Sabtu, November 08, 2008

Converter Music

Buat maniak musik, melakukan perjalanan tanpa alunan nada tak bisa dibayangkan. So, tentunya dibutuhkan banyak file musik yang harusnya bisa ditampung oleh HP kita. Tapi terkadang, HP yang kita punya gak ada memori tambahan, ato kapasitas yang ada di MC terlalu sedikit... akhirnya beralih ke MP4 yang justru nambah masalah. Ribet lah, karena bawa dua tool. Atau juga seringnya beli yang baru karena gak tahan lama.

Nah buat yang doyan ama hape musik, mo bagi-bagi tips nih. Biasanya, agar space kita lebih terasa lapang, salah satunya adalah dengan mengkonvert file musik kita, dengan bitrate yang lebih kecil agar ukuran file lebih ramping. Tapi terkadang, harus mengorbankan kualitas suara yang dihasilkan. Kan, jadi ndak enak??



Tapi ups, ada trik lama tapi bagus buat memperkecil ukuran file, tanpa ngutak-ngatik kualitas suara. Hasilnya, lebih banyak lagu yang bisa ditampung ama hape kita... ASEEEEEEEEEEEK....

Caranya, dengan ngubah file mp3 kita ke file mp4. So, sebelum nerusin baca, ada baiknya liat suppportivitas (heeheheheh... bener gak tuh?) hape kita. Klik di www.gsmarena.com

Kalo udah, selanjutnya bisa download aplikasi pengkonvert mp3 ke mp4 portable dan gratisan di http://www.plunder.com/Portable-TVC-download-109116.htm

boleh diliat sendiri, tapi kalo pengen liat tutorialnya bisa klik di http://ppif.do-goo.com/tutorial-tip-trik-f4/cara-mudah-convert-mp3-ke-mp4-t12.htm

Yups, segitu aja... met mencoba hape baru kamu!!
Thanks buat admin PPI Fukuoka.


Jumat, November 07, 2008

Tes Psikopat

Are you a Psychopath ?



> Ini adalah benar-benar tes psikologi. Jika kamu dapat memberi jawaban yang tepat, maka kamu benar-benar seorang psikopat (orang gila; bahasa Inggrisnya bermain dengan kata antara "genuine psychological test" dan "genuine psychopath")



> Ini adalah cerita seorang gadis. Pada saat ada di upacara pemakaman ibunya yang baru meninggal, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang belum pernah dia kenal sebelumnya.



> Dia sungguh tertarik dengan lelaki ini. Lelaki ini adalah pria idaman yang selalu dia impikan sejak dulu sehingga dia langsung jatuh cinta. Tapi sayang sekali setelah itu laki-laki tadi menghilang dan gadis tersebut tidak pernah bertemu dengan lelaki itu lagi.



> Beberapa hari setelahnya, ada kejadian heboh. Gadis ini membunuh kakak perempuan kandungnya.







PERTANYAAN: Apa motif pembunuhan ini?






============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ========

JANGAN memindahkan kursor komputer ini sampai kamu sungguh menemukan jawabannya.



( Berhenti sejenak untuk berpikir menjawab pertanyaan ini )!!!

============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ========







> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

>

> > > > >

> > > > >

> > > > >

> > > > >

> > > > >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

>

Apakah kamu sudah mendapatkan jawaban ?

Bila belum, coba berusaha lagi. Pastikan jawabanmu jujur.....

> > > > >

> > > > >

> > > > >

> > > > >

> > > > >

>

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >

> > > > > > > > >>>> >





============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ========

JAWABAN YANG BENAR :

============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ========





> Gadis ini berharap bahwa lelaki idamannya akan muncul lagi di pemakaman kakak perempuannya.



> Jika jawabanmu benar, berarti kamu telah berpikir seperti seorang psikopat.



> Tes ini dibuat oleh seorang psikolog Amerika yang terkenal. Tes diberikan untuk mengetahi apakah seseorang memiliki mentalitas sebagai seorang pembunuh atau tidak. Banyak narapidana kasus pembunuhan disuruh menjawab tes ini, dan jawabannya benar.



> Jika jawabanmu salah, ini sungguh baik. Jika ada salah satu teman yang betul dalam menjawab, kamu perlu berpikir untuk menjauhi orang tersebut.... ^__^


Sabtu, November 01, 2008

Laskar Armada Jelajah IKPM

Selasa, 28 Oktober 2008. Pukul 3 kurang sepuluh menit sore.

