdana tanggal 10 Agustus 1995, sebagai sebuah hadiah bagi Indonesia... Sebagai sebuah pesawat pertama yang menggunakan teknologi fly by wire di dunia. IPTN sebagai sebuah perusahaan pertama dan satu-satunya, yang memproduksi semua komponen pesawatnya. Dan semua ini, hasil dari orang-orang Indonesia. Kita mampu!

Hampir semua yang ada di ACC tertegun bangga saat film itu diputar. Bagaimana pesawat bernama Gatotkaca itu terbang tinggi dan bermanuver. Kemudian mendarat dengan sempurna. Tapi tak banyak yang ingat, bahwa tanggal itu adalah tahun 1995. Lima Belas tahun yang lalu Bung!! Dan sekarang? Hm.. Wajah itu terlihat bersemangat. Tapi aku yakin, dalam hati beliau bersedih. Melepaskan IPTN dan meninggalkan Indonesia.

Pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalaku. Hingga, hampir-hampir aku tak terlalu memperhatikan apa yang beliau sampaikan. Terlebih karena suara beliau yang kadang kurang jelas, tercampur dengan logat Germany-nya yang kental. Maka ketika sesi pertanyaan dibuka, aku segera angkat tangan. Berharap Pak Fachir bakal menunjukku. Tapi ternyata tidak. Aku harus membawa pulang pertanyaan-pertanyaan itu sampai di kamar.

Satu-satunya kalimat semangat yang ku ingat adalah, "you perform!" Semua itu karena perform. Bukan ngomong doang. Bukan polemik. Apalagi tawar menawar politik.

Sambil membawa ratusan - lebay dikit, - pertanyaan, aku pulang ke sekretariat. Sengaja aku jalan dari mahattah gami' menuju KSW dengan jalan kaki. Sambil menikmati malam dan membawa terbang angan-angan.

Sampai kemudian saat tiba di kamar, temenku lagi nyetel film Kunfu Panda 2. Aku pun jadi asyik duduk. Sedikit lupa dengan pertanyaan tadi. Hingga ketika sampai di suatu adegan, saat Po terkena tembakan meriam si Peacock. Po terjebak dan tak mampu menghindar. Terlebih karena ketika itu ia harus bertarung dengan masa lalu. Sebuah pertanyaan, "who am I?".

Po kemudian terbangun di sebuah desa di mana ia berasal. Ia dirawat the Soothsayer, sang kambing peramal di gubuk itu. Saat melihat boneka kecil miliknya yang telah lama tak bersua, ia pun terbawa ke alam inner peace. Kemudian mulai bergerak gemulai khas selingkung kungfunya, softcore. Saat mengalir bersama embun di tubuhnya, the Old Goat berbicara pelan padanya, "Stop fighting. Let it flow.. "

Aku tertegun dengan kalimat ini. Stop fighting. Hm... iya. Ternyata banyak dari kita, lebih sering bertarung dengan masa lalu. Menyalahkan apa yang sudah terjadi. Kesalahan kita. Kesalahan orang. Kedzaliman mereka. Ketidak-aturan di dunia. Keserakahan negara-negara kapitalis. Dan yang lebih menyesakkan adalah, para korporasi besar yang membuat negara ini jajahan oportunis! Termasuk saat melihat diriku. Ku lihat di sana sebuah pertarungan tak pernah usai. Antara memori dan masa kini.

Stop fighting dude,..

Berhentilah bertarung dan menyalahkan masa lalumu. Ia tak kan berubah. Kau juga tak kan pernah menang. Tapi yang pasti engkau akan semakin terluka. Berdamailah.. terima masa lalumu dan maafkan realita dirimu.

Let it flow..

"The only thing that matters is what you choose to be now.”

Terima kasih Pak Habibie. Semangat dan pesan Bapak akan selalu kami ingat. Ketegaranmu berdamai dengan masa lalu, tampak sekali dengan suara lantang itu. Melihat IPTN pelan-pelan mati seharusnya benar-benar menyakitkan untuk Bapak. Tapi bukan itu, bukan itu yang engkau bagikan kepada kami. Bukan rasa sakit. Tapi semangat untuk memilih, what ought we choose to be now!

