Sabtu, Agustus 15, 2009

Pin It

Widgets

Dititipi Jayyid sama Gusti Allah

Sebenarnya lucu juga, ketika hampir saja aku mengawali tulisanku di sini dengan kalimat yang sama, "Alhamdulillah..." seperti dua postinganku sebelumnya. Tapi, rasa-rasanya kurang kreatif bila hanya mampu berucap kalimat itu, hehe.. :D But anyway, kali ini memang aku harus berucap kalimat itu. Alhamdulillah.. setelah kemarin sempat gelisah dengan nilai yang harus ku hadapi di tahun ini, Kamis kemarin akhirnya ku dapat kepastian tentang nilaiku. Makasih buat temen-temen yang udah doain aku ^_^

Mungkin di mata orang-orang nilaiku kali ini standar dan biasa aja.. cuma jayyid atau baik saja. Akan tetapi mungkin nilai ini berasa begitu spesial buatku, bukan saja karena aku dipastikan lulus, tapi juga karena tahun kemarin aku masih harus mengulang satu mata kuliah.. ^_^ Ujian di Azhar yang notabenenya complicated soal hasil, akhirnya memberikanku hasil yang cukup..

Hemh.. tapi entah kemudian, aku jadi berasa ga enak setelah baca puisi Rendra di bawah. Menggugah dan menyentak arus mainstream kita selama ini.., judulnya Titipan.

Sering kali aku berkata, ketika seorang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
bahwa putraku hanya titipan-Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku ?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk
milik-Nya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali
oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku,” dan menolak
keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan sama saja.”

WS Rendra

Artikel terkait :



5 comments:

Nggapriel mengatakan...

Yup
Alfu Mabruk bro
Jangan lupa sedekahnya
buat yang manqul :D

peace!

♥ Neng Aia ♥ mengatakan...

selamat yah! doaku terkabul juga... nilaimu jayyid.. walaupun aku ga tau sebagus apa itu artinya.. yang penting bagus kan?? :)

Taufieq mengatakan...

ehm ehm...selamat ya...alfu mabruk....
jadi ngeh neh setelah baca puisinya Alm Rendra...
..hiks hiks hiks
btw ditunggu juga zakat mal dan zakat fitrahnya....

embunpagi mengatakan...

mabruk Mr.Neil...
doaken juga, moga ketularan jayyidnya, kalo jayyid jiddan plus mumtaz juga bisa...he,
amiinn,,..

JT mengatakan...

siipps. gembira, mala petaka, kalo memang dr Allah mudah2an itu yg terbaik n kita diberi kekuatan untuk menghadapi menyikapinya. aamiin

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)