Minggu, November 30, 2008

Pin It

Widgets

Dongeng Menjelang Tidur; Sosialisasi Pemilu Luar Negeri


Ahad, hari ini 30 November 2008.
Sebenernya sebelum hari ini begitu banyak even yang terjadi, hanya saja, aku lum sempet menuliskannya. Udah begitu banyak yang ingin aku tuliskan, cuman selalu terbentur dengan waktu yang kayaknya tambah sempit, hehehhe...

Diantara hal-hal tersebut adalah soal acara sosialisasi pemilu kemaren, tanggal 24 November di ACC (Azhar Convention Center). Di mana ketika itu membahas tentang pengenalan sistem pemilu tahun 2009 nanti. Khususnya yang berkaitan dengan beberapa perbedaan pemilu di negeri sendiri, di Indonesia, dengan yang nantinya bakal kami laksanakan di negeri Mesir ini.

Hadir dalam acara tersebut, Ibu Meutia Farida Hatta, menteri Pemberdayaan Wanita yang juga putri proklamator Indonesia, bung Hatta. Maka tak heran, bila kemudian aku dibuat bengong, ketika beliau bercerita tentang seklumit sejarah yang tak pernah terungkap dalam buku-buku diktat sekolahku dulu. Salah satunya soal penyamaran bung Hatta sebagai seorang co-pilot, agar bisa bertemu dengan Nehru, PM India ketika itu, untuk mencari dukungan kemerdekaan Indonesia.

Hadir juga bu Andi, salah seorang anggota KPU Pusat. Beliau berbicara tentang inti acara ini, yakni pengenalan sistem pemilu dan tata cara pelaksanaannya di tahun 2009 nanti. “Karena begitu hormatnya bangsa ini terhadap hak-hak demokrasi warganya, biarpun pemilu luar negeri ini mahal, tetap kita adakan. Maka sangat diharapkan kepada warga Indonesia di luar negeri agar benar-benar menghargai penghormatan ini, dengan menggunakan hak pilihnya,” begitu salah satu ajakan beliau kepada kami di bumi Kinanah ini. Biarpun kami jauh, tapi tetap diharapkan partisipasinya untuk ikut menentukan nasib bangsa ini. Dalam kata yang lebih gamblang, janganlah golput.



Menariknya, acara yang sedianya diantisipasi oleh panitia untuk 600-an orang saja, ternyata dihadiri oleh hampir semua Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir), sekitar ribuan orang hadir dalam acara tersebut. Praktis, jumlah kursi yang disediakan tidak mencukupi. Terpaksa para mahasiswa memanfaatkan tikar-tikar yang disediakan panitia.

Namun sayangnya, meski problem tempat dapat diatasi, tapi solusi konsumsi masih jadi kendala. Beberapa teman akhirnya gak dapet jatah makan. “Yah, mau gimana lagi. Sedang yang kami persiapkan hanya untuk 600-an orang. Karena denger-denger adanya razia dari kepolisian Mesir, yang bisa membuat mahasiswa enggan keluar rumah. Eh, yang terjadi malah sebaliknya..” sebut salah seorang bapak dari KBRI yang juga panitia acara.

Dari acara ini, sebenarnya aku pengen angkat tangan, bertanya kepada bu Andi dan para pembicara di depan. Hanya sayang, pak Dubes, yang jadi moderator malam itu, tidak memberiku kesempatan untuk bertanya. Maklum, ada banyak orang yang angkat tangan ketika sesi tanya jawab dibuka. Karenanya, daripada mengendap, aku tuangin aja di sini.

Ada dua hal yang ingin aku tanyain buat dua tokoh pemerintaha kita malam itu. Yang pertama, ada hal yang menarik soal pemilu kita di Indonesia. Sudah seharusnya, berlangsungnya pemilu, diharapkan mampu memperbaiki kondisi negara kita. Akan tetapi, setelah berulang kali pemilu ini diadakan, toh ternyata tidak banyak perubahan yang kita rasakan. Dari sini, aku coba melihatnya dari ekses pemilu yang akhirnya menimbulkan pemerintah dengan susunan kabinet dan legislatif yang baru. Yang disesalkan, kabinet dan legislatif baru ini, tidak menganut mazhab, “al-muhafazah ala al-qadim ash-sholih, wal akhdzu bi al-jadidi ashlah”. Tapi justru mengobrak-abrik apa yang udah dikerjain pemerintah yang dulu, dan merombak habis work plan ataupun cetak biru pemerintah dulu, untuk membuat sistem ataupun plan baru yang ‘menurutnya’ lebih baik.

Dampaknya? Jelas perubahan instan sebuah sistem dan proyek pembangunan negara yang terlalu cepat, maka hasilnya gak akan maksimal. Karena, rencana pembangunan dan pembenahan negara ini, tidak cukup dengan satu-dua tahun masa pengerjaan proyek.

Nah, kalo terlalu sering diubah, maka sebuah master plan yang udah fix, bisa jadi sia-sia karena udah diganti duluan dengan yang baru. Padahal kita tahu, sebuah proyek pembenahan negara ini bukan pekerjaan lima tahun...
Jargon, ganti pemerintah ganti kebijakan, sudah selayaknya ditinjau ulang. Bila tidak, maka urgensi pemilu malah yang perlu dipertanyakan. Masihkah pemilu dianggap penting, bila hasilnya gak pernah maksimal, untuk membuat sebuah pemerintahan dan legislatif yang lebih baik?? Ada apa dengan sistem pemilu kita?

Pertanyaan kedua ini berkaitan dengan pertanyaan pertama. Bila telah kita lihat, bahwa sepertinya ada yang ‘aneh’ dengan pemilu kita, maka kalau menurutku adalah karena cacatnya sebuah sistem politik bernama demokrasi. Bagaimana tidak, sistem satu orang satu suara adalah tidak adil. Kenapa? Karena analoginya begini, bila satu orang satu suara, ini artinya menyamaratkan, alias memukul rata semua jenis suara. Baik suara itu datang dari orang baik, pinter, cerdas, berpendidikan, plus cinta negara... dengan orang yang kriminal, bodoh, gak sekolah, dan pengkhianat negara.

Dan sayangnya, jumlah orang baik, pinter, cerdas dan berpendidikan tidak pernah lebih banyak dari jenis orang sebaliknya. Bukankah jumlah doktor dan ulama, jauh lebih sedikit ketimbang jumlah lulusan SMP dan orang awam?? Maka gak heran, bila hasilnya... pemilu kita ya, begitu-begitu aja. Karena yang dihitung adalah jumlah suara terbanyak, maka yang paling banyak yang menang. Sudah terlihat, kelemahan dan ketidak-adilan sistem demokrasi ini? Apakah adil, bila nilai suara seorang pakar ekonomi, misalkan.. disamakan dengan nilai suara seorang aku yang gak pernah belajar ekonomi??

Sekian dulu dongeng menjelang tidur malam ini. Besok lagi disambung dengan cerita kehidupanku. Ada tentang buletin Cakrawala, buletin yang genap setahun aku pimpin. Terus, cerita tentang s’body birthday... juga ada ceritaku hari Ahad ini, selaku bapak rumah tangga di Mesir. Ikuti terus kelanjutan secarik kertas ini... :D



Artikel terkait :



0 comments:

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)