Lama menunggu bus jurusan el-Sayeda Aisha dari terminal Zahra, tujuh laskar Armada Jelajah IKPM Cab. Kairo (Jamil, Nurdin, Irfan, Arwani, Niam, Ma'mun, Amien dan Zahro) mencegat tramco menuju terminal H-7. Terpaksa rute yang diambil meloncat-loncat karena bus 353 dan 65 yang biasanya langsung mengarah ke el-Sayeda Aisha itu tak kunjung datang. Begitu kami sampai, bus 24 jurusan Darrasah baru saja tiba. Masih kosong, belum banyak orang di dalam. Dari Darrasah sudah dekat, tinggal mencegat bus yang lewat benteng Shalahuddin (Saladin Citadel). Dulu salah satu Laskar Armada pernah mencoba jalan kaki dari el-Sayeda Aisha ke Darrasah. Wuih! Kaki terasa mau copot. Untung saja pemandangan sepanjang jalan tidak membosankan. Benteng Shalahuddin yang perkasa, indahnya Azhar Park hingga reruntuhan dinding kota Kairo dinasti Ayyubiyah berderet sepanjang trotoar.



Mujib–laskar ke-9 sekaligus pemandu jelajah–berdiri melambaikan tangan di depan masjid el-Sayeda Aisha. Lelaki berambut cepak ini berdomisili di asrama Bu'uts, hingga tidak perlu berangkat bareng kami dari H-10 Nasr City. Kami langsung menunaikan Shalat Ashar di masjid ini, sekaligus ziarah ke makam Sayyidah Aisyah. Beliau adalah putri Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali Zainul Abidin bin Imam Husain cucu Rasulullah Saw. Beliau terkenal ahli ibadah, di samping itu juga terkenal seorang yang sangat dermawan. Setiap hari ia bersedekah kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, meski terkadang beliau sendiri dalam keadaan ekonomi sulit. Makam beliau dilingkungi pagar besi mungkin dengan maksud agar para peziarah tidak berbuat macam-macam yang tidak sesuai syari'at. Namun ada saja yang menyelipkan uang, bahkan foto ke dalam pagar tersebut.

Selanjutnya kami menyeberang jalan, menuju makam ulama besar Imam as-Suyûthi. Nama lengkap beliau ialah Abdul Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiqudin bin al-Fakhr Usman al-Khudairi As-Suyûthi. Seorang cendikiawan dan ulama agung al-Azhar. Dilahirkan pada tahun 749H (6 tahun sebelum kematian ayahandanya) . Beliau adalah seorang pembaharu pada abad ke-9 H. Kitabnya karyanya: Jami' Saghîr Asbah wa Nazhâir ar-Rahmân, Al-Itqân, Tafsir Jalâlain, Tadrîb ar-Râwi dan lain-lain. Beliau wafat pada tahun 933 H.

Maghrib akan menjelang, untung saja Museum Mustafa Kamil belum tutup. Di dalam bangunan kecil ini terdapat makam Mustafa Kamil, tokoh nasionalisme Mesir pada masa penjajahan Inggris. Selain makam pengacara legendaris ini, disemayamkan 3 jasad tokoh lainnya; Mohammad Farid, Abdurrahman ar-Rafi'i dan Fathi Ridhwan. Seorang petugas memandu kami menjelaskan sejarah benda-benda peninggalan yang terdapat di sini. Memperkenalkan sebuah cagar budaya bernilai sejarah. Dan yang lebih penting, gratis! Tidak ada tiket masuk.

Karena sudah gelap, kami bergegas menapak Masjid Rifa'i dan Madrasah Sultan Hassan. Sayangnya bangunan terakhir sudah tutup. Padahal masjid sekaligus pusat pendidikan fikih empat mazhab pada masa Dinasti Mamalik berkuasa ini termasuk salah satu peninggalan umat Islam terbesar di dunia. Berdiri kokoh dengan dinding cokelat yang eksotis. Konon, Sultan Hassan membangun madrasah ini (1348-1351 M) menggunakan bebatuan yang diambil dari Piramida Giza. Wallahu a'lam.

