Rabu, Januari 14, 2009

Pin It

Widgets

Adakah Hak Israel atas Palestina?

Assalamualaikum Warahmatulah wa barakatuh.

Ustadz saya ingin meminta penjelasan antum berkenaan pendudukan Israel atas wilayah Palestina, yang kabarnya berkaitan dengan tanah yang dijanjikan untuk mereka, dan juga perihal sejarah masa lalu mereka yang mengkonfirmasikan hak mereka untuk menempati wilayah tanah air Palestina, sebagaimana yang diyakini oleh segilintir umat.

Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau pun benar klaim Yahudi bahwa tanah Palestina itu adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka, tetap saja mereka tidak bisa main gusur semaunya.

Lagi pula tanah Palestina itu luas, seluruh Yahudi yang hanya 20-an juta ngumpul di sana, toh masih sangat lega. Jadi seharusnya kalau mereka agak waras cara berpikirnya, bisa saja mereka datang baik-baik ke sana, minta izin kepada umat Islam yang secara de facto telah menjadi penghuninya selama 14 abad.


Mengapa komunitas Yahudi tidak melakukan apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka di masa Shalahuddin Al-Ayyubi dahulu? Mereka toh berhak tinggal di sana, mendirikan sinagog, beribadah di dalamnya serta menjalankan semua ritual sesuai keyakinan mereka. Bayangkan di masa itu, umat Islam hidup berdampingan dengan umat Nasrani dan juga Yahudi. Tidak ada perang, tidak ada bau anyir darah, tidak ada isak tangis yatim yang kematian orang tua akibat dibunuh lawannya.

Mengapa Yahudi itu harus datang membonceng di belakang tentara Inggris di tahun 1948, lalu dengan seenaknya membantai suatu bangsa, melumat sebuah negara berdaulat dan mengubah peta dunia seenaknya?

Mengapa mereka harus membantai rakyat muslim yang tidak pernah melakukan kesalahan secuil pun pada mereka? Mengapa rakyat Paletina harus diusir dan tinggal di kamp pengungsian? Kurang luaskah tanah Palestina buat 20 juta bangsa mereka?

Bukankah dahulu bangsa Yahudi diselamatkan oleh umat Islam (Khilafah Turki Utsmani), saat pengusiran mereka dari Spanyol? Mana balas jasa mereka?

Yahudi Bukan Bangsa yang Berhak Mewarisi Palestina

Tapi sebenarnya, tidak ada kebenaran atas klaim bangsa Yahudi tentang hak mereka atas Palestina. Sebab Allah SWT telah secara tegas menyatakan bahwa kitab yang mereka pegang itu bukan lagi kitabullah, melainkan karangan manusia di antara mereka. Mereka telah mengubah isi Taurat dan menggantinya menjadi Talmud.

Maka klaim mereka bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan tuhan untuk mereka, 100% hanyalah bualan mereka saja. Bukan janji dari Allah SWT. Bahkan Allah malah pernah mengharamkan tanah itu untuk mereka selama 40 tahun lamanya, akibat kedegilan mereka sendiri.

Allah berfirman,"Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati orang-orang yang fasik itu." (QS. Al-Maidah: 26)

Kalau memang tanah itu milik mereka, pertanyaannya adalah: selama ini pada ke mana aja? Kok punya tanah tidak di tempati? Malah mengembara ke berbagai penjuru dunia? Siapa yang suruh punya tanah ditinggal-tinggal? Kalau memang mengaku punya tanah Palestina, mestinya dipertahankan sejak dulu, bukannya ditinggalkan.

Sekilas Tentang Sejarah Yahudi dan Tanah Palestina

Allah SWT awalnya memang memerintahkan kepada bangsa Yahudi untuk menempati tanah Palestina, sepulangnya bangsa itu dari perbudakan di Mesir selama ratusan tahun. Namun kisah memalukan terjadi sejak dari Mesir hingga sampai Palestina. Sehingga kisah itu menjadi bangsa itu sangat tidak berhak tinggal di Palestina.

Awal kedatangan mereka ke Mesir dari Palestina adalah saat negeri mereka mengalami paceklik selama tujuh tahun lamanya. Bangsa Mesir mampu bertahan karena mampu menabung sebelumnya dan membangun lumbung persediaan bahan pangan. Kisah ini terkait dengan mimpi Nabi Yusuf alaihissalam yang diangkat menjadi bendahara negara Mesir kala itu.

Maka berdatanganlah bangsa Yahudi dari Palestina ke Mesir untuk mengungsi, tapi kemudian lantaran kedegilan mereka, jadilah mereka budak bangsa Mesir selama ratusan tahun.

Selama di Mesir, bangsa Yahudi adalah budak yang dipaksa bekerja tanpa upah. Konon para Fir'aun di sana menempatkan bangsa itu sebagai budak, yang salah satu tugasnya adalah ikut kerja paksa membangun Pyramid. Arsiteknya tetap bangsa Mesir, bangsa Yahudi hanya pekerja kasarnya, lantaran bangsa itu memang hanya pantas jadi budak.

Sampai Allah SWT mengutus nabi Musa alaihissalam untuk membebaskan bangsa itu dari perbudakan. Tapi susah-susah nabi Musa membangun mental mereka, tetap saja mental mereka tidak bisa diharapkan. Ketika menghadapi Laut Merah di depan dan kejaran tentara Fir'aun di belakang, mereka pun gampang putus asa dan tidak mau berperang.

