Sample Feature Post 1 Title
Design by PremiumBlogTemplates.com. All of this content is sample try. To replace these content, go to Blogger edit html and find these sentences. Replace it with your own descriptions.
Sample Feature Post 2 Title
Design by PremiumBlogTemplates.com. All of this content is sample try. To replace these content, go to Blogger edit html and find these sentences. Replace it with your own descriptions.
Sample Feature Post 3 Title
Design by PremiumBlogTemplates.com. All of this content is sample try. To replace these content, go to Blogger edit html and find these sentences. Replace it with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Selasa, November 11, 2014
Salah Paham
Mari kita mulai dengan sebuah adegan dalam film. Judulnya "People Like Us".
Seorang ibu, bernama Frankie, terpaksa menghadap kepala sekolah tempat anaknya belajar. Sang anak didakwa telah merusak kolam renang sekolah. Ia pun diancam akan dikeluarkan dari sekolah.
Tapi sang ibu tak terima. Ia pun memulai argumen nya dengan pertanyaan menjebak, "dari mana anakku mendapatkan asam sulfat tersebut?"
Frankie, si ibu tersebut akhirnya berhasil balik menuntut kepala sekolah, karena dianggap tidak becus menjaga barang berbahaya tersebut dari jangkauan anak-anak. Walhasil sang kepala sekolah menyerah, dan memberi kesempatan kedua untuk putra Frankie tadi..
Spontan aku berkomentar, "itulah politik."
Pikiran ku kemudian melayang pada drama politik negeri ini yang tak kunjung usai. Atau sebenarnya banyak perseteruan lain sebelumnya. Sebut saja, perbedaan harakah, pergerakan, dakwah, jamaah, ormas, atau apapun lah.. yang sudah ada sebelum isu politik jadi dagangan laris tahun ini.
Antara kubu koalisi KMP dan KIH yang sedang ramai, berebut kuasa dan legitimasi dalam parlemen.
Saling sikut, menjatuhkan, atau menurut kacamata mereka, menjadi penyeimbang.. check and balance, katanya.
Pada akhirnya memang sebuah konflik dan perseteruan tak pernah hadir kecuali berawal dari dua hal: salah paham, atau niat buruk.
Dua hal tersebut harus ada di masing-masing pihak. Karena bila hanya ada satu saja.. maka konflik tak kan pernah bertahan lama.
Maka sesungguhnya, untuk mengakhiri sebuah konflik.. cukup memilih salah satu hal: berusaha tuk mengerti, atau perbaiki niat kita.
Saya teringat dengan sebuah kata bijak, "Ada begitu banyak hal yang dapat menyatukan kita.. dan sangat terlalu sedikit hal yang membuat kita pantas berpisah."
Bukankah itu sudah dibuktikan bangsa ini sejak berabad lamanya? Sejak sebelum tahun 1928?
Maka.. di tengah begitu banyak perbedaan dalam umat ini.. atau bangsa ini.. atau perbedaan kita, sungguh aku tak pernah risau.
Karena aku masih percaya, perbedaan itu hanya karena kita kurang saling memahami.. dan sangat sedikit yang punya niat buruk di negeri ini.
Jales veva jaya mahe. Jayalah engkau di lautan.. begitu kata mading Iqro, di kantor kami.
Kamis, April 11, 2013
Urgensi Menganut Satu Mazhab
oleh: Arief Assoffi
Pegiat Kajian Nun Center Kairo
Bermazhab satu, pada asalnya tidak penting bagi orang awam. Bahkan jika orang awam diharuskan untuk berpegang pada satu mazhab tertentu, ini akan menyulitkan mereka. Karena mereka harus mencari pendapat paling rajih dalam mazhabnya, padahal mereka tidak ahli dalam hal itu. Atau, minimal mereka harus mencari mufti yang semazhab dengannya.
Walaupun berpegang teguh pada satu mazhab tertentu tidak wajib bagi orang awam, namun hal tersebut merupakan suatu kebutuhan bagi seorang penuntut ilmu, Fikih khususnya, untuk mencapai derajat mujtahid. Karena itulah, tidak kita temukan satu ulama pun yang tidak bermazhab.
Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim: “Tidak layak bagi orang awam untuk bermazhab. Sesungguhnya mazhab hanyalah diperuntukkan bagi para akademisi.” Pernyataan ini juga diamini oleh Yusuf Qaradhawi. Menurut Qaradhawi, pada hakikatnya bermazhab hanyalah untuk para Ahlu al-‘Ilm yang memilih salah satu mazhab atas dasar kebutuhan intelektual, berkenaan dengan kekuatan usul mazhab dalam pandangannya dan lain-lain.[i] Meskipun demikian, -tegas Qaradhawi- “Tidak ada salahnya bagi orang awam, jika ingin menganut satu mazhab tertentu”.[ii]
Jika menganut satu mazhab tertentu merupakan suatu keharusan bagi para akademisi, lantas apa urgensi bermazhab bagi para akademisi? Bukankah mencari pendapat paling rajih dari berbagai pendapat lebih baik dari pada menganut satu mazhab yang terkadang memiliki pendapat dengan alasan yang lemah?
Perlu diingat bahwa Fikih mazhab adalah hasil dari pengolahan teks-teks agama dengan metode pengambilan hukum yang dimiliki oleh setiap mazhab.[iii] Metode ini bukanlah suatu teori buat-buatan para imam mazhab. Akan tetapi, metode ini merupakan singkapan sebuah cara untuk mencari kebenaran dalam hukum syariat melalui kaedah-kaedah umum yang menuntun cara berpikir para mujtahid dan memberikan batasan-batasan sehingga dapat mencapai pada suatu hukum tertentu.[iv] Metode ini mereka intisarikan dari apa yang mereka pelajari dari guru-guru mereka dan guru-guru mereka dari guru-gurunya lagi sampai kepada Rasulullah SAW.
Dengan tersingkapnya metode ini, para ulama setelah abad ke-3 tidak menemukan lagi apa yang perlu mereka singkap dari metode pengambilan hukum ini. Kalau pun mereka mencoba untuk menyingkapnya, mereka akan menemukan hasil yang sama dengan para pendahulunya. Dengan demikian, tidak ada jalan lain kecuali dengan berjalan di jalan para imam dalam mengambil hukum syariat. Maka dari itu, apa yang mereka lakukan dari mengikuti jalan para imam sebelumnya dalam metode pengambilan hukum tidak dapat dikatakan jumud atau fanatik. Karena memang mereka tidak menemukan jalan lain selain jalan yang dibuka oleh para imam sebelumnya. Mereka hanya terlambat muncul ke muka bumi ini. Kalaulah al-Ghazali atau al-Nawawi, misalnya, muncul sebelum Imam Syafi’i, pastinya mereka akan lebih dahulu menyingkap metode ini.[v]
Oleh karena itu, ijtihad setelah abad ke-3 sudah bukan lagi ijtihad menyingkap metode pengambilan hukum. Akan tetapi ijtihad dalam menghasilkan hukum baru dengan metode yang telah tersingkap sebelumnya atau merajihkan antar hasil-hasil ijtihad yang berbeda sebelumnya.[vi] Dengan demikian, seorang pelajar Fikih mau tidak mau harus masuk ke dalam salah satu mazhab Fikih, sebagai madrasah yang usul, furuk dan kaedahnya telah dibangun oleh arsitektur-arsitektur handal dalam pengambilan hukum, untuk selanjutnya beranjak ke tingkat mujtahid yang lebih tinggi.
Selain itu, terdapat beberapa poin yang menjadikan menganut satu mazhab itu penting bagi para akademisi:[vii]
1. Bersanad (musannadah)
Salah satu keistimewaan bermazhab adalah sanad yang bersambung ke Rasulullah SAW dari awal munculnya sampai saat ini. Sebagaimana imam mazhab mempunyai sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW, para pengikutnya pun mempelajarinya dengan tetap menjaga sanad ini sampai sekarang. Dengan bersambungnya sanad ini, bersambung pula pemahaman para ulama dalam agama ini sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarkan.[viii] Memang sudah sepantasnya bagi para ulama yang notabene ahli waris para nabi, memiliki garis hubungan dengan para pewarisnya. Dengan terjaganya sanad ini, terjaga pula otentisitas pemahamannya terhadap syariat.
2. Mendapat dedikasi penuh dari para ulama terdahulu hingga sekarang (makhdûmah)
Selain sanad, keistimewaan mazhab lainnya adalah perhatian penuh para ulama terhadap mazhab masing-masing. Tingginya dedikasi para ulama terhadap mazhab ini dapat kita lihat dari buku-buku yang mereka tulis tentang fikih mazhab, usul fikih dan kaedahnya dalam berbagai bentuk, seperti ringkasan (mukhtashar), penjelasan (syarh), catatan pinggir (hâsyiyah), sya’ir (nazhm), dan lain-lain. Tidak hanya itu, pendapat-pendapat para pendahulunya juga dikritisi, diperbaiki, dan diperjelas.
3. Tidak lepas dari dalil naqliy maupun ‘aqliy (mudallalah)
Pendapat-pendapat yang ada dalam buku-buku mazhab tidak lepas dari dalil naqliy maupun ‘aqliy, bahkan para imam mazhab pun memiliki musnad[ix] masing-masing.
4. Setiap mazhab memiliki usul fikih serta kaedah tersendiri dalam menentukan hukum (mu`asshalah wa muqa’’adah)
Jika tidak bermazhab, seseorang akan sulit mencapai derajat mujtahid. Karena ia tidak akan menemukan usul fikih, dan kaedah fikih yang praktiknya sesuai dengan furuk fikih kecuali dengan menganut satu mazhab. Mempelajari praktik penerapan usul fikih dan kaedah fikih pada fikih mazhab inilah yang akan mengantarkan seseorang mulai dari mukalid menuju derajat mujtahid paling rendah, hingga mencapai derajat mujtahid tertinggi. Dan hal ini mudah dicapai dengan menganut satu mazhab.
5. Metode pembelajaran buku-buku madzhab bertahap (mumanhajah)
Pada awal perjalanan seorang penuntut ilmu, tidak dibenarkan untuk sibuk dengan berbagai perbedaan pendapat. Hal ini dikarenakan, sibuk dalam berbagai perbedaan pendapat akan membuat pelajaran sulit melekat. Selain itu, pada awal perjalanannya seorang penuntut ilmu juga tidak diperkenankan untuk sibuk mentelaah buku-buku dengan pembahasan rumit.
Di awal perjalanannya, yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu adalah menguasai pembahasan-pembahasan kecil yang nampak sepele, tetapi akan menjadi landasan dalam memahami pebahasan-pembahasan besar nantinya. Karena pembahasan-pembahasan kecil ini, akan menjadi pondasi. Jika ia tidak menguasainya, maka akan mudah roboh.
Karena itulah, para ulama telah memformulasikan sistem pembelajaran mazhab ini dengan mengarang buku-buku yang digunakan oleh para pemula, kemudian untuk intermediate dan, para ahli. Sistem pembelajaran mazhab dibuat sedimikian rupa, sehingga dapat mencetak mujtahid-mujtahid yang mempunyai pemahaman yang mendalam dan melekat.
Ahmad bin Alwi Assegaf, dalam Fawâ`id al-Makkiyah, menjelaskan bahwa ada tiga tingkat ketangkasan (malakah) yang perlu dicapai oleh penuntut ilmu secara bertahap: yang pertama adalah ketangkasan perolehan (malakah al-istihshâl), yaitu ketangkasan yang dicapai sebagai persiapan untuk mencapai ketangkasan selanjutnya. Ketangkasan ini diperoleh dengan mempelajari mukaddimah-mukaddimah ilmu tersebut dari seorang guru ahli,[x] seperti mempelajari buku-buku yang menyajikan matan-matan pendek dalam ilmu fikih dan lain sebagainya.
Kedua, ketangkasan pemantapan (malakah al-istikhrâj), yaitu mencapai kemampuan memahami makna yang terkandung dalam istilah-istilah yang terdapat di dalam berbagai buku dengan mudah. Ketangkasan ini diperoleh dengan memperbanyak membaca buku-buku fikih, dimulai dari buku-buku yang sedang hingga buku-buku yang berjilid-jilid.
Setelah melewati kedua tingkat ketangkasan di atas, seorang pembelajar akan mencapai tingkat ketangkasan yang terakhir yaitu ketangkasan paripurna (malakah al-istihdhâr), yaitu saat penuntut ilmu mampu menjawab permasalahan yang diajukan tanpa harus merujuk ke buku-buku lagi.[xi]
Ketiga tingkat ketangkasan di atas sulit untuk dicapai kecuali diawali dengan menganut satu mazhab. Karena setiap mazhab mempunyai istilah dan hukum yang berbeda. Jika kita memulainya dengan Mazhab Syafi’i misalnya, kemudian di tingkatan kedua kita masuk ke dalam Mazhab Maliki, maka kita akan dapatkan 2 perkara yang sama dengan hukum yang berbeda. Dengan cara seperti ini, ketangkasan akan sulit tercapai.[xii]
6. Hasil ijtihad dalam setiap mazhab akan selalu konsisten dengan usul dan kaedahnya (muttasiqah wa muttazinah)
Semua pendapat yang terdapat dalam mazhab tidak akan keluar dari usul dan kaedah mazhab, sehingga konsistensi kolaborasi antara usul, fikih, dan kaedahnya terjaga dan tidak bercampur dengan mazhab lain.
7. Berpotensi untuk menjadi landasan dalam menghukumi perkara-perkara baru (munfatihah)
Furuk-furuk mazhab dapat menjadi landasan dalam menghukumi perkara-perkara baru. Jika kita menengok pada berbagai pembahasan dalam fikih kontemporer, kita akan mendapati furuk-furuk mazhab menjadi landasan dalam menghukuminya.
Berbagai keutamaan di atas tidak akan kita dapati kecuali pembelajaran dengan bermazhab. Maka dari itu wajar jika Al-Yafi’i memperumpamakan seorang penuntut ilmu yang tidak bermazhab bagaikan orang yang ditunjukkan kepadanya istana yang kokoh nan megah[xiii], yang dibangun oleh arsitektur handal[xiv]. Kemudian dikatakan kepadanya: “Masuklah! Berkelilinglah! Dan nikmatilah keindahannya![xv] Dia pun menjawab: “Tidak! Aku tidak akan masuk, tapi aku akan membangun istanaku sendiri.”[xvi] Akhirnya dia pun menyiksa dirinya sendiri dengan membangun sebuah bangunan, padahal dia tidak berpengalaman apalagi pandai dalam hal itu. Sehingga yang jadi bukannya istana tapi hanyalah sebuah gubuk reot, hanya saja dia menghiasinya dengan hiasan yang menipu. Tidak cukup sampai di situ, ia pun mengajak khalayak ramai untuk masuk ke gubuknya, lantas melarang mereka untuk memasuki istana, seolah berkata: “Gubukku lebih baik dari istana itu.”[xvii]
______________________________________________________
[i] Yusuf al-Qaradhawi, Kaifa nata’âmal ma’a al-Turats, (Kairo: Wahbah, 2004), hal. 82.
[ii] Ibid., hal. 83.
[iii] Musthafa Bisriy al-Tharablisiy, Manhaj al-Bahts wa al-Fatwa fî al-Fiqh al-Islâmiy, (Amman: Dar al-Fath, 2011), cetakan II, hal. 171.
[iv] Ibid. hal. 66.
[v] Ibid. hal. 173.
[vi] Ibid. hal. 177.
[vii] Terilhami dari Workshop Syekh ‘Amud dengan tema “Pengenalan Ilmu Fikih” bersama Dr. Amru Wardani.
[viii] Contoh sanad yang diperoleh Mufti Agung Ali Jum’ah: dari Abdullah bin Sidiq al-Ghumari, dari Duwaidar al-Kafrawi, dari Ibrahim al-Bajuri, dari Amir, dari al-Sha’idi, dari ‘Aqilah, dari Hasan al-‘Ajimi, dari al-Qassyasyi, dari Muhammad al-Ramli, dari Zakaria al-Anshari, dari Ibnu Hajar al-Haitami, dari Shalah bin Abu Umar, al-Fakhr bin al-Bukhari, dari Ahmad bin Muhammad al-Lubban, dari Muhammad bin Ahmad al-Shaidalani, dari Abu Hasan bin Ahmad al-Haddad, dari Ahmad bin Abdullah al-Ashbahani, Muhammad bin Ya’qub al-Asham, dari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, dari Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Lihat, Ali Jum’ah, al-Madkhal ilâ Dirâsah al-Madzâhib al-Fiqhiyah, (Kairo: Darussalam, 2009), hal. 249.