--------------------------
 Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Sabtu, Juli 09, 2011

Pengumuman Calon Mahasiswa Al Azhar Mesir 2011-2012

PENGUMUMAN
Nomor : Dj.I/Dt.I.IV/4/HM.00/1206/2011


Berkaitan dengan seleksi calon mahasiswa baru dari Indonesia ke Universitas Al-Azhar Mesir tahun akademik 2011-2012, dengan ini disampaikan bahwa :

1. Sejak tahun 2011 Al-Azhar mewajibkan bahwa semua ijazah Madrasah Aliyah dan Pondok Pesantren yang telah mu'adalah harus diperbaharui kembali sebagai syarat untuk studi ke Universitas Al-Azhar.
2. Namun dikarenakan pengurusan mu'adalah ijazah dimaksud membutuhkan waktu sekitar 3 atau 4 bulan, maka Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama memutuskan pada tahun 2011 ini tidak melakukan seleksi mahasiswa baru ke Univ. Al-Azhar. Keputusan ini diambil sampai ada ketentuan lebih lanjut.

Demikian pengumuman ini, harap maklum adanya.

Wassalamu’alaikum wr. wb.



Jakarta, 23 Juni 2011

An. Direktur Jenderal
Direktur Pendidikan Tinggi Islam

Ttd.

Prof. Dr. H. Machasin, MA
NIP. 19561013 198103 1 003


Tembusan :
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (sebagai laporan)
-----

Sumber: http://www.diterptais.net


--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Kamis, Juni 16, 2011

Antara Ilmu, Ujian dan Tawakkal

Hari ini, seperti biasa sebelum menghadapi ujian, kupersiapkan materi yang akan diujikan sebaik-baiknya. Jangan terlalu husnudzon juga, maksud sebaik-baiknya ini ya.. semood-nya aku. Hehe.. Tapi insya Allah sudah ku sesuaikan, dan ku planning, agar kira-kira ketika ujian nanti, aku bisa menjawab dengan baik.

Ujian hari ini sebenarnya bukanlah ujian yang terlalu sulit. Pertama karena ia adalah ujian syafahi (lisan), yang biasanya kemurahan hati duktur (dosen) lebih berperan ketimbang kemampuan kita menjawab soal. Dan kedua, karena materinya adalah hafalan al Quran. Bukan kenapa, karena kebetulan dari sejak di Gontor dulu, aku sudah hafal hingga juz 5. Dan karena yang diujikan adalah juz 4, maka otomatis tidak terlalu sulit buatku.

Tapi ternyata, planning yang sudah ku jalani, tidak membuahkan hasil seperti yang ku inginkan. Beberapa ayat masih sering terlupa sambungannya. Bahkan hingga ketika pagi itu sudah kuulang lagi. Juz 3 dan 4 yang seharusnya udah harus lancar, eh ternyata ketika ku ulang dalam perjalanan di bus, ada yang tersendat. Apa kurang konsentrasi? Enggak juga. Karena ketika itu aku bisa duduk dan nyaman ber-murojaah. So what? Aku ga tau, yang jelas.. waktu aku ga punya gambaran apa terusan ayat tersebut. :|

Keadaan semakin diperparah karena materi ta'yin tafsir, alisa materi tafsir yang akan diujikan, belum kucorat-coret. Lima halaman terdepan memang sudah ku baca. Tapi karena yang ku baca adalah fotocopy punya temen, walhasil, makhtutat (naskah) punyaku belum sempat ku coret.

Gimana ini, hafalan masih ada yang kurang.. eh materi tafsir juga belum selesai dicoret-coret?!

Masih kurang tegang? Tenang, masih ada lagi. Karena kitabku materi tafsir tahlili juga hilang, jadi aku harus beli buku dulu di kantor bawah fakultas. Pengalamanku yang kemarin, tiga kali aku ke sana dan ditolak terus dengan alasan belum buka. Bagaimana nasib hari ini? Wallahu a'lamu.

Sambil berjalan pasrah, aku ke kantor bawah untuk beli buku. Dan seperti pengalamanku ketika beli buku takhrij, sang ammu, alias penjaga toko ternyata ga ada di tempat. Sempat khawatir, karena ujian gak lama lagi. Tapi untungnya, ketika nengok di ruangan sebelah dipanggil dan ditanya, mo ngapain. "Yallah bi sur'ah, alasyan hanu'fil bakda kidza!"

