Jumat, Juli 03, 2009

Pin It

Widgets

Kaya Miskin Jakarta dalam 18 Jam

ditulis oleh sanursukur untuk milis airputih

Nulis nulis nulis lagi. Pengennya sih nulis banyak tapi ga bisa kalo ga baca. Nulis sama baca emang sepaket. Orang bisa nulis bagus karena punya bahan. Bahan dari mana ? salah satunya dari buku en tentu aja buku harus dibaca. Minggu ini Cuma nulis dua puisi plus nulis ulang teks pidato bahasa jepang tahun 2007. emang sih seminggu ini saya ngga baca buku sama sekali.


Mungkin capek, males , ngga ada inspirasi. Padahal diluar ada banyak isu tapi saya ngga nulis. Bisa jadi juga efek pulang dari jakarta hari selasa lalu. Begitu pulang langsung masuk angin berat. Maklum orang katro seperti saya bakal gampang banget batuk batuk walau kena AC bus dikit aja. Waktu nyampe rumah emang ngga kerasa apa apa tapi dua hari kemudian saya langsung dikerok didada, dipunggung dibahu. Begitu liat hasilnya nauzubillah kaya orang abis dihukum cambuk lantaran mencabuli anak tetangga. Pada merah semua.

Jakarta emang ngasih kenang kenangan masuk angin berat setelah dia merampok seluruh isi dompet saya buat ongkos pulang pergi dan tiket masuk dufan. Tapi jakarta juga telah memesona orang udik dan kampungan seperti saya. Begitu memasuki kawasan jakarta pusat saya seolah sedang memasuki negri yang asing. Gedung gedung menjulang tinggi seperti dalam sky hawk, saking tingginya puncaknya tak terlihat karena ditutupi awan. Bermilyar milyar uang berputar dijalan jalannya. Setiap orang seperti sedang tergesa mengejar kemewahan.

Anak anak mudanya selalu tampil necis bak mau kondangan, harum dan berkelas. Tempat main, makanan , minuman dan kesenangan mereka sangat berbeda dengan kebiasaan saya dikampung. Saya tak begitu akrab dengan istilah istilah makmur mereka seperti jacuzzi, shisa, pub, karaoke, tequila, lady escort, penari striptease, kucing dan gigolo. Yang ada dalam pikiran saya, karena istilah istlah itu asing pasti untuk mendapatkannya harus mengeruk lebih banyak rupiah. Orang orang tuanya selalu tampil perlente karena karir menuntuk mereka berdandan demikian. Mereka tinggal ditempat tempat komunal.

Di apartemen apartemen mewah dengan fasilitas yang bisa mengajak masuk saudara dan kemenakan gratis masuk dufan, berenang diwater boom sesuka hati, menikmati pemandangan laut sekenyangnya dari balkon apartemen atau memasukan selingkuhan kedalam kamar mereka yang sangat prifat. Banyak nian bangunan macam ini di jakarta, dalam iklan real estate seorang perempuan yang sudah tidak muda lagi dengan ekspresi yang dibuat buat enteng sekali menyebut harganya hanya satu miliaran saja. Tingkahnya yang mengatakan "saja" seperti tukang jualan kerak telor di Monas. Melihat gaya hidup mereka saya seperti tersesat dibelantara Manhatthan, Singapura, London atau Tokyoo.

Namun kekaguman saya tak berlangsung lama karena Setelah itu, utopia muncul dari Orang orang yang bicara dengan aksen berbeda, ganjil dan menggelikan. Seorang urban dari pelosok desa yang terserak dilembah sangiran, tempat ditemukannnya fosil fosil manusia purba, begitu sampai diibukota akan menggunakan istilah elu dan gua. Dipikirnya dengan berbicara seperti itu ia telah menjadi bagian dari kemewahan jakarta. Dipinggiran ciliwung penduduk berak, mandi dan sikat gigi dengan menggunakan air yang sama. Jangan terlalu heran kalau ketika bersih bersih badan seseorang bisa berdekatan dengan kotoran, karena kadang kadang hanyut juga mayat manusia disana.

Para pendatang haram, gongli, waria, buruh kasar, homo seksual, lesbian dan pengangguran berhimpitan tinggal dalam bedeng bedeng sempit. Tiap hari mereka tersaruk, tebopoh, terengan engah untuk mengepuli periuk nasi masing masing. Tiap hari juga mereka berkelahi bukan dengan musuh yang menyerang dari luar, tapi dengan sesamanya. Dengan satpol PP yang menggusur gerobak bakso mereka, dengan pungutan liar yang memereteli jerih payah angkot angkot mereka, dengan kemiskinan dan kelaparan. Orang orang ini selalu bermimpi bisa merasakan satu hal dalam hidup yang tidak pernah meraka dapat dari pemerintah daerah, "kemakmuran" . Inilah mereka yang termarjinalkan di negri sendiri, tersebat dipemukiman pemukiman sempit yang berharap dan berjuang demi mempertahankan hidup. Kekaguman saya serta merta berubah karena kini saya seperti memasuki pedalaman kampung di Rwanda, Etiopia, Zambia atau Senegal

kaya miskin jakarta tidak seperti putaran roulet, tidak pula seperti gelindingan bola salju, dimana istilah klasik selalu mengatakan, nasib akan berganti, hanya persoalan giliran atau kehidupan selalu dipertukarkan. Yang ada adalah stagnasi kehidupan. kekayaan dan kemiskinan makin tersungkur diatas dominasi para pemodal besar.

Yang kaya akan semakin kaya yang miskin akan semakim miskin. Persis ketika pendatang bermodal besar dari eropa datang dan mendominasi suku indian amerika. Kehidupan terasa sangat naif karena karena kemiskinan dan kekayaan ibarat minyak dan air. Jumlah orang yang peduli belum berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan. Tinggal sehari disana saya langsung ingin pulang. Hal hal singkat yang saya saksikan Membuat saya kembali kekampung. Hidup bahagia apa adanya, menulis lagi, lagi, lagi…..

sanursukur

Artikel terkait :



0 comments:

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)