[ix] Kumpulan hadis-hadis, seperti Musnad Abu Hanifah, Muwatha` Imam Mali, Musnad al-Syafi’i dan Musnad Imam Ahmad.
[x] Ahmad bin Alwi Assegaf, Fawâ`id al-Makkiyah, (Kairo: Darul Faruq, 2011), hal 93.
[xi] Ibid., hal. 93.
[xii] Contohnya dalam Fikih Mazhab Syafi’i. Para ulama Syafi’iyah membagi tiga tingkatan (ada juga yang empat) untuk buku-buku yang dipelajari oleh para penuntut ilmu. Di awal pembelajarannya, seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk mempelajari buku Fathu al-Qarîb al-Mujîb, kemudian dilanjutkan dengan Manzhûmah al-Zubad, dan selanjutnya mempelajari buku-buku yang berjilid-jilid, seperti Syarh Minhâj al-Thâlibîn dan lain-lain. Tingkatan-tingkatan buku ini dapat ditemukan di buku-buku pengenalan mazhab, seperti Madkhal ilâ Madzhab al-Imâm al-Syâfi’î karya Saleh al-Asmari.
[xiii] Yang dimaksud istana di sini adalah mazhab.
[xiv] Yang dimaksud dengan arsitektur di sini adalah para imam mazhab.
[xv] Yang dimaksud di sini adalah mempelajarinya.
[xvi]“ Membangun istana sendiri” maksudnya adalah tidak bermazhab alias membuat mazhab baru dengan usul, furuk dan kaedah yang ia susun sendiri.
[xvii] Abdul Fatah bin Saleh al-Yafi’i, al-Tamadzhub, (Beirut: Muassasah Risalah Nasyirun, 2009), hal. 323.
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Pegiat Kajian Nun Center Kairo
Bermazhab satu, pada asalnya tidak penting bagi orang awam. Bahkan jika orang awam diharuskan untuk berpegang pada satu mazhab tertentu, ini akan menyulitkan mereka. Karena mereka harus mencari pendapat paling rajih dalam mazhabnya, padahal mereka tidak ahli dalam hal itu. Atau, minimal mereka harus mencari mufti yang semazhab dengannya.
Walaupun berpegang teguh pada satu mazhab tertentu tidak wajib bagi orang awam, namun hal tersebut merupakan suatu kebutuhan bagi seorang penuntut ilmu, Fikih khususnya, untuk mencapai derajat mujtahid. Karena itulah, tidak kita temukan satu ulama pun yang tidak bermazhab.
Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim: “Tidak layak bagi orang awam untuk bermazhab. Sesungguhnya mazhab hanyalah diperuntukkan bagi para akademisi.” Pernyataan ini juga diamini oleh Yusuf Qaradhawi. Menurut Qaradhawi, pada hakikatnya bermazhab hanyalah untuk para Ahlu al-‘Ilm yang memilih salah satu mazhab atas dasar kebutuhan intelektual, berkenaan dengan kekuatan usul mazhab dalam pandangannya dan lain-lain.[i] Meskipun demikian, -tegas Qaradhawi- “Tidak ada salahnya bagi orang awam, jika ingin menganut satu mazhab tertentu”.[ii]
Jika menganut satu mazhab tertentu merupakan suatu keharusan bagi para akademisi, lantas apa urgensi bermazhab bagi para akademisi? Bukankah mencari pendapat paling rajih dari berbagai pendapat lebih baik dari pada menganut satu mazhab yang terkadang memiliki pendapat dengan alasan yang lemah?
Perlu diingat bahwa Fikih mazhab adalah hasil dari pengolahan teks-teks agama dengan metode pengambilan hukum yang dimiliki oleh setiap mazhab.[iii] Metode ini bukanlah suatu teori buat-buatan para imam mazhab. Akan tetapi, metode ini merupakan singkapan sebuah cara untuk mencari kebenaran dalam hukum syariat melalui kaedah-kaedah umum yang menuntun cara berpikir para mujtahid dan memberikan batasan-batasan sehingga dapat mencapai pada suatu hukum tertentu.[iv] Metode ini mereka intisarikan dari apa yang mereka pelajari dari guru-guru mereka dan guru-guru mereka dari guru-gurunya lagi sampai kepada Rasulullah SAW.
Dengan tersingkapnya metode ini, para ulama setelah abad ke-3 tidak menemukan lagi apa yang perlu mereka singkap dari metode pengambilan hukum ini. Kalau pun mereka mencoba untuk menyingkapnya, mereka akan menemukan hasil yang sama dengan para pendahulunya. Dengan demikian, tidak ada jalan lain kecuali dengan berjalan di jalan para imam dalam mengambil hukum syariat. Maka dari itu, apa yang mereka lakukan dari mengikuti jalan para imam sebelumnya dalam metode pengambilan hukum tidak dapat dikatakan jumud atau fanatik. Karena memang mereka tidak menemukan jalan lain selain jalan yang dibuka oleh para imam sebelumnya. Mereka hanya terlambat muncul ke muka bumi ini. Kalaulah al-Ghazali atau al-Nawawi, misalnya, muncul sebelum Imam Syafi’i, pastinya mereka akan lebih dahulu menyingkap metode ini.[v]
Oleh karena itu, ijtihad setelah abad ke-3 sudah bukan lagi ijtihad menyingkap metode pengambilan hukum. Akan tetapi ijtihad dalam menghasilkan hukum baru dengan metode yang telah tersingkap sebelumnya atau merajihkan antar hasil-hasil ijtihad yang berbeda sebelumnya.[vi] Dengan demikian, seorang pelajar Fikih mau tidak mau harus masuk ke dalam salah satu mazhab Fikih, sebagai madrasah yang usul, furuk dan kaedahnya telah dibangun oleh arsitektur-arsitektur handal dalam pengambilan hukum, untuk selanjutnya beranjak ke tingkat mujtahid yang lebih tinggi.
Selain itu, terdapat beberapa poin yang menjadikan menganut satu mazhab itu penting bagi para akademisi:[vii]
1. Bersanad (musannadah)
Salah satu keistimewaan bermazhab adalah sanad yang bersambung ke Rasulullah SAW dari awal munculnya sampai saat ini. Sebagaimana imam mazhab mempunyai sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW, para pengikutnya pun mempelajarinya dengan tetap menjaga sanad ini sampai sekarang. Dengan bersambungnya sanad ini, bersambung pula pemahaman para ulama dalam agama ini sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarkan.[viii] Memang sudah sepantasnya bagi para ulama yang notabene ahli waris para nabi, memiliki garis hubungan dengan para pewarisnya. Dengan terjaganya sanad ini, terjaga pula otentisitas pemahamannya terhadap syariat.
2. Mendapat dedikasi penuh dari para ulama terdahulu hingga sekarang (makhdûmah)
Selain sanad, keistimewaan mazhab lainnya adalah perhatian penuh para ulama terhadap mazhab masing-masing. Tingginya dedikasi para ulama terhadap mazhab ini dapat kita lihat dari buku-buku yang mereka tulis tentang fikih mazhab, usul fikih dan kaedahnya dalam berbagai bentuk, seperti ringkasan (mukhtashar), penjelasan (syarh), catatan pinggir (hâsyiyah), sya’ir (nazhm), dan lain-lain. Tidak hanya itu, pendapat-pendapat para pendahulunya juga dikritisi, diperbaiki, dan diperjelas.
3. Tidak lepas dari dalil naqliy maupun ‘aqliy (mudallalah)
Pendapat-pendapat yang ada dalam buku-buku mazhab tidak lepas dari dalil naqliy maupun ‘aqliy, bahkan para imam mazhab pun memiliki musnad[ix] masing-masing.
4. Setiap mazhab memiliki usul fikih serta kaedah tersendiri dalam menentukan hukum (mu`asshalah wa muqa’’adah)
Jika tidak bermazhab, seseorang akan sulit mencapai derajat mujtahid. Karena ia tidak akan menemukan usul fikih, dan kaedah fikih yang praktiknya sesuai dengan furuk fikih kecuali dengan menganut satu mazhab. Mempelajari praktik penerapan usul fikih dan kaedah fikih pada fikih mazhab inilah yang akan mengantarkan seseorang mulai dari mukalid menuju derajat mujtahid paling rendah, hingga mencapai derajat mujtahid tertinggi. Dan hal ini mudah dicapai dengan menganut satu mazhab.
5. Metode pembelajaran buku-buku madzhab bertahap (mumanhajah)
Pada awal perjalanan seorang penuntut ilmu, tidak dibenarkan untuk sibuk dengan berbagai perbedaan pendapat. Hal ini dikarenakan, sibuk dalam berbagai perbedaan pendapat akan membuat pelajaran sulit melekat. Selain itu, pada awal perjalanannya seorang penuntut ilmu juga tidak diperkenankan untuk sibuk mentelaah buku-buku dengan pembahasan rumit.
Di awal perjalanannya, yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu adalah menguasai pembahasan-pembahasan kecil yang nampak sepele, tetapi akan menjadi landasan dalam memahami pebahasan-pembahasan besar nantinya. Karena pembahasan-pembahasan kecil ini, akan menjadi pondasi. Jika ia tidak menguasainya, maka akan mudah roboh.
Karena itulah, para ulama telah memformulasikan sistem pembelajaran mazhab ini dengan mengarang buku-buku yang digunakan oleh para pemula, kemudian untuk intermediate dan, para ahli. Sistem pembelajaran mazhab dibuat sedimikian rupa, sehingga dapat mencetak mujtahid-mujtahid yang mempunyai pemahaman yang mendalam dan melekat.
Ahmad bin Alwi Assegaf, dalam Fawâ`id al-Makkiyah, menjelaskan bahwa ada tiga tingkat ketangkasan (malakah) yang perlu dicapai oleh penuntut ilmu secara bertahap: yang pertama adalah ketangkasan perolehan (malakah al-istihshâl), yaitu ketangkasan yang dicapai sebagai persiapan untuk mencapai ketangkasan selanjutnya. Ketangkasan ini diperoleh dengan mempelajari mukaddimah-mukaddimah ilmu tersebut dari seorang guru ahli,[x] seperti mempelajari buku-buku yang menyajikan matan-matan pendek dalam ilmu fikih dan lain sebagainya.
Kedua, ketangkasan pemantapan (malakah al-istikhrâj), yaitu mencapai kemampuan memahami makna yang terkandung dalam istilah-istilah yang terdapat di dalam berbagai buku dengan mudah. Ketangkasan ini diperoleh dengan memperbanyak membaca buku-buku fikih, dimulai dari buku-buku yang sedang hingga buku-buku yang berjilid-jilid.
Setelah melewati kedua tingkat ketangkasan di atas, seorang pembelajar akan mencapai tingkat ketangkasan yang terakhir yaitu ketangkasan paripurna (malakah al-istihdhâr), yaitu saat penuntut ilmu mampu menjawab permasalahan yang diajukan tanpa harus merujuk ke buku-buku lagi.[xi]
Ketiga tingkat ketangkasan di atas sulit untuk dicapai kecuali diawali dengan menganut satu mazhab. Karena setiap mazhab mempunyai istilah dan hukum yang berbeda. Jika kita memulainya dengan Mazhab Syafi’i misalnya, kemudian di tingkatan kedua kita masuk ke dalam Mazhab Maliki, maka kita akan dapatkan 2 perkara yang sama dengan hukum yang berbeda. Dengan cara seperti ini, ketangkasan akan sulit tercapai.[xii]
6. Hasil ijtihad dalam setiap mazhab akan selalu konsisten dengan usul dan kaedahnya (muttasiqah wa muttazinah)
Semua pendapat yang terdapat dalam mazhab tidak akan keluar dari usul dan kaedah mazhab, sehingga konsistensi kolaborasi antara usul, fikih, dan kaedahnya terjaga dan tidak bercampur dengan mazhab lain.
7. Berpotensi untuk menjadi landasan dalam menghukumi perkara-perkara baru (munfatihah)
Furuk-furuk mazhab dapat menjadi landasan dalam menghukumi perkara-perkara baru. Jika kita menengok pada berbagai pembahasan dalam fikih kontemporer, kita akan mendapati furuk-furuk mazhab menjadi landasan dalam menghukuminya.
Berbagai keutamaan di atas tidak akan kita dapati kecuali pembelajaran dengan bermazhab. Maka dari itu wajar jika Al-Yafi’i memperumpamakan seorang penuntut ilmu yang tidak bermazhab bagaikan orang yang ditunjukkan kepadanya istana yang kokoh nan megah[xiii], yang dibangun oleh arsitektur handal[xiv]. Kemudian dikatakan kepadanya: “Masuklah! Berkelilinglah! Dan nikmatilah keindahannya![xv] Dia pun menjawab: “Tidak! Aku tidak akan masuk, tapi aku akan membangun istanaku sendiri.”[xvi] Akhirnya dia pun menyiksa dirinya sendiri dengan membangun sebuah bangunan, padahal dia tidak berpengalaman apalagi pandai dalam hal itu. Sehingga yang jadi bukannya istana tapi hanyalah sebuah gubuk reot, hanya saja dia menghiasinya dengan hiasan yang menipu. Tidak cukup sampai di situ, ia pun mengajak khalayak ramai untuk masuk ke gubuknya, lantas melarang mereka untuk memasuki istana, seolah berkata: “Gubukku lebih baik dari istana itu.”[xvii]
______________________________________________________
[i] Yusuf al-Qaradhawi, Kaifa nata’âmal ma’a al-Turats, (Kairo: Wahbah, 2004), hal. 82.
[ii] Ibid., hal. 83.
[iii] Musthafa Bisriy al-Tharablisiy, Manhaj al-Bahts wa al-Fatwa fî al-Fiqh al-Islâmiy, (Amman: Dar al-Fath, 2011), cetakan II, hal. 171.
[iv] Ibid. hal. 66.
[v] Ibid. hal. 173.
[vi] Ibid. hal. 177.
[vii] Terilhami dari Workshop Syekh ‘Amud dengan tema “Pengenalan Ilmu Fikih” bersama Dr. Amru Wardani.
[viii] Contoh sanad yang diperoleh Mufti Agung Ali Jum’ah: dari Abdullah bin Sidiq al-Ghumari, dari Duwaidar al-Kafrawi, dari Ibrahim al-Bajuri, dari Amir, dari al-Sha’idi, dari ‘Aqilah, dari Hasan al-‘Ajimi, dari al-Qassyasyi, dari Muhammad al-Ramli, dari Zakaria al-Anshari, dari Ibnu Hajar al-Haitami, dari Shalah bin Abu Umar, al-Fakhr bin al-Bukhari, dari Ahmad bin Muhammad al-Lubban, dari Muhammad bin Ahmad al-Shaidalani, dari Abu Hasan bin Ahmad al-Haddad, dari Ahmad bin Abdullah al-Ashbahani, Muhammad bin Ya’qub al-Asham, dari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, dari Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Lihat, Ali Jum’ah, al-Madkhal ilâ Dirâsah al-Madzâhib al-Fiqhiyah, (Kairo: Darussalam, 2009), hal. 249.
[ix] Kumpulan hadis-hadis, seperti Musnad Abu Hanifah, Muwatha` Imam Mali, Musnad al-Syafi’i dan Musnad Imam Ahmad.
[x] Ahmad bin Alwi Assegaf, Fawâ`id al-Makkiyah, (Kairo: Darul Faruq, 2011), hal 93.
[xi] Ibid., hal. 93.
[xii] Contohnya dalam Fikih Mazhab Syafi’i. Para ulama Syafi’iyah membagi tiga tingkatan (ada juga yang empat) untuk buku-buku yang dipelajari oleh para penuntut ilmu. Di awal pembelajarannya, seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk mempelajari buku Fathu al-Qarîb al-Mujîb, kemudian dilanjutkan dengan Manzhûmah al-Zubad, dan selanjutnya mempelajari buku-buku yang berjilid-jilid, seperti Syarh Minhâj al-Thâlibîn dan lain-lain. Tingkatan-tingkatan buku ini dapat ditemukan di buku-buku pengenalan mazhab, seperti Madkhal ilâ Madzhab al-Imâm al-Syâfi’î karya Saleh al-Asmari.
