Kamis, April 09, 2009

Pin It

Widgets

PPMI: Mari Bersinergi!

ditulis untuk mengisi rubrik Fokus, buletin Suara PPMI Mesir, edisi awal April 2009


Isu kejenuhan berorganisasi telah dimulai sejak tahun lalu. Saat di mana sedikitnya mahasiswa baru, membuat keberadaan mereka menjadi mendua. Memiliki ‘identitas’ dan keanggotaan dua. Tak jarang, satu orang mahasiswa bisa menjadi tiga atau bahkan empat anggota organisasi sekaligus. Adakalanya ia menjadi anggota kekeluargaan, sementara di saat lain ia juga anggota almamater. Pun tak jarang, tabrakan agenda terjadi, ketika di suatu saat ia adalah anggota afiliatif, sementara di waktu itu juga ia adalah anggota kekeluargaan.


Keragaman dan pergerakan organisasi Masisir memang sangat dinamis. Bisa dikatakan, tak satupun di antara organisasi itu yang ingin disebut pasif. Bagaimana tidak, bila saja organisasi tersebut tidak bergerak, maka dapat dikatakan organisasi tersebut telah mati. Dan tentu, tak ada satupun organisasi yang ingin disebut mati, atau lebih buruk dari kepengurusan tahun sebelumnya. Jangankan lebih buruk, sedangkan bila keadaannya sama dengan tahun lalu pun, disebut Rasulullah sebagai keadaan yang merugi!

Walhasil, pergerakan dan aktifitas organisasi Masisir, begitu ramai dan ‘tak terkendali’. Satu dengan lainnya, saling berlomba dengan bentuk kegiatan yang lain dari yang lain. Antara satu pengurus dengan pengurus organisasi yang lain, saling beradu proker dan ragam agenda acara. Riskannya, kebijakan perencanaan agenda dan kegiatan sebuah organisasi ketika itu, tidak mau melihat dualisme-dualisme keanggotaan dalam organisasi tersebut. Maka dapat dibayangkan, yang terjadi adalah benturan waktu, peserta dan juga panitia kegiatan sebuah acara!

Maba dan Tarik Ulur Organisasi
Fenomena dan isu sentral seputar benturan ini pun menggoda media masisir ketika itu untuk mengangkatnya sebagai tema utama. Tercatat, buletin paling aktual di kalangan Masisir, yakni buletin informatika, pernah mengangkat tema ini. Tepatnya pada edisi perdana mereka di kepengurusan kemarin (2008/2009)

Buletin Masisir lain, yakni buletin Cakrawala, buletin mahasiswa baru IKPM, pada edisi Juli 2008 yang lalu, juga mengangkat editorial seputar benturan ini. Dengan judul yang unik dan khas, sesuai karakter buletin tersebut yang akrab dan beda. Yulian Ma’mun, editor buletin ini mengangkat judul, “Memanjakan Diri”. Sebuah tulisan ‘curhat’ sang Maba di tengah pergolakan dan perseteruan tarik ulur agenda, kepanitiaan dan keanggotaan organisasi-organisasi Masisir.

Hal ini terjadi, menurut kacamata penulis adalah lantaran dua sebab – meski tak menutup adanya sebab-sebab lain. Salah satunya adalah, sebagaimana penulis singgung di atas, kurangnya koordinasi dan komunikasi antar punggawa organisasi-organisasi Masisir. Para pengurus atau DP sebuah organisasi terlalu sibuk dengan agenda dan perencanaan program mereka sendiri. Tanpa mau tahu dan peduli dengan agenda organisasi lainnya.

Hal ini penulis kira sangat wajar, karena secara badahiy seorang ketua atau pengurus organisasi akan lebih fokus dengan proker dan agenda kegiatan mereka. Adapun terkait dengan agenda yang diadakan organisasi lain, itu bukanlah wewenang atau kepentingan mereka. Yang terpenting, bagaimana agenda dan proker organisasi yang mereka pimpin berjalan dengan sebaik-baiknya dan penuh itqan. Akan lebih logis lagi, bila dikaitkan dengan keberadaan organisasi tersebut yang sama-sama sejajar, berdiri sendiri dan terpisah satu sama lain. So, tidak ada yang lebih berhak mengatur atau menertibkan antar organisasi. Kali ini, mau tak mau fungsi organisasi induk kala itu, yakni PPMI juga perlu disinggung. Karena hanya PPMI-lah, satu-satunya organisasi yang bisa dianggap induk dan pengayom bagi organisasi-organisasi Masisir lainnya.