Sang Ammu minta cepet, karena dah mo tutup. Padahal jam masih menunjuk angka 10 pagi. :P
Alhamdulillah, akhirnya bisa terbeli juga nih buku...

Selesai beli buku, aku ke tingkat atas. Tepatnya lantai dua, ruangan Imam Bukhori, tempat ujian syafahi. Sampai di sana, udah lumayan rame, meski terlihat lengang dibanding luasnya ruangan. Dan ku lihat wajah-wajah sumringah menyimpan tegang di baliknya. Temenku, Mujib, yang biasanya mantap sepertinya memberi alasan. "Ternyata, ngafalin 4 juz sekaligus gak gampang!" Dan sepertinya, wajah-wajah itu bercerita sama. Tak heran, biarpun ujian sudah mulai dari setengah jam tadi, hanya beberapa gelintir saja yang udah siap diuji para dosen.

Karena alasan belum siap itu pula, akhirnya aku jalan-jalan. Hehe.. biar ga segera dipanggil. Eh tapi, baru dua kali keliling, dipanggil sama duktur paling ujung. Dengan isyarat meminta karneh, alias kartu mahasiswa. Ups! "Anta huna," kata duktur. "U'qud hunak.." Welewh, ternyata aku ujian sama duktur ini (jangan tanya kenapa ga kusebut nama beliau, bukan gak hormat, tapi karena beliau ga ngajar di kelasku. :P). Dan oh tidak, karneh yang ada tinggal punyaku dan satu orang lagi. Ini artinya, aku bakal segera diuji! @_@

Dan waktu duduk itulah, aku pasrah-sepasrahnya. Gak ngerti lagi apa yang harus kubaca, dan apa yang perlu ku ulang dari ayat al Quran. Materi ta'yin, atau al Quran?

Tapi tentunya, lebih salah lagi kalau aku malah bengong. Akhirnya, ku baca ta'yin. Tanda terakhir ada di cerita tentang Umar ra yang pengen tahu, sebenarnya apa yang terjadi hingga gagal berhaji tahun itu. Padahal Rasulullah sudah bilang di awal, bahwa mereka akan berhaji sebelum berangkat. Cerita ini adalah penjelasan kitab hasyiyatul jamal dari tafsir surat al Fath dalam kalimat "Huwa alladzi anzala as-sakinata fi qulubil mu'minin.."

Umar yang disebut seperti besi saja bisa merasa gelisah karena gagal berhaji, bagaimana dengan para sahabat yang lain? Oleh karenanya, Allah menurunkan rasa tenteram di hati para mu'minin, yaitu ahlu hudaibiyyah ketika itu.

Dalam ceritanya, Umar gelisah dan bertanya pertanyaan yang agak 'aneh'. "Alasta nabiyyah Allah?" Tidakkah engkau seorang nabi Allah ya Rasullallah? dst. (lantas kenapa kita gagal berhaji, padahal engkau bilang bahwa kita akan berhaji saat sebelum berangkat kemarin?). Setelah dijawab, Umar kembali bertanya kepada Abu Bakar, dengan pertanyaan yang sama. Dan subhanallah, apa yang menjadi jawaban Abu Bakar adalah sama persis! Sama persis seperti jawaban Rasulullah.

Saat itu, aku jadi teringat perkataan Ibn Arabi -- . "al Ilmu bisy-syai ghaira al iman bihi.." Kenapa? Karena iman itu adalah cahaya yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Bukan karena perbuatan seseorang kemudian ia menjadi beriman. Betapa banyak orang sudah tahu siapa pencipta, tapi mereka tidak beriman. Mereka ini seperti yang disebut dalam al Quran, "Dan siapakah yang menciptakan hidup dan mematikan dan siapa pula yang mengatur semua perkara? Maka mereka berkata, Allah. Maka katakanlah, Namun mengapa pula kalian tidak bertakwa?" QS Yunus; 31.

