Sabtu, November 22, 2008

Pin It

Widgets

PPMI dan Masisir; Komunikasikan!

ditulis untuk mengisi kolom Editorial Suara PPMI Kairo, edisi awal Nopember.

Sholah Kamil sore itu tampak lengang. Hanya beberapa orang yang tampak sibuk lalu lalang. Sekilas terlihat kerut di wajah para panitia PPMI Award. Antara usaha keras dan putus harapan. Berbagai cara memang sudah dilakukan. Berpuluh pamflet sudah disebarkan. Dan tak terhitung kiriman oflen bertebaran. Tapi toh, sholah Kamil sore itu masih saja lengang. Tak tampak gemuruh semangat Masisir di acara ini. Bahkan yang cukup disesalkan, saat pak Dubes dan Syaikh Azhar datang, hanya segelintir orang yang datang menyaksikan.

“Hanya ada tiga baris penonton..,” sebut salah seorang panitia.

PPMI Award, hanyalah satu dari beberapa kegiatan PPMI yang terlihat kurang direspon Masisir selaku tulang punggung ‘pemerintahan’ ini. Beberapa kegiatan lain, khususnya yang bersifat bukan hiburan juga terlihat hanya mendapat sedikit animo dari Masisir. Sebut saja, PPMI award, fushul taqwiyah, talk show “Pers Masisir dalam Sorotan”, diskusi panel dan lain sebagainya.

Agaknya perlu kita sadari, bahwa PPMI bukanlah siapa-siapa kita. PPMI bukanlah orang lain yang kita harus sungkan dengannya. Atau ia pun bukan organisasi asing yang kemudian kita harus cuek kepadanya. Namun mengapa, sepertinya masih ada sekat di antara kita. Dan sekat itu terlihat kian jelas dengan banyaknya kegiatan PPMI yang kurang direspon oleh Masisir selaku anggota. Sudah saatnya kita melihat ke dalam diri kita masing-masing. Baik itu PPMI selaku organisasi induk penaung, maupun Masisir selaku bagian penting dari sang induk.



Bukan isu baru, bahwa banyak diantara kita – baca, Masisir – yang gak mau tahu dan gak mau peduli dengan apa yang dikerjakan oleh induk kita. Seolah-olah, apa yang dikerjakan PPMI adalah urusan mereka dan yang terkait dengannya. Sedangkan kita, Masisir yang lain tidak ada urusan dan tak ada hubungan. Bila ini yang jadi asumsi, rasa-rasanya ada yang salah dengan sudut pandang ini.

Penulis yakin, bila kita ditanya tentang apa itu PPMI, sebagian besar dari kita akan mampu menjawab tanpa perlu lola, alias loading lama. Termasuk ketika ditanyakan juga apa maksud dan tujuan dibentuknya PPMI. Tapi mengapa, kemudian banyak dari kita yang enggan dan sungkan dengan kegiatan PPMI? Jawaban mudahnya, karena kita belum sepenuhnya menjadi anggota PPMI. Akankah sebatas kartu keanggotaan PPMI, dan tak lebih?

Tapi kurang bijak, bila hal ini hanya disudutkan kepada Masisir. Jelas bahwa, meskipun Masisir adalah anggota, tapi ia bukan prajurit, ataupun anggota bawahan. Masisir adalah seorang mahasiswa yang punya jiwa kebebasan berpikir dan bertindak. Bukan seperti prajurit ataupun anak buah yang selalu bisa disuruh patuh kepada sang induk. Karenanya penulis pikir, perlu kiranya PPMI juga menjadi lebih dekat dengan sang anggota. Ini yang seharusnya juga menjadi PR bagi PPMI. Dibutuhkan kecerdasan dan kearifan PPMI dalam menyikapi kompleksitas dan jiwa bebas Masisir tersebut. Bagaimana membuat Masisir agar turut berperan aktif dan dekat dengan PPMI-nya.

Salah satunya adalah lewat komunikasi. Keberlangsungan sebuah hubungan sangat bergantung dengan kondisi komunikasi yang dijalaninya. Tentunya kita masih ingat pepatah Jawa yang bilang, “Witing tresno jalaran soko kulina,” yang artinya, munculnya rasa suka adalah karena seringnya berhubungan, alias berkomunikasi. Pun seorang pakar psikologi mengamininya. Ia bilang, ada tiga hal terpenting demi berlangsungnya sebuah hubungan yang baik. Yang pertama adalah komunikasi. Yang kedua, memahami. Dan yang terakhir toleransi. Komunikasi disebut pertama, karena ia adalah prasyarat untuk bisa memahami, kemudian agar mau saling bertoleransi.

Di sinilah letak peran penting sebuah media. Sebagaimana juga yang diungkap dalam acara talk show ala ‘Empat Mata’ Pers Masisir, Ahad (16/11) kemarin. Bahwa media bukan saja memberikan informasi dan berita. Tapi lebih jauh, media pun mampu meledakkan sebuah revolusi dan mengubah peradaban. Selanjutnya, Suara PPMI, selaku media resmi dan corong utama PPMI siap menjembatani kekurangan alur komunikasi ini. Komunikasi untuk membantu terbentuknya hubungan yang harmonis dan saling mendukung antar dua sisi yang saling menguntungkan, Masisir dan PPMI.

Akhir kata, penulis ingin mengutip sebuah pepatah antah berantah, “Tak ada kemenangan tanpa perjuangan. Dan tak ada perjuangan tanpa pengorbanan.” Bisa ditambah, tak ada perjuangan yang sia-sia bila niatnya ikhlas lillahi ta’ala.

Wallahu a’lam bi ash-showab.

note: Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir)

Artikel terkait :



0 comments:

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)