Sebab yang lain, penulis lihat adalah karena terjadinya kekurangan anggota organisasi. Hal ini tampak dari kedatangan mahasiswa baru saat itu (2007) yang jauh lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya (2006). Di saat banyaknya organisasi yang ada – dari mulai afiliatif, kekeluargaan, almamater, klub-klub independen, dan PPMI – ternyata tidak diimbangi dengan jumlah Maba yang mencukupi. Hasilnya, dualisme-dualisme keanggotaan dan kepanitiaan dalam diri seorang Maba. Dan benturan itu pun mau tak mau harus terjadi. Korbannya, lagi-lagi Maba.

Belum lagi bila dari yang sedikit itu, kita lebih kerucutkan. Dalam artian, dari sedikitnya Maba – saat itu – yang ada, dan dualisme keanggotaannya, masih harus kita kurangi lagi dengan jumlah Maba yang memang kurang suka berorganisasi. Jadi, tinggal berapa? So, gak heran bila kita dapati dari sekian banyak kepanitiaan, hanya orang-orang itu saja yang ada. Bukan, sama sekali bukan karena pilih kasih atau nepotisme, tapi lebih karena dedikasi mereka. Toh, bukan salah teman Maba yang lain bila menganggap organisasi atau kegiatan ‘A’, bukanlah dunia mereka.
PPMI Saat Ini, dan Wacana Sinergisasi Organisasi Masisir

Tampaknya PPMI saat ini sudah mau berkaca dengan kegelisahan dan kejenuhan kegiatan di tahun-tahun yang lalu. Ide sinergisasi kegiatan dan agenda antar organisasi pun dirapikan. Wacana ini sudah mencuat sejak awal kabinet Yazid dan Yahya dulu. Dan telah dibuktikan dengan beragam kegiatan yang sifatnya lebih banyak merangkul daripada independen.

Usaha-usaha yang telah dilaksanakan PPMI untuk mensinergikan seluruh organisasi Masisir ditandai dengan lahirnya Piagam Masisir yang didukung oleh ketua-ketua organisasi untuk menyepakati efektifitas dan efisiensi program organisasi-organisasi Masisir. Hal tersebut bertujuan untuk lebih menekan angka tabrakan program lintas organisasi.

Di antara Program yang telah terlaksana untuk mewujudkan sinergi lintas organisasi adalah:
  • Fushul Taqwiyah kerja sama bersama WIHDAH, Syatibi Center dan lima senat serta program bimbingan belajar ini didukung oleh 16 kekeleuargaan.

  • Kampus Qur`an kerja sama WIHDAH, IPQI dan AC (Al-Qur`an Community).

  • Pelatihan IT sebagai wujud kaderisasi seluruh organisasi dalam bidang informasi dan tekhnologi.

  • Cangkir Wisma tentang bincang Maba dan kesehatan Masisir.

  • Kenduri Kebersamaan sebagai pengikat seluruh kekeluargaan dalam satu ikatan bangsa Indonesia tuk mewujudkan bangkit bersama dengan rangkaian acara Piala Masisir, Olimpiade Intelektual, Pekan Sehat Masisir dan Malam Kenduri.

  • Kajian Reguler PPMI bekerja sama dengan kelompok-kelompok kajian Masisir.


Beragam program dan agenda telah disiapkan oleh PPMI, sebagai wujud efisiensi dan efektifitas jalannya sebuah kegiatan. Ibaratnya, bila sebuah kegiatan bisa lebih efektif dan lebih baik bila dilaksanakan bersama-sama, kenapa harus mementingkan ego dan kepentingan suatu organisasi?

PPMI dan organisasi di bawahnya sepakat – dengan terwujudnya Piagam Masisir – untuk lebih bertindak dan bekerja efektif untuk sebuah kegiatan. Tujuannya, tak lain hanyalah agar tumpang tindih dan tabrakan kegiatan antar organisasi bisa ditekan sedemikian rupa. Namun, tentu saja ini tak berarti mengebiri otonomi sebuah organisasi untuk mengadakan sebuah kegiatan. Akan tetapi, justru agar bisa lebih diarahkan dan fokus pada keanggotaan dan jalur organisasi yang dijalaninya. Bersinergi, hayuks...!!

Artikel terkait :



0 comments:

Posting Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)