Selasa, Juli 27, 2010

Pin It

Widgets

Aktifis itu Adiktif

Kalimat ini tiba-tiba tercetus ketika aku sedang main ke rumah lamaku. Tepatnya di bilangan Madrasah, eh.. lebih tepatnya lagi kawasan belakang suq (pasar) mahattah (terminal) Asyir. Aneh juga, kenapa daerah yang lebih dekat ke kawasan mahattah Asyir ini, justru dinamai madrasah. Apakah karena ada sekolah (madrasah) di sana atau gimana. Karena sekedar tahu aja, kawasan madrasah sendiri lebih dikenal di perempatan sebelum suq Asyir tadi. Heu heu...


Mirip-mirip juga, kalau mau bilang rumahku di mana sekarang. Karena aslinya, masih di kawasan Gami, tapi entah kenapa, lebih enak disebut Mutsallats. Karena emang, lebih deket turun di Mutsallats ketimbang di Gami. :D

Oke, kembali ke soalan kalimat tadi, "Aktifis itu Adiktif." Sejarahnya, ketika itu aku lagi ngeliat temenku, si Po (bukan Pohan, tapi Topiq Latif) lagi nderes alias ngaji Quran. Suaranya datar dan senyap. Maklum, musim panas gini, biasanya anak-anak pada tidur pagi. Jadi karena ga pengen ganggu yang lagi tidur, Po merendahkan suaranya.

Po, temenku yang agak bulet ini, sudah sejak setahun yang lalu cerita ke aku soal keinginannya ngafalin Quran. Waktu itu sedang di masjid Assalam, beberapa menit sebelum shalat Tarawih. Dia bilang, "Am, minta doanya nih, aku lagi ngafalin Quran. Doain moga bisa kelar dan lancar.." Kira-kira seperti itulah, aku juga gak terlalu yakin dia bilang apa. Tapi yang jelas, ketika itu dia cerita soal dia sudah hafal sampai juz 8.

Waktu aku ngeliat Po lagi baca Quran, keknya sih lagi murojaah (ngulang hafalan), aku teringat suasana setahun yang lalu, ketika aku masih di rumah itu. Ketika itu aku lagi muda-mudanya jadi aktifis. Meneruskan karir yang aku rintis sejak tahun pertama kedatanganku di Mesir. Waktu itu, seperti biasa aku dihantam berbagai aktifitas organisasi. Gak heran kalau kemudian aku sering ga pulang. Seminggu sekali di rumah itu sudah sangat biasa. Bahkan itu pun karena jadwal piket masak. Heu heu..

Kalau mau diruntut lagi, mungkin hampir sama dengan keadaanku di tahun pertama, setahun sebelumnya lagi. Pulang ke rumah pun, seminggu sekali juga... Hm..

Tak heran bila kemudian, ketika itu aku sempet berkeinginan, untuk meninggalkan dunia aktivis ini. Tapi bahkan, hingga setahun ini hampir berlalu, .. kegiatan demi kegiatan itu terus menempelku lekat. Bahkan rasanya, untuk sekedar bernafas saja sulit.. Semakin miris karena bulan Sya'ban sudah lewat setengahnya.. sementara jadwal kegiatanku bahkan belum berkurang. Hufh...

Ingin rasanya aku berhenti dan kembali pada misi pribadi. Tapi entah kenapa, bila panggilan itu datang, aku tak kuasa menolaknya.

Udah Adzan Ashar, saatnya berkemas dan bersiap untuk memenuhi panggilan itu lagi. Ceritaku di atas ini, ga usah didengar.. tapi cukup dibaca aja. Hehehe...

Tetep semangat... semoga jalan itu bisa kutemukan kembali. ;)


-------------------------- Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Artikel terkait :



2 comments:

maya mengatakan...

semua akan indah pada waktunya heuheheue

Sang pembelajar mengatakan...

gagagagaga kirain...keep writing bro :D

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)