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." Musa menjawab, "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS Asy-Syu'ara': 61-632)

Bangsa Yahudi sangat penakut dan sama sekali tidak berani menghadapi resiko. Bahkan saat telah diselamatkan dari kejaran Fir'aun, lagi-lagi mereka bikin ulah untuk minta dibuatkan patung anak sapi sebagai sembahan.

Bangsa Yahudi Tidak Berani Masuk Palestina

Yang paling menggelikan, saat tinggal masuk ke Paletina saja, mereka pun tetap tidak mau. Sebab ternyata Paletina saat itu dikuasai oleh penguasa yang sangat mereka takuti. Perhatikan penjelasan Quran berikut ini:

(Musa berkata) Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Mereka berkata, "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya."

Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman."

Mereka berkata, "Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (QS Al-Maidah: 21-24)

Bangsa Yahudi tidak pernah tercatat mempertahankan tanah mereka, apalagi merebutkan dari penguasa lain yang menjajah tanah itu. Seharusnya, hak mereka sudah hilang karena tidak punya jiwa patriotisme atas tanah mereka.

Mitos Tanah yang Dijanjikan

Prof. Roger Garaudy, seorang ilmuwan Perancis, menyatakan bahwa isu "tanah yang dijanjikan" versi Israel tersebut merupakan mitos. Sehingga, yang sebenarnya terjadi adalah "tanah yang ditaklukkan" (the conquered land), bukan"tanah yang dijanjikan" (the promised land).

Ia memberikan bukti-bukti konkrit yang mendukung pernyataannya tersebut dengan mengacu pada literatur-literatur Yahudi dan Nasrani. Dengan demikian, isu "tanah yang dijanjikan" yang digunakan oleh Israel sebagai dalih pendudukan atas Palestina sebenarnya bukan merupakan ajaran Taurat, bukan pula ajaran Injil.

Dan memang kenyataannya kaum Zionis tidak berpedoman pada Taurat. Mereka lebih berpegang pada kitab suci lain yang bernama Talmud, atau yang kemudian dikenal juga dengan sebutan Shulhan Arukh, yaitu kitab yang ditulis oleh seorang Rabi Yahudi yang bernama Joseph Ben Ephraim Caro di abad ke-16 M. Kitab Talmud ini mengajarkan pandangan-pandangan yang buruk, di antaranya adalah:

* Kaum Yahudi adalah kaum pilihan Tuhan. Selain kaum Yahudi adalah binatang dan pagan (penyembah berhala).
* Kaum Yahudi harus selalu bekerja keras untuk meruntuhkan bangsa dan kaum lainnya, agar kaum Yahudi dapat menguasai dunia.
* Kaum Yahudi diizinkan untuk mencuri harta benda selain kaum Yahudi.
* Kaum Yahudi diizinkan untuk berbuat curang kepada selain kaum Yahudi, menjalankan riba pada mereka, danmemaksa mereka untuk menjual semua miliknya kepada kaum Yahudi.

Sekarang kalau pun bangsa Yahudi mengklaim bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan, lalu mereka masuk dan membunuh siapa saja yang ada di sana, maka bukan waktunya. Sebab yang ada di sana hanyalah umat Islam yang telah Allah SWT ridhai dan telah bermukim di sana lebih dari 1.400 tahun dengan tenang dan damai.

Umat Islam tidak pernah memusuhi bangsa Yahudi, kecuali bila Yahudi itu sendiri yang bikin gara-gara. Sebab ciri khas bangsa itu memang berkhianat atas perjanjian yang telah mereka buat. Piagam Madinah yang telah mereka sepakati, tiba-tiba secara sepihak dilanggar. Kalau mereka sampai diusir ke luar Madinah, semua adalah kesalahan mereka sendiri.

Tetapi selama mereka baik-baik saja dengan masyarakat dan penguasa muslim, mereka mendapat jaminan atashak-haknya sebagai kafir zimmi. Dan selama ini, bangsa Yahudi diperlakukan baik-baik saja di Palestina oleh umat Islam.

Yahudi Pasti Dihancurkan

Alih-alih menjanjikan kepada Yahudi untuk memberikan tanah Palestina, Allah SWT justru menjanjikan kepada Yahudi kehancuran mereka. Di mana mereka akan habis diperangi oleh umat Islam, hingga mereka berlarian sembunyi di balik batu dan pohon. Semua itu tertuang dalam salah satu sabda Rasulullah SAW yang sangat populer:

عن أبى هريرة أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « لا تقوم الساعة حتى يقاتل المسلمون اليهود فيقتلهم المسلمون ، حتى يختبئ اليهودى من وراء الحجر والشجر ، فيقول الحجر أو الشجر : يا مسلم يا عبد الله هذا يهودى خلفى فتعال فاقتله ، إلا الغرقد فإنه من شجر اليهود - رواه مسلم



Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidak akan terjadi hari kiamat hingga umat Islam memerangi yahudi dan membunuh mereka. Sampai yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon , namun batu dan pohon akan berkata,"Wakahi muslim, wahai hamba Allah, inilah yahudi di belakangku, kamrilah dan bunuh dia". Kecuali Gharqad, karena merupakan pohon yahudi." (HR. Muslim)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

credit to: www.warnaislam.com

Artikel terkait :



2 comments:

Anonim mengatakan...

terima kasih atas pencerahannya,
berarti polemik disana tidak ada unsur politiknya ya?
Wallahu a'lam bishshawab

Mas Niam mengatakan...

ya... sama2 mas.

wah, kurang tau tuh..ada unsur politik ato ndak, :)

Posting Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)