Dan akhirnya, beberapa saat sebelum namaku dipanggil itu, aku pun tersadar. Bahwa ada ilmu yang hanya Allah yang berkenan untuk diberikan kepada hamba-Nya. Tanpa perantara, dan tanpa diketahui jalurnya. Seperti apa yang Allah berikan kepada Abu Bakar dalam cerita di atas. Ketika itu pula, aku jadi tersadar. Benar bahwa aku telah berusaha sekian lama. Benar bahwa aku telah berjuang ngafalin semaksimal mungkin. Tapi dalam ujian, semua itu Allah yang mengaturnya. Walhasil, maha Benar Allah dalam firman-Nya, "faidza azamta fatawakkal ala Allah.." Maka jika engkau sudah berkeinginan kuat (dan berusaha), maka serahkanlah pada Allah tentang hasilnya..

Aku pun pasrah. Dan saat namaku dipanggil, aku melangkah tawakkal. Duktur bertanya, dan ku jawab. Hingga yang agak aneh, setelah beberapa ayat ku baca, aku pun ditanya, "Berapa juz kamu hafal?" Karena beberapa bulan ini aku fokus di pertengahan, maka ku jawab, "ila surat al Hijr". Surat Taubah, Yunus dan Hud pun akhirnya ditanyakan. Sebelum selesai, duktur bertanya lagi, "Berapa kamu mau saya nilai?" Owh. Kemudian duktur pun memperlihatkan nilai yang beliau tuliskan dan berkata, "Anta mumtaz."

Dalam materi ta'yin, beliau bertanya tentang junud (tentara-tentara) langit dan bumi. Baru sebentar ku jawab, ada tiga pendapat. Duktur bertanya lagi, apa maksud junud hayawan (tentara binatang)? Pertanyaan beliau sama seperti pertanyaan dalam pikiranku. Dan karena aku terdiam, akhirnya duktur yang bercerita panjang lebar tentang cerita-cerita junud hayawan. :D

Dan sekali lagi beliau bertanya, "Tahun lalu berapa nilai kamu?". Ku jawab, "mumtaz ya duktur".
"Ya, kamu sekarang juga mumtaz. Ini nilainya," kata duktur sambil memperlihatkan lagi nilai tafsir...

"Thayyib, kholas. Ruh.." Yaudah, sana pergi..

Aku pun terdiam. Dan melangkah keluar ruangan dengan perasaan tak percaya. Benar bahwa nilai mumtaz itu cukup logis buatku dalam materi al Quran. Tapi tidak untuk hari ini.., setelah sebelumnya beragam halangan sebelum ujian. Dan untuk itu, aku belajar tentang hal di atas akal dan logika. Yaitu tentang ilmu, ujian dan tawakkal. Semoga, kami semua Engkau mudahkan ya Allah dalam menjalani ujian kali ini. Dan berikan kami ilmu-Mu agar apa yang kami pelajari dalam ujian ini, menjadi bermanfaat. Amin99x.. al fatihah!


Sabtu, Mei 07, 2011

PENGUMUMAN BEASISWA UNIV. AZHAR MESIR 2011-2012

PENGUMUMAN BEASISWA UNIV. AZHAR MESIR
TAHUN AKADEMIK 2011-2012
Nomor : Dt.I.IV/4/PP.009/129/2011



Menunjuk surat Kedutaan Besar Republik Mesir di Jakarta bahwa Universitas Al-Azhar Mesir memberikan tawaran beasiswa bagi putra-putri Indonesia untuk melanjutkan studi kesana untuk tahun akademik 2011-2012 dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan seleksi akan dilaksanakan selama seminggu dimulai dari tanggal 16 Mei 2011 di Kedutaan Besar Republik Mesir Jalan Teuku Umar No. 68 Jakarta Pusat Telp. (021) 31931141

2. Materi ujian meliputi ; Hafalan Al-Qur'an, Bahasa Arab, dan Pengetahuan Agama Islam .

3. Info selengkapnya menyangkut pendaftaran, persyaratan seleksi, waktu ujian dan pengumuman kelulusan dapat ditanyakan langsung ke Kedubes Mesir Jakarta.



Demikian, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.



