Selasa, Januari 06, 2009

Pin It

Widgets

Cinta dan Wanita

ni dapet juga dari punya orang yang dapet dari orang lain... :D, mudeng gak???

bagi yang ngerasa kesulitan atau pengen tahu hubungan cinta dan wanita, selamat menyimak...

——————–

”Mengajar perempuan mencintai atau mengasihi serupa dengan membimbing air mencari tempat yang rendah”. Mungkin itulah penggambaran yang tepat terhadap salah satu sosok makhluk Allah yang satu ini. Sungguh pula para sufi mengakui bahwa Cinta Kasih adalah sifat yang lebih menonjol yang dimiliki kaum perempuan dibandingkan pada lelaki. Sampai ada pula yang mengatakan ”Hanya satu seni yang dimahiri perempuan, yaitu mencintai dan dicintai”. Itulah sepertinya yang menjadi sebab sehingga Allah menganugerahi perempuan kemampuan menangis, cemburu, dan berduka serta kesediaan berkorban untuk kekasih melebihi anugerah-Nya kepada lelaki karena air mata mengundang kasih dan cinta, pengorbanan menyuburkannya, cemburu menghangatkannya, sedangkan duka cinta tidak terobati kecuali dengan cinta pula.

”Tidak diketahui sesuatu yang begitu diperhatikan dan mantap pada diri perempuan melebihi cinta”. (Abu Muhammad Ibnu Hazm).




Banyak penyair, seniman maupun filosof dari kaum adam menyemai perempuan dengan perkara cinta dan kasih, dengan lautan bahasa indah sebagai visual yang tepat dalam penggambaran sosok perempuan. Ibnu Hazm seorang ulama dari Andalusia dalam riwayatnya mengalami jatuh cinta yang pertama kepada jariat (pembantunya), lalu menikahinya. Namun ketika istrinya meninggal dunia, ia larut dalam kesedihan dan menangis berbulan-bulan, padahal menurut pengakuannya ia adalah orang yang sulit mencucurkan air mata. Ia jatuh sakit sekian lama, bahkan kehilangan sebagian ingatannya, walaupun kemudian sembuh. Beliau mengungkapkan ”Demi Allah, hingga kini aku tidak pernah lagi merasa bahagia. Kehidupan setelah kepergiannya tidak nyaman lagi. Aku terus mengenangnya dan tidak lagi menemukan kesenangan dari selainnya”. Demikian besarnya aura cinta yang menyebar dari perempuan, sehingga tidak mengherankan Aisyah sedemikian cemburunya karena Cinta Rasulullah kepada Khadijah.

Bagi perempuan, cinta adalah harapan, bahkan hidup adalah cinta, sehingga perempuan bersedia berkorban demi cintanya. Dia bersedia meninggalkan Ayah dan Ibu serta saudara-saudaranya demi mengikuti suami atau kekasih yang dicintainya. Sejarah mencatat nama Rabi’ah al-Adawiyah sebagai perempuan Pencinta Tuhan yang agung.

Agaknya memang benar adanya. Cinta tidak dapat diukur dan dideteksi, namun dapat dirasakan melalui gejala-gejala psikologis, sifat-sifat, perilaku dan pengaruh yang diakibatkan pada diri seseorang yang mengalaminya. Untuk itu, sebagian pakar mengatakan ”Keterangan tentang cinta, bukanlah cinta.” Cinta tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui.

Di dalam Al-Quran, kata yang paling banyak menunjuk cinta adalah kata hubb, yang terulang sebanyak 93 kali. Ada analisa yang menarik tentang kata ini. Hubb/cinta dalam bahasa Arab terdiri dari dua huruf, yaitu ha’ dan ba’. Huruf ha’ terucapkan melalui akhir kerongkongan yang merupakan sumber suara. Tempat keluar itu tidak jauh dari jantung/hati yang merupakan sumber cinta, sedangkan huruf ba’ lahir dari pertemuan kedua bibir yang merupakan akhir tempat keluarnya suara. Dengan demikian, kata ini (hubb) menghimpun awal dan akhir sekaligus mengisyaratkan bahwa cinta adalah awal perasaan yang berlanjut hingga akhirnya. (Jalaluddin Abdurrahman as-Sayuthi)

Cinta adalah fitrah, naluri dalam diri manusia. Tidak ada rasa takjub dan menyenangkan dalam diri manusia yang lebih dalam daripada senang dan rasa takjub karena dicintai dan mencintai.