[xiii] Yang dimaksud istana di sini adalah mazhab.
[xiv] Yang dimaksud dengan arsitektur di sini adalah para imam mazhab.
[xv] Yang dimaksud di sini adalah mempelajarinya.
[xvi]“ Membangun istana sendiri” maksudnya adalah tidak bermazhab alias membuat mazhab baru dengan usul, furuk dan kaedah yang ia susun sendiri.
[xvii] Abdul Fatah bin Saleh al-Yafi’i, al-Tamadzhub, (Beirut: Muassasah Risalah Nasyirun, 2009), hal. 323.
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Selasa, Januari 15, 2013
Andragogy vs Pedagogy
Tulisan ini ditulis untuk menanggapi pernyataan salah satu dosen penulis. Mohon maaf karena disampaikan justru setelah aktivitas kuliah sudah berlalu. Tak lain karena keterbatasan penulis dalam mencerna apa yang beliau sampaikan.
Dalam paparan tersebut, ada perbedaan mencolok antara andragogi dan pedagogi. Perbedaan itu terletak pada mindset, cara pandang yang akan berdampak pada teknis dan metodologi pengajaran/ yang dilakukan oleh seorang tenaga pengajar.
Beliau memaparkan, bahwa pendidikan orang dewasa (andragogi) mengkritik pendidikan model anak-anak (metode ceramah), yang menganggap bahwa anak didik sama sekali tidak tahu. Dan guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan di dalam kelas. Metode ini dikritik karena dianggap tidak memanusiakan manusia, yang notabenenya punya pengalaman/ pengetahuan sebelumnya. Metode orang dewasa mengajarkan adanya interaksi antara guru dan murid. Bukan hanya guru yang aktif di dalam kelas.
Salah satu dampak dari pengajaran pedagogi adalah tidak sinkron-nya ilmu dengan perilaku. Yang beliau contohkan dengan mata pelajaran PMP atau PPKn ketika di SD dulu. Di mana seorang murid ditanya tentang pendidikan moral. Semisal apa yang akan kamu lakukan bila ada orang buta yang ingin menyeberang jalan? Tentu dengan mudah seorang murid akan menjawab, pilihan jawaban ‘membantunya’. Tapi pada prakteknya, tidak banyak orang bisa bertindak seperti itu.. hanya berhenti dalam teori, atau kemampuan kognitif.
Maka tidak heran bila banyak orang pintar, tapi tetap saja jadi koruptor. Menurut beliau, yang bisa dilakukan semisal dengan menutup mata semua orang siswa, kemudian memberi mereka bola dan membiarkan bermain di dalam kelas. Kemudian ditanya, “apa yang kalian rasakan saat mata kalian ditutup dan tidak bisa melihat?” dan dilanjutkan, “bagaimana dengan orang yang buta dan ingin menyeberang, apakah kalian akan membantunya?”
Dengan begini, seorang siswa akan diajar moral dengan apa yang ia rasakan, ia alami sendiri. Sehingga munculnya sikap empati tersebut, bukan atas kemampuan kognitif, tapi kepekaan hati..
Kemudian beliau pun merumuskan beberapa prinsip penting dari metode andragogi:
- Bersifat praktis. Berangkat dari studi kasus, berbentuk terapan yang dikaitkan dengan pengalaman peserta didik.
- Aksi dan komunikasi. Adanya interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan guru. Bukannya monolog dari gurunya.
- Emansipatoris. Tujuan utama dari metode ini adalah mewujudkan manusia merdeka dalam mengambil keputusan atau pemikiran yang tidak bergantung kepada pihak lain, termasuk gurunya. Dengan bentuk, aksi-refleksi.
Kritik
Beliau menganggap bahwa metode pedagogi salah.. metode ceramah tidak tepat. Sebagaimana yang sering dilakukan oleh juru bicara agama.
Jawaban
- Pedagogi adalah pembentukan dasar. Pijakan, fundamental, asas. Yang tanpa ini andragogi tidak ada artinya. Andragogi sendiri lebih bersifat pengembangan. (pendekatan fungsional)
- Beda peserta ajar, beda pula metode pendidikannya. Beda antara orang yang belajar yang sudah punya pengalaman, dengan mereka yang baru membangun dasar. (pendekatan psikologis)
- Beda materi ajar, beda pula cara pengajarannya. Contoh, panduan manual book akan berbeda dengan buku ajar mahasiswa S2. Di mana-mana, manual book bersifat doktrin. Sementara buku ajar mahasiswa, akan lebih berupa pengembangan bila sudah berada di level advance. (pendekatan materi)
Dengan demikian, alasan dosen penulis mengkritik habis metode ajar pesantren, sorogan, dan ceramah dalam agama Islam tidaklah tepat. Metode ajar sorogan, ceramah, adalah memang dikhususkan bagi mereka-mereka yang benar-benar baru belajar.. atau sebagai upaya pembentukan fondasi.
Apalagi khususnya, yang diajarkan dalam keagamaan bersifat wahyu, doktrin. Maka tak heran, bila banyak materi ajar yang ada (khazanah keilmuan Islam) bersifat pedagogis dibanding andragogis. Tentu ini bukannya tidak ada ruang bagi andragogi.. tapi khusus bagi mereka yang sudah menguasai dasar-dasar pijakan dalam khazanah keilmuan Islam. Tentu kita tidak akan mengajarkan ilmu fatwa, kepada mereka yang tulisan Arab saja gak bisa baca, apalagi mengenal ilmu fiqih, ushul fiqih, dan lainnya.
Adapun kritikannya tentang sifat praktis, tidak satupun ilmu dalam khazanah keilmuan Islam yang tidak bersifat praktis. Bahkan sejatinya, khazanah keilmuan Islam itu sendiri, lahir dari hipotesa, dialektika dengan realita..
Pun penulis sepakat, bahwa di suatu kondisi, pengajaran pedagogi menjadi sia-sia, stagnan dan tidak praktis, ketika tidak dilanjutkan pada ranah nyata. Kesimpulannya, antara pedagogi dan andragogi, tidak ada yang lebih baik.. kecuali bila digunakan dalam bentuk saling melengkapi. Pembentukan fondasi, kemudian pengembangannya.
Kalau dalam kesempatan kali itu, beliau juga menyinggung, metode ini tak ada hubungannya dengan usia seseorang, maka bentuk kombinasi dari dua metode ini pun sama. Tapi secara sederhana bisa dipetakan dengan fungsinya, apakah untuk pembentukan dasar atau pengembangan/ penerapannya. Belajar Bahasa Inggris di tingkat basic, tentu berbeda dengan tingkat advance bukan?
Wallahu a'lamu bish-showab.
Wallahu a'lamu bish-showab.
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Kamis, Juli 19, 2012
Bulan Puasa, Hisab atau Rukyat?
oleh:
Ahmad Mudzoffar Djufri
Insya-allah akan terjadi perbedaan lagi antar kaum muslimin Indonesia dalam mengawali puasa Ramadhan 1433 ini, antara tanggal 20 dan 21 Juli 2012. Meskipun, dan ini yang menggembirakan, perayaan idul fitri-nya nanti, hampir bisa dipastikan insya-allah akan terjadi secara seragam, serempak dan kompak, pada tanggal 19 Agustus 2012.
Prediksi nyaris pasti akan terjadinya perbedaan awal Ramadhan tahun ini, disebabkan karena saat matahari terbenam pada hari Kamis 29 Sya’ban nanti, yang bertepatan dengan 19 Juli 2012, menurut para ahli hisab, hilal (bulan) berada pada posisi yang “sangat tidak aman”. Dimana ketika itu hilal sudah wujud (ada/muncul) diatas ufuk (horizon), namun disepakati belum memungkinkan untuk bisa dirukyat (dilihat), karena ketinggiannya memang masih kurang dari 2 derajat. Nah, dengan posisi hilal seperti itu, para pencetus sekaligus penganut madzhab hisab hakiki wujudul hilal (penentuan bulan baru berdasar wujud-nya hilal diatas ufuk seberapapun kadar ketinggiannya), telah menetapkan dan memutuskan bahwa, hari Jum’at 20 Juli 2012 sudah merupakan hari pertama puasa Ramadhan 1433. Sementara itu, dengan hasil hisab yang sama tentang posisi hilal, para pengikut madzhab rukyat dan juga madzhab hisab imkan rukyat (penentuan bulan baru berdasar wujud-nya hilal diatas ufuk pada ketinggian yang telah memungkinkan untuk bisa dilihat), tentu saja sama-sama menetapkan keharusan istikmal (penggenapan) bulan Sya’ban 30 hari. Sehingga dengan demikian, awal puasa Ramadhan, menurut mereka yang merupakan jumhur (mayoritas ummat), baru akan jatuh pada hari Sabtu-nya 21 Juli 2012.
Adapun prediksi yang juga hampir pasti akan terjadi, yakni tentang kesamaan dan kebersamaan dalam penetapan hari raya idul fitri 1433, adalah karena pada saat maghrib hari Jum’at 17 Agustus 2012, yang bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan bagi yang memulai puasa tanggal 20 Juli 2012, di seluruh wilayah Indonesia, hilal disepakati masih berada di bawah ufuk atau belum wujud. Sehingga dengan begitu, semua pihak pasti sepakat satu kata bahwa, hari Sabtu18 Agustus 2012 masih merupakan hari terakhir puasa Ramadhan bagi semuanya, meskipun dengan perbedaan umur atau jumlah hari Ramadhan-nya. Karena bagi jumhur (mayoritas) muslimin yang mengawali puasa tanggal 21 Juli 2012, hari terakhir itu adalah hari ke-29 mereka berpuasa Ramadhan. Sedangkan bagi ummat yang memulainya lebih dulu sehari, yakni tanggal 20 Juli 2012, akhir Ramadhan tersebut merupakan hari ke-30 puasa mereka. Jadi dengan kondisi tersebut, insya-allah Idul Fitri 1 Syawal 1433 akan seragam jatuh pada hari Ahad 19 Agustus 2012.
Dengan pemaparan singkat diatas, yang tampak bahwa, perbedaan yang selama ini sering terjadi diantara kaum muslimin di negeri ini dalam memulai puasa Ramadhan dan berhari raya, adalah karena perbedaan metode penetapan bulan baru, antara madzhab rukyat dan hisab. Tapi sebenarnya penyebab utamanya bukanlah itu. Karena terbukti dengan keadaan atau kondisi yang sama atau serupa, ternyata ummat Islam di luar Indonesia yang juga beragam-ragam madzhabnya, tetap bisa selalu sepakat bersama-sama dalam mengawali puasa Ramadhan dan dalam berhari raya. Jika begitu, lalu apa sejatinya faktor penyebab itu di sini, di negeri mayoritas muslim ini? Tidak lain dan tidak bukan, adalah karena yang masih lebih diutamakan, dikedepankan dan dimutlakkan disini adalah cara, metode dan madzhab penentuan awal bulan yang diikuti oleh masing-masing, antara rukyat dan hisab, atau antara rukyat lokal dan rukyat global, atau antara hisab imkan rukyat dan hisab hakiki wujud hilal. Sedangkan bagi jumhur ulama dan muslimin di dunia, dalam hal puasa Ramadhan dan hari raya, yang lebih diprioritaskan, dikedepankan dan dimutlakkan adalah prinsip kebersamaannya. Adapun cara, metode dan madzhab penentuan, maka sepakat disikapi sebatas sebagai wasilah dan sarana yang bersifat relatif, dan yang harus bisa ditoleransikan serta dikompromikan!
Saya tidak ingat benar kapan tepatnya pertama kali menulis dan atau concern berpromosi tentang tema ini. Yakni tema tentang seruan persatuan Ummat terkait dengan penetapan awal Ramadhan, idul fitri dan idul adha. Yang jelas, sejak beberapa tahun terakhir, dan insya-allah seterusnya wallahu a’lam sampai kapan, dalam berbagai forum, saya selalu mengangkat topik ajakan penyatuan dan persatuan Ummat ini pada setiap momentum menjelang Ramadhan dan dua hari raya. Dengan satu target dan harapan, semoga segera terwujud sebuah pola kesepakatan tertentu antar seluruh komponen Ummat Islam bersama Pemerintah, yang akan menjamin selalu terjadinya kesatuan dan persatuan serta kesamaan dan kebersamaan, secara by design dan bukan sekadar by accident, dalam mengawali setiap puasa Ramadhan, dalam mengakhirinya dan dalam berhari raya.
Namun, mengapa masalah penetapan awal puasa Ramadhan dan hari raya jadi demikian penting dalam konteks harapan persatuan Ummat? Ya karena, menurut saya, memang disinilah antara lain terletak pertaruhan harapan besar itu. Sebab terwujudnya persatuan dan kebersamaan dalam konteks ini semestinya dan seharusnya adalah yang paling dekat dan riil, dibandingkan dengan aspek-aspek lain. Dimana jika telah bisa dicapai kesepakatan yang membuat seluruh Ummat selalu bersama-sama dalam memulai puasa dan dalam berhari raya, maka berarti terjadinya persatuan dan kebersamaan dalam hal-hal dan bidang-bidang lainpun, insya-allah semakin dekat. Adapun bila kesepakatan dan kebersamaan soal penetapan Ramadhan dan hari raya, yang sebenarnya di depan mata ini, ternyata masih juga sulit tercapai, seperti yang terjadi sampai detik ini, maka berarti harapan yang lebih besar akan terwujudnya persatuan dan kebersamaan Ummat Islam di negeri ini dalam berbagai aspek lainpun, lebih jauh lagi dan lagi!
Tapi bagaimanapun harapan tetap tidak boleh redup. Kita tetap tidak boleh berputus asa. Ya, kita tetap wajib terus dan terus berharap seoptimis mungkin – dan sekaligus berupaya riil – akan terjadinya kesepakatan dan persatuan itu suatu saat. Yakni melalui pola kesepakatan dan kesefahaman tertentu atas dasar semangat toleransi dan kompromi, yang akan menjamin selalu terwujud dan terjadinya kebersamaan indah yang didamba-damba itu. Dan semoga itu tidak jauh dan tidak lama. Karena secara syar'i (menurut syariat) dan waqi'i (tuntutan realita), memang semestinya ummat Islam di Indonesia selalu bersepakat dan bersatu serta bersama-sama dalam mengawali shaum Ramadhan, ber-idul fitri dan ber-idul adha. Disamping memang sangat mungkin dan dekat sekali realisasinya, hal itu adalah juga merupakan tanggung jawab dan kewajiban kita bersama. Setidaknya karena tiga alasan:
Pertama, shaum Ramadhan dan ‘Iedain (dua hari raya) adalah ibadah-ibadah dan momen-momen syi’ar kebersamaan (sya’aa-ir jamaa’iyyah), dimana semestinya seluruh kaum muslimin selalu memulai puasa secara bersama-sama, mengakhirinya secara bersama-sama, dan bergembira dalam merayakan ‘Iedain juga secara bersama-sama, dan tidak sendiri-sendiri atau masing-masing. Tentu itu khususnya atau minimal dalam satu negara atau wilayah tertentu. Itulah tuntunan syariat Islam berdasarkan hadits-hadits dan praktik ummat Islam sejak generasi salaf dan seterusnya sepanjang sejarah panjang Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Ash-shaumu yauma tashuumuun, wal-fithru yauma tufthiruun, wal-adh-haa yauma tudhahhuun” (Puasa Ramadhan adalah pada hari dimana kalian semua bersama-sama berpuasa. Idul Fithri adalah pada hari dimana kalian semua bersama-sama ber-’Iedul Fitri. Dan ‘Iedul Adha adalah juga pada hari dimana kalian semua bersama-sama ber-’Iedul Adha) (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah; dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani).
Oleh karena itu kita tidak menemukan dalam sejarah Islam adanya perbedaan dalam berpuasa Ramadhan dan berhari raya dalam satu wilayah, satu kota, satu kampung, apalagi dalam satu rumah, sebagaimana yang terjadi disini saat ini. Yang pernah terjadi semenjak masa sahabat hanyalah perbedaan antara wilayah yang berjauhan, seperti yang kita dapati dalam hadits Kuraib (HR Muslim, Ahmad dan Tirmidzi) dimana Ibnu ‘Abbas dan para sahabat di Madinah menetapkan Ramadhan dan Idul Fitri berdasarkan hasil rukyat khusus di Madinah yang berbeda dengan hasil rukyat Khalifah Mu’awiyah dan kaum muslimin di Syam. Sehingga dengan demikian, untuk saat ini tentu saja ditolerir jika perbedaan itu terjadi antar negara di dunia. Tapi untuk masing-masing negara tidak semestinya hal itu masih juga terjadi.