Jakarta, 5 Mei 2011

Direktur Pendidikan Tinggi Islam



ttd


Prof. Dr. H. Machasin, MA

NIP. 19561013 198103 1 003

-------------------------------------------------------

UPDATE: 


Untuk pengumuman HASIL UJIAN, sebagaimana sudah tertera di atas, agar MENGHUBUNGI pihak Kedutaan Besar Mesir di Jakarta, dengan alamat sebagai berikut:


Jl. Teuku Umar No. 68, Menteng Jakarta Indonesia

Phone:
+6221-3143440
+6221-31935350
+6221-31931141

Fax:
+6221-3145073

Email:
egypt@indosat.net.id

Website URL:
http://www.mfa.gov.eg/Missions/Indonesia/Jakarta/Embassy/en-gb - TIDAK VALID





--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Jumat, Mei 06, 2011

Sekilas Pandang Dinar dan Dirham

tulisan ini adalah komentar Mirza Komera dalam status Pak Zaim Saidi dengan sedikit editing minor

Berikut ini adalah beberapa pendapat keliru tentang Dinar Dirham. Pendapat-pendapat tersebut dapat dikelompokkan kedalam dua kutub ekstrim.

PERTAMA: yang menilai dinar adalah bagian dari perekonomian Arab 1500 tahun yang lalu, sehingga tidak relevan dengan perekonomian sekarang.

1. Dinar hanya untuk closed economy: pendapat ini keliru karena pada masa Rasullah beredar dinar (dari Romawi) dan dirham (dari Persia).
# Volume transaksi perdagangan international di jazirah Arab begitu besarnya, bahkan dikenal sebagai jalur perdagangan Utara dan Selatan.
# Jalur perdagangan Utara: India, Oman, Syam, Roma; Jalur Selatan: Roma, India; serta jalur Utara-Selatan: Syam dan Yaman.
# Perdagangan Rasul menggunakan barter: pendapat ini tidak tepat, karena pada masa sebelum Rasulullah telah beredar alat tukar dinar dirham.
# Dan Rasulullah tidak melarang dinar dan dirham yang beredar di masayarakat untuk digunakan sebagai mata uang.
# Hal ini otomatis membantah pendapat yang mengatakan bahwa perdagangan pada masa Rasul menggunakan sistem barter.

2. Dengan dinar, tidak perlu adanya Bank central: pendapat ini keliru karena negara perlu mengontrol peredaran dan harga emas/perak.
# Pada masa Rasullah tidak ada bank sentral karena tidak mencetak dinar/dirham. Namun dikenal otoritas keuangan pemerintah: Baitul Mal.
# Pada masa Abdul Malik bin Marwan (74 H) ada bank sentral karena pada masa itu dinar/dirham telah dicetak oleh Daulah Islamiyah.

KEDUA : yang menilai dinar dan dirham adalah mata uang yang diridoi Allah dan Rasul, sehingga penggunaannya wajib hukumnya.

1. Dengan digunakannya dinar, otomatis terhindar dari inflasi. Pendapat keliru karena digunakannya dinar, tidak otomatis inflasi hilang.
# Bahkan pada zaman Rasul tercatat, pernah terjadi inflasi meskipun pada saat itu digunakan dinar dan dirham.
# Inflasi sebenarnya bukan merupakan fenomena yang musti ditakuti, karena tergantung penyebab dari inflasi.
# Sepanjang inflasi diakibatkan oleh supply stocks dan high cost economy (dinamika dari sektor riil) maka itu tidak menjadi masalah.
# Lain halnya jika diakibatkan oleh money creation tanpa diimbangi kebutuhan dari sektor riil.

2. Dinar adalah mata uang Islam. Anggapan sebagian masayarakat bahwa dinar berasal dan merupakan milik Islam adalah sebuah kekeliruan.
# Pada kenyataannya sejarah mendapati bahwa dinar berasal dari Roma dan dirham berasal dari Persia.
# Bahkan nama dinar sendiri diambil dari nama raja Roma yang bernama ”Dinarius”, sedangkan dirham diambil dari bahasa Yunani Kuno ”Drahms”.
# Penggunaan dinar akan menghapuskan riba. Ini tidak benar. Riba pun dipraktekkan secara luas pada masa Rasulullah meski ada Dinar Dirham.
# Riba dihapus secara bertahap bahkan sampai dengan Khutbatul Wada’ riba masih dilakukan oleh sahabat Rasulullah.

