Selasa, November 25, 2008

Pin It

Widgets

Cakrawala Nozha

ditulis untuk mengisi kolom Catatan Akhir Buletin Cakrawala Edisi Sayonara, November 2008

20 Februari 2008, semilir angin sore menerpa wajahku. Perjalanan mengikat erat kantungku harus aku jalani. Jalanan Asyir-Bawwabah pun terpaksa kutempuh dengan langkah-langkah kaki. Bukan pelit, hanya saja guna mensiasati neraca keuanganku di Kairo ini. Harap dimengerti, karena semakin tua tanggal bulannya, semakin sempit isi kantongnya. Kupercepat langkah. Aku udah telat. Pikiranku di sore musim dingin itu hanya satu. Kumpul perdana!!

Nozha, sebuah nama pun tercetus sore itu. Menjadi sebuah simbol. Mengikat angkatan 2007 ini dalam satu nama. Nadwatul Ummah li al-Izzah bi az-Zakat wa al-Hidayah. Berangkat dari nama ini, kita mencoba mengukir lembaran sejarah bersama. Menyatukan latar belakang yang berwarna. Meleburkan ikatan marhalah di Pondok. Lalu membingkainya dalam sebuah kesatuan indah bernama ukhuwwah.

Ujian termin pertama menjadi tantangan perdana kita. Menjadi sekat sementara. Lalu selepasnya, perjalanan ke Alexandria menjadi momen kebersamaan perdana. Orkaba kali itu mengisi aktifitas organisasi perdana kita. Menikmati pantai indah, merasakan desir angin dingin di Istana Montaza.



Acara bertajuk olahraga mengawali kiprah Nozha. Sebuah latihan perdana digelar di Nadi Madrasah, Selasa pagi (4/3). Tim Syariah versus Ushuluddin. Meski fakultas Ushuluddin kali itu harus berjibaku, toh tetep aja mereka kalah telak. 14 - 2, skor untuk kemenangan anak Syariah. Selasa pagi itu semakin berkesan, ketika temen-temen putri juga tak lupa mengirim teh hangat. Meski tak seluruhnya hadir, tapi kiriman tehnya cukuplah mewakili bahwa mereka tetap peduli.

“Allahumma j’alnâ fi jamî’i imtihânâtinâ min an-nâjihîn…,” memasuki bulan mei, selarik doa kembali menghiasi sajadah-sajadah kita. Dengan rentang waktu yang cukup pendek, otak kita kembali diperas. Ujian termin dua dengan sepuluh materinya plus dua juz hafalan al-Quran siap menghadang. Ramai-ramai pula, kita berjibaku kembali. Menata ulang dinamika kehidupan masisir kita yang sempat terlena. Sangat menyenangkan rasanya, kembali menjadi seorang mahasiswa seutuhnya. Berkutat dengan diktat kuliah dan muqorror. Memetakan kembali jalur kedekatan dengan Rabb-nya.

Tanpa terasa, sudah enam bulan lebih kita merajut hari-hari bersama. Di kampus kita bertemu, menjadi seorang mahasiswa. Juga di IKPM, tempat kita bernaung. Merajut tali silaturrahmi almamater tercinta. Setiap dari kita bergerak, mengikuti langkah irama kehidupannya. Individu Nozha melangkah bersama, mengawali kepanitiaan perdana kita dengan Panitia Rihlah Summer Tour. Meniti ukhuwah kebersamaan kita.

Sejenak kita tersentak bersama berakhirnya kepanitiaan Rihlah. Bejibun aktifitas organisasi menyita hampir sebagian besar waktu kita. Dari IKPM saja ada dua, Panitia IKPM Games dan Panitia Daurah Lughah. Wihdah juga mengadakan PKK, Pekan Keputrian Kekeluargaan. PPMI dengan Permasi-nya. Belum termasuk acara-acara di kekeluargaan. Itu pun baru aktifitas di kepanitiaan, belum dengan organisasi yang sudah lebih dulu kita tekuni.

Raut muka capek perlahan mewarnai individu Nozha. Titik muka jenuh. Beberapa diantara kita mulai mengambil jalannya masing-masing. Beratnya cobaan dan tantangan aktifitas di organisasi mulai lunturkan kebersamaan ini. Tapi, apakah lantas kita akan menyerah begitu saja? Menyikapi kejenuhan ini dengan pasrah. Lantas lari dan tak pernah kembali?

Hidup ini adalah sebuah universitas kehidupan. Sebuah kampus pembelajaran untuk kita. Dari semenjak kita belum dilahirkan saja, kita sudah diberi pelajaran tentang arti sebuah persaingan. Bersaing diantara sekian juta sel sperma, hingga akhirnya hanya satu yang terlahir. Itulah kita. Kita pun diajari tentang arti sebuah proses dalam menggoreng telor. Mencoba memahami laku alam. Dan satu demi satu harapan dan tantangan dalam hidup kita.

Laut yang tenang tidak akan membentuk pelaut yang tangguh. Pernah dengar slogan tersebut? Ya, bila baru dihantam dengan ombak kesibukan saja kita sudah sering mengeluh, lantas bagaimana kita akan sanggup mengarungi dan selamat sampai ke pulau impian? Akankah kita akan mundur melihat badai dan petir serta gulungan ombak? Atau justru mengarunginya dengan penuh semangat dan keyakinan tinggi akan sebuah kemenangan?

Penulis teringat pesan Ust. Syukri di sekretariat IKPM kemaren. Beliau bilang, “Bila kita dihadang dengan berbagai macam masalah, maka kita perlu jujur. Apa yang kurang dari diri kita? Kurang seriuskah? Kurang semangatkah? Kurang apa?? Cari inti permasalahannya dari diri kita, lalu pecahkan.” Begitulah pesan beliau.

Perlu kita ingat pula, bahwa ketika malam semakin kelam, itu pertanda subuh akan tiba. Dan bila musim dingin semakin memuncak, indah musim semi tlah di depan mata. Lalu bila panas mentari kian menyengat, kedamaian senja kan segera hadir. Bukankah Allah sendiri telah mengingatkan, bahwa dalam setiap satu kesulitan diapit oleh dua kemudahan? Yakinlah, bahwa perjuangan “melayani masyarakat” ini, –sebut salah seorang teman – tak kan berakhir sia-sia. Dan untukmu Nozha, cakrawala kita ke depan akan selalu indah. Percayalah!

Artikel terkait :



0 comments:

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)