Kedua, masalah perbedaan dalam hal penentuan awal Ramadhan, idul fitri dan idul adha, adalah salah satu contoh masalah dimana adanya perbedaan (ikhtilaf) hanya ditolerir dalam hal metode dan cara penetapan di tingkat teori dan wacana saja. Tapi tidak ditolerir terjadinya perbedaan tersebut di tataran praktik dan realita serta implementasi di lapangan riil. Inilah yang kita tahu dan catat dari praktik imam-imam dan ulama-ulama berbagai generasi sepanjang sejarah ummat Islam. Dimana sejak dulu telah terjadi perbedaan dan perselisihan antar madzhab para imam dalam teori dan wacana penentuan, antara metode rukyat dan hisab, bahkan antara metode rukyat global dan rukyat lokal. Dimana sebagai konsekuensinya, tentu saja sangat logis jika terjadi perbedaan dalam hasil dan keputusan akhir. Namun ternyata perbedaan itu jika terjadi, hanya berhenti di tataran teori dan wacana saja, dan sama sekali tidak terlihat di tataran realita. Karena secara praktik dan fakta sejarah, para ulama, dan seluruh ummat bermakmum pada mereka, yang biasa berbeda secara teori dan dalam wacana, selalu saja bersepakat dan bersama-sama dalam mengawali puasa Ramadhan, ber-idul fitri dan ber-idul adha, kecuali antar wilayah yang berjauhan.
Ketiga, kita ummat Islam di Indonesia, yang nota bene sebagai negara muslim terbesar, rasanya patut malu, seraya berintrospeksi diri, karena bahkan dalam hal ibadah dan momen kejamaahan, kebersamaan dan persatuan seperti shaum Ramadhan dan dua hari raya inipun masih saja kita "bersikeras" untuk “memilih” berbeda-beda dan berselisih, serta belum siap atau “belum mau” bersepakat dan bersatu. Padahal saat ini, mungkin hanya tinggal Indonesia saja, sekali lagi, HANYA TINGGAL INDONESIA SAJA, satu-satunya negara di dunia dimana ummat Islam-nya masih tetap belum juga bersepakat dan bersatu dalam hal ini . Sedangkan ummat Islam lain di tiap negara di dunia, bahkan termasuk di sejumlah negara daratan eropa, umumnya telah bisa selalu bersepakat, bersatu dan bersama-sama dalam memulai shaum Ramadhan, ber-idul fitri dan ber-idul adha.
Akhir kata, meskipun andai faktanya, sesuai prediksi dan bukan harapan, memang benar-benar kita masih belum bisa bersepakat, bersatu, dan bersama-sama, namun tetap saja perbedaan dan perselisihan yang terjadi harus tetap kita semua sikapi dengan arif, bijak, dewasa, dan proporsional. Dengan mengedepankan sikap toleransi terhadap pendapat lain, sesuai kaedah penyikapan terhadap setiap masalah khilafiyah. Sehingga tidak terjadi dampak-dampak yang lebih buruk lagi. Dan di saat yang sama, harapan tetap dan terus kita gantungkan pada rahmat Allah, lalu pada sikap hikmah para ulama kita, para tokoh kita, dan pada para pimpinan ummat Islam! Semoga Allah merahmati kita semua untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadhan dengan pertemuan yang istimewa dan berbarakah, serta mampu menggapai taqwa nan istimewa pula di bulan penempaan diri yang mulia dan suci nanti. Aamiin!
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Sabtu, Mei 19, 2012
Sedekah dan Kekayaan
Sering kita mendengar ceramah dan dakwah terkait sedekah. Bunyinya kurang lebih, dengan sedekah kita akan bertambah kaya. Lengkap dengan cerita dan testimoni mereka yang sudah menjalankan metode tersebut.
Sebelumnya saya kurang begitu peduli. Karena saya anggap, sebagai bentuk targhib alias motivasi bagi kita agar berlomba-lomba menyedekahkan harta. Sebagai makhluk pragmatis dan materialis, tentu sangat tertarik dengan imajinasi ganjarannya. Kaya!
Sampai kemudian saya membaca status temen baik saya. Banyak orang menafsirkan dengan asal isi al Quran. Ia pun mencontohkan kaya dengan sedekah tersebut. Lalu memberi argumen dengan bertanya.
"Apa jadinya bila ternyata setelah sedekah kita gak bertambah kaya. Jadi, agama ini berbohong?" Wal 'iyadzu billah..
Lantas bagaimana sebenarnya hubungan sedekah dengan kekayaan? Apa hukum jadi orang kaya? Dan apakah Islam menghendaki kita menjadi kaya, atau justru sebaliknya? Lebih baik miskin sehingga hisab kita tidak berlama-lama?
Kaya dulu baru sedekah,atau sedekah biar kaya?
Insya Allah, kali ini kita akan membahasnya.
Senin, April 16, 2012
Tata Cara Menjama Sholat
Shalat Jama’ adalah melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu, yakni melakukan shalat Dzuhur dan shalat Ashar di waktu Dzuhur dan itu dinamakan Jama’ Taqdim, atau melakukannya di waktu Ashar dan dinamakan Jama’ Takhir. Dan melaksanakan shalat Magrib dan shalat Isya’ bersamaan di waktu Magrib atau melaksanakannya di waktu Isya’. Jadi shalat yang boleh dijama’ adalah semua shalat Fardhu kecuali shalat Shubuh. Shalat shubuh harus dilakukan pada waktunya, tidak boleh dijama’ dengan shalat Isya’ atau shalat Dhuhur.
Sedangkan shalat Qashar maksudnya meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat Dhuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Shubuh tidak bisa diqashar.
Shalat jama’ dan Qashar merupakan keringanan yang diberikan Alloh, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu, (QS: Annisa: 101), Dan itu merupakan shadaqah (pemberian) dari Alloh yang disuruh oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menerimanya.” (HR: Muslim).
Shalat Jama’ lebih umum dari shalat Qashar, karena mengqashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Sedangkan menjama’ shalat bukan saja hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir yang menyulitkan seorang muslim untuk bolak- balik ke masjid. dalam keadaan demikian kita dibolehkan menjama’ shalat. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ shalat Dhuhur dengan Ashar dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim menambahkan, “Bukan karena takut, hujan dan musafir”.
Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim,V/215, dalam mengomentari hadits ini mengatakan, “Mayoritas ulama membolehkan menjama’ shalat bagi mereka yang tidak musafir bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak menjadikan yang demikian sebagai tradisi (kebiasaan). Pendapat demikian juga dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, juga Ishaq Almarwazi dan Ibnu Munzir, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas ketika mendengarkan hadist Nabi di atas, “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya, sehingga beliau tidak menjelaskan alasan menjama’ shalatnya, apakah karena sakit atau musafir”.
Dari sini para sahabat memahami bahwa rasa takut dan hujan bisa menjadi udzur untuk seseorang boleh menjama’ shalatnya, seperti seorang yang sedang musafir. Dan menjama’ shalat karena sebab hujan adalah terkenal di zaman Nabi. Itulah sebabnya dalam hadist di atas hujan dijadikan sebab yang membolehkan untuk menjama’, (Al Albaniy,Irwa’, III/40).
Adapun batas jarak orang dikatakan musafir terdapat perbedaan di kalangan para ulama. Bahkan Ibnu Munzir mengatakan ada dua puluh pendapat. Yang paling kuat adalah tidak ada batasan jarak, selama mereka dinamakan musafir menurut kebiasaan maka ia boleh menjama’ dan mengqashar shalatnya. Karena kalau ada ketentuan jarak yang pasti, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mesti menjelaskannya kepada kita, (AlMuhalla, 21/5).
Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat jama’ dan Qashar apabila ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan, “Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir kecuali setelah keluar dari Madinah”. Dan Anas menambahkan, Saya shalat Dhuhur bersama Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah (sekarang Bir Ali berada di luar Madinah) dua rakaat,(HR: Bukhari Muslim).
Seorang yang menjama’ shalatnya karena musafir tidak mesti harus mengqashar shalatnya begitu juga sebaliknya. Karena boleh saja ia mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya. Seperti melakukan shalat Dzuhur 2 rakaat diwaktunya dan shalat Ashar 2 rakaat di waktu Ashar. Dan seperti ini lebih afdhal bagi mereka yang musafir namun bukan dalam perjalanan. Seperti seorang yang berasal dari Surabaya bepergian ke Sulawesi, selama ia di sana ia boleh mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika berada di Mina. Walaupun demikian boleh-boleh saja dia menjama’ dan mengqashar shalatnya ketika ia musafir seperti yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di Tabuk. Tetapi ketika dalam perjalanan lebih afdhal menjama’ dan mengqashar shalat, karena yang demikian lebih ringan dan seperti yang dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Menurut Jumhur (mayoritas) ulama’ seorang musafir yang sudah menentukan lama musafirnya lebih dari empat hari maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari atau kurang maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji Wada’. Beliau tinggal selama 4 hari di Mekkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas kapan dia bisa kembali ke rumahnya maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Inilah yang dipegang oleh mayoritas ulama berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika penaklukkan kota Mekkah beliau tinggal sampai sembilan belas hari atau ketika perang tabuk sampai dua puluh hari beliau mengqashar shalatnya (HR: Abu Daud). Ini disebabkan karena ketidaktahuan kapan musafirnya berakhir. Sehingga seorang yang mengalami ketidakpastian jumlah hari dia musafir boleh saja menjama’ dan mengqashar shalatnya (Fiqhussunah I/241).
Bagi orang yang melaksanakan jama’ Taqdim diharuskan untuk melaksanakan langsung shalat kedua setelah selesai dari shalat pertama. Berbeda dengan jama’ ta’khir tidak mesti Muwalah (langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Dhuhur diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Dhuhur boleh saja dia istirahat dulu kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian melakukannya dengan cara berturut –turut lebih afdhal karena itulah yang dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang muqim (tidak musafir). Begitu juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang muqim. Kalau dia menjadi makmum pada imam yang muqim, maka ia harus mengikuti imam dengan melakukan shalat Itmam (tidak mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam maka boleh saja mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat shalatnya setelah imammya salam.
Dan sunah bagi musafir untuk tidak melakukan shalat sunah rawatib (shalat sunah sesudah dan sebelum shalat wajib), Kecuali shalat witir dan Tahajjud, karena Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukannya baik dalam keadaan musafir atau muqim. Dan begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya seperti shalat Tahiyatul Masjid, shalat gerhana, dan shalat janazah. Wallahu a’lam bis Shawaab.
(Sumber Rujukan: Fatawa As-Sholat, Asy-Syaikh Al Imam Abdul Aziz bin Baz dan Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wal kitab Al-Aziz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi )
sumber: MediaMuslim.wordpress.com
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Sedangkan shalat Qashar maksudnya meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat Dhuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Shubuh tidak bisa diqashar.
Shalat jama’ dan Qashar merupakan keringanan yang diberikan Alloh, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu, (QS: Annisa: 101), Dan itu merupakan shadaqah (pemberian) dari Alloh yang disuruh oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menerimanya.” (HR: Muslim).
Shalat Jama’ lebih umum dari shalat Qashar, karena mengqashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Sedangkan menjama’ shalat bukan saja hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir yang menyulitkan seorang muslim untuk bolak- balik ke masjid. dalam keadaan demikian kita dibolehkan menjama’ shalat. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ shalat Dhuhur dengan Ashar dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim menambahkan, “Bukan karena takut, hujan dan musafir”.
Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim,V/215, dalam mengomentari hadits ini mengatakan, “Mayoritas ulama membolehkan menjama’ shalat bagi mereka yang tidak musafir bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak menjadikan yang demikian sebagai tradisi (kebiasaan). Pendapat demikian juga dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, juga Ishaq Almarwazi dan Ibnu Munzir, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas ketika mendengarkan hadist Nabi di atas, “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya, sehingga beliau tidak menjelaskan alasan menjama’ shalatnya, apakah karena sakit atau musafir”.
Dari sini para sahabat memahami bahwa rasa takut dan hujan bisa menjadi udzur untuk seseorang boleh menjama’ shalatnya, seperti seorang yang sedang musafir. Dan menjama’ shalat karena sebab hujan adalah terkenal di zaman Nabi. Itulah sebabnya dalam hadist di atas hujan dijadikan sebab yang membolehkan untuk menjama’, (Al Albaniy,Irwa’, III/40).
Adapun batas jarak orang dikatakan musafir terdapat perbedaan di kalangan para ulama. Bahkan Ibnu Munzir mengatakan ada dua puluh pendapat. Yang paling kuat adalah tidak ada batasan jarak, selama mereka dinamakan musafir menurut kebiasaan maka ia boleh menjama’ dan mengqashar shalatnya. Karena kalau ada ketentuan jarak yang pasti, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mesti menjelaskannya kepada kita, (AlMuhalla, 21/5).
Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat jama’ dan Qashar apabila ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan, “Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir kecuali setelah keluar dari Madinah”. Dan Anas menambahkan, Saya shalat Dhuhur bersama Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah (sekarang Bir Ali berada di luar Madinah) dua rakaat,(HR: Bukhari Muslim).
Seorang yang menjama’ shalatnya karena musafir tidak mesti harus mengqashar shalatnya begitu juga sebaliknya. Karena boleh saja ia mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya. Seperti melakukan shalat Dzuhur 2 rakaat diwaktunya dan shalat Ashar 2 rakaat di waktu Ashar. Dan seperti ini lebih afdhal bagi mereka yang musafir namun bukan dalam perjalanan. Seperti seorang yang berasal dari Surabaya bepergian ke Sulawesi, selama ia di sana ia boleh mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika berada di Mina. Walaupun demikian boleh-boleh saja dia menjama’ dan mengqashar shalatnya ketika ia musafir seperti yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di Tabuk. Tetapi ketika dalam perjalanan lebih afdhal menjama’ dan mengqashar shalat, karena yang demikian lebih ringan dan seperti yang dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Menurut Jumhur (mayoritas) ulama’ seorang musafir yang sudah menentukan lama musafirnya lebih dari empat hari maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari atau kurang maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji Wada’. Beliau tinggal selama 4 hari di Mekkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas kapan dia bisa kembali ke rumahnya maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Inilah yang dipegang oleh mayoritas ulama berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika penaklukkan kota Mekkah beliau tinggal sampai sembilan belas hari atau ketika perang tabuk sampai dua puluh hari beliau mengqashar shalatnya (HR: Abu Daud). Ini disebabkan karena ketidaktahuan kapan musafirnya berakhir. Sehingga seorang yang mengalami ketidakpastian jumlah hari dia musafir boleh saja menjama’ dan mengqashar shalatnya (Fiqhussunah I/241).
Bagi orang yang melaksanakan jama’ Taqdim diharuskan untuk melaksanakan langsung shalat kedua setelah selesai dari shalat pertama. Berbeda dengan jama’ ta’khir tidak mesti Muwalah (langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Dhuhur diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Dhuhur boleh saja dia istirahat dulu kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian melakukannya dengan cara berturut –turut lebih afdhal karena itulah yang dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang muqim (tidak musafir). Begitu juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang muqim. Kalau dia menjadi makmum pada imam yang muqim, maka ia harus mengikuti imam dengan melakukan shalat Itmam (tidak mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam maka boleh saja mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat shalatnya setelah imammya salam.
Dan sunah bagi musafir untuk tidak melakukan shalat sunah rawatib (shalat sunah sesudah dan sebelum shalat wajib), Kecuali shalat witir dan Tahajjud, karena Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukannya baik dalam keadaan musafir atau muqim. Dan begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya seperti shalat Tahiyatul Masjid, shalat gerhana, dan shalat janazah. Wallahu a’lam bis Shawaab.