-Multisumber-

kesimpulan: sebagaimana yang sudah sering saya bilang, bahwa dinar dan dirham itu hanyalah mata uang yang sifatnya netral. sifatnya sama persis seperti mata uang lain, termasuk rupiah. dan menurut saya, satu-satunya jalan untuk mencapai bentuk ekonomi yang lebih adil dan sejahtera, adalah dengan mencari sistem alternatif baru yang tidak melulu berpusat pada keuntungan pemodal semata.

pertanyaan yang sangat menohok bagi pemuja ekonomi kapitalis adalah; "Mungkinkah kita bisa mengurangi kemiskinan bila keinginan terdalam kita justru selalu berusaha menjauhkan mereka dari menikmati harta yang kita peroleh?"

ini sama seperti sikap Qarun, sebagaimana diceritakan dalam al Quran (al Qoshos: 78), "Innama utituhu ala ilmin indi" Sesungguhnya, apa yang kudapatkan adalah dari amal perbuatanku sendiri.. (neilhoja)

Wallahu a'lamu bisshowab.


--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Minggu, Februari 20, 2011

Informasi Pengembalian WNI ke Mesir

originally written by: Willy Sakareza
with minor html editing

Dear rekans2,

Memberikan info agar dapat disampaikan kepada yang membutuhkan,

Sejak tanggal 15 Februari 2011 yang lalu, kami dari Pokja Pemulangan WNI ke Mesir, telah membuka akses registrasi kepada mereka yang ingin kembali ke Mesir pasca evakuasi. Bagi yang belum daftar atau baru daftar via sms, disarankan dengan sangat untuk mendaftar via website ke www.kln.dikti.go.id.

Bagi rekan-rekan yang memiliki masalah dengan visa Mesir (hilang atau habis masa berlaku), akan dibantu pengurusannya oleh pokja sesuai dengan informasi tercantum di website tersebut, sehingga tidak perlu datang secara fisik ke Jakarta/Surabaya untuk mengurus visa. Jalur informasi utama adalah website www.kln.dikti.go.id


Senin, November 29, 2010

Cinta adalah Misteri

Cinta adalah misteri dalam hidupku
yang tak pernah ku tahu akhirnya
namun tak seperti cintaku pada dirimu
yang harus tergenapi dalam hidupku


Begitulah ungu bercerita dalam melodinya tentang cinta. Bercerita tentang cinta seolah tak ada habisnya. Entah kenapa, akhirnya aku pun jadi tertarik dengan tema ini. Sebuah alur pemikiran yang sudah lama tak pernah ku ikuti. Pun jarang ku jadikan ia sebagai jalan cerita di blog ini. Maka jangan heran bila tak lagi kalian dapati di sini, selarik puisi.

Minggu, November 21, 2010

Rindu dan Kangen; Facebook vs Google

Ups, ko judulnya rindu dan kangen? Yeeha... ini karena dah lama sekali aku ga ngeblog. hehe, akhirnya bisa ngeblog lagi setelah dipaksa. Aturannya sih, hari ini harus dah jadi makalah buat besok presentasi. Tapi karena ngerasa banyak berutang tulisan sama blog, harus dipaksa-paksain deh nulis. :D

Okeh, sebenernya banyak banget yang ingin kubagi di sini. Yah, gimana enggak.. bahkan kalau pun mau dibagi, sehari aja bisa dapet banyak cerita. Gimana jadinya kalo udah sebulan penuh ga pernah cerita? Wkwkkwk...

Minggu, September 19, 2010

I Need Ur Help

Seekor burung kecil tiba-tiba mengusik tidurku
Warnanya yang indah, memesona retinaku
Bulunya yang halus, mematikan saraf kulitku
Suaranya yang merdu, hilangkan peka indra telingaku

Sama seperti ketika ia mentapku jernih
Lalu dengan tulus menghimpun nafas
Dan memulai kicau menghibur duniaku

Rabu, Juli 14, 2010

Ngantuk

Waduwh, ko judulnya ngantuk? Aku yakin pasti temen-temen kenalanku pada ketawa baca judul tulisanku ini. Yah, karena entah kenapa mereka itu menganggapku suka tidur, alias ngantukan. Padahal, kalo ku itung-itung sendiri aku paling jarang tidur di bawah jam 12 malam. Sudah gitu, aku paling anti dengan tidur pagi. Kalaulah bukan karena tidur setelah subuh, insya Allah kalian ga akan nemuin aku tidur lagi setelah subuh.. Jadi sebenarnya, sapa yang suka tidur alias abu naum? :P

