Minggu, Februari 24, 2008

Pin It

Widgets

Review Ayat-Ayat Cinta (Bajakan)


Pagi tadi aku lagi sibuk bongkar2 blogku... cari gimana biar bisa read more...

tapi tiba2 aku denger suara gemericik perutku... ups, dah jam setengah sepuluh aku lum makan ternyata....

aku pun beralih ke kamar sebelah dan tiba2 film Ayat2 Cinta lagi diputer ama Copen... yah, akhirnya sambil makan juga nonton dah..

Mulanya aku begitu penasaran, seperti apa film ini...

tapi eh, abis diliat.... bahkan sejak scene pertamanya aj, udah bejibun kritikan, komentar, sindiran, dll lah....

mungkin perlu diinget... kami2 kan tinggal dan bergelut dengan kehidupan Mesir.. jadi sangat mudah menilai film tersebut dengan kehidupan aslinya... so sudut pandang kritikan yang kami pakai di sini lewat sudut pandang kehidupan aslinya...


beberapa kritikan yang aku setuju ama temenku Irfan:

Tak terelakkan, aku kecewa melihat adegan demi adegan film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini. Berbeda dengan gambaran kehidupan yang aku dapati sendiri di Mesir. Aku dan Sobat kuliner memang tak henti mengkritisi jalan cerita dan setting yang ditayangkan. Tapi kami maklum, Mas Hanung banyak menghadapi kendala dalam syuting AAC. Bahkan lokasinya dipindahkan ke India karena masalah dengan birokrasi pemerintah Mesir. Jalan cerita juga dipermak dan dipersingkat, sedikit berbeda dengan novel. Hal ini tentu saja mengecewakan bagi masisir. Tapi, tanpa mengurangi respekku sama Mas Hanung, aku acungi jempol buat visualisasi novel adaptasi ini.

Dalam novel, yang menuntut Fahri ke pengadilan adalah keluarga Bahadur—ayah tiri Nouora—sedang di layar lebar, ayah kandung gadis ini yang melakukannya. Juga ada sisipkan rekayasa kecelakaan mobil yang disusun Bahadur untuk membunuh Maria. Tabrakan inilah yang menyebabkan Maria sakit parah hingga koma. Tokoh Tuan Boutros, ayah Maria juga ditiadakan dari skenario. Hingga cerita meninggalnya Maria yang cenderung sangat berbeda.

Sosok Fakhri sendiri, walau Mas Hanung usahakan agar lebih manusiawi. Tapi si Fedi agak terlalu berlebihan dan terkesan membentak-bentak. Setahu aku, disini masisir yang menempuh S2. Pola fikir mereka lebih cenderung sabar dan kalem. Jadi, sosok Fakhri ini adalah sosok mahasiswa S2 yang kuliah di Indonesia bukan di Cairo.

Dari kostum sendiri, tokoh Fakhri sangat jauh dari kesan mahasiswa S2 anak Azhar lagi. Melainkan cenderung sebagai seorang mahasiswa di Universitas Negeri Indonesia. Perlu diketahui, bahwasanya potongan rambut masisir S2 lebih sopan dari si Fakhri AAC ini.

Satu lagi, AAC menggambarkan Mesir—ini yang tidak di sukai kalangan Masisir—lebih kumuh dan sembrawut disertai potongan-potongan padang pasir. Seolah-olah bahwasanya kuliah di Mesir itu hanya bersuasanakan gurun, onta, pasar yang kering dan kotor. Keadaan rumah Fakhri yang cenderung padat di tengah kawasan pasar. Setahu saya, daera Hadayek Helwan itu ga seperti itu. Disini juga tidak ada gemerlap Abbasea, Nasr City atau Heliopolis. Yang ditampakkan hanya kawasan pinggiran sekitar flat Fahri saja.

Penggunaan bahasa 'amiyah, aku kira cukup bagus dan masing-masing tokoh terlihat sudah benar-benar bisa melafalkannya dengan baik. Tapi, sayang. Yang bener-bener fasih cuman orang yang berperan sebagai temen Fakhri di Metro saat bertemu Aisha.

Belum lagi adegan mesra antara Fahri dan Aisha atau Maria setelah menikah yang terlalu berlebihan. Tidak sampai melanggar batas-batas kesopanan memang. Namun bagi para konsumen film islami, beberapa adegan ini cukup menggangu. Alih-alih, menurut saya ini juga akan dikonsumsi oleh anak-anak. Satu lagi dan ini sangat perlu diketahui bahwasanya mahasiswa Indonesia Cairo apalagi anak-anak Al-Azhar sangat tidak boleh berjalan atau berduaan dengan wanita mesir kecuali ada mahram.
Meski begitu, acungan jempol buat mas Hanung. Dengan segala keterbatasan yang ada, sineas muda ini sudah berbuat maksimal. Paling tidak mengobati kehausan akan sinema islami di dunia layar lebar tanah air yang kini disesaki roman-roman percintaan tanpa makna hidup. Saya juga faham, kita sebagai pembaca dan penonton hanya bisa mengkritisi dan mencela klo jelek. Tapi disini, saya hanya ingin mencoba membenarkan penggambaran suasana kota dan perkuliahan Cairo sebenarnya.

nah begitu kata temenku, maklum copy paste doank... abis lagi mo sibuk nihy.... entar kapan2 aku edit lah.

tapi ini adalah komentar atas film bajakannya, jadi wajar kalo bejibun...
cuman gak tau kapan bakal bisa nonton film ori-nya.. ntar lah, aku review lagi yang aslinya.. he..he..he... seolah2 wakakakak


he..he..he..he..

Artikel terkait :



1 comments:

mademoiselle*bee mengatakan...

iya tuh.
aku jg hbs nonton itu.
beuh! pertamanya dah penasaran aja. nggak tahunya...........................................

yaudah lah!

Poskan Komentar

Punya opini lain? Ceritakan di sini kawan.. :)