(Sumber Rujukan: Fatawa As-Sholat, Asy-Syaikh Al Imam Abdul Aziz bin Baz dan Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wal kitab Al-Aziz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi )
sumber: MediaMuslim.wordpress.com
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Senin, Januari 02, 2012
Tips Rayuan Gombal Lucu
Persis seperti yang dibilang Dewa, "sentuhlah dia tepat di hatinya.. dia kan jadi milikmu selamanya.."
Wanita memang makhluk yang rumit-rumit unik. Tentunya, persepsi ini hanya bagi cowo. Karena bagi yang sesama cewe, mereka bahkan bisa berkomunikasi tanpa bicara. Sama halnya buat cewe.. seorang cowo adalah makhluk paling aneh sedunia. Namun, ada beberapa hal yang membuat cewe lebih sulit dikenali dibanding cowo.
Salah satunya karena, cewe bahkan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Dan di situlah tugas cowo u/ mengarahkan.
Dan yap, kembali ke persoalan gombal.. sesuai judul tulisan, hehe. Biar ga melebar ke mana-mana. Menggombal adalah tradisi usang yang walaupun cewe benci 'dibohongin' tapi mereka senang sekali digombalin. Padahal yeah.. gombalan adalah bentuk penipuan juga. :D
Tanya kenapa? Ini karena alam bawah sadar cewe yang sudah ter-setting untuk mencintai pujian, lebih dari logika mereka bekerja. Beda kasus kalau ada cewe gombalin cowo, bakalan diketawain pastinya. :D
Lalu gimana cara gombalin cowo? Maaph, tapi tulisan ini hanya khusus buat gombalin cewe... hehe.
Sebelum buru-buru menggombal, ada beberapa general rules yang harus dipatuhi kalau ga pengen disebut cowo murahan atau lelaki gagal
1. Gombal-menggombal hanya berlaku bagi cewe yang udah suka duluan. Atau minimal mereka yang berpotensi suka. Kalau yang udah ga suka, bakal lari ngibrit digombalin ama lu. Masih mending kagak digampar. :))
2. Hati-hati dengan lingkaran friend zone. Jangan terlalu deket sama cewe, sehingga seolah-olah lu adalah kakak buat dia, atau hanya sebatas teman. Hindari kedekatan yang ga nunjukin apa sebenarnya maksud lo deketin dia. Kalo emang cuma mau temenan ya, it's ok. Tapi lebih dari itu, harus lu jaga jarak.. dan pastikan semua yang lo lakuin ke dia adalah buat cinta, not merely friendship.
3. Gombal juga bisa buat salah satu testing, perasaan cewe. Kalau dia tersipu digombalin,.. maka lanjut Gan! :D
4. Cewe ga pernah ngerti dengan perasaan dia sesungguhnya. Maka sudah menjadi tugas lu.. buat membina perasaan dia.
5. Cewe suka cowok dilihat dari kepribadian, bukan dari tampang! So jangan menyerah buat lu yang kalah ganteng dari gw. Hahahaha :))
6. Walaupun gombal adalah bentuk penipuan.. bukan berarti bisa tipu2 banget. Sesuaikan kondisi dan situasi lu! Jangan cerita soal bintang, kalo tempatnya lagi siang bolong kepanasan. :hammer:
7. Kepribadian yang paling disuka cewe, kira-kira begini; a). berani b). memberi bukti c). humoris d). dewasa
Dan inilah sebagian kumpulan rayuan gombal yang paling gw suka.. sekedar kompilasi, kalau-kalau ada yang butuh, khususnya bagi mereka suami istri.
DUA BINTANG
Cowo : Langit malam ini ga indah yaa…
Cewe : Emang knapa?
Cowo : Karena 2 bintang terindah nya ada di mata kamu….(by SuperDong)
BUKTI ?!!
Cowo : Mbak-mbak, maaf ya…
Cewe : Knapa?
Cowo : Minta tolong sebentar jangan bergerak…
Cewe : ?? Emang knapa mas? (Bingung karna ga kenal ama si cowo)
Cowo : Saya perlu bukti, jadi saya foto sebentar pake Handphone saya ya.. (cklik!! sambil ambil foto pake HP)
Cewe : ????? (tambah bingung) Bukti buat apa ya???
Cowo : Ngga….. Kmaren temen saya bilang ga ada tuh yang namanya “Cewek secantik bidadari”. Dengan foto ini saya mau tunjukin kalo dia salah….
Cewe: ???????? Oya? (Mukanya merah…..) Nama mas siapa?
HARI SPESIAL
Co : Hari ini ada yang SPESIAL deh
Ce : Apanya yang SPESIAL?
Co : Soalnya hari ini kamu cantiiiikkkk sekali
(by opomane)
CANTIK BAGT SI ??
Ngeliatin dia…
Pas dia mulai protes…
Sambil garuk2 kpala bilang “arghhh km kok cantik bgt sih….”
(by w0rm5)
SEINDAH SUNSET
“Pernah liat keindahan matahari terbenam? Aneh lho, tiap kali saya liat matahari terbenam, pasti yang saya lihat adalah kamu…”
(by Maestro)
LEWAT SMS
“Maaf, tak bisa kutulis banyak. tinta habis. semalam kugoresi langit dengan namamu.”
TULANG RUSUK
co : Akhirnya.. ketemu jg…
ce : ??? Ketemu apanya?
co : Tulang rusuk gw yg hilang…
(by dhodho)
SELAMA WAKTU ADA….
“Aku tahu aku nggak akan bisa ngasih kamu kesempatan untuk belanja di mall kayak kebanyakan cewek,
aku tahu mungkin aku nggak akan bisa njemput kamu pake mobil,
aku juga nggak akan bisa juga ngajak jalan-jalan ke tempat romantis yang mahal….
tapi aku yakin aku bisa nyayangi kamu, selama kamu mau, selama waktuku ada.”
(by sanobayu)
GOMBAL di TELEPON
kita : Halo putri..
putri : Halo…
kita : Aku baru saja jatuh….
putri : Jatuh? kok bisa? gak papa [dengan panik..dan mungkin kata2 akan bervariasi]
kita : Iya… aku jatuh… tapi aku seneng…. aku jatuh cinta sama kamu…
(by sanobayu)
DILUAR KEMAMPUANKU
Bertemu kamu adalah takdir,
Menjadi temen kamu ada pilihanku,
Tapi jatuh cinta ama kamu itu di luar kemampuanku.
(by sekia)
PAS LAGI NGAPEL
co : Say… minta kopi donk
ce : Bentar ya dibikinin yg hangat ya
co : Ok deh… jgn manis2x ya aku suka kopi pahit
ce : Syip deh… tunggu bentar
co : Jgn di cicipin say… nanti kopinya jadi manis
ce : ……….
(by Aldarion)
ABIS DINNER
co : Gmn, knyang?
ce : Iyya..
co : Mo dessert ga?
ce : Boleh..
co : Eh, salah nanya.. maxudku “mo jd dessert ga?”
ce : i’iiiiiiiih! *nyubit..
(by jazz_instinct)
JATUH DARI LANGIT ?!!
Lo tatap dia dengan penuh perasaan, trus ketika dia nanya..
Ce : “Lo kenapa sih?”
Lo : “Sakit ga sih?”
Ce : “Sakit kenapa?”
Lo : “Bidadari kaya lo, jatuh dr langit.. Sakit ga sih ?”(by SuperDong)
PUNYA PULPEN?!
co: punya pulpen gak??
ce: bwat apa??
co: bwat nulis nama kamu d hati aku..
TEMENAN?!!
cowok :”bisa kita jadi teman aja?”
cewek :”loh, kita kan emang teman..kamu gimana sih?”
cowok : “tapi, gimana bisa jadi teman aja kalo hati ini berdebar-debar setiap ngeliat kamu?”
BERNAPAS?!!
Jika aku disuruh memilih… untuk bernapas atau mencintaimu. Aku akan menggunakan napas terakhirku untuk mengatakan “aku mencintaimu”
BUNGA?!!
Cowok : eh jangan duduk deket bunga-bunga
Cewek : loh emang kenapa ?
Cowok : nanti bunga-bunganya layu
Cewek : kok bisa ?
Cowok : mereka layu karena mereka malu kalah cantik sama kamu
BULAN?!!
Cowok : kenapa malem ini gelap banget ya
Cewek : mendung kali bang
Cowok : kayaknya nggak dech
Cewek : trus napa bang
Cowok : soalnya bulannya sedang menerangi dan menemaniku disini
BIDADARI JATUH?!!
Lo tatap dia dengan penuh perasaan, trus ketika dia nanya “Lo kenapa sih?”
Lo tanya ke dia “Sakit ga sih?”
Cewek : Sakit kenapa?
Lo: Bidadari kaya lo, jatuh dr langit.. Sakit ga sih?
LARI-LARI?!!
Cowok : Neng kamu capek gak?
Cewek : Hah? (bingung)
Cowok : Soalnya eneng berlari-lari terus di pikiran abang
PEMILU?!!
paling enggak nyambung kamu tau gak.. pemilu kemaren aku gak milih sby..
TP AKU MILIH KAMU
JATUH?!!
Aku udah pernah jatuh dari jembatan,
aku udah pernah jatuh dari tangga.
Semuanya gak enak.
Tapi ada satu jatuh yang paling enak, yaitu jatuh
cinta sama kamu
MATA?!!
cowo: hmmm,mba mba aduh liat ga si mba ada yang jatuh nih barusan
cw:ha? knp mas?? ada apa mungkin saya bisa bantu cariin,apa yang jatuh mas?.
cowo: hatiku mba yang jatuh ketika melihat mata mu,
SAYAP?!!
co: (ngeliatin punggung cewenya)
ce: "kenapa c liatin punggung aq aja?"
co: "aku baru sadar ada bidadari yg ga punya sayap..."
ce: malu
KHAYANGAN?!!
cowo: kamu tau gak kalau khayangan lagi gempar sekarang
cewe: hah ?? kenapa emang??
cowo: soalnya bidadarinya yang paling cantik ilang satu, ni sekarang ada sebelah aku..
PELANGI?!!
kamu tau gak kenapa pelangi hanya setengah lingkaran ? || enggak, emngnya knp? || karna setengahnya lagi ada di mata kmu
28 OKTOBER?!!
Co : Neng, tau enggak 28 Oktober hari apa?
Ce : Hari Sumpah Pemuda bang
Co : Eh, salah !
Ce : Loh ? Emang hari apaan?
Co : 28 Oktober 2010 itu hari Sumpah Aku Sayang Kammu
1000 BINTANG?!!
Cowok : eh..eh.. tw ga ? kemaren malem , aq liat 1000 bntang lloh.,
cewek : yang bner ?
cowok : iya ,, tp td pgi aq liat bntangnya tnggal 999 , trus yg 1 dmana dong ?
cewek : ga tau ? mang dmna ?
cowok : di mata kmu ..
cewek : iih., gombal deh .,
1000 RUPIAH?!!
co : neng ada uang seribu gak ?
ce : gak ada mas, untuk apa emang nya mas ,
co : untuk bayar parkiran di hati mu !
PUTUS??!!
cow : yank kyak’y qta hrs ptuss,.,.
cew : iihh,.,.napa sich yank ( marah-marah),.,.
cow : pkoknya qta hrs putus,,.,.,
cew : mank salah aq apa,.,.???
cow : ng da .,.koq,.,
cew : trs,.kq qta ptus,.,.??
cow : qta hrs PUTUSkan kapan aq hrs melamar qmu ke ortu mu.
cew : iihhhhh,,..sayaaaaaaannnnnnnkk,.,.muachhhhhh,.,.
GENTAYANGAN?!!
CO :kamu tau gak bedanya arwah penasaran sama kamu?
CE :emang apa beda nya?
CO :hemmph klo arwah penasaran gentayangan nya di alam laen, tapi kalo kamu gentayangan di hati ku …
PEMADAM KEBAKARAN?!!
cwok: Tlonk panggil kan pmadan donk!!!
cwek: mank npaa??
Cwok: soal.a hati que membara lw dket” ma mue!!
cwek: Hiks,, knal gombal lagge nich
GEMUK?!!
M : Kamu tau ga kenapa semakin hari aku semakin gemuk?
F : Ga tau, emg knpa?
M : Karna semakin hari cintaku ke kamu semakin berat….
Hehehe... sekian dulu kompilasinya. Ibarat pisau, gombalan ini harap dipergunakan sesuai tempatnya. Wanita adalah mereka yang juga telah melahirkanmu! Maka harus kamu jaga seperti kamu sayang sama ibumu..
"Dan perlakukanlah istri-istrimu dengan baik..." (QS An-Nisa).
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Wanita memang makhluk yang rumit-rumit unik. Tentunya, persepsi ini hanya bagi cowo. Karena bagi yang sesama cewe, mereka bahkan bisa berkomunikasi tanpa bicara. Sama halnya buat cewe.. seorang cowo adalah makhluk paling aneh sedunia. Namun, ada beberapa hal yang membuat cewe lebih sulit dikenali dibanding cowo.
Salah satunya karena, cewe bahkan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Dan di situlah tugas cowo u/ mengarahkan.
Dan yap, kembali ke persoalan gombal.. sesuai judul tulisan, hehe. Biar ga melebar ke mana-mana. Menggombal adalah tradisi usang yang walaupun cewe benci 'dibohongin' tapi mereka senang sekali digombalin. Padahal yeah.. gombalan adalah bentuk penipuan juga. :D
Tanya kenapa? Ini karena alam bawah sadar cewe yang sudah ter-setting untuk mencintai pujian, lebih dari logika mereka bekerja. Beda kasus kalau ada cewe gombalin cowo, bakalan diketawain pastinya. :D
Lalu gimana cara gombalin cowo? Maaph, tapi tulisan ini hanya khusus buat gombalin cewe... hehe.
Sebelum buru-buru menggombal, ada beberapa general rules yang harus dipatuhi kalau ga pengen disebut cowo murahan atau lelaki gagal
1. Gombal-menggombal hanya berlaku bagi cewe yang udah suka duluan. Atau minimal mereka yang berpotensi suka. Kalau yang udah ga suka, bakal lari ngibrit digombalin ama lu. Masih mending kagak digampar. :))
2. Hati-hati dengan lingkaran friend zone. Jangan terlalu deket sama cewe, sehingga seolah-olah lu adalah kakak buat dia, atau hanya sebatas teman. Hindari kedekatan yang ga nunjukin apa sebenarnya maksud lo deketin dia. Kalo emang cuma mau temenan ya, it's ok. Tapi lebih dari itu, harus lu jaga jarak.. dan pastikan semua yang lo lakuin ke dia adalah buat cinta, not merely friendship.
3. Gombal juga bisa buat salah satu testing, perasaan cewe. Kalau dia tersipu digombalin,.. maka lanjut Gan! :D
4. Cewe ga pernah ngerti dengan perasaan dia sesungguhnya. Maka sudah menjadi tugas lu.. buat membina perasaan dia.
5. Cewe suka cowok dilihat dari kepribadian, bukan dari tampang! So jangan menyerah buat lu yang kalah ganteng dari gw. Hahahaha :))
6. Walaupun gombal adalah bentuk penipuan.. bukan berarti bisa tipu2 banget. Sesuaikan kondisi dan situasi lu! Jangan cerita soal bintang, kalo tempatnya lagi siang bolong kepanasan. :hammer:
7. Kepribadian yang paling disuka cewe, kira-kira begini; a). berani b). memberi bukti c). humoris d). dewasa
Dan inilah sebagian kumpulan rayuan gombal yang paling gw suka.. sekedar kompilasi, kalau-kalau ada yang butuh, khususnya bagi mereka suami istri.
DUA BINTANG
Cowo : Langit malam ini ga indah yaa…
Cewe : Emang knapa?
Cowo : Karena 2 bintang terindah nya ada di mata kamu….(by SuperDong)
BUKTI ?!!
Cowo : Mbak-mbak, maaf ya…
Cewe : Knapa?
Cowo : Minta tolong sebentar jangan bergerak…
Cewe : ?? Emang knapa mas? (Bingung karna ga kenal ama si cowo)
Cowo : Saya perlu bukti, jadi saya foto sebentar pake Handphone saya ya.. (cklik!! sambil ambil foto pake HP)
Cewe : ????? (tambah bingung) Bukti buat apa ya???
Cowo : Ngga….. Kmaren temen saya bilang ga ada tuh yang namanya “Cewek secantik bidadari”. Dengan foto ini saya mau tunjukin kalo dia salah….
