Sabtu, Februari 14, 2009

Pin It

Widgets

Ceritera Keterlambatan Maba

ditulis untuk mengisi kolom editorial buletin Suara PPMI Mesir

Deru genderang perang ujian termin pertama telah cukup lama berlalu. Suasana vakum organisasi pun kembali ditinggalkan. Berganti dengan geliat lincah para aktivis-aktivis Masisir menyambangi peta tujuan mereka. Tidak sedikit yang kemudian sibuk dengan muqorror dan target hafalan Qur’an memenuhi tuntutan standar ujian. Ada pula temen-temen yang sementara itu merefresh kembali warna hidupnya dengan jalan-jalan wisata. Beberapa diantaranya kembali aktif di berbagai ranah kajian. Pun tak dapat dilepaskan dari dunia Masisir, yakni dinamika organisasi kekeluargaan, afiliatif, almamater, media, dan lain sebagainya yang kembali menapaki jalannya.

Namun, di tengah pergerakan kembali aktivitas Masisir, ada beberapa hal yang menjadi keprihatinan kita semua. Di saat seharusnya organisasi Masisir mendapat suntikan energi segar dan semangat baru, akan tetapi yang dinanti-nanti tak kunjung datang. Keprihatinan, rasa khawatir dan gelisah mulai melingkupi ranah aktivitas organisasi Masisir. Beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan pun, menuju satu problema; Maba.

Sungguh tak dapat dibayangkan, bilamana Maba tahun ini tidak bisa datang. Tidak saja dengan nasib akademis mereka yang masih buram. Akankah datang ke Mesir langsung roshib, dan mengulang kembali di tahun depannya? Atau ada ujian susulan?


Pun, permasalahan ini tidak hanya berefek pada diri Maba sendiri. Tak dapat dipungkiri, beberapa panitia Maba di masing-masing organisasi pun dibuat kelimpungan. Bagaimana dengan rumah-rumah yang sudah disewakan untuk mereka? Siapa yang membayar? Tentunya bisa bikin geleng kepala, bila rumah yang ijar-nya 1000 Le perbulan, dibayar hanya oleh dua orang. Belum lagi makan, listrik, ta’min dsb.

Belum lagi berbagai agenda yang sudah disiapkan guna menyambut mereka. Mau tak mau, semua agenda yang berkaitan dengan Maba harus disesuaikan, menanti kedatangan mereka. Dan lagi-lagi menanti, memandang langit menunggu sebuah kedatangan yang juga tak diketahui pasti kabar keberangkatan mereka. Perjalanan dinamika Masisir yang terbiasa lancar, kini dihinggapi beragama kegelisahan dan rasa prihatin yang harus ditutupi.

Dan bisa jadi, polemik intern organisasi akan kian menjadi besar. Bayangkan saja, sebuah organisasi mandeg di sistem kaderisasinya. Sebuah organisasi, tidak memiliki insan-insan penggantinya. Akankah seluruh elemen Masisir ini tak memiliki regenerasi di tahun depan? Wallahu a’lam. Dan mungkin masih ada satu lagi permasalahan yang mungkin saja terjadi, yakni berkumpulnya dua angkatan dalam satu waktu. Rentan konflik dan saling cemburu.

Maba adalah salah satu elemen Masisir. Ibarat satu tubuh, saat salah satunya berjalan tidak normal, maka akan sangat mengganggu fungsi dan pergerakan elemen lainnya. So, tak dapat dipungkiri bila saat ini Maba sedang mengalami problem ketidakpastian nasib, maka yang terkena dampak adalah seluruh Masisir juga. Maka tak heran, berbagai spekulasi dan isu pun berkembang di kalangan Masisir. Tulisan dan pemikiran mengenai Maba mencuat di berbagai forum. Adakalanya mempersalahkan. Ada pula yang mencoba bijak. Tak ketinggalan pula, yang pasrah dan menerima saja.

Keterlambatan Maba memang menjadi keprihatinan kita semua. Terkadang kita mungkin sudah tak habis pikir, dan tak mampu berbuat apa-apa. Namun, bukan berarti roda dinamika Masisir harus terhenti dan menyerah bukan? Mengutip pernyataan Pak Dubes, “Hadapilah apa yang seharusnya kita hadapi sekarang, semampu kita.” So, sebagai mahasiswa dan tumpuan bangsa mari kita berbuat apa yang sudah seharusnya dan semampunya kita kerjakan. Berangkat kuliah, ikut kajian, dan apa saja terkait masa depan kita dan bangsa. Dan yakinlah, insya Allah persoalan Maba ini, KBRI dan PPMI tak akan tinggal diam. Keep fighting!!

Artikel terkait :



0 comments:

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)