Persis di sisi masjid Sultan Hassan berdiri Masjid Rifa'i (nisbah kepada Abi Syubbak Hafizh Rifa'i, seorang juru dakwah besar). Ide pembangunan masjid ini lahir dari ibu Khedive Ismail tahun 1287 H/ 1869 M dan rampung tahun 1912. Di dalam masjid Rifa'i dimakamkan beberapa raja, termasuk Fuad II (Raja Farouq, raja terakhir Mesir yang direvolusi tahun 1952). Juga ada beberapa makam Syah Iran, kaisar terakhir Parsi yang digulingkan pada 20 Februari 1979. Sekilas dua masjid ini terlihat kembar, karena memiliki model dan ketinggian hampir sama. Namun berbeda dari berbeda dari menara dan warna batu kedua bangunan.

Setelah shalat Maghrib di Masjid Rifa'i dan memuaskan diri dengan berfoto-ria, kami mengisi perut yang kosong dengan burger kofta di dekat Shalahuddin Park. Malam merayap, azan Isya tiba, kami beranjak pulang.

Rabu, Oktober 22, 2008

Kembar Identik Qadariyyah dan Mu'tazilah

Dalam pendahuluannya, Imam Asy’ari mengawali pembahasan dalam kitab al-Ibanah dengan penyebutan dua golongan ahlu azzaigh wa al-bid’ah, Mu’tazilah dan ahlu al-Qadr yang juga disebut Qadariyyah. Menarik memang, bila kita telisik asal mula dan tujuan mengapa beliau menggabungkan dua mazhab ini dalam satu kalimat dan bahkan satu pembahasan. Namun, sebelum kita melacak lebih jauh, ada baiknya kita mengenal lebih dulu, apa dan bagaimana dua golongan ini.

Mu’tazilah
Kelompok pemuja akal ini mulai muncul di kota Bashrah (Iraq), pada abad ke – 2 Hijriyah , antara tahun 105 – 110 H , tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifa Hisyam Bin Abdul Malik.
Sang pentahkik, Abu Umar Muhammad bin Ali bin Raihan – selanjutnya penulis sebut Ibn Raihan – dalam syarahnya menuliskan dua alasan penyematan nama atas golongan ini; yang pertama, “Para Jumhur Ulama memberi mereka nama tersebut karena i’tizal (menyendiri) mereka dari pendapat umum kaum muslim berkaitan dengan orang yang berbuat dosa besar.” Kaum Mu’tazilah menganggap bahwa, orang yang berdosa besar berada di antara manzilah baina manzilatain, tidak juga ia mukmin ataupun kafir.
Alasan yang kedua, dengan pemegang pendapat yang lebih sedikit, – ditulis oleh Ibn Raihan dengan kalimat qîla, pen. – “Adalah karena i’tizal pemimpin mereka Wâshil bin ‘Athâ dari majlis ilmu Hasan al-Bashrî.”

Madzhab ini sendiri berpegang pada ajaran-ajaran, semisal menafikan sifat-sifat bagi Allah dan menafikan syafaat Rasulullah bagi para pendosa besar. Seiring dengan berjalannya waktu, kelompok pemuja akal ini kemudian memiliki cabang dan kelompok-kelompok yang cukup banyak, diantaranya: al-Jubbâiyyah, adl-Dlaruriyyah, al-Jâhidziyyah dan sebagainya.

Tentang Mu’tazilah, Ibn Raihan tidak terlalu berpanjang lebar. Tanpa penjelasan yang cukup lengkap, selanjutnya ia beralih menuliskan paham sesat yang kedua, Al-Qadariyyah.

Al-Qadariyyah
Dalam sejarahnya, umat Islam telah dirumitkan dengan permasalahan Qadla dan Qadr ini sejak akhir masa Khulafa ar-Rasyidin dan di masa Umawiyyah. Tidak jelas siapa yang menjadi dalangnya ataupun yang dianggap sebagai imam dari pemikiran ini. Hanya saja, Dr. Ahmad Abdurrahim as-Sayih menyebut bahwa kelompok yang beranggapan Qadariyyah adalah Mu’tazilah. Akan tetapi, dari referensi lain, dapat disebut seorang Ma’bad al-Juhaniy, yang ia sendiri mengambil pemikiran tersebut dari seorang Nashraniy yang masuk Islam, kemudian murtad. Dan adalah Ma’bad, orang pertama yang menyebarkan diskursus ini di kalangan umat. Dan kemudian wacana ini selanjutnya diteruskan oleh Ghoylan, sebut Imam al-Auza’i menambahkan.