Cewe: ???????? Oya? (Mukanya merah…..) Nama mas siapa?
HARI SPESIAL
Co : Hari ini ada yang SPESIAL deh
Ce : Apanya yang SPESIAL?
Co : Soalnya hari ini kamu cantiiiikkkk sekali
(by opomane)
CANTIK BAGT SI ??
Ngeliatin dia…
Pas dia mulai protes…
Sambil garuk2 kpala bilang “arghhh km kok cantik bgt sih….”
(by w0rm5)
SEINDAH SUNSET
“Pernah liat keindahan matahari terbenam? Aneh lho, tiap kali saya liat matahari terbenam, pasti yang saya lihat adalah kamu…”
(by Maestro)
LEWAT SMS
“Maaf, tak bisa kutulis banyak. tinta habis. semalam kugoresi langit dengan namamu.”
TULANG RUSUK
co : Akhirnya.. ketemu jg…
ce : ??? Ketemu apanya?
co : Tulang rusuk gw yg hilang…
(by dhodho)
SELAMA WAKTU ADA….
“Aku tahu aku nggak akan bisa ngasih kamu kesempatan untuk belanja di mall kayak kebanyakan cewek,
aku tahu mungkin aku nggak akan bisa njemput kamu pake mobil,
aku juga nggak akan bisa juga ngajak jalan-jalan ke tempat romantis yang mahal….
tapi aku yakin aku bisa nyayangi kamu, selama kamu mau, selama waktuku ada.”
(by sanobayu)
GOMBAL di TELEPON
kita : Halo putri..
putri : Halo…
kita : Aku baru saja jatuh….
putri : Jatuh? kok bisa? gak papa [dengan panik..dan mungkin kata2 akan bervariasi]
kita : Iya… aku jatuh… tapi aku seneng…. aku jatuh cinta sama kamu…
(by sanobayu)
DILUAR KEMAMPUANKU
Bertemu kamu adalah takdir,
Menjadi temen kamu ada pilihanku,
Tapi jatuh cinta ama kamu itu di luar kemampuanku.
(by sekia)
PAS LAGI NGAPEL
co : Say… minta kopi donk
ce : Bentar ya dibikinin yg hangat ya
co : Ok deh… jgn manis2x ya aku suka kopi pahit
ce : Syip deh… tunggu bentar
co : Jgn di cicipin say… nanti kopinya jadi manis
ce : ……….
(by Aldarion)
ABIS DINNER
co : Gmn, knyang?
ce : Iyya..
co : Mo dessert ga?
ce : Boleh..
co : Eh, salah nanya.. maxudku “mo jd dessert ga?”
ce : i’iiiiiiiih! *nyubit..
(by jazz_instinct)
JATUH DARI LANGIT ?!!
Lo tatap dia dengan penuh perasaan, trus ketika dia nanya..
Ce : “Lo kenapa sih?”
Lo : “Sakit ga sih?”
Ce : “Sakit kenapa?”
Lo : “Bidadari kaya lo, jatuh dr langit.. Sakit ga sih ?”(by SuperDong)
PUNYA PULPEN?!
co: punya pulpen gak??
ce: bwat apa??
co: bwat nulis nama kamu d hati aku..
TEMENAN?!!
cowok :”bisa kita jadi teman aja?”
cewek :”loh, kita kan emang teman..kamu gimana sih?”
cowok : “tapi, gimana bisa jadi teman aja kalo hati ini berdebar-debar setiap ngeliat kamu?”
BERNAPAS?!!
Jika aku disuruh memilih… untuk bernapas atau mencintaimu. Aku akan menggunakan napas terakhirku untuk mengatakan “aku mencintaimu”
BUNGA?!!
Cowok : eh jangan duduk deket bunga-bunga
Cewek : loh emang kenapa ?
Cowok : nanti bunga-bunganya layu
Cewek : kok bisa ?
Cowok : mereka layu karena mereka malu kalah cantik sama kamu
BULAN?!!
Cowok : kenapa malem ini gelap banget ya
Cewek : mendung kali bang
Cowok : kayaknya nggak dech
Cewek : trus napa bang
Cowok : soalnya bulannya sedang menerangi dan menemaniku disini
BIDADARI JATUH?!!
Lo tatap dia dengan penuh perasaan, trus ketika dia nanya “Lo kenapa sih?”
Lo tanya ke dia “Sakit ga sih?”
Cewek : Sakit kenapa?
Lo: Bidadari kaya lo, jatuh dr langit.. Sakit ga sih?
LARI-LARI?!!
Cowok : Neng kamu capek gak?
Cewek : Hah? (bingung)
Cowok : Soalnya eneng berlari-lari terus di pikiran abang
PEMILU?!!
paling enggak nyambung kamu tau gak.. pemilu kemaren aku gak milih sby..
TP AKU MILIH KAMU
JATUH?!!
Aku udah pernah jatuh dari jembatan,
aku udah pernah jatuh dari tangga.
Semuanya gak enak.
Tapi ada satu jatuh yang paling enak, yaitu jatuh
cinta sama kamu
MATA?!!
cowo: hmmm,mba mba aduh liat ga si mba ada yang jatuh nih barusan
cw:ha? knp mas?? ada apa mungkin saya bisa bantu cariin,apa yang jatuh mas?.
cowo: hatiku mba yang jatuh ketika melihat mata mu,
SAYAP?!!
co: (ngeliatin punggung cewenya)
ce: "kenapa c liatin punggung aq aja?"
co: "aku baru sadar ada bidadari yg ga punya sayap..."
ce: malu
KHAYANGAN?!!
cowo: kamu tau gak kalau khayangan lagi gempar sekarang
cewe: hah ?? kenapa emang??
cowo: soalnya bidadarinya yang paling cantik ilang satu, ni sekarang ada sebelah aku..
PELANGI?!!
kamu tau gak kenapa pelangi hanya setengah lingkaran ? || enggak, emngnya knp? || karna setengahnya lagi ada di mata kmu
28 OKTOBER?!!
Co : Neng, tau enggak 28 Oktober hari apa?
Ce : Hari Sumpah Pemuda bang
Co : Eh, salah !
Ce : Loh ? Emang hari apaan?
Co : 28 Oktober 2010 itu hari Sumpah Aku Sayang Kammu
1000 BINTANG?!!
Cowok : eh..eh.. tw ga ? kemaren malem , aq liat 1000 bntang lloh.,
cewek : yang bner ?
cowok : iya ,, tp td pgi aq liat bntangnya tnggal 999 , trus yg 1 dmana dong ?
cewek : ga tau ? mang dmna ?
cowok : di mata kmu ..
cewek : iih., gombal deh .,
1000 RUPIAH?!!
co : neng ada uang seribu gak ?
ce : gak ada mas, untuk apa emang nya mas ,
co : untuk bayar parkiran di hati mu !
PUTUS??!!
cow : yank kyak’y qta hrs ptuss,.,.
cew : iihh,.,.napa sich yank ( marah-marah),.,.
cow : pkoknya qta hrs putus,,.,.,
cew : mank salah aq apa,.,.???
cow : ng da .,.koq,.,
cew : trs,.kq qta ptus,.,.??
cow : qta hrs PUTUSkan kapan aq hrs melamar qmu ke ortu mu.
cew : iihhhhh,,..sayaaaaaaannnnnnnkk,.,.muachhhhhh,.,.
GENTAYANGAN?!!
CO :kamu tau gak bedanya arwah penasaran sama kamu?
CE :emang apa beda nya?
CO :hemmph klo arwah penasaran gentayangan nya di alam laen, tapi kalo kamu gentayangan di hati ku …
PEMADAM KEBAKARAN?!!
cwok: Tlonk panggil kan pmadan donk!!!
cwek: mank npaa??
Cwok: soal.a hati que membara lw dket” ma mue!!
cwek: Hiks,, knal gombal lagge nich
GEMUK?!!
M : Kamu tau ga kenapa semakin hari aku semakin gemuk?
F : Ga tau, emg knpa?
M : Karna semakin hari cintaku ke kamu semakin berat….
Hehehe... sekian dulu kompilasinya. Ibarat pisau, gombalan ini harap dipergunakan sesuai tempatnya. Wanita adalah mereka yang juga telah melahirkanmu! Maka harus kamu jaga seperti kamu sayang sama ibumu..
"Dan perlakukanlah istri-istrimu dengan baik..." (QS An-Nisa).
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Sabtu, November 12, 2011
Maaf
gelung cincin ini masih terpasang erat
melepasnya,
mengendurkannya,..
ingin sebenarnya membuat jemari tangan ini sedikit bernapas
tapi ahr... rasanya ga bisa
hati ini terikat kuat
melepasnya, sama saja melepaskan separuh jiwa
aku pun terlelap, dengan gelung cincin itu
masih melingkar di jari manis kanan
berat tuk menggenggamnya,
lebih berat lagi buat melepasnya
semua bermula saat kata maaf tak kunjung bertuah jawaban
jangankan berucap maaf,
tuk mengerti kenapa harus meminta maaf pun tak terpikir sebelumnya
sampai kemudian sebuah cerita,
sadarkan khilafku
ingin rasanya kembali ke masa lalu
mengulang kembali renda-renda yang sempat terangkai
kembali menata puzzle demi puzzle
tentang arti hidup
tentang arti bahagia
dan tentang arti cinta..
tapi apa daya..
manusia seringkali khilaf
dan kembali ke masa lalu adalah hal paling mustahil
sementara penyesalan adalah penyakit hati paling menyakitkan
hingga sebuah khutbah Jum'at mengingatkanku,
"sesungguhnya malaikat, merasakan sakit sebagaimana manusia merasakannya.."
malaikat juga tak senang bila ada orang, membuat orang di sekitarnya merasa terganggu
dan hilanglah rahmat bersama perginya sang malaikat
degh!
maaf,... maaf.. dan maaf..
kata-kata itu terus berputar dalam perjalanan hari selanjutnya
meski begitu, keinginan menata ulang sang puzzle juga tak berkurang
dan lalu hari ini, sebuah majlis di masjid Azhar
Syekh Yusri menegaskan
sesungguhnya perlakukanlah manusia,
sebagaimana engkau ingin agar Allah memperlakukanmu seperti itu
bersikaplah lembut, bila engkau ingin Allah lembut pula kepadamu
dan bersikaplah pemaaf, bila engkau ingin Allah juga pengampun atas dosa-dosamu..
meski benar, bahwa aku ingin mencintai hanya karena-Mu
tapi jalan menuju ke sana tak semudah itu
maka, maafkanlah..
dan bersikaplah bijaksana
aku pun tak tahu lagi, bagaimana Engkau akan memberiku takdir
yang aku tahu, segala yang Engkau berikan adalah ujian untukku
aku pun menutup mata siang itu, dengan doa sederhana
"duhai Allah, jika hal ini adalah baik bagiku, agamaku, dan hidupku..
maka mudahkanlah dan takdirkanlah untukku
namun bila hal ini buruk untukku, agamaku dan hidupku
maka jauhkanlah hal itu dariku dan jauhkanlah aku darinya..
maka berikanlah aku takdir yang baik dari-Mu
kemudian berilah aku keridhaan atas keputusan-Mu itu"
maafkan aku ya, bunda.
#sore yang melelahkan, di atas pembaringan, Nasr City, Cairo 2011
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Kamis, November 10, 2011
Negara Islam di Mata Agus Mustofa
JAWA POS - PERBINCANGAN seputar Islam dan negara hampir selalu menarik untuk diangkat. Tak saja karena ia bersinggungan secara ideologis dengan 1,57 miliar pemeluknya di seluruh dunia, tetapi juga bisa menimbulkan konflik bahkan disintegrasi dan perang yang tak berkesudahan. Perbedaan pendapat dalam masalah itu bukan saja perbedaan yang paling pertama terjadi di kalangan umat Islam, tapi juga perbedaan yang paling ''rawan'' dan paling sering memakan korban.
Realita itulah yang bahkan bisa kita lihat sejak masa-masa awal Islam, tepatnya setelah Rasulullah wafat. Perang Jamal adalah perang internal pertama umat Islam. Perang itu pun terjadi karena perbedaan pendapat dalam soal kebijakan pemerintah. Siti Aisyah ketika itu mengangkat senjata kepada Ali. Siti Aisyah, Talhah, dan Zubair menghendaki persoalan pembunuhan Usman diselesaikan
secepatnya. Sementara itu, Ali yang sudah dibaiat sebagian sahabat merasa kondisi yang masih kacau belum memungkinkan untuk pelaksanaan qishas. Hingga kemudian terjadilah perang Jamal tersebut.
Adapun dalam kaitannya dengan realitas kekinian, Agus Mustofa dalam bukunya ini mencoba bertanya, ''Manakah menurut Anda negara Islam yang paling islami: Arab Saudi, Iran, Iraq, Mesir, Sudan, Afghanistan, Jordania, Pakistan, Malaysia, ataukah Brunei Darussalam?''
Sebuah pertanyaan sederhana namun tak mudah untuk dijawab. Ketika kita menyodorkan Arab Saudi yang menerapkan syariah Islam, ternyata di sana masih ada kebijakan yang mengekang wanita. Di sana, kita juga mendapati bentuk pemerintahan yang berbentuk kerajaan. Padahal, kita tahu bahwa Rasulullah selaku pemimpin negara Madinah ketika itu tidaklah disebut sebagai raja dan tidak mewariskan tampuk kepemimpinan kepada kerabatnya. Tidak juga Abu Bakar, Umar, Ustman, maupun Ali.
Demikian juga ketika kita berbicara tentang Mesir, Prof Dr Rafaat -anggota Komisi Fikih dan Fatwa Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah Mesir- dengan tegas menyatakan bahwa sebenarnya masyarakat Mesir sangatlah dekat dengan ulama. Namun, juga tak bisa dimungkiri bahwa bentuk resmi negara Mesir adalah negara sekuler.
Lantas, bagaimana sebenarnya bentuk negara yang islami itu?
Perbedaan-perbedaan bentuk pemerintahan ''islami'' di negara berpenduduk muslim adalah sebuah realitas yang tak terbantahkan. Ada yang tekstualis seperti Arab Saudi, namun ada juga yang substansialis semisal Mesir dan Indonesia. Lalu, di mana posisi Agus Mustofa? ''Buku yang saya tulis ini bukan dalam rangka memperjelas berbagai perbedaan-perbedaan itu, melainkan justru menyodorkan titik temu antara berbagai kalangan dengan harapan mudah-mudahan umat Islam bisa memiliki pandangan yang senada dalam hal ini,'' tulisnya dalam kata pengantar buku ke-27 serial diskusi tasawuf modernnya itu.
Agus Mustofa tidak sedang berdiri di kanan ataupun kiri, tapi dia sedang menawarkan sebuah pandangan alternatif. Hanya, berbeda dengan tulisan-tulisan ilmiah berbobot lain, Agus Mustofa mengemas persoalan paling pelik dalam umat Islam itu menjadi seperti kacang goreng. Renyah, ringan, namun bergizi. Dan, tetap dengan gaya tulisannya yang mampu menyihir para pembaca setianya, sebuah buku bergizi tinggi dengan rasa dialog dan diskusi interaktif. Tak heran, kemudian judul yang diangkatnya adalah sebuah kalimat tanya tanpa tanda tanya, Perlukah Negara Islam.
Agus Mustofa memilah buku tersebut menjadi empat bagian. Dia mengawali buku ini dengan kata pengantar singkat seputar Reformulasi Negara Islam. Bagaimana seharusnya kita melihat realitas perbedaan bentuk negara muslim dan seperti apa sesungguhnya frame work bentuk negara yang islami itu. Dengan harapan, sebelum akhirnya kita bisa memformulasi sebuah jawaban dari pertanyaan, Perlukah Negara Islam, kita bisa mengenal terlebih dahulu alur peta perjalanannya.
Di bagian pertama bangunan pemikirannya, dia mengawalinya dengan ragam potret realitas negara-negara muslim modern. Di sini dia mencoba menyusun puzzle-puzzle pemahaman yang berserakan, terkait apa itu negara Islam. Dengan runtut dia paparkan warna-warni bentuk negara muslim modern. Ada yang bersifat demografis, kerja sama lintas negara semisal OKI (Organisasi Konferensi Islam), hingga persoalan penerapan syariat Islam di berbagai negara berikut kritiknya.
