Senin, Maret 15, 2010

Pin It

Widgets

Tajdid an-Niyat Manajemen Konflik ala Gontor

Berbicara tentang hidup dan kehidupan, tak kan pernah lepas dari konflik dan masalah. Karena, sebagaimana sering disebut ayahanda ust. Syukri, bahwasanya tanda seseorang berdinamika, hidup dan bergerak, adalah adanya gesekan-gesekan. Tanpa ada gerakan tak kan mungkin timbul sebuah gesekan. Bagaimana mungkin sebuah batu mengalami gesekan, bila tanpa ada bentuk gerakan darinya? Mustahil bukan?


Bahkan saking dekatnya hidup kita ini dengan konflik dan masalah, sampai-sampai Lenka mencipta lagu berjudul "Trouble is a Friend". Dan selalu, buku bertajuk best seller adalah buku-buku tentang manajeman konflik dan masalah. Sebut saja, buku La Tahzan karangan Dr. Aidh al-Qarny. Atau yang mungkin dulu aku juga sering bawa-bawa buku itu, Chicken Soup for the Soul..

Dan sama seperti yang aku atau mungkin juga pembaca setia blog ini (narsis mode = on) rasakan, saat ini ku yakin setiap dari kita sedang memiliki problem. Lantas, bagaimana agar supaya masalah yang sedang kita hadapi, dan senantiasa menjadi teman untuk kita ini, tidak lantas membuat kita semakin terpuruk dan atau hancur??

Kalau Puspo Wardoyo menggunakan konflik dan isu sebagai cara branding image buat dirinya, atau Dr. Aid al-Qarny dengan mengubah cara pandang terhadap suatu masalah, maka dalam hal ini Gontor menurutku memiliki cara tersendiri dalam manajemen konflik. Yaitu dengan tajdid an-niyat, memperbaharui niat..

Sering dan bahkan minimal diulang setiap sebelum liburan, para santri akan diberi tausiyah dan pengarahan oleh para pimpinan pondok. Terkadang oleh ust. Syukri, atau ust. Hasan dan kadang ust. Imam Badri (alm). Dan satu pesan yang selalu diulang di setiap kesempatan itu adalah tentang tajdid an-niyat.

Apa dan mengapa pesan tajdidunniyat disampaikan sebelum perpulangan? Tak lain karena agar sebelum kita bisa memperbaharui niat kita, maka yang pertama kali perlu dilakukan adalah, kita perlu suasana dan lingkungan yang baru. Lepas dari bayang-bayang masalah dan konflik kita sebelumnya. Yang kalau dalam bahasa tasawwufnya, sebelum bertajalli atau tahalli (mengisi diri dengan hal-hal yang baik), maka kita perlu mengosongkan diri kita dulu (takhalli).

Sebuah falsafah dan pendidikan manajemen diri yang luar biasa. Tak saja berlaku ketika kita masih di pondok, tapi juga sangat layak diterapkan dalam kehidupan kita sesungguhnya..

Dan karenanya, kala diri kita sedang begitu stuck.. suntuk, terlibat beragam masalah dan seolah tak ada jalan keluar.. mungkin itu saatnya bagi kita untuk sekedar berhenti sejenak, keluar dari pusaran masalah tersebut.. dan kembali menata hati dan niat kita. Hingga, tatkala diri dan pikiran kita kembali terisi dengan energi-energi positif.. insya Allah, masalah yang sedang kita hadapi, akan tampak lebih mudah untuk dapat kita lalui..

Wallahu a'lamu bishowab.





--------------------------
Salam hangat dari neilhoja. "Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu."

Artikel terkait :



0 comments:

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)