Masa lalu cinta sangat terhormat, sedemikian terhormatnya sehingga cinta hampir-hampir dirahasiakan. Cinta diungkap dalam surat-surat cinta yang disampaikan oleh orang yang sangat dipercaya, bahkan dikirim melalui burung-burung merpati yang terlatih. Surat-surat itu ditulis dengan menggunakan air mata dan tinta, atau tinta dicampur dengan sedikit embusan ludah atau darah, lalu dikemas sedemikian rupa sehingga bukan saja terlihat indah, melainkan juga sangat rahasia.

Cinta mengundang dan mendorong pencinta untuk melakukan aneka aktivitas terpuji, seperti keberanian, kedermawanan, pengorbanan dan sebagainya. Cinta melahirkan gerak positif. Dengan demikian, ia adalah kehidupan dan kebahagiaan. Karena itu, sungguh tepat ungkapan yang menyatakan ”Jika anda tidak mencintai dan tidak mengetahui apa cinta maka jadilah batu karang yang kukuh kering kerontang”. Inilah yang mengundang para pemikir dan ulama membicarakan cinta dan membahasnya. Karena itu pula anda tidak perlu heran menemukan ulama yang dituduh kaku dalam pandangan agama, justru berbicara dengan sangat indah tentang cinta, bahkan larut dalam cinta karena cinta seperti itulah yang dikehendaki agama dan moral.

Cinta mestinya berakhir dengan kematian yang dicintai. Bahkan, al-Qur’an menggambarkan cinta suami istri yang beriman berlanjut terus kendati setelah kematian.

”Sesungguhnya penghuni-penghuni surga pada hari itu dalam kesibukan, lagi sangat senang. Mereka bersama pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh bertelekan di atas dipan-dipan” (Qs. Yasin 55-56).

Meskipun cinta dapat putus dengan kematian, kesetiaan dan kenangan manis harus terus berlanjut. Ketika Nabi Muhammad saw berhasil memasuki kota Mekah dengan kemenangannya, beliau berkunjung ke lokasi rumah istri beliau, Khadijah ra., yang belasan tahun wafat, padahal tiada lagi yang tersisa kecuali lokasinya. Demikian contoh kesetiaan, cinta pertama dan utama Nabi Muhammad saw.

Cinta saat ini telah terjadi kekaburan yang jauh terhadap makna cinta yang tinggi dan suci. Cinta menjadi komoditi yang diperjualbelikan. Cinta dalam kondisi manusia saat ini menjadi alat bukan lagi cinta. Cinta adalah rasa, yang berbeda sekali dengan alat yang tidak memiliki rasa. Cinta bukanlah permintaan untuk memenuhi keinginan sesaat, tetapi ia adalah pemberian, kedermawanan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Fakta berkata, korban paling banyak di sini adalah perempuan, makhluk yang mestinya paling tinggi dan dalam rasa cintanya.

Disadur dari buku ”Perempuan”, M. Quraish Shihab
credit to: http://yossyrahadian.wordpress.com

Artikel terkait :



3 comments:

sandy mengatakan...

cinta...
hemm..
bingung nie..

cebong ipiet mengatakan...

eheemmm....sbg wanita..saya menyimak ^_^v

neilhoja mengatakan...

@sandy
cinta, napa bingung??

he3x aku juga masih dalam tahap belajar cinta... :)


@cebong
emang, bung cebong wanita yaw? :D

Posting Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)