Bagian kedua buku ini membahas bentuk-bentuk pemerintahan masa Islam klasik. Dimulai dengan analisis masa Abbasiyah, kemudian Muawiyah, hingga masa Khulafaurrasyidin. Yang terakhir adalah potret seperti apa negara yang Rasulullah bentuk selama memegang tampuk pemimpin pemerintahan di Madinah.
Sekilas terlihat aneh, ketika Agus Mustofa membangun pemikirannya itu dengan alur mundur. Tapi, keanehan tersebut terjawab ketika kita telah sampai di subjudul terakhir bab ini, yaitu masa pemerintahan Rasulullah. Sebuah masa yang sudah seharusnya kita jadikan sumber rujukan, termasuk dalam usaha reformulasi negara Islam.
Perang dan terorisme menjadi isu utama bagian ketiga dari buku ini. Terorisme dan perang adalah dua isu utama yang sering dibenturkan kepada Islam. Entah sudah berapa ribu tulisan menyoroti isu perang dalam Islam. Hingga kemudian, terpatrilah sebuah premis, Islam disebarkan dengan pedang. Agus Mustofa menjawabnya dengan lincah. Mulai bagaimana sesungguhnya situasi ketika perintah perang itu turun dan apa saja aturan main dalam Islam ketika perang. Islam tidak berperang tanpa alasan dan tidak membunuh hanya karena perbedaan.
Bahasannya soal distorsi makna jihad kembali menjadi bukti baru bahwa perang istilah itu ada dan amat berbahaya. Hasilnya, jihad pun menjadi lekat dengan usaha teror umat Islam dan perang melawan kaum kafir. Padahal, jihad, dalam arti umumnya, bermakna perjuangan dan usaha keras. Sementara dalam Alquran, menurut Agus Mustofa, di antara lima pengertian jihad yang ada, menariknya hanya ada satu yang bermakna perang fisik. Lantas, bagaimana mungkin jihad diartikan hanya dengan satu makna tunggal, yaitu terorisme?
Terakhir, Agus Mustofa menutup bab ''tambahan'' ini dengan kesimpulan tegas bahwa pada saat tertentu tindakan perang pun bisa jadi adalah hal yang sangat rasional, bahkan bagi pencinta kedamaian di mana pun mereka berada. Di bagian akhir buku ini, sampai pulalah kita pada sebuah formulasi negara Islam. Setelah diperbincangkan terlebih dahulu soal gambaran konsep sebuah negara madani hingga akhirnya kita siap memformulasikan jawaban, Perlukah Negara Islam.
Sebagaimana buku-buku Agus Mustofa lain, dia kerap mengangkat tema atau bahkan judul yang sebagian orang bilang kontroversial. Namun, kiranya ada satu hal menarik yang perlu dicatat. Agus Mustofa menulis dan mengangkat judul buku-bukunya tersebut dengan jujur dan bertanggung jawab. Dalam arti, tidak hanya menarik minat pasar dengan bombastisisme judul, tapi dia benar-benar jujur bahwa apa yang dia angkat sebagai judul adalah kesimpulan isi bukunya. Itulah salah satu kekuatan utama buku-bukunya hingga selalu berhasil menjadi best seller di pasaran, selain gaya bahasanya yang ringan dan membumi tentunya. (*)
*) Nailunni'am , mahasiswa Jurusan Tafsir Universitas al-Azhar Mesir dan
Pimpinan Umum Majalah La Tansa IKPM Kairo
Judul Buku: Perlukah Negara Islam
Penulis: Agus Mustofa
Penerbit: Padma Press, Surabaya
Cetakan: I, Juli 2010
Tebal: 272 halaman
Sumber: JawaPos.co.id
Resensi ini terbit pada [ Minggu, 01 Agustus 2010 ] di Jawa Pos
Selasa, Juli 26, 2011
Indonesia's Mission Impossible!
Bercerita tentang persoalan bangsa kita memang tak pernah ada habisnya. Hingga tak sedikit orang yang kemudian menjadi apatis karenanya. Jangankan berbuat sesuatu, berkorban apalagi membela bangsa ini dengan karya nyata, bahkan untuk sekedar melihat persoalan bangsa kita pun tak banyak orang yang mau memikirkannya. Sebagian bilang itu tak berguna, toh apa yang kita pikirkan tak akan mengubah apa-apa. Ada juga yang bilang, lebih baik mikirin diri sendiri, lebih kongkrit, yang penting kebutuhan hidup bisa kita penuhi. Ada lagi yang bilang, bangsa ini sudah terlalu sakit. Terlalu besar untuk menjadi sebuah negara!
Kompleksitas persoalan bangsa ini memang banyak yang mengakui. Atau menggerutui, mengeluhkan dan merasa desperate, putus asa. Mulai dari persoalan pertikaian antar kelompok agama, panggung sandiwara politik, penjajahan ekonomi oleh kapitalis, permainan kebutuhan pokok rakyat, hingga yang paling menyedihkan adalah kemandulan hukum yang serba tebang pilih. Masih teringat dalam benak penulis, seorang pencuri spion mobil, mati dikeroyok massa. Ya, satu nyawa untuk sebuah spion mobil. Sedangkan di sana, ratusan juta, miliaran, bahkan penilepan triliun dana negara, pelakunya cuma dikenakan hukuman penjara. Belum termasuk remisi-remisi hukuman pada momen tertentu!
Tentu masih terekam jelas dalam benak kita, nama seorang pegawai pajak yang jadi sangat terkenal hingga di jagad Youtube. Yupz, Gayus Tambunan. Namanya pertama kali disebut oleh mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Susno menyebutkan Gayus memiliki Rp 25 miliar di rekeningnya, namun hanya Rp 395 juta yang dijadikan pidana dan disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar tidak jelas. Salah satu yang jadi pertanyaan, mengapa hanya Gayus yang ditangkap? Dulu pernah santer diberitakan bahwa Gayus akan membongkar semua orang-orang yang terkait dengan penilepan pajak. Tapi nyatanya, cuma Gayus yang hingga saat ini jadi tumbal.
Setali tiga uang dengan kasus Gayus, Susno Duadji pun sempat akan membeberkan ‘kelakuan nakal’ para petinggi POLRI. Kasusnya sempat menghiasi headline-headline semua media massa. Tentu itu bukan sekedar kicauan sembarangan. Di dalamnya ia berkoar akan membongkar semua borok-borok Jendral di tubuh POLRI, mempermainkan kasus demi uang, memeras pengusaha, dan memelihara budaya setoran dari anak buah. Maka timbullah pertanyaan, POLRI, melindungi dan melayani siapa? Istilah Markus, alias makelar kasus pun menambah ‘entri’ baru dalam kamus bahasa kita.
Ini baru dari bidang pajak dan penegak hukum. Belum lagi kasus lumpur Lapindo yang sangat menyakitkan. Ganti rugi yang hingga kini masih jadi mimpi di siang bolong. Lapindo, adalah sebuah kasus permainan dan kongkalikong pemerintah dengan Bakrie. Benar bahwa Lapindo terbukti tidak bersalah karena sesuai dengan aturan pemerintah. Akan tetapi, aturannya itu yang memang dibuat supaya Lapindo tidak bersalah! Tak heran bila kemudian pengadilan memenangkan Lapindo.
Kasus penjajahan ekonomi oleh TNC (Trans National Company), perusahaan multinasional. Perusahaan yang mengeruk kekayaan alam negeri ini, dan meninggalkannya dengan sedikit cipratan. Sedikit untuk rakyat daerah dan sedikit untuk pejabat! Dengan dalih belum menguasai teknologi, pemerintah membuat kontrak pengurasan kekayaan negara hingga 30 tahun. Itu pun masih bisa diperpanjang lagi!
Sistemik, kata temen penulis. Dimulai dari para pembuat kebijakan, hingga kelompok masyarakat terendah turut berperan. Apa mau dikata, keboborokan pemerintah kita mengatur negara ini, tentu tidak bisa dilepaskan dari akumulasi sikap kita sehari-hari. Berapa banyak dari kita yang sudah bekerja keras, berfikir keras dan bersabar keras?? Kalau baru ditempa dengan ujian di Azhar aja kita udah sering mengeluh, bagaimana kita akan menghadapi kompleksnya persoalan bangsa ini?
Sekali lagi kata temen penulis, mental asal menyalahkan penguasa adalah mental bawahan. Segala sesuatu hanya ia gantungkan kepada mereka yang ada di atasnya. Kalau ada yang gak beres, maka pemerintah yang salah. Tanpa pernah melihat apalagi berbuat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Katanya, wajar. Ini karena kita dijajah, dan terbiasa menjadi bangsa jajahan. Sebelum dijajah Belanda, bangsa ini adalah bangsa pelayan di bawah ketiak kerajaan.
Mission impossible.
Begitu sebut penulis suatu waktu. Sebuah pernyataan yang sama, setiap kali selesai mendiskusikan ragam persoalan bangsa ini. Mulai dari kaburnya para ilmuwan kita. Penanganan industri strategis yang hanya memihak asing. Hingga masa depan suram, generasi penerus bangsa ini.
Hingga hari itu datang. Saat di mana penulis melihat wajah-wajah saudara dekat. Melihat semangat yang sama. Merasakan gelora dan optimisme yang tak pernah padam. Dan setruman-setruman baru dari mereka yang kita cintai. Ya, sebuah momen di sebuah tempat yang prestisius. Dengan wacana prestisius. Dan diisi oleh orang-orang prestius!
Harapan itu masih ada. Gedung Bhinneka, KBRI Cairo, Garden City. Dalam sebuah bingkai cerita sejarah, Konferensi Internasional IKPM.
Ust. Akrim menyebutnya, membangun bangsa ini terlihat jalan di tempat. Tak lain karena, saat yang lain mencoba membangun salah satu bagiannya, di saat yang sama, muncul orang lain menghancurkannya. Maka bagaimana mungkin bangunan itu akan berdiri? Memang sulit, kata beliau, dan memang sulit. Kita tidak bisa membangunnya sendirian. Kita harus bersama-sama, sinergis, dan simultan!
Perjalanan itu masih sangat panjang.. akan tetapi, tak pernah ada yang tak mungkin di alam mumkinat ini. Bukankah kita meyakini, bahwa “La yajibu ala Allahi fil mumkinat?”. La haula wala quwwata illa billahi. Teruslah berjalan Kawan, meski onak duri melukai kakimu. Teruslah bekerja, meski berulang kali bangunanmu mereka hancurkan. Dan teruslah berjuang, meski keringatmu telah menjadi darah.
Sejauh apapun jalan itu, ingatlah selalu, bahwa Allah tak kan pernah melupakan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu.
Tulisan ini dimuat dalam Buletin Silaturahim Internasional IKPM Edisi Perdana Juli 2011.
Download buletinnya di 4shared.com
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Minggu, Juli 17, 2011
Stop Fighting, Let it flow..
Po kemudian terbangun di sebuah desa di mana ia berasal. Ia dirawat the Soothsayer, sang kambing peramal di gubuk itu. Saat melihat boneka kecil miliknya yang telah lama tak bersua, ia pun terbawa ke alam inner peace. Kemudian mulai bergerak gemulai khas selingkung kungfunya, softcore. Saat mengalir bersama embun di tubuhnya, the Old Goat berbicara pelan padanya, "Stop fighting. Let it flow.. "
Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ku sampaikan malam itu. Di ACC (Al Azhar Conference Center), tempat di mana dilaksanakan dialog bersama Pak Habibie. Pak Habibie, pertama kali mengangkat tema soal Eyang, hehe.. Karena yang berbicara di depan kita adalah pria berumur 75 tahun, maka kata beliau, bukan lagi bapak atau om. Tapi eyang.
Acara yang diadakan kerjasama KBRI Kairo dan PPMI ini berlangsung sangat meriah. Aku sudah menduga dari awal. Makanya ketika jam menunjukkan pukul 3 sore ternyata aku masih di sekretariat, pastinya bakal lesehan nih. Dan yap, seperti perkiraanku. Sampai di sana pukul 5 sore, ruangan sudah penuh dengan mahasiswa yang berdiri. Sebagian lagi lesehan karena jumlah kursinya ga muat.
Tapi tanpa perlu lama menunggu, Pak Irwan, selaku MC kali itu, mulai membuka acara. Seperti biasa, acara formal tilawah al Quran dan anthem Indonesia Raya pun diperdengarkan. Seteleh 'berpuisi' beberapa beberapa bait, jalannya acara diserahkan kepada bapak Dubes, A.M Fachir selaku moderator.
Acara bertemakan 'Indonesia Pasca Reformasi dan Peran Lulusan Azhar' pun segera dimulai. Seperti yang ku bilang di awal, Pak Habibie bicara sebagai seorang eyang. Selanjutnya beliau bercerita tentang wawancara beliau di Mesir. "Mungkinkah kami bisa maju di tahun 2020? Bagaimana caranya? Dari mana memulai?" tanya seorang mahasiswa Mesir dalam acara tersebut.
Beliau menjawab, "Bisa. Dan itu adalah dengan nilai tambah dari sumber daya yang terbaharukan. Manusia."
Beliau kemudian menjelaskan arti penting dari nilai tambah. Bagaimana sebuah barang itu bisa bernilai. Memberi contoh mobil Marcedes dan Kijang. Plus Marcedes habis tabrakan. Harga itu yang menilai adalah pasar. Hasil dari nilai tambah dikurangi cost. Semakin besar nilai tambah, dan semakin kecil biaya cost, maka keuntungan semakin besar.
Bagaimana membuat nilai tambah itu? Kata beliau ada 3 elemen. Agama, budaya dan IPTEK. Ketika ketiga hal ini bersinergi positif, maka akan menghasilkan nilai tambah luar biasa. Dan inilah yang dibutuhkan demi sebuah kemajuan.
Selesai bercerita tentang konsep, kemudian beliau berbagi pengalaman bagaimana dulu merintis dan mengembangkan IPTN - yang kini bernama PT DI. Dimulai dari sebuah obrolan panjang dengan Pak Harto alm. Sekitar 5 jam, kata beliau. Tepatnya pada tanggal 10 Oktober 1974, beliau diminta untuk mengembangkan industri strategis negara maritim.
Ada hal yang menarik ketika itu. Pak Habibie bertanya, "Kenapa saya Pak?"
"Banyak negara-negara tetangga memberi saya nasehat. Bahwa kalau Indonesia ingin maju, maka harus meninggalkan Islam. Karena Islam adalah hambatan utama bagi sebuah kemajuan."
Suasana di ACC hening dan kaget.
"Lantas,..?"
"Saya tahu kamu, ini berkas-berkas tentangmu," kata Pak Harto sambil menunjukkan bertumpuk dokumen tentang Pak Habibie.
"Kamu puasa senin-kamis, .... nafasmu adalah al Quran. Karenanya, nanti kamu yang akan buktikan. Bahwa Indonesia, dengan Islam, pun bisa membuat sebuah kemajuan. Itu kamu."
Ruang ACC seketika bergemuruh. Sungguh aku tak pernah tahu. Ku pikir, Pak Harto setali tiga uang dengan Bung Karno yang dekat dengan komunis. Terlebih ketika mendengar kalimat pertamanya. Ternyata,..
"Duitnya, Pak?" tanya Pak Habibie setelah nampak menerima alasan penunjukan beliau.
Di sinilah titik balik alur pikiranku. Dari semula yang sangat bersemangat dan bangga dengan apa yang sudah diperbuat Pak Habibie, menjadi sebuah kemirisan.
Sebuah realita yang tak terbantahkan. Benar bahwa dulu Pak Harto bahkan pernah bilang, "Kamu buat apapun, terserah, saya akan mendukung. Bikin kapal, pesawat, kereta api, atau apapun." Namun realita sekarang, membuat para pelaku industri strategis menangis. Para ilmuwan pun kabur karena ga ada dana riset dan lapangan pengabdian. IPTEK di Indonesia jalan di tempat. Hilmi Fauzi bilang, industri ini sudah seperti zombie, it's dying.