Ibn Rusyd, yang perkataannya dikutip Dr. Ahmad Abdurrahim as-Sayih, berkata, “Umat Islam ketika itu berselisih di masalah ini dikarenakan oleh kajian dan pemikiran atas dalil-dalil sam’iyyat (Quran dan Hadits) yang terlihat bertentangan, termasuk juga dalil akal.”

Sebagai contoh, kalaulah kehendak Allah itu syamil atas segala apa yang terjadi, lantas bagaiamana mungkin Allah menghendaki adanya kejelekan? Lalu, seandainya kita katakan bahwa kehendak-Nya itu hanya kepada kebaikan, maka tentulah wajib adanya perbuatan selain dari yang dikehenadki-Nya. Bila itu terjadi, lantas bagaimana bisa dikatakan iradat-Nya syamilah dan qudrat-Nya itu mutlak? Nah, dari pertentangan inilah kemudian timbul sekte-sekte baru dalam Islam.

Kemudian beliau menuliskan dalam judul makalah beliau “al-Qadariyyah”, bahwa dalam memandang permasalahan al-jabar (paksaan) dan ikhtiar (qudrat) ini, ada tiga golongan dalam umat Islam. Pertama, mereka yang berkata adanya qadr dan ikhtiar. Artinya, bahwa manusia memiliki kemampuan dalam dirinya sebelum melakukan sautu pekerjaan. Inilah golongan Mu’tazilah dan mereka yang melenceng dalam pemikiran mereka.
Yang kedua, golongan yang condong pada jabar (paksaan); artinya mereka menafikan adanya perbuatan dari seorang hamba. Jadilah manusia itu seorang hamba yang dipaksa dalam perbuatannya, tidak juga memiliki qudrat (kemampuan) ataupun iradat (keinginan).

Dan yang ketiga adalah golongan yang berada di tengah-tengah. Tidak mereka menafikan qudrat, juga tidak menafikan jabar. Allah-lah sang Pencipta perbuatan manusia, karena manusia dan seluruh perbuatannya diciptakan oleh Allah. Akan tetapi manusia, tetap memiliki kemampuan yang Allah menciptakannya bersamaan dengan perbuatan manusia tersebut, tidak setelah ataupun sebelumnya. Manusia dalam pandangan golongan ini, muktasib (berusaha) dalam amalnya dan Allah-lah Pencipta perbuatan tersebut. Mereka adalah golongan Ahlussunnah, termasuk al-Asyairah dan mereka yang sependapat dengannya.

Paham Qadariyyah sendiri ibn Raihan beri penjelasan – mengutip uraian Dr. Ahmad Sa’d Hamdan; adalah nama yang Ahlussunnah sebut untuk segolongan orang yang berkeyakinan bahwa manusia berbuat karena amal (dari diri) mereka dan bukan Allah. Artinya, bahwa mazhab ini tidak mengakui adanya campur tangan Allah dalam apa yang dikerjakan oleh manusia. Manusia sangat bebas dalam menentukan perilaku dan amal perbuatannya, termasuk tanpa pertolongan dan intervensi dari Allah sekalipun.
Al-Qadariyyah dan Mu’tazilah; Kembar Identik?

Namun, ada sebuah pertanyaan menarik, apakah Qadariyyah adalah termasuk Mu’tazilah? Dalam kitabnya Syarh al-Aqidah al-Wasathiyyah, Imam Ibn Taimiyyah menuliskan dengan apik ketika berbicara tentang posisi Ahlussunnah di antara Jabariyyah dan Qadariyyah, “Dan berkata Jumhur Ulama Mu’tazilah yakni Qadariyyah; (kami) menafikan adanya takdir, sesungguhnya Allah tidaklah menentukan takdir atas hamba.”
Mari kita tengok sekali lagi, dalam kalimat Jumhur Ulama Mu’tazilah, yakni Qadariyyah. Apakah berarti Qadariyyah adalah termasuk dalam Mu’tazilah, sebagaimana yang beliau sebutkan?