Jumat, Juli 09, 2010

PENGUMUMAN BEASISWA PROGRAM S1 KE MAROKO
TAHUN AKADEMIK 2011-2012
          Nomor : Dt.I.IV/4/HM.00/1297/2011

Berdasarkan surat Kedutaan Besar Maroko di Jakarta nomor : 0719/11 tanggal 4 Juli 
2011, diberitahukan bahwa Kerajaan Maroko memberikan penawaran beasiswa 
program S1 bagi pelajar Indonesia sebanyak 15 (lima belas) orang untuk tahun 
akademik 2011-2012 dengan ketentuan :

1. Beasiswa tersebut meliputi  bebas  biaya kuliah, akomodasi dan  insentif yang 
terbatas. Sedangkan biaya tiket pemberangkatan dari Jakarta ke Maroko 
ditanggung oleh peserta.
2. Bagi calon peserta  yang yang berminat  diharapkan melampirkan persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
a. Foto copy ijazah (Aliyah atau Pondok Pesantren) dan transkrip nilai yang 
telah terakreditasi di Kementerian Agama dan dilegalisir oleh sekolah yang 
bersangkutan dengan standar nilai minimal 7,5 (tujuh koma lima);
b. Foto copy akte kelahiran;
c. Daftar Riwayat Hidup;
d. Pas photo berwarna ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar.
3. Pendaftaran dibuka dari tanggal 9 s/d 15 Juli 2011 dan dokumen persyaratan
langsung dikirim melalui :  Subdit Kelembagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam 
Kementerian Agama RI Jl. Lapangan Banteng Barat No.3-4 Lantai 8 Jakarta Pusat 1071 
Telp. (021) 3812344  ext.326.
4. Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama akan melakukan seleksi 
administrasi untuk diseleksi menjadi 15 orang yang kemudian akan diusulkan ke 
Kedutaan Besar Maroko di Jakarta.
5. Bagi peserta yang lulus seleksi akan dihubungi langsung oleh panitia dan 
diharuskan melakukan pemberkasan ulang untuk dikirim ke Maroko.

Demikian pengumuman ini agar dimaklumi.  
Jakarta, 8  Juli 2011


Direktur Pendidikan Tinggi Islam



ttd
Prof. Dr. H. Machasin, MA
NIP. 19561013 198103 1 003



Sumber: http://www.ditpertais.net
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Jumat, Juni 18, 2010

Pengumuman Hasil Seleksi Non Beasiswa Univ. Al-Azhar Mesir 2010-2011

Alhamdulillah, akhirnya keluar juga pengumuman hasil seleksi ujian non Beasiswa al-Azhar. Setelah menunggu sekian bulan, dan sempat diundur.. Ditpertais (Direktorat Jendral Pendidikan Islam) Depag, mengeluarkan keputusannya tanggal 8 Juni lalu. Sebelumnya mohon maaf karena mungkin agak terlambat, karena kemarin-kemarin ketika mencari di situsnya belum sempat ketemu. Tapi alhamdulillah, sekarang sudah dapat informasinya. Jadi, bagi temen-temen yang tanggal 18 dan 19 Mei kemarin sudah ikut ujian kelulusan masuk, bisa melihat pengumumannya di bawah.


Sekilas Cerita tentang Orangtua Kita

Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan
kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.

Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk
masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku
benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu.

Jumat, Mei 28, 2010

Rencananya, Sepeda Motor Bakal dilarang Pakai Premium

Menurut bocoran dari pemerintah, pengendara sepeda motor akan dilarang menggunakan bensin premium bersubsidi, dan dipaksa memakai pertamax. Maaph, ni bukan pertamax gan seperti yang dicari-cari di kaskus, tapi ini pertamax beneran salah satu jenis bbm (Bahan Bakar Minyak). Alasannya, karena dikhawatirkan beban APBN akan membengkak dengan banyaknya sepeda motor yang memakai bensin bersubsidi. Karenanya, pemerintah pun berinisiatif memaksa pengendara sepeda motor membeli pertamax. T_T