Apa yang membuat saya miris adalah, ketika itu, ya di malam itu Pak Habibie begitu bersemangat. Menjelaskan panjang lebar dengan berapi-api tentang cerita itu. Saat CN 250 akhirnya terbang perdana tanggal 10 Agustus 1995, sebagai sebuah hadiah bagi Indonesia... Sebagai sebuah pesawat pertama yang menggunakan teknologi fly by wire di dunia. IPTN sebagai sebuah perusahaan pertama dan satu-satunya, yang memproduksi semua komponen pesawatnya. Dan semua ini, hasil dari orang-orang Indonesia. Kita mampu!
Hampir semua yang ada di ACC tertegun bangga saat film itu diputar. Bagaimana pesawat bernama Gatotkaca itu terbang tinggi dan bermanuver. Kemudian mendarat dengan sempurna. Tapi tak banyak yang ingat, bahwa tanggal itu adalah tahun 1995. Lima Belas tahun yang lalu Bung!! Dan sekarang? Hm.. Wajah itu terlihat bersemangat. Tapi aku yakin, dalam hati beliau bersedih. Melepaskan IPTN dan meninggalkan Indonesia.
Pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalaku. Hingga, hampir-hampir aku tak terlalu memperhatikan apa yang beliau sampaikan. Terlebih karena suara beliau yang kadang kurang jelas, tercampur dengan logat Germany-nya yang kental. Maka ketika sesi pertanyaan dibuka, aku segera angkat tangan. Berharap Pak Fachir bakal menunjukku. Tapi ternyata tidak. Aku harus membawa pulang pertanyaan-pertanyaan itu sampai di kamar.
Satu-satunya kalimat semangat yang ku ingat adalah, "you perform!" Semua itu karena perform. Bukan ngomong doang. Bukan polemik. Apalagi tawar menawar politik.
Sambil membawa ratusan - lebay dikit, - pertanyaan, aku pulang ke sekretariat. Sengaja aku jalan dari mahattah gami' menuju KSW dengan jalan kaki. Sambil menikmati malam dan membawa terbang angan-angan.
Sampai kemudian saat tiba di kamar, temenku lagi nyetel film Kunfu Panda 2. Aku pun jadi asyik duduk. Sedikit lupa dengan pertanyaan tadi. Hingga ketika sampai di suatu adegan, saat Po terkena tembakan meriam si Peacock. Po terjebak dan tak mampu menghindar. Terlebih karena ketika itu ia harus bertarung dengan masa lalu. Sebuah pertanyaan, "who am I?".
Po kemudian terbangun di sebuah desa di mana ia berasal. Ia dirawat the Soothsayer, sang kambing peramal di gubuk itu. Saat melihat boneka kecil miliknya yang telah lama tak bersua, ia pun terbawa ke alam inner peace. Kemudian mulai bergerak gemulai khas selingkung kungfunya, softcore. Saat mengalir bersama embun di tubuhnya, the Old Goat berbicara pelan padanya, "Stop fighting. Let it flow.. "
Aku tertegun dengan kalimat ini. Stop fighting. Hm... iya. Ternyata banyak dari kita, lebih sering bertarung dengan masa lalu. Menyalahkan apa yang sudah terjadi. Kesalahan kita. Kesalahan orang. Kedzaliman mereka. Ketidak-aturan di dunia. Keserakahan negara-negara kapitalis. Dan yang lebih menyesakkan adalah, para korporasi besar yang membuat negara ini jajahan oportunis! Termasuk saat melihat diriku. Ku lihat di sana sebuah pertarungan tak pernah usai. Antara memori dan masa kini.
Stop fighting dude,..
Berhentilah bertarung dan menyalahkan masa lalumu. Ia tak kan berubah. Kau juga tak kan pernah menang. Tapi yang pasti engkau akan semakin terluka. Berdamailah.. terima masa lalumu dan maafkan realita dirimu.
Let it flow..
"The only thing that matters is what you choose to be now.”
Terima kasih Pak Habibie. Semangat dan pesan Bapak akan selalu kami ingat. Ketegaranmu berdamai dengan masa lalu, tampak sekali dengan suara lantang itu. Melihat IPTN pelan-pelan mati seharusnya benar-benar menyakitkan untuk Bapak. Tapi bukan itu, bukan itu yang engkau bagikan kepada kami. Bukan rasa sakit. Tapi semangat untuk memilih, what ought we choose to be now!
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Sabtu, Juli 09, 2011
Pengumuman Calon Mahasiswa Al Azhar Mesir 2011-2012
PENGUMUMAN
Nomor : Dj.I/Dt.I.IV/4/HM.00/1206/2011
Berkaitan dengan seleksi calon mahasiswa baru dari Indonesia ke Universitas Al-Azhar Mesir tahun akademik 2011-2012, dengan ini disampaikan bahwa :
1. Sejak tahun 2011 Al-Azhar mewajibkan bahwa semua ijazah Madrasah Aliyah dan Pondok Pesantren yang telah mu'adalah harus diperbaharui kembali sebagai syarat untuk studi ke Universitas Al-Azhar.
2. Namun dikarenakan pengurusan mu'adalah ijazah dimaksud membutuhkan waktu sekitar 3 atau 4 bulan, maka Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama memutuskan pada tahun 2011 ini tidak melakukan seleksi mahasiswa baru ke Univ. Al-Azhar. Keputusan ini diambil sampai ada ketentuan lebih lanjut.
Demikian pengumuman ini, harap maklum adanya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Jakarta, 23 Juni 2011
An. Direktur Jenderal
Direktur Pendidikan Tinggi Islam
Ttd.
Prof. Dr. H. Machasin, MA
NIP. 19561013 198103 1 003
Tembusan :
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (sebagai laporan)
-----
Sumber: http://www.diterptais.net
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Sabtu, Mei 07, 2011
PENGUMUMAN BEASISWA UNIV. AZHAR MESIR 2011-2012
PENGUMUMAN BEASISWA UNIV. AZHAR MESIR
TAHUN AKADEMIK 2011-2012
Nomor : Dt.I.IV/4/PP.009/129/2011
Menunjuk surat Kedutaan Besar Republik Mesir di Jakarta bahwa Universitas Al-Azhar Mesir memberikan tawaran beasiswa bagi putra-putri Indonesia untuk melanjutkan studi kesana untuk tahun akademik 2011-2012 dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Pelaksanaan seleksi akan dilaksanakan selama seminggu dimulai dari tanggal 16 Mei 2011 di Kedutaan Besar Republik Mesir Jalan Teuku Umar No. 68 Jakarta Pusat Telp. (021) 31931141
2. Materi ujian meliputi ; Hafalan Al-Qur'an, Bahasa Arab, dan Pengetahuan Agama Islam .
3. Info selengkapnya menyangkut pendaftaran, persyaratan seleksi, waktu ujian dan pengumuman kelulusan dapat ditanyakan langsung ke Kedubes Mesir Jakarta.
Demikian, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, 5 Mei 2011
Direktur Pendidikan Tinggi Islam
ttd
Prof. Dr. H. Machasin, MA
NIP. 19561013 198103 1 003
-------------------------------------------------------
UPDATE:
Untuk pengumuman HASIL UJIAN, sebagaimana sudah tertera di atas, agar MENGHUBUNGI pihak Kedutaan Besar Mesir di Jakarta, dengan alamat sebagai berikut:
Jl. Teuku Umar No. 68, Menteng Jakarta Indonesia
Phone:
+6221-3143440
+6221-31935350
+6221-31931141
Fax:
+6221-3145073
Email:
egypt@indosat.net.id
Website URL:
http://www.mfa.gov.eg/Missions/Indonesia/Jakarta/Embassy/en-gb - TIDAK VALID
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Jumat, Mei 06, 2011
Sekilas Pandang Dinar dan Dirham
tulisan ini adalah komentar Mirza Komera dalam status Pak Zaim Saidi dengan sedikit editing minor
Berikut ini adalah beberapa pendapat keliru tentang Dinar Dirham. Pendapat-pendapat tersebut dapat dikelompokkan kedalam dua kutub ekstrim.
PERTAMA: yang menilai dinar adalah bagian dari perekonomian Arab 1500 tahun yang lalu, sehingga tidak relevan dengan perekonomian sekarang.
1. Dinar hanya untuk closed economy: pendapat ini keliru karena pada masa Rasullah beredar dinar (dari Romawi) dan dirham (dari Persia).
# Volume transaksi perdagangan international di jazirah Arab begitu besarnya, bahkan dikenal sebagai jalur perdagangan Utara dan Selatan.
# Jalur perdagangan Utara: India, Oman, Syam, Roma; Jalur Selatan: Roma, India; serta jalur Utara-Selatan: Syam dan Yaman.
# Perdagangan Rasul menggunakan barter: pendapat ini tidak tepat, karena pada masa sebelum Rasulullah telah beredar alat tukar dinar dirham.
# Dan Rasulullah tidak melarang dinar dan dirham yang beredar di masayarakat untuk digunakan sebagai mata uang.
# Hal ini otomatis membantah pendapat yang mengatakan bahwa perdagangan pada masa Rasul menggunakan sistem barter.
2. Dengan dinar, tidak perlu adanya Bank central: pendapat ini keliru karena negara perlu mengontrol peredaran dan harga emas/perak.
# Pada masa Rasullah tidak ada bank sentral karena tidak mencetak dinar/dirham. Namun dikenal otoritas keuangan pemerintah: Baitul Mal.
# Pada masa Abdul Malik bin Marwan (74 H) ada bank sentral karena pada masa itu dinar/dirham telah dicetak oleh Daulah Islamiyah.
KEDUA : yang menilai dinar dan dirham adalah mata uang yang diridoi Allah dan Rasul, sehingga penggunaannya wajib hukumnya.
1. Dengan digunakannya dinar, otomatis terhindar dari inflasi. Pendapat keliru karena digunakannya dinar, tidak otomatis inflasi hilang.
# Bahkan pada zaman Rasul tercatat, pernah terjadi inflasi meskipun pada saat itu digunakan dinar dan dirham.
# Inflasi sebenarnya bukan merupakan fenomena yang musti ditakuti, karena tergantung penyebab dari inflasi.
# Sepanjang inflasi diakibatkan oleh supply stocks dan high cost economy (dinamika dari sektor riil) maka itu tidak menjadi masalah.
# Lain halnya jika diakibatkan oleh money creation tanpa diimbangi kebutuhan dari sektor riil.
2. Dinar adalah mata uang Islam. Anggapan sebagian masayarakat bahwa dinar berasal dan merupakan milik Islam adalah sebuah kekeliruan.
# Pada kenyataannya sejarah mendapati bahwa dinar berasal dari Roma dan dirham berasal dari Persia.
# Bahkan nama dinar sendiri diambil dari nama raja Roma yang bernama ”Dinarius”, sedangkan dirham diambil dari bahasa Yunani Kuno ”Drahms”.
# Penggunaan dinar akan menghapuskan riba. Ini tidak benar. Riba pun dipraktekkan secara luas pada masa Rasulullah meski ada Dinar Dirham.
# Riba dihapus secara bertahap bahkan sampai dengan Khutbatul Wada’ riba masih dilakukan oleh sahabat Rasulullah.
-Multisumber-
kesimpulan: sebagaimana yang sudah sering saya bilang, bahwa dinar dan dirham itu hanyalah mata uang yang sifatnya netral. sifatnya sama persis seperti mata uang lain, termasuk rupiah. dan menurut saya, satu-satunya jalan untuk mencapai bentuk ekonomi yang lebih adil dan sejahtera, adalah dengan mencari sistem alternatif baru yang tidak melulu berpusat pada keuntungan pemodal semata.
pertanyaan yang sangat menohok bagi pemuja ekonomi kapitalis adalah; "Mungkinkah kita bisa mengurangi kemiskinan bila keinginan terdalam kita justru selalu berusaha menjauhkan mereka dari menikmati harta yang kita peroleh?"
ini sama seperti sikap Qarun, sebagaimana diceritakan dalam al Quran (al Qoshos: 78), "Innama utituhu ala ilmin indi" Sesungguhnya, apa yang kudapatkan adalah dari amal perbuatanku sendiri.. (neilhoja)
Wallahu a'lamu bisshowab.

--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."
Berikut ini adalah beberapa pendapat keliru tentang Dinar Dirham. Pendapat-pendapat tersebut dapat dikelompokkan kedalam dua kutub ekstrim.
PERTAMA: yang menilai dinar adalah bagian dari perekonomian Arab 1500 tahun yang lalu, sehingga tidak relevan dengan perekonomian sekarang.
1. Dinar hanya untuk closed economy: pendapat ini keliru karena pada masa Rasullah beredar dinar (dari Romawi) dan dirham (dari Persia).
# Volume transaksi perdagangan international di jazirah Arab begitu besarnya, bahkan dikenal sebagai jalur perdagangan Utara dan Selatan.
# Jalur perdagangan Utara: India, Oman, Syam, Roma; Jalur Selatan: Roma, India; serta jalur Utara-Selatan: Syam dan Yaman.
# Perdagangan Rasul menggunakan barter: pendapat ini tidak tepat, karena pada masa sebelum Rasulullah telah beredar alat tukar dinar dirham.
# Dan Rasulullah tidak melarang dinar dan dirham yang beredar di masayarakat untuk digunakan sebagai mata uang.
# Hal ini otomatis membantah pendapat yang mengatakan bahwa perdagangan pada masa Rasul menggunakan sistem barter.
2. Dengan dinar, tidak perlu adanya Bank central: pendapat ini keliru karena negara perlu mengontrol peredaran dan harga emas/perak.
# Pada masa Rasullah tidak ada bank sentral karena tidak mencetak dinar/dirham. Namun dikenal otoritas keuangan pemerintah: Baitul Mal.
# Pada masa Abdul Malik bin Marwan (74 H) ada bank sentral karena pada masa itu dinar/dirham telah dicetak oleh Daulah Islamiyah.
KEDUA : yang menilai dinar dan dirham adalah mata uang yang diridoi Allah dan Rasul, sehingga penggunaannya wajib hukumnya.
1. Dengan digunakannya dinar, otomatis terhindar dari inflasi. Pendapat keliru karena digunakannya dinar, tidak otomatis inflasi hilang.
# Bahkan pada zaman Rasul tercatat, pernah terjadi inflasi meskipun pada saat itu digunakan dinar dan dirham.
# Inflasi sebenarnya bukan merupakan fenomena yang musti ditakuti, karena tergantung penyebab dari inflasi.
# Sepanjang inflasi diakibatkan oleh supply stocks dan high cost economy (dinamika dari sektor riil) maka itu tidak menjadi masalah.
# Lain halnya jika diakibatkan oleh money creation tanpa diimbangi kebutuhan dari sektor riil.
2. Dinar adalah mata uang Islam. Anggapan sebagian masayarakat bahwa dinar berasal dan merupakan milik Islam adalah sebuah kekeliruan.
# Pada kenyataannya sejarah mendapati bahwa dinar berasal dari Roma dan dirham berasal dari Persia.
# Bahkan nama dinar sendiri diambil dari nama raja Roma yang bernama ”Dinarius”, sedangkan dirham diambil dari bahasa Yunani Kuno ”Drahms”.
# Penggunaan dinar akan menghapuskan riba. Ini tidak benar. Riba pun dipraktekkan secara luas pada masa Rasulullah meski ada Dinar Dirham.
# Riba dihapus secara bertahap bahkan sampai dengan Khutbatul Wada’ riba masih dilakukan oleh sahabat Rasulullah.
-Multisumber-
kesimpulan: sebagaimana yang sudah sering saya bilang, bahwa dinar dan dirham itu hanyalah mata uang yang sifatnya netral. sifatnya sama persis seperti mata uang lain, termasuk rupiah. dan menurut saya, satu-satunya jalan untuk mencapai bentuk ekonomi yang lebih adil dan sejahtera, adalah dengan mencari sistem alternatif baru yang tidak melulu berpusat pada keuntungan pemodal semata.
pertanyaan yang sangat menohok bagi pemuja ekonomi kapitalis adalah; "Mungkinkah kita bisa mengurangi kemiskinan bila keinginan terdalam kita justru selalu berusaha menjauhkan mereka dari menikmati harta yang kita peroleh?"
ini sama seperti sikap Qarun, sebagaimana diceritakan dalam al Quran (al Qoshos: 78), "Innama utituhu ala ilmin indi" Sesungguhnya, apa yang kudapatkan adalah dari amal perbuatanku sendiri.. (neilhoja)
Wallahu a'lamu bisshowab.
--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."




Categories :
17.36
Mas Niam