Namun, sebelum kita menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita tengok kitab rujukan lain, al-Milal wa an-Nihal. Sang pengarang kitab, Imam asy-Syahrastâny menjelaskan lebih detail. Kitab yang memang selama ini menjadi rujukan untuk permasalahan firaq, alias kelompok-kelompok mazhab dalam Islam ini menjelaskan posisi Mu’tazilah dan Qadariyyah, khususnya dalam bab al-Muqaddimah ats-Tsâlitsah fi Bayâni Awwalu Syubhatin.

Dalam kitabnya beliau menjelaskan bahwa awal dari timbulnya syubhah ataupun permasalahan perbedaan mazhab adalah semenjak diciptakannya Nabi Adam as. Di mana ketika itu Iblis menolak bersujud kepada Adam as. Yang asalnya adalah karena Iblis mendasarkan perbuatannya dengan akal atau sebuah asumsi untuk melawan nash (perintah) dan lebih memilih hawa nafsunya, ia pun kemudian menentang perintah, plus ditambah karena kesombongannya terhadap asal materi diciptakannya nabi Adam as, yakni tanah liat. Nah, dari akal dan mengesampingkan wahyu itulah, dua golongan mazhab theologi ini memulai alur pemikiran mereka.

Kembali pada permasalahan Qadariyyah dan Mu’tazilah, terlihat jelas bagaiamana pengakuan dari para ulama sendiri tentang adanya hubungan yang cukup erat antar dua golongan mazhab ini. Lantas, sudah dapatkah kita simpulkan keduanya adalah kembar identik?

Makalah yang penulis presentasikan dalam kajian SIT jum’at sore (16/10) kemarin, rupanya dapat memberi stimulus tersendiri untuk sama-sama kami kaji dan dalami tentang dua mazhab ini. Dari berbagai masukan yang ada, salah satunya saudara Mujib yang menambahkan 5 ciri Qadariyyah – mengutip pendapat Imam Asy’ari; pertama, mereka meyakini Allah swt pencipta perbuatan baik, sedangkan setan pencipta perbuatan buruk. Kedua, mereka percaya bahwa Allah swt mampu berkehendak atas sesuatu yang tidak ada, menjadi sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Ketiga, mereka juga berkeyakinan bahwa marabahaya dan keberuntungan murni datangnya dari tangan manusia itu sendiri. Dan terakhir, mereka juga tidak percaya Allah memiliki ilustrasi dan sifat.

Dari kelima ciri di atas, ada dua hal – minimal, yang bersepakat dengan apa yang menjadi konsep Mu’tazilah. Yakni, dalam hal Af’al al-‘Ibad – manusia menciptakan perbuatannya sendiri tanpa campur tangan Allah, dan yang kedua penafian sifat-sifat bagi Allah – termasuk ilustrasi.

Kemudian atas dasar inilah – pengakuan para ulama dan beberapa poin kesepakatan dalam konsep dan pemikiran dua golongan ini – yang pada akhirnya menarik perhatian penulis untuk mengangkat wacana ini. Dan yang paling penting adalah, persamaan world view, atau cara pandang dua mazhab ini yang sama-sama menggunakan akal di atas supremasi wahyu. Dan inilah salah satunya yang kemudian membuat kedua mazhab ini berhubungan erat. Sampai-sampai ada beberapa ulama yang menyandingkan dua mazhab ini. Dan menariknya dalam kajian SIT kemarin, kami bersepakat untuk memberi tanda titik dalam makalah ini.

Selanjutnya nampak semakin jelas, apa yang kemudian menjadi dasar Imam Asy’ari menyebut dan membahas dua golongan ini cukup dalam satu bab saja. Ya, hal ini bisa juga menjadi salah satu tambahan bukti bagi penulis untuk memperkuat diskursus yang penulis angkat di sini. Yakni, bahwa dua golongan ini memiliki keterikatan pemikiran, konsep dan world view yang identik. Maka tak heran, bila kemudian banyak ulama yang menyandingkan dua golongan ini. Sebut saja, Imam Ibn Taimiyyah dalam al-Aqidah al-Wasathiyyah beliau. Kemudian juga Syahrasytani dalam al-Milal wa an-Nihal, last but not least Imam Asy’ari dalam al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah.

Namun, perlu kita pahami juga. Meski kedua golongan mazhab teologi ini bersepakat dalam banyak hal, dan juga disebut ulama dalam satu world view pemikiran, tetap saja dua golongan ini berbeda satu dengan lainnya. Qadariyyah adalah Qadariyyah dan Mu’tazilah tetaplah Mu’tazilah. Mengapa penulis pertegas batasan ini? Karena keduanya adalah dua mazhab yang berbeda, khususnya dalam butir-butir hasil pemikiran dan konsep penganutnya. Meskipun, dalam sekup dan bentuk yang lebih luas, keduanya dapat disebut identik dalam konsep dan mainstream pemikirannya. Karenanya, ketika terusik dengan beberapa persamaan di atas, juga ‘dukungan’ para ulama dengan penyebutan identik tersebut, maka cukuplah penulis bilang, Qadariyyah dan Mu’tazilah itu kembar identik. Wallahu a’lam bi ash-showab.

Sabtu, Oktober 18, 2008

Study of Islamic Thought

Alhamduillah...

Meski kemaren sempet males-malesan dan pesimis, akhirnya selesai pula acara kajian SIT (Study of Islamic Thought) Jum'at (16/10) sore itu. Bukan apa-apa, sebenernya kemaren aku udah pengen mengundurkan diri dari kajian ini. Bukan kenapa, tapi karena dalam kajian ini aku ngerasa gak bisa maksimal. Sebagai contoh, dalam kajian yang mengharuskan pesertanya menuliskan makalah, eh... aku yang udah 2 kali ikut, belum juga bisa memenuhi syarat itu. Meski ada apologi 'karena banyaknya tugas', aku pikir itu gak bisa jadi alasan. Toh, orang-orang yang berkecimpung di sana juga bukan orang sembarangan dan sama-sama aktivis di organisasi lain.

Sebut saja Mujib, atasanku (pemred) di majalah La Tansa - yang ini aku paham bener, gimana ribet dan susahnya ngurusin sidang redaksi, hunting tulisan, editing, lay-outing, printing dan terakhir... marketing *gubraks!! maklum.. aku juga pernah jadi pemred buletin Cakrawala, jadi dikit2 ngerasain gimana-gimana kerja dengan para kru yang notabene seorang mahasiswa, tourist - di mesir, aktivis organisasi, juga orang rumahan..... dan bukan, sekali lagi, bukan kru profesional - dalam artian digaji, lo.. ya - !! Nah, itu baru satu kesibukan, belum kerjaan sebagai koordinator keilmuan di IKPM, Afkar, Ziyadah Buuts, dll.

Ada juga Fadlan, sang koordinator keilmuan di KSW yang beragam acaranya sampai bikin aku, koordinator Media-Net KSW, kewalahan nulis beritanya di web. :D, afwan mas... ammar, banyak berita yang terlewat. Fadlan yang juga aktivis FLP mesir, pemred buletin ar-Raudlah, dll toh masih bisa menyempatkan diri aktif di kajian SIT ini. Bagaimana denganku??



Itulah sedikitnya tiga alasan yang bikin aku 'keder'. Sebenernya ini cuma masalah komitmen, kata Fadlan. Tergantung bagaiamana kita menyikapi kesibukan yang ada. Bisakah kita membagi waktu, untuk sekedar meluangkan waktu sejenak, membaca kitab, menelaah dan kemudian menuliskannya?? Sebenernya ini juga masalah dalam diri sendiri, sambung Mujib. Kalau toh, kita mau dan berjuang berusaha maksimal, mengembalikan kajian SIT ini ke jalurnya, ana yakin kita bisa. Tapi, kalau dari diri kitanya yang gak mau berusaha, maka sampai kapanpun, tak kan pernah ada perubahan ke arah yang lebih baik.

Aku cuma bisa bilang, terima kasih dan maaf. Terima kasih karena temen-temen masih mau mengerti dan ngajak aku untuk berkembang dan maju bersama-sama, khususnya di kajian SIT ini. Dan maaf, karena selama ini, aku sendiri belum bisa berusaha maksimal, menulis makalah dan menelaah kitab. Meski, dalam kajian bisa dibilang aktif dan cukup memberi wacana, tapi aku pikir, syarat utamanya hingga kajian ketiga sore itu masih dibilang belum cukup.

Selanjutnya, yuk sama-sama kita maksimal di kajian SIT!!! Terakhir, meminjam istilah ust. Syukri, TOTALITAS, itulah kunci kesuksesan kita.

Oya, buat temen-temen yang penasaran dengan kajian SIT, silahkan berkunjung ke blognya: www.kajian-sit.co.cc